Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6 - Mendarat
“Kota ini masih sama indahnya. Tidak pernah terbayangkan aku akan kembali setelah peristiwa bertahun lalu, terlebih kini aku tidak sendiri.” ~Luana Casavia.
.
.
.
Heidelberg adalah sebuah kota indah yang terletak di tepi sungai Neckar, Jerman. Terkenal dengan kastil yang masih berdiri megah dan jembatan old bridge yang berada tepat di atas sungai Neckar, Heidelberg juga memiliki banyak universitas terkenal di kota itu.
Luana tidak menyangka dia akan kembali ke kota ini, setelah peristiwa beberapa tahun lalu yang membuatnya harus angkat kaki dari kota di mana ia dilahirkan.
Dan siapa yang menyangka bahwa pesawat gagah milik Rey ternyata membawa keduanya kembali ke sana, saat Rey sendiri juga tidak menduga kalau Luana pernah ke kota ini sebelumnya.
“Tunggu,” sela Rey. Suara sang pilot baru saja berhenti terdengar, disusul dengan suara Rey yang mengudara kini.
Luana menoleh. “Hmm?”
Lelaki bangsawan itu memicingkan mata.
“Kau berkata kau lahir dan besar di sini?” tanya Rey memastikan.
Luana tampak mengangguk yakin. Sadar atau tidak, ini adalah kali pertama mereka mengobrol meski belum terdengar leluasa. Setidaknya baik Rey dan Luana saling membalas kalimat satu sama lain.
“Kau benar,” jawab perempuan muda itu singkat.
Tiba-tiba saja Luana merasa sedikit khawatir, sebab sorot mata Rey tampaknya menyiratkan sesuatu yang lain. Luana menyadari dia tidak boleh sembarangan berbicara, dan mungkin sebaiknya dia menutup mulutnya rapat-rapat.
Dalam hati Luana mengutuk diri sendiri karena keceplosan mengatakan tentang kota indah ini sebelumnya, hingga tanpa sadar berkata bahwa dia memang berasal dari sana. Dia tidak tahu apakah fakta ini akan mengubah sesuatu atau tidak, juga tidak tahu apakah dia dapat berbicara jujur seperti tadi atau tidak.
Ah, dia hanya terlalu senang karena bisa kembali.
Manik Rey memicing dengan rasa penasaran yang membesar. Sejauh yang ia tahu, tidak pernah ada keluarga Collins yang tinggal di Heidelberg sebelumnya. Tetapi gadis ini mengatakan hal demikian, yang begitu saja memancing rasa penasaran.
Rey memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya. Luana sendiri sudah menolehkan kepala ke arah yang lain, sengaja menghindari bertatapan langsung dengan si lelaki bangsawan—berharap lelaki itu tidak akan bertanya lagi padanya.
Mendapati Rey sudah kembali diam, Luana mengembuskan napas lega. Pesawat itu mendarat dengan mulus beberapa menit kemudian, pada salah satu landasan privat yang dimiliki Rey di kota indah itu.
Luana menarik napas dalam-dalam ketika bangkit dari kursinya, memandangi punggung kokoh Rey yang berada tepat di depannya sekarang. Berjalan dengan langkah tegas, Rey bahkan tampak gagah sekali, dengan kemeja dan celana panjang yang membalut tubuhnya dengan sempurna.
Tidak sadar menelan ludah, Luana mengerjapkan mata. Memilih untuk melemparkan pandangan lagi-lagi ke arah lain, Luana mulai salah tingkah.
Rey terlalu memesona.
***
“Di mana kau duduk?”
Mare mengangkat kepala untuk balas menatap pada bola mata majikannya. Setelah pesawat itu mendarat beberapa puluh menit lalu, Rey dan rombongan menaiki mobil yang ternyata telah menunggu mereka sejak tadi.
Membawa tamu dari Munich itu ke salah satu hotel terbaik di kota ini, sang utusan tampak sudah begitu akrab berbicara pada Rey. Luana tidak mengerti apa yang dibicarakan dua lelaki dewasa itu, tetapi dia bersyukur Mare ternyata ikut dalam penerbangan.
Memandangi kota selama perjalanan, Luana menurut ketika Mare membimbingnya untuk masuk ke kamar super deluxe yang telah dipersiapkan.
Luana tidak bertanya saat Rey memilih jalan berbelok dari lobi hotel, sedangkan ia dan Mare terus lurus menuju arah lift. Tampak Jovi juga sudah bergabung dengan lelaki itu, menghilang di salah satu koridor yang Luana tidak tahu itu mengarah ke mana.
“Di kabin belakang, Nyonya,” jawab Mare melebarkan senyuman. “Apakah Nyonya berpikir saya tidak ikut?”
Luana mendesah. Kamar hotel yang baru dimasukinya beberapa menit lalu tampak begitu besar, mungkin bisa sepuluh kali lipat dari kamar yang ia tempati di kediaman Madam Collins.
Menengadah ke atas, Luana memperhatikan ukiran bunga yang berada di langit-langit hotel.
Berapa kira-kira harga kamar ini? Luana membatin.
Duduk di tepian ranjang yang berukuran sangat besar, Luana menggesekkan telapak tangan ke permukaan selimut yang benar-benar terasa lembut.
“Aku tidak tahu kau ikut,” ungkap Luana jujur. Membaringkan tubuh mungilnya di atas ranjang itu, ia masih memperhatikan langit langit kamar. “Kupikir aku akan sendirian, atau kupikir aku akan diasingkan entah ke mana.”
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar