NovelToon NovelToon
Cinta Mayra

Cinta Mayra

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:149.7k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Mayra memilih meredam sendiri perasaan cintanya pada seorang pemuda tampan yang merupakan teman satu sekolahnya, sekaligus putra bungsu dari sebuah keluarga baik hati yang sudah begitu banyak membantunya.
Mayra sadar, perasaannya tidak mungkin berhasil, terlebih pemuda tersebut telah memiliki seorang gadis sebagai tambatan hatinya.

Lalu, apakah cinta Mayra benar-benar tidak akan mungkin terwujud?
Yuk, ikuti ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Mayra," Mayra berkata sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menyambut uluran tangan Arsen.

"Arsen," jawab Arsen sambil tersenyum. Keduanya lantas berjabat tangan.

Setelah berkenalan singkat dan mengobrol ringan sambil menyantap makan siang. Arsen pamit sejenak untuk mengangkat panggilan dari ponselnya yang terus bergetar sedari tadi.

"Re, nontonnya lain kali aja ya. Mendingan sekarang kita pulang aja deh," pinta Mayra yang mulai merasa tidak nyaman semenjak Arsen ikut bergabung. Belum lagi perasaan Mayra yang tidak tenang perihal Agam. Saking tidak nyamannya, Mayra hanya menyentuh sedikit makanannya.

"Tanggung, May... Bentar lagi filmnya mulai," jawab Rere sambil menikmati ice cream favoritnya.

Mayra menghela nafas, melirik arloji di pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam sejak jam pulang sekolah. Mayra khawatir Agam tetep menjemputnya bahkan masih menunggunya di tempat biasa.

Sementara Arsen yang sudah selesai dengan panggilan ponselnya bergegas kembali menghampiri Rere dan Mayra.

"Lima belas menit lagi filmnya diputar, sebaiknya kita ke sana sekarang."

Sampai di Bioskop, Arsen bergegas membeli tiket, sementara Mayra dan Rere menunggu sembari membeli popcorn.

"Tiketnya sudah siap. Kita masuk sekarang," ujar Arsen sambil menunjukkan tiga lembar tiket di tangannya.

"May, Lo sama kak Arsen masuk duluan ya. Gue mau ke toilet bentar," Rere berkata sembari menyodorkan popcorn berukuran besar pada Mayra.

"Tapi Re, Filmnya udah mau dimulai." Mayra berusaha menghentikan Rere yang mulai berjalan menjauh.

"Re..." panggil Mayra lagi.

Rere menghentikan langkahnya, menengok sekilas ke arah Mayra. "Sebentar doank! Lo masuk aja duluan," ujarnya lantas kembali berjalan menuju arah toilet.

Mayra kembali menghela nafas lantas menatap ke arah Arsen.

"Kita masuk saja duluan," jawab Arsen.

Sudah hampir satu jam berlalu, bahkan film yang mereka tonton sudah setengah jalan diputar. Namun Rere belum juga kembali dari toilet. Mayra sudah berusaha menghubungi Rere, namun Rere tidak juga mengangkat panggilannya. Pesan singkat yang Mayra kirim pun tidak Rere balas.

"Kak..." bisik Mayra pada Arsen yang duduk di sebelahnya.

Arsen menoleh, menatap wajah Mayra yang terlihat khawatir.

"Rere..."

Belum selesai Mayra bicara, Arsen lebih dulu menunjukkan sebuah pesan yang Rere kirim padanya.

Mayra kembali menatap Arsen setelah membaca pesan Rere di ponsel Arsen.

"Tidak perlu mengkhawatirkan Rere. Dia baik-baik saja bersama Kevin," bisik Arsen.

Setelah memberi penjelasan pada Mayra, Arsen kembali meluruskan pandangan pada layar lebar di depannya. Begitu juga dengan Mayra, meskipun pikiran Mayra sudah tidak lagi fokus untuk menonton.

****

Di sisi lain.

"Beb... Kamu yakin ngga mau nyusul Kak Arsen nonton?" tanya Kevin yang tengah berdiri mendampingi Rere yang masih asyik memilih sebuah dress.

Sebelum sampai di Mall, Rere memang sengaja menghubungi Kevin agar menyusulnya ke Mall. Dan sesuai permintaan Rere. Kevin pun datang saat Mayra dan Arsen tengah nonton di Bioskop.

Rere meletakkan kembali dress berwarna merah yang sempat dipilihnya. Lantas menatap kekasihnya yang terlihat kerepotan membawa banyak barang belanjaan. kedua tangan Kevin bahkan dipenuhi banyak paperbag dari berbagai toko yang Rere kunjungi.

"Udah biarin aja. Gue malah sengaja biarin mereka nonton berdua," jawab Rere sambil tersenyum tipis. Membayangkan Arsen dan Mayra yang tengah menonton tanpa kehadiran dirinya.

"Tapi Beb, Kak Arsen kan..." Belum sempat Kevin melanjutkan kalimatnya. Rere buru-buru menutup mulut Kevin dengan kedua telapak tangannya.

"Udah tenang aja," ucap Rere. Kevin pun hanya bisa mengangguk patuh.

*****

Rere menunggu Arsen dan Mayra keluar dari bioskop. Sambil menenteng beberapa belanjaan, Rere bergegas menghampiri Mayra yang baru saja keluar dari pintu Bioskop. Sementara Kevin, kekasih Rere itu sudah pergi lebih dulu dengan membawa mobil Rere.

"May... " panggil Rere.

Mayra menoleh sekilas, namun tidak menjawab panggilan Rere. Mayra yang masih kesal melanjutkan langkahnya menjauhi Rere.

"Sepertinya, sahabatmu beneran kesal," ucap Arsen sambil berjalan menghampiri Rere.

Rere tersenyum, lantas mencondongkan tubuh beserta kepalanya saat Arsen berdiri tegak tepat di hadapan Rere.

"Bagaimana rasanya nonton berdua sama cewe?" bisik Rere.

Arsen yang terkejut, sampai menjauhkan tubuhnya dari Rere. Sedangkan Rere, gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum miring saat menikmati wajah terkejut Arsen.

****

Mayra berjalan cepat menuju pintu keluar Mall. Hari sudah hampir sore tapi ia masih berada di luar rumah. Mayra sudah bisa membayangkan bagaimana marahnya Agam dan Budhe Darmi saat ia pulang nanti.

"May... Gue anter pulang." Rere yang berlari akhirnya berhasil mengejar Mayra.

Mayra menghentikan langkahnya. Menatap Rere dengan tatapan penuh rasa kesal.

"Gue mau pulang sendiri," jawab Mayra ketus. Lantas kembali melangkahkan kaki.

"May..." panggil Rere. Kali ini Rere manggil Mayra dengan suara lembutnya.

Mayra kembali menghentikan langkahnya. Menghela nafas. Mayra kalah jika Rere sudah mengeluarkan jurus andalannya. Memanggilnya dengan suara lembut.

Melihat Mayra menghentikan langkah. Rere tersenyum. Jurus andalannya tidak pernah gagal untuk meluluhkan Mayra.

"Ayo pulang," ajak Rere sambil mengaitkan lengannya ke lengan Mayra.

Keduanya lantas berjalan bersama menuju tempat parkir. Sambil berjalan, Rere berusaha menjelaskan pada Mayra alasannya tidak ikut nonton bersama Arsen. Meskipun alasan yang Rere lontarkan adalah sebuah kebohongan yang sengaja Rere buat.

Sampai di tempat parkir. Dahi Mayra mengernyit, mobil yang mereka hampiri bukanlah mobil yang mereka naikin saat berangkat tadi. Mobil Rere berwarna merah. Sedangkan mobil yang ada di hadapannya berwarna hitam dari jenis mobil yang berbeda. Sudah jelas jika mobil itu bukanlah mobil milik Rere.

"Ayo naik, May," ajak Rere sambil membuka pintu mobil.

Mayra tetap berdiri diam. Menatap Rere meminta penjelasan. Rere yang ditatap penuh pertanyaan, kembali menutup pintu mobil.

"Mobil gue dibawa Kevin. Kita pulang numpang mobil kak Arsen," papar Rere.

"Tau gitu, mending gue pulang naik ojol aja, Re. Daripada ngerepotin kak Arsen lagi," ujar Mayra yang merasa tidak enak karena kembali merepotkan Arsen.

"Kali ini doank, May. Lagian kak Arsen juga ngga keberatan nganter kita pulang. Mumpung libur katanya," Rere mencoba menjelaskan agar Mayra tidak perlu merasa tidak enak.

Dengan terpaksa, Mayra kembali menuruti Rere masuk ke dalam mobil BMW milik Arsen.

Diperjalanan. Rere banyak bertanya mengenai film yang tidak sempat ia tonton. Mayra sendiri hanya menjawab singkat semua pertanyaan Rere. Sementara Arsen memilih tetap diam dan fokus pada kemudi mobil. Ucapan Rere di depan bioskop tadi memenuhi pikiran Arsen.

"Terimakasih untuk tumpangannya, Kak," ucap Mayra ketika mobil yang Arsen kemudikan sampai di persimpangan jalan tidak jauh dari kediaman Mahardika. Arsen sendiri tidak menjawab langsung, pria tampan itu hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.

"Lo yakin bakal turun di sini? Ngga dianter sampe depan rumah aja?" tanya Rere saat Mayra hendak membuka pintu mobil.

"Di sini aja, udah Deket kok," jawab Mayra.

Pintu mobil terbuka. Mayra hendak melangkahkan kakinya keluar dari dalam mobil, namun Rere lebih dulu memegang lengannya. "Sebentar, May." Rere merogoh tas kecil milik Arsen yang tergantung di belakang jok kemudi. Mengambil sebotol parfum lantas menyemprotkan isi parfum itu pada tubuh Mayra.

"Re, Lo apa'an sih!" protes Mayra. Tidak suka dengan Rere yang asal menyemprotkan parfum pada tubuhnya.

"Baju Lo, bau apek. Udah sana turun," jawab Rere sambil mendorong Mayra agar segera turun.

Setelah mobil yang Arsen kemudikan melaju pergi. Mayra bergegas berjalan menuju kediaman Mahardika. Sambil berjalan cepat, Mayra juga berpikir keras untuk menyiapkan alasan yang tepat saat Budhe Darmi dan Agam bertanya padanya nanti.

Di depan pintu masuk hunian berlantai tiga. Mayra menelan keras Saliva nya. Menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Pertama kali bagi Mayra pulang sekolah begitu terlambat. Dan kali pertama juga bagi Mayra berani berbohong pada Agam.

Begitu degup jantungnya mulai teratur, Mayra membuka pintu hunian itu. Mayra sengaja masuk melalui pintu samping rumah untuk meminimalisir ia berpapasan dengan Agam.

"Aman," gumam Mayra saat ia membuka pintu dan melihat ke sekeliling ruangan di dalamnya tampak sepi. Mayra melangkah masuk kemudian menutup kembali pintu yang ia buka tadi. Setelahnya, Mayra lanjut berjalan masuk melewati beberapa ruangan yang juga tampak sepi. "Sepertinya Budhe Darmi sedang berada di area dapur," pikir Mayra. Sementara Agam. Mayra menebak jika pemuda itu tengah berada di kamarnya.

Mayra terus berjalan menuju kamarnya. Namun saat Mayra berbelok di belokan terakhir dekat kamarnya. Mayra dikejutkan dengan keberadaan Agam yang tengah berdiri tepat di depan pintu kamar.

"Aa-Agam..."

***

Bersambung.

1
helena
sad banget cinta dalam diam mayra. Apalagi doi udh crush sm cw lain hufft
Miu.Nuha
dn pasti itu bukan agam, tapi calon suami Mayra 😘😘❤
Miu.Nuha
itu emang hargany udh disatuin kali, hehe...
anggp aja itu harga dibagi dua 😜
Miu.Nuha
emang harus diturutin ya si paduka Agam ini, hm hmmmm /Gosh//Gosh/
Miu.Nuha
telat nih ak hadirny 😁
,, aku berasa mengalami lompat waktu, menilik masa lalu si cassanova arogan 😌
walau baru sedikit bayangan agam hilang di hati mayra, tapi udah cukup membuat perjuangan ridho ga sia2. mudah2an agam tetep disana sama bisnisnya karna cerita ini udah tamat. jujur aja, feel cerita ini dapet menurut saya, setiap tokoh terasa pas
itu mayra hamil kah?

pelan2 mayra udah bisa nerima ridho. tapi ya gitu sih. kalo dipikir2 hidup mayra udah enak sebetulnya
ini semua gara2 agam! mayra yg harusnya bahagia sama ridho malah begitu. susah sih kalo udah cinta banget mah. tapi ya kalo cinta ga ada rintangan kurang seru juga, apalagi di novel
malah baru berefek obatnya, mungkin efek obat ini sama kayak insto yg ditetes di minuman. adegannya lumayan nih, sayangnya banyak kata2 yg disensor (mungkin dari noveltoon nya), jadi ga gitu kebayang adegannya
Teteh Lia: yang nulis memang sengaja nda terlalu detail. puyeng bayangin na 🤭
total 1 replies
iya sih, mayra mau jelasin gimana ya.. bingung kalo ridho udah nyangkanya begitu walau itu cuma salah paham dan kebetulan disana ada arsene

serbuk apa tuh yg ditaburin ridho ke mayra? obat nganu kah?
hal yg didapat mayra setelah menjadi istri ridho adalah hal yg diidam2kan cewek jaman sekarang. kira2 isi kartunya mayra berapa tuh? apakah 10 milyar? masalahnya ridho beli mobil aja kayak semudah beli kacang


mungkin ridho kayak gitu karna ridho berpikir mayra masih blm bisa berpaling dari agam

arsene di beberapa part ini dapet porsi yg cukup banyak
ridho kenapa begitu ya? cinta sih cinta, istri sih istri, tapi koq gitu? wajar sih cemburu tapi ga harus ngerusak ponsel segala. saya paham gimana rasanya kehilangan data2 di ponsel, apalagi kalo blm di backup atau punya sd card yg ukurannya besar.

gimana ya agam kalo tau mayra udah nikah?
emang mayra ini setia banget, tapi ya setia sama pilihannya, meski ridho jauh lebih baik. tapi apapun yg ridho lakukan seolah ga bisa meruntuhkan rasa cinta mayra ke agam

nana hyun jadi inget kekoreaan
kalo maennya udah perasaan udah sulit. tipe cewek kayak mayra ini setianya bukan main, ridho aja dia tolak karena agam. agam udah tau blm kalo mayra cinta banget sama dia? udah agak lupa juga saya.

agam juga tipe yg setia sih walau begitu anaknya
ridho begitu sih, tapi agam ga jauh lebih baik.

saya kalo di posisinya ridho kalo ngelakuin itu udah dibentak2 habis, mungkin bisa aja dicoret dari kartu keluarga. beruntung banget jadi ridho. mayra juga beruntung, tapi biasanya yg kayak ini ujungnya bikin galau terus
ini si ridho koq jadi kayak agam begini? tapi mendingan ridho sih, lebih sempurna dari agam. ngeliat adegan begitu yg beberapa persen lebih eksplisit jadi pengen bikin begitu juga
ridho sampe segitunya, saya jadi terharu bacanya. kalo mayra tau mungkin mayra udah nangis karna terharu sama apa yg dilakuin ridho untuk mayra. kalo agam sih saya salutnya dia bener2 gigih luluhin hati mayra walau sering berlaku kasar
kayaknya banyak hal yg kelewat atau emang saya yg lupa ya? tapi kalo gak salah saya udah baca part 92, terus lanjutannya part 93, bener apa ga ya? tapi terlepas dari itu tensi ceritanya bagus, apalagi pas mayra cuma pake tanktop dan digendong ridho, padahal kalo keliatan juga paling yg liat arsene
saya kira arsene betulan pacaran sama mayra, ternyata cuma buat ngelindungin mayra. tapi cocok juga sih mereka kalo dipikir2.

felicya sepertinya perempuan ga bener sampe jadiin kevin temen ranjangnya.

agam ini dia betul2 cinta sama mayra. sejauh yg saya baca (walau lupa2 inget karna udah lama banget ga baca lagi) agam cuma bersikeras sama mayra. cewe lain ga diperlakuin sespesial itu sama agam, kayaknya agam ini ga buaya2 banget deh, perlakuan dia ke cewe lain sama ke mayra rasanya cukup berbeda
arsene kekasihnya mayra?? bentar2, ini saya yg lupa atau emang baru di part ini aja terjadinya? awalnya saya kira arsene ini cuma semacem perhatian biasa, ternyata kekasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!