NovelToon NovelToon
Seikhlas Cinta Afifa

Seikhlas Cinta Afifa

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: rahma khusnul

Sesungguhnya mencintai seseorang dengan setulus hati itu sangatlah sederhana, tak ada alasan, tak ada tuntutan, juga tak berharap balasan, cukup melihatnya tersenyum bahagia maka hatimu akan merasa bahagia.
Seseorang yang memiliki ketulusan dalam cintanya akan terus berusaha agar orang yang di cintainya merasa bahagia, meskipun terkadang tanpa sadar telah menyakiti dirinya sendiri.
Seperti dalam kisah ini.
Seorang gadis yang setia menunggu cinta pertamanya yang hampir 3 tahun tak ada berita, tiba tiba saja di lamar oleh seorang pria yang sudah dia anggap seperti kakaknya di masa lalu. kebimbangan menimpanya,sampai akhirnya mereka menikah atas permintaan orangtuanya, perlahan diapun mulai menyukai suaminya.
Namun entah apa yang terjadi, setelah hampir satu tahun berumah tangga, suaminya merasa dirinya tak mampu membahagiakan istri yang sangat ia cintai, dia pun berusaha untuk mempersatukan kembali istrinya dengan cinta pertamanya. Apa yang terjadi?...
yuk readers ikuti kisah serunya 😉

❤❤❤

happy reading.... 😊🤗👏
=====================================

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma khusnul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dijemput Fauzi

Keheningan menyelimuti ketiga sahabat yang duduk di perpustakaan siang itu. Suasana begitu tenang, hingga mereka hampir lupa dengan tujuan awal mereka datang ke sana.

“Eh, iya… sampai mana tugas kita tadi?” tanya Afifa memecah keheningan.

“Oh iya, sampai lupa. Ayo, kita lanjutkan,” ajak Sofi.

Mereka pun kembali larut dalam lembaran buku dan laptop masing-masing, fokus mengerjakan tugas.

***

Adzan Dzuhur berkumandang ketika kelas mereka usai. Mahasiswa berhamburan ke berbagai arah; ada yang ke kantin, ada yang ke toilet, ada pula yang bergegas ke masjid. Begitu pula dengan Afifa, Sari, dan Sofi. Ketiganya mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah.

Baru saja mereka selesai berdoa, ponsel Afifa berdering. Sebuah nomor tak dikenal muncul di layar.

Alis Afifa mengernyit. “Subhanallah…” desisnya kaget, matanya melebar menatap layar ponsel yang terpampang foto profile seorang pria yang tadi menjadi topik pembicaraan.

Refleks, Sari dan Sofi menoleh.

“Siapa?” tanya mereka hampir bersamaan.

Afifa mengangkat ponsel itu, lalu menunjukkannya. “Kak Aji…” bisiknya, hampir tak terdengar.

“Ih, ganteng banget!” seru Sari sambil menepuk pelan bahu Afifa. “Cepet, angkat!”

Dengan ragu, jemari Afifa menekan ikon hijau di layar.

“A… Assalamualaikum,” ucapnya lirih, sambil melirik ke arah kedua sahabatnya. Dari mana dia tahu nomor aku? batinnya.

“Wa’alaikumsalam,” suara bariton di seberang terdengar tegas namun hangat. “Kamu masih di kampus?”

“I… iya, Kak…” jawab Afifa gugup. Degup jantungnya kian kencang.

“Aku jemput kamu, ya. Tadi aku sudah izin ke Abi dan Umi kamu. Alhamdulillah, mereka mengizinkan.”

“O… i... iya, Kak…” hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Ia sampai lupa bahwa ia membawa motor sendiri.

Telepon ditutup. Afifa menatap layar ponsel, lalu menempelkannya ke dada. Nafasnya tak beraturan.

“Apa katanya?” desak Sari dan Sofi sambil mengguncang lengannya.

“Dia… mau jemput aku sekarang,” jawab Afifa lirih.

“Ya sudah, ayo siap-siap!” seru Sari sambil menarik tangan Afifa agar berdiri.

“Tapi… motorku?”

“Tenang, nanti aku yang urus,” Sari tersenyum lebar, lalu melirik Sofi. “Iya kan, Sof?”

Sofi mengangguk sambil tersenyum jahil.

Lima belas menit kemudian, sebuah pesan masuk: Aku menunggu di depan gerbang.

“Dia udah nunggu. Temenin aku, ya…” pinta Afifa dengan mata memohon.

Keduanya mengangguk, lalu berjalan bersama menuju gerbang kampus.

Di sana, tampak seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan berdiri di samping mobil hitamnya, pakaiannya rapi dengan celana formal yang di padukan dengan kemeja di gulung setengah lengan. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum hangat.

Afifa menunduk, jantungnya berdegup tak karuan.

“Apa kabar semuanya?” sapa Aji ramah. Tangannya ia rapatkan di dada sambil tersenyum sopan. Ia tahu, teman-teman Afifa yang berhijab tidak akan menyalami tangannya. “Kalian teman Afifa, ya? Perkenalkan, saya Fauzi.”

Sari dan Sofi tertegun, nyaris lupa cara bicara. Pesona Fauzi terlalu kuat untuk diabaikan.

“Hei…” Afifa menyikut keduanya, membuat mereka tersadar.

“Ah… iya, Kak Fauzi. Saya Sari,” jawab Sari dengan wajah merona.

“Sofi…” ucap Sofi sambil mengangguk malu-malu.

“Bisa berangkat sekarang, Fa?” tanya Fauzi sambil menatap Afifa.

“Iya, Kak… tapi motor aku…” ia menunjuk ke arah parkiran.

“Tenang, motor kamu urusan aku,” kata Sari cepat.

Fauzi tersenyum sopan. “Terima kasih, ya.” Ia lalu membuka pintu mobil, mempersilakan Afifa masuk. Tak lama, mobil hitam itu melaju meninggalkan halaman kampus.

***

Keheningan menguasai perjalanan itu. Suara mesin mobil menjadi satu-satunya pengisi ruang di antara mereka. Afifa menatap jendela, seolah memandangi deretan pohon yang berlari mundur, padahal pikirannya ke mana-mana. Ujung jilbabnya tak lepas dari jemari, dipilin berulang-ulang menandakan gugupnya.

“Kita… mau ke mana, Kak?” suara Afifa nyaris seperti bisikan, ragu dan takut terdengar salah.

Fauzi menoleh sekilas, senyum tipis tersungging di wajahnya. “Ke rumahku, Fa,” jawabnya santai.

Deg! Jantung Afifa serasa berhenti sejenak. Ia menoleh cepat, menatap Fauzi dengan mata membesar. “Ke… rumah Kakak?” suaranya bergetar, bercampur rasa takut dan penasaran.

Fauzi mengangguk pelan. “Orang tuaku ingin berkenalan denganmu.” Suaranya tenang, tetapi mengandung nada hangat yang menenangkan.

Afifa menggigit bibirnya, mencoba menyembunyikan gugup yang kian menyesakkan. “Ke... Kenapa … Secepat ini?” gumamnya, hampir tak terdengar.

Fauzi meliriknya sekilas, lalu menghela napas pendek sambil tersenyum. “Bukankah, lebih cepat lebih baik, Fa?"

"Ta... Tapi aku ... Aku bukan siapa-siapa, Kak, Aku tidak pantas untuk ..."

"Justru karena kamu ‘bukan siapa-siapa’ itu, Fa. Kamu sederhana… dan itu yang aku suka.”

Deg! Deg! Hati Afifa berdegup makin kencang, seakan hendak melompat keluar. Pipinya panas, seolah terbakar ucapan itu. Ia tak berani menatap wajah Fauzi, hanya menunduk sambil berusaha menahan gejolak hatinya .

“Kenapa kamu diam saja?” suara Fauzi kembali terdengar, lembut namun penuh penekanan. “Dari tadi Kakak yang bicara, kamu cuma mengangguk. Kamu nggak mau tahu apa tentang Kakak, Fa?”

Afifa menelan ludah. “Aku… takut…”

“Takut apa?”

“Takut nanti…,” jawab Afifa lirih, matanya tetap menatap ke pangkuan.

Fauzi terdiam sejenak, lalu menatapnya penuh kelembutan. “Jangan khawatir, orang tuaku baik kok, Fa, Mereka pasti suka sama kamu,” ucapnya, kali ini dengan suara yang lebih dalam.

Afifa mendongak, matanya bertemu dengan mata Fauzi. Ada kehangatan di sana, membuatnya tak kuasa berkata-kata.

“Kamu tahu, Fa?” Fauzi kembali bicara, matanya tetap fokus ke jalan. “Dulu… aku cuma menganggapmu adik kecil yang manja. Tapi sekarang… kamu sudah berubah. Kamu lebih dewasa… lebih cantik. Dan… entah kenapa… Kakak nggak bisa berhenti memikirkanmu.”

Ucapan itu membuat dada Afifa terasa sesak oleh rasa yang sulit dijelaskan. Antara bahagia, haru, dan gugup bercampur jadi satu.

Afifa memejamkan mata sesaat, menarik napas dalam-dalam. Dalam diamnya, ia berdoa, Ya Allah, kalau ini memang jalan-Mu, tolong jaga hati ini…

Dan di detik itu, ia tahu. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya tak lagi hanya menganggap Fauzi sebagai “kakak teman masa kecilnya,” tetapi lebih dari itu.

***

Bersambung... ❤😊

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Huwaaa ... santai Afifa ...

1
Rahma Husnul
Luar biasa
ZystaNurrahmi
jangan lupa mampir ya kak di karya aku "SUDAHI ATAU NIKAHI" minta dukungan dan masukannya ya kak, 🙏❤️
ZystaNurrahmi
jangan lupa mampir ya kak di karya aku "SUDAHI ATAU NIKAHI" minta dukungan dan masukannya ya kak, 🙏
Maryana Fiqa
terimakasih banyak Thor bagus banget ceritanya 👍👍👍
Maryana Fiqa
😭😭😭😭
Maryana Fiqa
visualnya cocok bagus semua 👍👍
Fitri cakradonya ishak
tp tetep aja. takut wulan jadi duri d antara hubungan fifa ma aji
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
Terima kasih kak Rahma
InsyaAllah dibaca SCA 2 nya, semakin menarik sepertinya dan bikin penasaran dengan kisah Fauzi dan Afifa, Farid dan Wulan bagaimana ya 🤔🤔🤔
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
sangat menarik cerita SCA ini, banyak pelajaran yang dapat kita ambil, sabar, ikhlas dan selalu bersyukur dengan apa yg kita punya.
Semangat kak Rahma dan teruslah berkarya
👍👍👍🤗🤗🤗
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
Wah hamil barengan nich Afifa dan Sofi
😊😊😊
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
wah cetak adonan donat terus nich
🤣🤣🤣
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
Selamat ulang tahun kak Rahma, udah telat ya hehehehe 13 April 😊😊
Doa terbaik buat kak Rahma dan keluarga, sehat sehat dan sukses selalu 🤗🤗
Rahma Husnul: terimakasih sayang. sebentar lagi saya ulang tahun lagi 🤭
total 1 replies
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
lega rasanya mendengar semua penjelasan Wulan 🤗🤗
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
huuuffttt 🤧🤧🤧
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
kasihan Afifa 🤧🤧
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
Semoga Afifa bisa dan kuat menjalaninya walaupun itu sangat berat 🤧🤧🤧
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
Semoga ada jalan terbaik untuk semuanya
🤗🤗🤗
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
Bagai disambar petir disiang bolong saat baca part ini 🤧🤧🤧
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
Pasti berat sekali Afifa menjalani ini semua
🤧🤧🤧
☠🦃⃝⃡ℱTyaSetya✏️𝕵𝖕𝖌🌈༂နզ
Apakah Talita anaknya Fauzi dengan Wulan
🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!