Asyifa yang lugu dan polos, menjadi korban permainan kotor dari sepasang suami istri.
Pernikahan Asyifa dengan Randa, ternyata hanyalah bagian dari rencana busuk Randa dan Nikita untuk segera mendapatkan keturunan.
Setelah Asyifa melahirkan anaknya, Asyifa shock ketika Nikita datang tiba-tiba membuka jati dirinya sebagai istri pertama Randa dan berniat untuk merebut Safina anaknya.
Asyifa berjuang keras mempertahankan anaknya Safina. Segala cara yang dilakukan Nikita, selalu bisa ia gagalkan.
Namun suatu hari, Randa yang sudah dilanda cemburu buta karena melihat Asyifa bersama pria lain, berhasil kabur membawa Safina anaknya dari tangan Asyifa.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Apakah Asyifa dan Safina bisa bertemu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Asyifa memandang suaminya dengan pandangan tak mengerti. Sebaliknya, Randa bersikap acuh tak acuh seolah menyepelekan Asyifa. Suaminya itu tampak asyik tertawa bebas dengan Wahyu sahabatnya yang angkuh dan tak sopan itu.
Daripada berdebat lagi dengan Randa di depan orang lain yang tidak ia kenal, Asyifa lebih memilih diam dan segera pergi meninggalkan Randa dan Wahyu mengobrol diruang tamu. Dia pun segera masuk kedalam kamar dan memandang putrinya Safina yang sudah tertidur lelap dengan raut wajah sedih.
"Maafkan mama Safina. Sepertinya mama sudah salah besar dalam mengenal pribadi ayahmu. Dia tak pantas jadi ayahmu Safina. Dia tak bisa melindungi harga diri dan martabat keluarganya sendiri." Ucap Asyifa dalam hati mengeluhkan kepribadian Randa yang makin lama makin terlihat jelek dimata Asyifa.
Malam mulai merambat pelan menutupi bias mentari di ufuk barat. Randa dan Wahyu masih asyik mengobrol diruang tamu hingga larut malam.
Pertengkaran yang terjadi antara Randa dan Asyifa yang sempat panas membara sebelum Wahyu datang, telah terlupakan begitu saja oleh Randa. Kalimat-kalimat menyakitkan yang sempat ia lontarkan tadi pada Asyifa, tak lagi di ingat Randa sama sekali.
Cukup Asyifa sendiri yang mengingat segala kepedihan itu dalam hatinya. Dikatakan perempuan malam oleh suaminya sendiri hanya gara-gara memotong rambut, itu adalah kata-kata yang tak bisa ia lupakan begitu saja. Asyifa menyimpan semua kelukaan dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Asyifa! Siapkan makanan! Aku sudah lapar!" teriak Randa dari ruang tamu.
"Iya mas!" jawaban singkat kembali keluar dari bibir Asyifa dari dalam kamar.
"Gak usah masak Ran, kita makan diluar saja yuk. Kasihan istrimu, habis ngurus anak disuruh masak juga. Capek dia 'ntar," ujar Wahyu mengusulkan makan keluar.
Randa sejenak ragu mengikuti ajakan Wahyu. Setelah berpikir agak lama, ia pun mengangguk menerima ajakan Wahyu untuk makan keluar.
"Asyifa..., gak usah masak! Kita makan diluar saja!" teriak Randa lagi melarang Asyifa untuk memasak.
Asyifa yang baru saja sampai di dapur, berbalik arah menuju ruang tamu. Dia menghampiri Randa dengan perasaan bingung.
"Tapi mas, ini sudah malam. Kasihan Safina kalau kita bawa keluar malam-malam begini." Ucap Asyifa mengkhawatirkan Safina anaknya.
Udara malam yang tak bagus untuk kesehatan sangat rentan untuk bayi yang masih berumur dua bulan.
"Kamu ini di ajak makan keluar, masih juga ngeyel! Sana ganti bajumu! Pakaikan Safina mantel yang tebal biar 'gak masuk angin!" perintah Randa tak menggubris perkataan Asyifa.
Dengan perasaan bimbang, Asyifa berjalan kembali menuju kamar diiringi pandangan Wahyu yang sering kali memperhatikan gerak geriknya sedari tadi. Asyifa jadi risih dan kurang senang setiap kali memergoki Wahyu memperhatikan dirinya.
Asyifa menangkap gelagat tak baik dari cara Wahyu memandangnya. Dia jadi tak bersemangat untuk mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian yang lebih pantas dan layak untuk bepergian.
"Kenapa lama sekali dia!?" gumam Randa kesal karena Asyifa tak kunjung muncul sedari tadi.
"Namanya juga perempuan Ran, kau sabar saja kenapa?" ucap Wahyu terdengar membela Asyifa.
Bukannya bersabar, Randa malah jadi cemburu karena Wahyu bersikap membela istrinya.
"Kenapa kau membelanya? Kau cari mati ya?!" semprot Randa dongkol.
"Hehehe, sejak punya istri dua kolestrolmu makin meningkat Ran," ledek Wahyu mencemooh Randa yang sedari tadi gampang emosian.
Randa mendengus kesal, dia pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan Wahyu sendirian di ruang tamu. Dia mengintip Asyifa yang baru saja selesai memasang mantel tebal pada Safina. Matanya mendelik saat melihat penampilan Asyifa yang tak jauh berbeda dari tadi.
Udik dan kampungan! begitulah penilaian Randa untuk setiap penampilan Asyifa. Bukannya tak pernah memberi uang untuk membelikan segala kebutuhan Asyifa, tapi Asyifa memang perempuan sederhana yang tak suka menghamburkan uang untuk penampilan.
"Baju itu lagi..., baju itu lagi. Bisa tidak kalau beli baju itu beli model yang berbeda?! Aku malu bawa kau makan keluar bareng teman ku! Apa kau tidak punya baju yang lebih bagus lagi hah?!" hardik Randa kurang suka melihat penampilan Asyifa yang memang sengaja tak mau dandan berlebihan karna menyita banyak waktu dan berpikiran cuma makan ke warteg atau ke rumah makan biasa.
Randa menggelengkan kepalanya melihat penampilan Asyifa yang sulit untuk diubah. Dari segi usia dan kecantikan, Asyifa memang menang. Tapi dari segi penampilan, Nikita jauh lebih wow. Itulah yang membuat Randa kadang geram melihat Asyifa.
Randa berharap Asyifa bisa berdandan seperti Nikita, sebab Asyifa masih muda dan harusnya lebih bisa bergaya daripada Nikita.
"Susah kalau jadi orang udik. Disuruh bergaya tetap saja udik!" damprat Randa dongkol melihat Asyifa berganti pakaian yang lain tapi masih dengan model pakaian yang tak berkelas.
Daripada makin kesal melihat Asyifa ganti baju, Randa memilih pergi dari kamar dan kembali ke ruang tamu dengan wajah masam.
"Udah siap belum?" tanya Wahyu heran melihat raut wajah Randa yang cemberut.
"Sebentar lagi, dia sedang memasang popok anaknya." Sahut Randa dengan nada jengkel berkata bohong pada Wahyu.
"Mas Randa!"
Tok tok tok!
"Mas..., buka pintu!"
"Keluar nggak, atau aku teriak terus sampai pagi!" Suara nyaring milik Nikita terdengar melengking memecah kesunyian malam di depan pintu teras rumah Randa dan Asyifa.
Seluruh penghuni rumah melonjak kaget mengetahui siapa yang berteriak dimalam itu memanggil Randa.
Asyifa yang baru saja hendak keluar kamar, kembali masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya rapat. Dia tak mau tidur Safina terganggu saat mendengar suara Nikita yang pastinya ingin mengundang keributan datang kerumahnya malam-malam.
Randa kelihatan panik mengetahui Nikita nekat datang malam-malam menggedor pintu rumahnya. Padahal tadi pagi dia sudah minta izin pada Nikita untuk kembali sebentar melihat Asyifa. Salahnya Randa, dia lupa mengatakan pada Nikita kalau dia bukan cuma melihat Asyifa dan anaknya, tapi juga menginap untuk beberapa hari.
Kecerobohan Randa menjadi alasan Nikita yang memang suka mencari masalah untuk bisa mengusik ketenangan Randa dan Asyifa.
"Mas Randa! Kau janji cuma pergi sebentar, kenapa kau malah tak pulang?!" teriakan Nikita kembali terdengar diiringi gedoran pintu yang bertubi-tubi terdengar tanpa henti.
"Bantu aku, bawa dia pergi dari rumah ini." Randa menatap Wahyu memelas, meminta bantuan dari sahabatnya itu.
"Aku tidak bisa. Kau tau, dia wanita paling keras kepala didunia. Percuma saja aku ikut campur, dia tak'kan mendengarku." Wahyu langsung menolak permintaan Randa tanpa pikir panjang.
Randa jadi kelimpungan. Pandangan matanya beberapa kali melirik kearah pintu kamar dimana Asyifa berada.
"Bagaimana ini? Nikita pasti menggila lagi." Gumam Randa memukul jidatnya berulangkali.
Wahyu tampak tenang saja menanggapi reaksi Randa yang uring-uringan dilanda kecemasan.
"Mas Randa...! Kau dengar tidak...,?!" jeritan Nikita membuat Randa makin tak karuan.
Nikita makin geram karena suara Randa tak kunjung menyahut dari dalam rumahnya.
"Keluar tidak, atau ku pecahkan kaca rumahmu?!" ancam Nikita yang makin tersulut emosi.
Darah Randa terkesiap, Nikita perempuan gila yang sulit dikendalikan amarahnya. Dengan tergesa-gesa, ia berlari membuka pintu rumah dan langsung tersurut mundur saat Nikita menerjang memasuki rumahnya dengan membabi buta.
"Kau mau aku tidur disini atau pulang bersamaku?!" bentak Nikita menatap Randa dengan nyalang.
Randa jadi gusar melihat sikap Nikita yang selalu melawan dan menantangnya. Tapi kali ini dia tak mau bersikap terlalu keras pada Nikita, Perempuan itu bisa melakukan kegilaan yang lebih parah.
"Aku akan pulang bersamamu." Jawab Randa pasrah tak berdaya dengan keinginan Nikita.
"Yu, aku mau antar Nikita pulang. Kau nginap saja di hotel malam ini! Besok kita atur ketemuan dimana!" teriak Randa pada Wahyu dan bersiap-siap untuk pergi membawa Nikita yang sedang bersungut-sungut kesal sambil melipat dada di ambang pintu rumahnya.
Wahyu tampak mengedipkan sebelah matanya pada Nikita saat Randa berkata ingin pergi pulang bersama Nikita. Dari awal, mereka berdua sudah merangkai rencana busuk itu sebelum Wahyu menginjakkan kakinya dirumah itu.
Sekarang saatnya kesempatan Wahyu untuk melaksanakan rencana mereka.
Rencana apa yang sedang Nikita dan Wahyu pikirkan? Apa yang ingin mereka perbuat pada Asyifa dan anaknya setelah Randa pergi dari rumah itu?!
.
.
BERSAMBUNG