Di kehidupan sebelumnya, Aluna dibenci dan dikucilkan oleh keluarga kandungnya sendiri karena hasutan Chika–anak yang diadopsi oleh Keluarga Anggara hingga tewas mengenaskan. Tidak hanya itu, Chika yang memang sudah mengincar harta kekayaan Keluarga Anggara pun akhirnya menghabisi semua anggota keluarga Anggara tanpa sisa. Hal tersebut membuat Aluna menyesal akan sikapnya yang selalu diam dan menerima saat ditindas.
Saat takdir memberi Aluna kesempatan untuk hidup kembali, Aluna berjanji untuk mengubahnya.
"Aku pasti bisa melindungi dan mempertahankan keluargaku! Pasti!" ucap Aluna penuh keyakinan.
Tapi, lho kok? Kenapa sikap semua orang tidak sama seperti di kehidupan sebelumnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Yuk, ikuti kisah SUARA HATI ALUNA. Jangan lupa like, komen, dan rate bintang 5 nya ya. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Aluna bersedekap dada. Dia sudah tahu hal ini akan terjadi. Di kehidupan sebelumnya ia tidak bisa mengelak dari tuduhan ini. Tapi, sekarang dia sudah mempersiapkan segalanya. Luna tidak akan membiarkan dirinya dicap buruk oleh keluarganya sendiri.
"Ck. Tipuan basi! Setelah ini kamu akan berpura-pura membelaku di hadapan semua orang. Padahal kamu sengaja melakukannya untuk lebih menyudutkanku dan membuat citraku buruk di depan mereka semua. Terutama mama dan Kak Armand," batin Aluna.
Aruan dan Armand saling tatap. Keduanya berpikir mungkinkah suara hati Aluna yang mereka dengar itu benar? Chika adalah gadis yang baik, lemah lembut, dan pengertian. Tidak mungkin gadis manis itu melakukannya. Aluna hanya salah paham. Meski kejadian yang dipikirkan oleh Aluna benar-benar menjadi kenyataan sebelumnya. Pasti semua itu hanya sebuah kebetulan.
Belum sempat Aruan dan Armand bereaksi atas penemuan amplop coklat itu, hal yang mereka dengar dari suara hati Aluna itu menjadi kenyataan. Chika membela Aluna. Iya, setidaknya itulah yang akan mereka kira jika mereka tidak mendengar suara hati Aluna barusan.
"Ma, Kak Armand, jangan berpandangan buruk tentang Kak Luna! Ini pasti ada kesalahpahaman. Mama dan Kak Armand jangan hukum Kak Luna ya!" ucap Chika.
Aruan dan Armand kembali saling pandang. Mungkinkah penilaian mereka terhadap Chika selama ini salah? Gadis yang mereka kira polos dan penuh kasih sayang nyatanya hanya seorang gadis yang manipulatif.
"Ma, Kak, plis jangan hukum Kak Luna ya!" pinta Chika sambil mengatupkan kedua tangan.
"Tidak usah memohon begitu! Lagian kenapa kamu begitu yakin kalau isi amplop itu adalah uang?" ujar Aluna sambil menatap sinis Chika.
"Tapi, Ibu Nur bilang–"
Aluna merampas amplop berwarna coklat itu dari tangan Nur.
"Isi amplop ini bukan uang," potong Aluna.
Gadis itu membuka amplop berwarna coklat tersebut. Dan benar isi amplop itu bukanlah uang seperti yang dituduhkan oleh Nur.
"Ini surat-surat yang aku tulis untuk ibuku selama tinggal panti. Dulu, setiap ulang tahun aku selalu berharap bisa berkumpul dengan keluarga kandungku. Makanya aku menulis semua harapanku itu pada selembar kertas dan berharap suatu saat hal yang aku inginkan itu menjadi kenyataan," jawab Aluna.
Dia memang menulis harapanya untuk bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarga kandungnya setiap ulang tahun. Aluna menatap kumpulan kertas berisikan harapan di tangannya.
"Dulu aku memang sangat mengharapkan bisa berkumpul dengan keluarga kandungku. Tapi, setelah semua kesulitan yang aku rasakan, perlahan harapan itu sirna. Aku tidak mengharapkan apa pun lagi karena bagi mereka anak perempuan Keluarga Anggara tetaplah Chika," batin Aluna.
Aluna sudah mengeraskan hati untuk tidak mengharapkan apapun di kehidupan ini selain membersihkan namanya. Tapi, entah kenapa dia masih merasakan sesak ketika membayangkan mereka hanya menyayangi Chika.
Aruan dan Armand yang mendengar suara hati Aluna merasa bersalah. Meski tidak pernah mengatakannya secara gamblang, keduanya memang hanya mengakui Chika sebagai anak perempuan satu-satunya di Keluarga Anggara.
Chika menatap wanita bernama Nur itu untuk meminta penjelasan. Nur menggeleng. Dia juga bingung kenapa isi amplop itu berubah jadi surat.
"Maaf, atas kesalahpahaman yang terjadi. Tadi, saya melihat Aluna mendekat ke arah laci di kantor panti. Jadi, saya kira dialah yang mencuri uangnya. Apalagi uang yang ada di dalam laci kantor hilang. Makanya saya asal menuduh tadi. Saya minta maaf," ucap Nur.
"Ma, karena ini sebuah kesalahpahaman, bagaimana kalau kita maafkan Bu Nur saja. Lagian dia bersikap seperti itu karena merasa bertanggung jawab dengan keuangan panti," ucap Chika seperti biasa gadis itu ingin terlihat baik hati di hadapan semua orang.
Aluna mencebik. Ia tahu, tidak ada yang bisa diharapkan dari keluarganya agar dia memperoleh keadilan dari tuduhan tersebut.
"Karena kamu berkata seperti itu ba–"
Belum sempat Aruan menyelesaikan kalimatnya, ia kembali mendengar suara hati Aluna.
"Hah! Aku yakin karena perkataan manis Chika, mama dan Kak Armand lupa dengan perkataan mereka yang akan melaporkan hal ini pada polisi. Sepertinya nama baikku memang tidak berarti bagi mereka."
Aruan menatap Armand meminta pendapat dari anak lelakinya tersebut. Setelah mendapat anggukan dari Armand, Aruan kembali bersuara.
"Sebelum kamu menggeledah koper putriku tadi, bukankah kita sudah membuat kesepakatan bahwa jika hal yang kamu tuduhkan tidak terbukti, kamu bersedia mendekam di penjara. Jadi, bersiaplah mendekam di penjara. Saya akan melaporkanmu atas tindakan pencemaran nama baik. Kita akan bertemu di pengadilan nanti," ucap Aruan dengan nada tegas.
Sikap Aruan yang tiba-tiba berubah itu membuat Aluna berkali-kali mengerjapkan matanya.
"Tumben sekali mama tidak mendengarkan Chika. Tapi, aku bahagia karena setidaknya dia masih memikirkanku," batin Aluna.
Sikap Aruan yang memberikan pembelaan untuknya, membuat hati Aluna berbunga.
Aruan dan Armand tersenyum. Keduanya ikut merasa bahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Aluna.
Tapi berbeda dengan Chika dan Nur. Keduanya terkejut dengan sikap yang diambil oleh Aruan.
"Ma, Ibu Nur tidak sengaja menuduh Kak Luna. Kenapa harus dilaporkan ke polisi?" protes Chika.
"Terus kalau misalkan uang itu betul-betul ditemukan di dalam koperku, aku harus terima gitu dipenjara. Padahal belum tentu juga kan aku yang mencurinya?"
Aluna ikut berbicara.
"Kak Luna. Bukan begitu maksudku. Aku cuma kasihan karena Bu Nur sudah tua. Dia pasti takut kalau harus berurusan dengan polisi. Apa Kakak tidak kasihan? Bagaimanapun dia yang ikut merawat Kakak selama ini."
Lagi. Chika berusaha membela Bu Nur.
"Bu Nur belum terlalu tua. Lagian kalau dia merasa sudah tua, harusnya dia lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Apalagi dia mengenalku sejak kecil," pungkas Aluna.
"Selain itu aku merasa kalau Bu Nur sengaja ingin menjebakku dengan tuduhan itu," tambah Aluna.
"Apa maksudmu?" tanya semua orang secara serempak.
"Memangnya kalian tidak pernah memikirkan kalau dia sengaja melakukan itu karena ingin menjebakku?" jawab Aluna sambil menatap semua orang satu per satu.
"Maksudmu dia sengaja...."
Aruan menatap wanita bernama Nur itu.
Chika menelan ludahnya.
"Kak, Bu Nur tidak mungkin sengaja menjebakmu. Memangnya buat apa dia menjebakmu, iyakan?" Chika mulai resah.
"Aku tidak bisa menilai sendiri. Tapi, aku rasa aku memiliki bukti kalau Bu Nur memang berniat menjebakku," jawab Aluna.
Chika kembali menatap Nur.
"Bukti? Bukti apa, Nak? Jika memang Nur sengaja menjebakmu, maka ibu akan memecatnya jadi pengurus di panti ini."
Bu Retno yang dari tadi menyimak, ikut berbicara. Jika memang Nur sengaja menjebak Aluna, maka Nur harus dihukum.
Aluna tersenyum. Untung saja kali ini ia sudah menyiapkan segalanya kali ini. Sehingga ia bisa menuntut keadilan untuk dirinya.
"Ayo ikut aku ke kamar!" ajak Aluna.
Gadis itu meminta semua orang ikut ke kamarnya.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut saling melempar pandangan. Semuanya setuju untuk ikut Aluna ke kamarnya.
Aluna membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan mempersilakan semua orang untuk masuk ke ruangan tempat ia menghapus lelahnya.
"Masuklah!" suruh Aluna.
Aruan, Armand, Chika, Bu Retno, dan Bu Nur mengikuti, mereka semua masuk ke dalam kamar itu.
"Memangnya apa yang ingin kamu tunjukan pada kami, Luna?" tanya Aruan.
Tanpa sengaja Aruan menatap ruangan yang menjadi kamar putrinya selama ini. Ruangan tersebut sangat kecil, hanya ada tempat tidur kecil dan meja belajar. Jauh sekali jika dibandingkan dengan kamar Chika di rumahnya. Kembali, perasaan bersalah menghinggapi hati Aruan.
"Ah ketemu!" ucap Aluna sambil mengambil sesuatu.
Semua orang yang ada diruangan tersebut menatap Aluna, terutama Chika dan Nur. Mata keduanya membulat melihat sesuatu yang dipegang oleh Aluna.
ini si nenek" rada" oleng