Rui Haru tidak sengaja jatuh cinta pada 'teman seangkatannya' setelah insiden tabrakan yang penuh kesalahpahaman.
Masalahnya, yang ia tabrak itu bukan cowok biasa. Itu adalah Zara Ai Kalandra yang sedang menyamar sebagai saudara laki-lakinya, Rayyanza Ai Kalandra.
Rui mengira hatinya sedang goyah pada seorang pria... ia terjebak dalam lingkaran perasaan yang tak ia pahami. Antara rasa penasaran, kekaguman, dan kebingungan tentang siapa yang sebenarnya telah menyentuh hatinya.
Dapatkah cinta berkembang saat semuanya berakar pada kebohongan? Atau… justru itulah awal dari lingkaran cinta yang tak bisa diputuskan?
Ikutin kisah serunya ya...
Novel ini gabungan dari Sekuel 'Nuha Istri tersayang' 'Aku akan mencintamu suamiku,' dan 'Ellisa Mentari Salsabila' 🤗
subcribe dulu, supaya tidak ketinggalan kisah baru ini. Terima kasih, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berjaga-jaga, kalau tidak...
^^^Bab ini sampai bab 15 hanya 500 kata ya Readers 🤗 ,, semoga tetap bisa dinikmati. Terima kasih. Oya, baca 2 bab boleh banget 👍^^^
Bandhi mengetik pesan singkat di grup geng motornya:
📩 “Sepulang kuliah, buntuti ke mana Ray pergi. Dan… culik adiknya.”
Ia menyisipkan satu foto: potret Zara yang diambil saat insiden bersama Haru dan Asaki. Wajah gadis itu terlihat jelas, tak sadar dirinya tengah diawasi.
📩 “Baik, bos.”
Sementara itu, pukul setengah empat sore, Zara baru selesai latihan Cheerleader bersama komunitasnya. Ray telah menunggunya cukup lama di parkiran. Saat ini, pria itu sudah tidak disibukkan kuliah, melainkan tengah menunggu jadwal wisuda.
“Maaf ya abangkyuu~ jadi nunggu lama.”
“Nggak masalah. Yuk, pulang.”
"Okei dokei."
Saat masuk mobil, Ray berkata. “Zara, kamu duduk di belakang dan pakai baju yang udah aku siapin."
“Ha? Serius?”
Ray mendorong pelan bahu Zara masuk ke pintu tengah “Coba dulu. Buruan.”
“Maksudnya apa sih, bang?”
“Hapus dulu riasannya.”
“Hah? Kenapa? Jangan-jangan, aku harus nyamar lagi? Huh! Nggak seru."
Ray menarik napas. Mengangguk pelan, suaranya rendah namun tegas, “Kamu harus nurut saat ini. Diam dulu, oke? Dan pakai wigmu tadi."
"Iya iya, abang Ray. Zara nurut."
Beberapa menit kemudian, Ray menatap adiknya. Wajah bersih tanpa make-up dan... penampilan barunya: kaos hitam longgar, celana jeans gelap, dan sepatu sneakers. Rambutnya disembunyikan dengan wig yang sudah disiapkan dan topi.
Zara kini tampak seperti remaja laki-laki. "Gila! Gue kembali tampan seperti abang Ray!"
Ray tersenyum puas.
“Sempurna. Yuk, pulang.”
“Abang! Jelasin dulu! Kenapa aku harus nyamar begini lagi? Risih, tauk! Apa abang Ray mau ajak aku ke bar lagi? Wooooww... Atau, jangan-jangan geng motor itu lagi ya?!"
Ray tak menjawab, malah meraih botol parfum dari saku jaketnya dan menyemprotkan ke Zara.
“Kamu suka kan bau parfum abang?”
“Yup. Suka banget, karna wangiiiii~
“Nah, sekarang ayo. Kita pulang.”
“Heeee?! Jelasin dulu abang! Aku nggak mau pulang kayak gini tanpa tahu kenapa! Apa bener aku mau diculik? Apa sebahaya itu? Aku harus apa dengan gaya seperti ini?"
Ray hanya menjawab dengan satu kalimat, “Nanti aku jelasin di jalan. Yang penting sekarang, kamu aman dulu.”
"Iya," Zara manyun. "Anj*y bener punya abang begini. Suka banget ngatur-ngatur adeknya. Huh!" gerutunya. "Tapi aku suka, suka banget ikutin abangg~"
"Kamu bilang apa, Zara?"
"Ahahaii... Nggak ada kok. Sumpritt."
"Aku hanya berjaga-jaga. Tapi, aku sangat berharap kita bisa pulang hari ini dengan aman. Dan kalaupun tidak… itu bakal jadi nasib kita, Zara. Habis sudah riwayat kita." Batin Ray. Pandangannya menatap lurus ke jalanan, tapi pikirannya berkecamuk.
Namun, kata-kata itu tak jadi ia ucapkan. Ia tak ingin membuat Zara takut. Tak ingin adiknya tahu betapa gelap dan gentingnya situasi yang sedang mereka hadapi. Zara tuh nggak punya takut Ray 😩
Untuk mengalihkan rasa takut Zara, “Pegang HP aku." Ray menyodorkan ponselnya, membuka aplikasi food online. "Aku traktir kamu sepuasnya. Pilih apa pun, Zara."
Zara mendengus. Tapi saat matanya melirik layar ponsel, ada setumpuk makanan favoritnya terpampang di sana. Burger keju meleleh, fire chicken, siomay, es teller creamy dan minuman boba varian baru… Aaapapun itu.
Perut Zara sontak bernyanyi seriosa. Perasaan ngambeknya mulai tergoda oleh rasa lapar.
Dalam hati, Ray berkata,
“Maaf, Zara. Aku nggak bisa biarin kamu tahu... belum sekarang. Karena begitu kamu tahu, kamu nggak akan bisa lihat dunia ini dengan cara yang sama lagi.”
Tak butuh waktu lama.
Saat mobil mereka berbelok ke jalanan sepi, suara itu mulai muncul. Deru mesin motor. Satu, dua… lalu enam. Bisingnya meraung, liar seperti kawanan serigala kelaparan yang tengah memburu mangsanya.
Raung! Raunggg!!
Semakin dekat. Semakin keras. Dan kini… memekakkan telinga.
Zara menoleh ke belakang, "Abang, ada kampanye kah??"
saat ada tugas, zara malah laper, lagian ray juga sih nawarin makanan gitu.
suasana makin tegang dengan munculnya suara motor misterius
Kisah tentang si kembar Zara dan Ray yang memiliki sifat yang saling bertolak belakang, Zara yang sangat tergantung pada abangnya, dan Ray yang terlalu dewasa dari umurnya. Dia yang selalu menyuruh Zara untuk mandiri nyatanya hatinya jauh lebih terikat sama Zara yang manja dan ceria.
Ketika Zara memiliki lelaki lain yang menjadi pusat dunianya, yaitu Haru, Ray merasa kehilangan. Dinamika cinta mereka begitu rumit, belum lagi Haru yang memiliki penyakit jantung dan Asaki yang tidak rela melihat Haru mencintai Zara.
Pokoknya, kita dibuat penasaran untuk terus membuka tiap bab dari kisah Zara ini.
Selamat ceritanya udah tamat ya, Thor.
Silakan yang mau baca, rekomended deh.
Iya, tersendat-sendat cerita ini...
Ya udah, emang udah ga ada lagi konflik jadi sewajarnya tamat.
Jadi, ini keluar dari konsep awal ya?
Kayaknya Ray nih yang nakal bikin author jadi terpaksa membelokan plot.