karya pertama ini sedikit tidak layak untuk di baca, takutnya kalian baca malah jadi pening kepala 😅
"kamu itu hanya istri keduaku, jadi jangan banyak bertingkah"
perasaanku hancur seketika mendengar ucapan suami ku sendiri.
mengapa takdir seolah ingin mempermainkan ku.
apa istri pertama nya tau bahwa suaminya telah menikah lagi, bagaimana perasaan nya kalau tau suaminya telah menikah dengan ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riska Almahyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sakit 2
hatiku sangat hancur karena ucapan mas Danu barusan. tangis ku pun tak bisa ku tahan, jadi ini alasan mas danu jarang pulang ke apartemen, Karena dia menemani istri pertamanya. ini juga alasan mas danu tak memberi ku ijin keluar dari rumah karena tidak ingin orang lain mengetahui mas Danu mempunyai istri kedua.
"ya Allah apa salahku, kenapa kau memberikan cobaan padaku di luar kemampuan ku, aku tidak siap menerima nya" ucap ku dalam hati, sambil terus menghapus air mataku yang bercucuran.
apa ibu tau kalau aku hanya di jadikan istri kedua. ibu tega sekali membiarkan aku ada di posisi ini. aku tak ingin di cap sebagai perusak rumah tangga orang, aku juga tidak rela hanya di jadikan istri simpanan. aku berhak bahagia Bu, aku ikhlas di jodohkan tapi aku tidak rela kalau dijadikan istri kedua.
"orang ketiga dalam rumah tangga mas danu" kataku parau.
mas Danu bahkan tidak perduli pada ku, saat aku sakit seperti ini dia lebih memilih istri pertamanya di bandingkan menemaniku yang sedang terbaring lemah di rumah sakit tanpa siapapun.
air mataku semakin deras aku tak bisa mencegah nya, sesak di dadaku semakin dalam kala mengingat almarhum ayah.
"ayah Laras harus bagaimana?, Laras tidak siap menerima ini semua"
"mengapa engkau menguji hamba seberat ini"
pintu terbuka nampak pembantu yang waktu itu di rumah nenek mengampiriku, pembantu yang menyiapkan makanan untukku waktu itu.
"boleh bibi duduk dan menamani non Laras?"
aku menghapus air mataku, tersenyum ke arah nya dan menganggukkan kepalaku.
dua hari sudah berlalu, selama ini aku menunggu kedatangan mas Danu di rumah sakit, namun harapan ku hanya angan-angan saja. mas Danu tidak menengok ku, sampai dokter mengatakan aku bisa pulang pun mas Danu tidak menemaniku.
selama di rumah sakit bibi setia menemani ku, memberiku semangat tiada henti saat aku sudah malas meminum obat yang cukup besar-besar bagi ku.
sebenarnya aku ingin mengorek informasi tentang istri mas Danu lewat bibi, tapi ku urungkan niat ku itu, aku ingin mendengarnya langsung dari mas Danu bukan dari orang lain.
sampai di apartemen aku duduk di sofa, baru tinggal seminggu di sini aku sudah merindukan apartemen ini.
wangi khas mas Danu tidak hilang bahkan setelah seminggu lebih mas Danu tidak ke apartemen tapi entah mengapa aku selalu mencium wanginya di kamar dan di ruang tamu ini, tempat terakhir mas Danu duduk di sini.
"bibi kalau mau kembali ke rumah nenek sekarang tidak apa ko, Laras di tinggal saja" kataku Karena kasihan pada bibi yang setia menemani ku selama 3 hari di rumah sakit.
"tapi non kata tuan, bibi harus menemani non di apartemen dan menetap di sini"
"oh, yasudah bibi masuk saja ke kamar, istirahat lah dulu"
"baik non kalau begitu bibi ke belakang dulu"
aku mengangguk kan kepalaku sebagai jawaban.
mungkin karena kejadian kemarin membuat mas Danu mengirimkan bibi untuk menemani ku takut terjadi apa-apa padaku. yang hanya berstatus istri kedua , tidak memungkinkan mas Danu mengawasi ku setiap hari.
"istri kedua" kataku pelan sambil tersenyum meledek.
malam harinya aku dan bibi sedang makan terdengar suara pintu terbuka.
melihat mas Danu menghampiri kami aku menawarkan mas Danu untuk ikut makan bersama kami.namun di tanggapi dengan gelengan kepala mas Danu.
melihat bibi yang akan berdiri membawa piring nya yang masih penuh, aku langsung bertanya.
"bibi mau ke mana?"
"bibi makan di belakang aja non"
"gak usah bi di sini aja temani Laras makan" cegah ku.
"tapi non"
"udah gak papa bi di sini aja" potongku.
"mas tunggu kamu di kamar" mendengar perintah mas Danu dengan cepat aku menganggukkan kepalaku.
"bibi gak usah sungkan ya kalau makan berdua sama Laras, di sini aja di meja makannya"
"tapi bibi takut tuan marah"
"gak papa ko bi biar Laras yang bilang"
"tapi kalau ada tuan bibi di belakang saja ya makannya, bibi merasa tidak enak"
"yaudah terserah bibi aja"
dengan cepat aku menghabiskan makananku dan menghampiri mas Danu yang sedang santai duduk di atas tempat tidur.
"mas" panggilku.
"duduk lah"
aku pun mengikuti perintah mas Danu yang menyuruh ku agar duduk di sebelahnya.
"apa alasan mas menikah dengan Laras?" tanyaku.
mas Danu menatap ku tidak suka karena pertanyaan yang baru saja ku lontarkan.