Katanya jodoh itu adalah cerminan diri.
Tapi ... mengapa pria ini begitu egois dan ketus?
Dinda Gandis (25) desainer baju pengantin, mendapat kesempatan kedua setelah menerima donor jantung milik seorang wanita muda yang kini mengubah hidupnya.
Satu pertemuan tak terduga mengubah takdir keduanya dengan tak terduga.
Johan B. Bastian (33), pengacara sukses yang penuh misterius, terus terusik dengan sifat Dinda yang membawanya pada sosok wanita yang ia cintai dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Ria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Dinda turun ke lobi hotel menunggu Johan yang entah kemana menghilang begitu saja. Ia duduk di sofa besar milik hotel yang tersedia untuk para pengunjung.
"ck,, sekarang mau ngapain ya?? buku sketsa pun gak bawa" ujarnya lesu. Lalu meraih handphonenya dan tenggelam didunia maya.
Waktu terus bergulir hingga tanpa terasa sudah sore. Nyaris 4 jam Dinda menunggu Johan hingga battre handphonenya habis total.
Dan sosok pengacara itu turun dengan sibuk menerima telfon. Ia berjalan sambil sesekali berdialog serius. Dinda menatap dengan sinis.
Dan dinda menghampirinya tepat di depan pengacara itu yang terlihat sedikit terkaget. Namun ia tak bergeming masih sibuk dengan pembicaraan serius ditelfon hingga beberapa menit kemudian obrolan itu selesai.
"kau masih disini rupanya??"
Dinda terbengong dengan ucap Johan.
"heh!! menurut anda karena siapa saya masih disini??" seru Dinda jengkel.
"baiklah, sekarang kita kembali kekantor!!"ujarnya kepada dinda lalu ia berlalu begitu saja.
Namun Dinda tak bergeming dari berdirinya.
Dan Johan menyadarinya hingga ia berhenti.
"???" Johan bingung.
"saya tidak akan bergerak jika tidak ada hitam diatas putih!!" ujar Dinda serius.
Johan pun menjawab datar.
"hitam diatas putih??"
Dinda mengangguk pasti.
"saya harus pastikan bahwa hak saya aman, dan tuntutan 2 tahun penjara itu hilang" kata Dinda serius.
Johan menandang datar. Lalu ia melihat jam ditangannya seraya mengenyitkan dahinya.
"baik, 20 menit!!" sahut Johan cepat tanpa pikir panjang
"???" respon Dinda bingung.
"tulis perjanjian hitam di atas putih sekarang!!" perintah Johan.
Dinda terpelogo, pria ini memberi perintah setengah-setengah hingga ia bingung sendiri.
"jika kau tak bergerak cepat maka kesepakatan ini hangus!!" serunya santai seraya mengeluarkan handphonenya.
Dengan kelabakan Dinda mengeluarkan notes mininya. Dan dengan tulisan ala dokter ia membuat perjanjian bahwa pihak pertama Johan B. Bastian menghapus segala tuntutan pada pihak kedua Dinda Gandis. Dan pihak kedua bersedia menjadi supir selama 1 bulan untuk pihak pertama pada jam-jam tertentu.
Dan seketika Dinda memberikan kertas perjanjian itu kepada Johan yang terlihat sibuk dengan handphonenya. Dan dengan kasar ia meraih kertas itu dan menbaca dengan singkat.
"hey!! ini benar-benar membuat ku rugi. Tambahkan lagi pihak kedua akan merawat pihak pertama hingga lengannya pulih."
Mata dinda melebar.
"apa?? merawat??" sahut Dinda frustasi.
"apa kau tak tau bahwa bahuku retak dan butuh 3 bulan untuk pemulihan!!" kata Johan dingin.
"apa anda tidak berpikir ini keterlaluan?? saya sudah menbuang waktu saya untuk menjadi supir anda pak Johan!!" Dinda geram.
"baiklah, aku anggap kau menolak. Dan perjanjian ini batal" ujarnya santai seraya hendak merobek kertas perjanjian itu.
Namun dengan wajah panik, Dinda meraih jemari Johan untuk menghentikan robekan kertas itu.
"Baik!!! baik..saya setuju!!" ujarnya membuang egonya.
Johan hanya tersenyum liciknya jelas terukir disana.
"pulpen!!" perintahnya.
Dan Dinda meyerahkan pulpen merahnya itu kepada Johan.
"berbaliklah!!"perintahnya lagi dengan menyuruh tubuh Dinda dengan isyarat tangannya berputar
"???"namun ia menuruti perintah Johan untuk berbalik dengan wajah bingung.
"tahan!!" perintahnya tegas. Lalu ia mengunakan punggung Dinda untuk menjatuhkan tanda tangannya pada kertas perjanjian itu. Sontak Dinda terkaget melihat tingkah Johan.
"ini!!" ucapnya seraya memberikan kertas itu pada Dinda.
Dan Dinda menyambut dengan segera kertas itu, dan ia pun menandatangani kertas itu seketika, terukir wajah lega Dinda disana.
Sebenarnya Johan tak butuh lebih dari 1 bulan setelah Dodi kembali dari cutinya. Tapi mengingat dia butuh asisten tambahan, sehingga ia sengaja membuat perjanjian itu kepada Dinda yang tak perlu mengeluarkan uang sedikit pun.
"sekarang kembali kekantor!!" perintahnya yang berjalan menuju depan hotel. Dinda masih terburu-buru menyimpan kertas perjanjiannya itu kedalam tas. Dan berlahan ia pun terburu-buru keparkiran untuk mengambil mobil Johan.
Dan selama perjalan kedua terdiam. Johan tetap serius memandang handphonenya.
🍃🍃🍃🍃🍃
Sesampai dikantor Johan turun dengan segera. Ia masuk dengan terburu-buru. Dinda yang masih tak terbiasa dengan gaya ngebosnya Johan pun jadi mengupat dalam hati.
"maaf hati, untuk beberapa waktu kedepan kamu mungkin akan sering mengupat kotor karena pria sombong itu, maaf yaa" ujar Dinda sedikit menyesal dan mengusap dadanya seraya melihat punggung Johan yang berlalu hilang kedalam gedung itu.
Perlahan Dinda mengepaskan parkiran mobil mewah Johan. Lalu ia turun dan masuk kedalam gedung pengacara itu. Namun langkahnya terhenti oleh panggilan Wanita Resepsionis.
"Mbak..Mbak??" panggil seorang wanita resepsionis dengan setengah berlari menghampri Dinda yang hendak berjalan menuju pintu lift.
Dan seketika Dinda berhenti melangkah.
"ya!!"
"mbak tidak bisa masuk kalo tidak buat janji terlebih dahulu!! tolong untuk tidak merepotkan saya, karena saya tadi kena tegur karena anda masuk nyelonong!!"
"ah!! maaf mbak soal tadi saya sedang emosi sekali" jelas Dinda jujur.
"tapi sekarang saya, saya supir pak Johan kok mbak" ujar Dinda kaku.
" Supir" bengong tak percaya.
"iyya serius mbak, saya supir baru, tapi gak lama mbak cuma 1 bulan aja" jelasnya.
"mohon kerja samanya mbak, permisi" ucap Dinda sopan seraya meniggalkan Wanita Resepsionis yang masih terpelogo mendegar penjelasan Dinda tadi.
Dinda pun naik ke lantai 3. Dan lagi ia disambut dengan wajah sinis para 3 penguhi wanita dilantai itu. Wajah tak ramah mereka benar-benar kentara disana. Dinda dengan canggung memberi hormat pada ke 3 sebelum melewati meja asisten Dodi yang terlihat kosong yang tepat di depan ruang Johan.
Dinda berhenti seketika, ketika mendengar ada suara orang tengah berdiskusi didalam ruangan Johan.
"yaaah, nunggu lagi!!" lirihnya lesu. Padahal perutnya sudah lapar dan battre handphonenya pun habis. Lalu ia duduk di kursi yang berada di sisi meja asisten Dodi dengan perasaan dongkol.
Dan diskusi itu berakhir dengan 1jam setengah. Dimana matahari telah tenggelam. Para karyawan wanita yang sinis tadi pun bahkan telah pulang kantor. Terlihat seorang pria penting dengan seorang asistennya yang memegang tas keluar dengan wajah senang dari ruangan Johan. Johan pun terlihat ramah melayaninya. Bahkan pria sombong itu tersenyum ketika berbicara.
"ckckckc.., bisa tersenyum juga dia!!" celetuk Dinda mengerutu.
Dan ketika kliennya berlalu, berlahan Johan melonggarkan dasinya seraya menghela nafas panjangnya. Lalu ia berbalik dan sedikti kaget karena melihat tatapan kesal Dinda.
"kau masih disini??"
Dinda pun bangun seraya berjalan ke hadapan Johan.
"nama saya DINDA, bukan "kau"!! ucapnya kesal.
"ini" ujarnya seraya menyerahkan kunci mobil kehadapan Johan.
"???" Johan menyambut dengan bingung.
"saya mau pulang, jadi ini kunci mobilnya!!" jelasnya.
"dimana-mana itu supir yang memegang kunci mobil!! apa kamu gak tau??" ucapnya mengejek. Lalu ia masuk kedalam ruangannya. Dinda terpaku mendengarkan ucapnya Johan yang benar-benar menjengkelkan.
Lalu Johan meraih tabnya dari meja kerja. Dan membawanya seraya menyerahkan tab itu kehadapan Dinda yang terlihat bingung.
"semua jadwal ku ada disana, kau bisa datang sesuai jadwal ketika aku ada pertemuan diluar.
Dinda meraih berlahan tab itu dengan tidak senang, dan mencoba membuka layar itu yang ternyata mengunakan kunci pola.
"ini apa passwordnya??" tanya Dinda lagi.
"J"
" J" ,gimana??" Dinda bertanya lagi seraya mencoba kelayar tab itu.
Johan menghela nafas panjang dan sedikit kesal.
"bisakah kau gunakan otak mu?? dan bisakah kau pergi sekarang!!"perintahnya kesal dengan lelah merajai raganya.
Mendengar perkataan itu membuat Dinda marah. Namun ia memilih untuk tak menyahut, dan berlahan Dinda meniggalkan Johan sendiri diruangnya dengan tumpukan kertas diatas mejanya.
sukses
semangat
mksh