"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"
Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.
Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan
Ayah mengaku kalau sudah merokok sejak masih muda banget. Dulu, Ayah pernah bercerita kalau Kakek marah karena memergoki Ayah merokok di pohon mangga. Umur Ayah saat itu masih sebelas tahun. Ayah sengaja memilih pohon mangga di belakang rumah karena rimbun daunnya. Ayah bisa bersembunyi di antara dedaunan itu. Tapi, hari itu jadi hari sial Ayah.
Kakek marah dan memukul Ayah dengan sapu. Tapi, Ayah nggak pernah kapok. Besoknya, Ayah masih merokok. Hukuman dari Kakek justru membuat Ayah memikirkan cara lain agar bisa merokok dengan lebih aman.
Sampai menikah, Ayah belum berhasil menghilangkan kebiasaan buruknya merokok. Ibu berkali-kali mengomel dengan berbagai cara, bahkan sampai menangis. Tapi, hasilnya sia-sia.
Ayah terpaksa berhenti merokok karena dokter memvonis kanker paru-paru. Aku ingat banget, saat itu baru saja dosen pembimbing skripsiku menyatakan bahwa skripsi, yang kukerjakan dengan susah payah itu, selesai. Aku bahagia karena bisa lulus dalam waktu singkat. Tapi, duniaku sekaligus runtuh karena Ayah menderita penyakit separah itu.
Saat itu, kondisi Ayah masih nggak terlalu buruk. Satu bulan setelah tahu ada kanker di tubuhnya, Ayah masih bekerja dan melakukan perjalanan dinas ke luar kota selama tiga hari. Ayah berusaha keras nggak terlihat menyedihkan. Semangat sembuh Ayah tinggi banget.
Dengan dukungan Ibu, Ayah menjalani pengobatan. Nggak cuma pergi ke dokter secara rutin, Ibu juga meminta Ayah untuk mencoba berbagai pengobatan alternatif. Walau kadang nggak masuk akal, Ayah tetap mencoba. Akibatnya, kondisi Ayah sempat jatuh beberapa kali karena ternyata pengobatan alternatif itu justru memperburuk kondisinya.
Saat aku sudah bekerja di Hantex selama tiga tahun, Ayah memutuskan pensiun dini dari pekerjaannya. Dengan berat hati, Ayah melepas jabatan sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan ekspor-impor. Kondisi Ayah benar-benar mengerikan saat itu. Hampir tiap hari, Ayah batuk berdarah.
Kemoterapi sepertinya nggak berhasil melemahkan sel-sel kanker di paru-paru Ayah. Seluruh rangkaian pengobatan itu justru membuat tubuh Ayah nggak berdaya. Rambut Ayah rontok parah. Badan Ayah kehilangan seluruh lemak dan daging dalam waktu singkat.
Aku bersyukur Ayah masih bisa bertahan selama 13 tahun ini. Sayang, kondisinya nggak pernah benar-benar membaik. Sekarang, kanker Ayah sudah mencapai stadium 3. Aku berharap semuanya bisa selesai dan Ayah nggak perlu merasakan sakit lagi. Tapi, tubuh Ayah menunjukkan tanda-tanda memburuk.
Permintaan Ayah semakin membuatku merasa bersalah. Gimana kalau Ayah meninggal sebelum aku menikah? Gimana kalau Ayah nggak pernah menjadi wali nikahku sampai akhir hidupnya?
"Mbak lagi deket sama siapa sekarang?" tanya Ayah saat aku membantunya makan. "Kenapa nggak pernah dibawa ke rumah pacarnya? Ayah mau kenal."
Aku tersenyum, tapi rasanya pedih banget. "Ayah sembuh dulu. Nanti, pacar Mbak dateng ketemu Ayah."
"Kenapa kalau Ayah masih sakit? Pacarnya Mbak nggak mau ketemu Ayah?" Ayah terlihat sedih. Dengan tubuh lemahnya, kesedihan Ayah terasa semakin menyesakkan bagiku. "Jangan mau sama cowok yang kayak gitu. Kalau nggak mau nerima keluarga Mbak, lupain aja!"
Lagi-lagi, aku cuma bisa tersenyum. Aku nggak tahu harus mengatakan apa. Aku nggak tega melihat Ayah sedih. Aku nggak sanggup membuat Ayah berharap terlalu tinggi. Aku juga nggak mampu mewujudkan keinginan Ayah karena sampai sekarang nggak ada pria yang dekat denganku.
Pikiranku penuh. Aku terus memikirkan kondisi Ayah sekaligus pusing dengan cara untuk memenuhi harapannya. Rasanya, semuanya terlalu berat dan sama-sama nggak mungkin terwujud.
Lalu, apa yang harus aku lakukan?
"Lo kenapa kusut banget akhir-akhir ini?" tanya Mbak Chiki. Di hadapannya sudah ada bakso dengan limpahan jeroan.
Aku menambahkan saus dan sambal ke mangkuk baksoku. Baksoku terlihat lebih normal karena nggak mendapat tambahan jeroan. Aku nggak terlalu suka dengan organ-organ dalam hewan walau Mbak Chiki selalu menyebut itu sebagai surga dunia.
Suasana kantin pabrik di jam makan selalu berisik. Ini bukan suasana favoritku. Tapi, aku dan Mbak Chiki sama-sama sedang nggak berminat ke luar untuk mencari makan. Bakso pedan dan panas nggak terlalu buruk untuk sedikit melunakkan batu-batu besar yang menyesakkan kepala kami.
"Ayah lagi jelek banget." Aku mengaduk baksoku. Aroma gurih menyergap wajahku dan sukses membuatku semakin lapar. Warna kuahnya jadi memerah dan terlihat seksi banget.
"Ya, Allah, Ta." Mbak Chiki meletakkan sendok dan garpunya. Wajahnya jelas menunjukkan panik dan khawatir. "Terus, gimana? Sekarang, Ayah di rumah apa rumah sakit?"
Aku mencoba bersikap biasa saja. Potongan bakso mulai masuk mulutku. Rasa pedas dan panasnya meledak di mulut dengan campuran gurih yang enak banget. "Di rumah, kok. Kemarin habis cek ke dokter." Aku menggeleng. "Nggak ada berita baik sama sekali."
"Lo, kok, nggak cerita?" protes Mbak Chiki yang kehilangan hasrat makan.
"Gue nggak enak ceritanya. Kayaknya, cerita gue nggak ada yang seneng gitu, sedih mulu. Lo pasti bosen dengernya juga," jawabku jujur.
Buru-buru, Mbak Chiki menggeleng. "Sembarangan!" bentaknya. "Terus, lo nggak cerita ke gue, ceritanya ke siapa lagi? Lo tahan sendiri? Lo nggak sekuat itu buat nyimpen beban sendirian."
Mbak Chiki benar. Rasanya sesak banget nggak membagi keluhan pada siapa pun. Kepalaku jadi lebih mirip balon yang semakin membesar karena berisi masalah yang nggak terselesaikan. Aku nggak pernah tahu sampai mana batas elastisitas kepalaku menampung semua masalah ini. Yang aku tahu, kepalaku bisa pecah dan nggak sanggup menahan apa pun lagi.
"Sebenernya, yang bikin gelisah nggak cuma kesehatan Ayah aja." Aku mulai membuka diri lagi ke Mbak Chiki. Selain Mbak Chiki, aku nggak punya orang yang bisa kupercaya untuk bercerita.
"Ada masalah lain?" tanya Mbak Chiki yang masih belum menyentuh sendok dan garpu lagi. Pandangan matanya terus terarah padaku.
"Ayah minta gue cepet nikah. Ayah takut nggak sempet ngelihat gue nikah dan bahagia." Aku tersenyum, tapi perih di dadaku semakin terasa. "Ayah sedih gara-gara nganggep gue terlalu memaksakan diri buat membahagiakan orang lain."
"Ya, udah. Lo nikah aja," komentar Mbak Chiki yang nggak masuk akal.
Aku melotot pada seniorku itu. "Mbak?" Aku nggak tahu harus menanggapi apa.
Mbak Chiki akhirnya mulai memakan baksonya. "Gue tahu," katanya agak kesulitan karena mulutnya penuh. "Gue paham lo sampai sekarang nggak nikah gara-gara fokus sama Ayah, sama keluarga lo. Tapi, Ayah lo bener, Ta. Lo udah berkorban banyak buat keluarga lo. Nggak ada salahnya lo mulai mikirin kebahagiaan lo sendiri."
"Tapi, Mbak. Gimana mau nikah kalau gue aja nggak deket sama cowok sama sekali. Waktu gue juga habis buat kerja dan urusan rumah. Gue nggak punya waktu kenalan sama cowok, apalagi pacaran." Aku agak kesal dengan sikap Mbak Chiki yang terkesan meremehkan masalahku.
Mbak Chiki menunjuk sesuatu di belakangku. "Ada dia."
Aku menoleh ke belakang. Mataku membelalak saat melihat pria yang satu minggu ini berhasil membuatku kesal. "Jangan bilang yang Mbak maksud itu--"
"Raditya Wirawan." Mbak Chiki memotong ucapanku dengan bangga. Dia mengangguk dengan pipi menggembung karena bakso utuh yang baru saja masuk mulutnya.
"Jangan gila, Mbak!" bentakku.
Mbak Chiki meminum es jeruknya untuk membantu makanan di mulut cepat tertelan. "Dia punya potensi bagus buat jadi calon suami lo, Ta. Pertama dia belum nikah. Kedua dia terang-terangan nunjukin ketertarikan sama lo di hari pertama kalian ketemu. Ketiga pekerjaannya oke dan lo tahu banget berapa gajinya. Keempat nggak ada cowok lain yang deket dan minat sama lo."
Aku membuka mulut lebar, tapi nggak mampu membantah apa pun. Penjelasan Mbak Chiki masuk akal. Tapi, bagian keempat membuatku tersinggung walau benar adanya.
Mbak Chiki meletakkan telunjuk di bibirnya. Dia nggak langsung berbicar, tapi memilih menghabiskan makanan di mulutnya lebih dulu. "Coba dulu, ta! Selama ini, lo terlalu keras sama cowok-cowok yang deketin lo. Lama-lama, lo dikenal dingin dan kaku, bahkan ada yang bilang lo nggak doyan cowok."
Aku tahu. Aku sudah mendengar semua penilaian jelek tentangku itu. Tapi, aku nggak berminat dan terutama nggak punya waktu untuk menepis komentar orang tentangku.
"Kali ini, nggak ada salahnya lo melunak. Coba buka hati lo buat cowok. Siapa tahu lo beneran berjodoh sama dia." Mbak Chiki serius memberikan saran.
Aku masih nggak setuju dengan saran Mbak Chiki. Tapi, aku juga nggak tahu ada saran lain yang lebih masuk akal dari ini.
Apa aku benar-benar perlu membuka hati untuk pria itu?
Aku masih ingat jelas apa saja yang sudah Raditya lakukan selama satu minggu ini. Dia terus menggangguku dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan konyol.
"Bu Prita apa nggak capek cantik terus?" Raditya mengucapkannya dengan ringan, seolah ini memang kebiasaannya setiap hari.
"Kalau marah, saya rasa Bu Prita bisa bikin bidadari memilih pensiun dini. Mereka pasti minder dengan aura keren yang memancar dari Bu Prita." Omong kosong ini aku dapat setelah menegur salah satu karyawan yang sering nggak masuk kerja.
"Ini cup cake saya beli karena ingat Bu Prita." Entah bagian mana dari cup cake berbentuk unicorn dengan pipi tembam yang mengingatkannya padaku.
"Wah! Ternyata, selain cantik, prestasi Bu Prita juga hebat." Ini benar-benar dia ucapkan tanpa alasan jelas. Kami cuma berpapasan di lorong dan dia memanggilku. Aku berniat mengacuhkannya. Tapi, dia justru berlari menghampiriku.
Aku dan Raditya nggak pernah terlibat dalam pekerjaan apa pun lagi. Tapi, konyolnya, kami justru sering banget bertemu. Aku jadi curiga dia sengaja mencariku cuma untuk membuat hidupku nggak tenang.
"Dia memang sengaja ketemu lo. Tapi, bukan buat ganggu lo. Dia lagi berusaha deketin lo, ta." Mbak Chiki memberikan pandangan berbeda yang tentu nggak aku setujui.
Bagiku, Raditya itu menyebalkan. Dia terlalu berisik.
"Lo cuma nggak biasa aja." Mbak Chiki berdiri di hadapanku. "Coba lo buang pikiran jelek lo tentang dia. Lo pasti bisa lihat sesuatu yang menarik dari seorang Raditya Wirawan."
Entahlah! Aku nggak yakin Raditya Wirawan memang cocok jadi jodohku.
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya