Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 : Masih terasa aneh
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, para tamu mulai berpamitan pulang satu per satu. Rumah yang sejak pagi dipenuhi tawa, tangis haru, dan keramaian perlahan kembali tenang.
Queen merasa tubuhnya benar-benar lelah. Seharian tersenyum, menjadi pusat perhatian dan menerima kenyataan bahwa statusnya kini sudah berubah. Ia sudah menikah, dan yang lebih membuatnya pusing. Ia menikah dengan Revan... dosennya sendiri.
Di lantai atas...
Pintu kamar perlahan terbuka.
Queen masuk lebih dulu sambil membawa ujung gaunnya yang masih sedikit menyulitkan langkahnya. Begitu pintu tertutup, suasana mendadak sunyi. Tidak ada Anggi, Kevin, dan Ibu Farah. Hanya dirinya dan Revan. Jantung Queen langsung berdegup lebih cepat.
"Astaga..."
Baru sekarang ia menyadari sesuatu. Mereka akan tidur di kamar yang sama. Queen langsung berdiri kaku di tengah kamar. Sedangkan Revan yang baru masuk beberapa detik kemudian terlihat sama tenangnya seperti biasa. Pria itu meletakkan jasnya di kursi lalu melonggarkan sedikit kerah kemejanya. Sementara Queen masih berdiri seperti patung.
Revan meliriknya. "Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Tapi kamu berdiri di situ sudah tiga menit."
Queen langsung tersedak. "Saya lagi mikir."
"Mikir apa?"
Queen membuka mulut, nenutupnya lagi. Lalu membuka mulut lagi. Sampai akhirnya...
"Saya mau.ganti baju dulu."
Dan tanpa menunggu jawaban, ia langsung kabur ke kamar mandi.
BRAK!
Pintu tertutup.
Revan memijat pelipisnya pelan, kini pria itu tersenyum kecil.
Dua puluh menit kemudian...
Queen keluar dari kamar mandi. Kini ia sudah mengenakan piyama panjang berwarna krem yang sederhana. Riasannya sudah dibersihkan. Rambutnya tergerai... dan entah kenapa, penampilan sederhana itu justru membuatnya terlihat jauh lebih cantik.
Begitu keluar, Queen langsung berhenti. Revan masih berada di dalam kamar. Pria itu sedang membaca sesuatu di ponselnya.
Queen kembali gugup. "Pak Rev..."
Ia langsung menutup mulutnya sendiri.
Revan mengangkat alis.
Queen memejamkan mata. "Astaga."
Revan hampir tertawa.
Beberapa detik kemudian Queen berdeham pelan. "Mas."
Ada jeda cukup lama. Karena ini pertama kalinya ia memanggil Revan seperti itu. Dan entah kenapa wajahnya langsung panas.
Revan menatapnya. "Hm?"
Queen berusaha terlihat tenang. Meski sebenarnya tidak tenang sama sekali. "Itu..."
"Iya?"
"Saya mau ngomong sesuatu."
"Katakan saja."
Queen menunjuk sofa yang berada di dekat jendela. "Itu."
Revan mengikuti arah jarinya.n"Sofa?"
Queen mengangguk cepat. "Iya."
"Lalu?"
"Mas tidur di sana aja ya?"
Ruangan langsung hening. Revan menatap sofa, lalu menatap Queen.
"Saya tidur di sana?"
Queen mengangguk lebih cepat. "Iya."
"Kenapa?"
Queen langsung salah tingkah. "Ya karena..."
Karena apa?nIa sendiri bingung menjawabnya. Karena gugup?.Karena malu? Karena belum terbiasa? Semuanya benar.
"Saya cuma belum terbiasa aja." Akhirnya itu yang keluar.
Revan terdiam beberapa saat. Lalu mengangguk pelan. "Baik."
Queen langsung berkedip. "Hah?"
"Saya tidur di sofa."
Jawaban itu datang terlalu mudah. Justru membuat Queen bingung.
"Mas nggak marah?"
"Memangnya saya harus marah?"
"Nggak juga sih."
"Ya sudah."
Queen terdiam. Entah kenapa ia merasa sedikit bersalah. Karena sejak awal Revan tidak pernah memaksanya melakukan apa pun. Pria itu bahkan menerima permintaannya tanpa protes.
Revan kemudian mengambil bantal dan selimut cadangan. Melihat itu, rasa bersalah Queen semakin besar.
"Mas."
"Hm?"
"Kalau sofanya nggak nyaman gimana?"
"Nggak apa-apa."
"Kalau pegal?"
"Nggak apa-apa."
"Kalau masuk angin?"
Kali ini Revan benar-benar menatapnya. Queen langsung menutup mulut.
Revan menghela napas kecil. "Lalu maunya kamu bagaimana?"
Queen membeku. "Iya juga ya..."
Mendengar gumaman itu, Revan akhirnya tertawa pelan. Tawa yang jarang sekali terdengar. Dan untuk sesaat, Queen hanya menatapnya. Karena baru sekarang ia sadar. Pria yang selama ini selalu terlihat tegas dan dingin di kampus itu ternyata bisa tertawa seperti ini.
Suasana mendadak terasa jauh lebih ringan. Meski tetap canggung. Karena bagaimanapun juga, ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri. Dan keduanya sama-sama masih belajar menerima kenyataan itu.
Malam semakin larut, suara keramaian dari lantai bawah sudah benar-benar menghilang. Hanya sesekali terdengar suara jangkrik dari luar jendela.
Di dalam kamar, Queen duduk di atas tempat tidur sambil memeluk lutut. Sedangkan Revan sudah menata bantal dan selimut di sofa.
Entah kenapa suasana kembali canggung. Biasanya kalau bertemu Revan di kampus, Queen bisa berdebat tanpa henti. Bisa mengeluh soal skripsi berjam-jam.
Tapi sekarang? Mereka berada di kamar yang sama. Sebagai suami istri dan fakta itu membuat otaknya error. Revan yang sedang meletakkan ponselnya di meja akhirnya menoleh.
"Kamu belum tidur?"
Queen langsung gugup. "Belum."
"Kenapa?"
"Nggak bisa tidur."
Revan mengangguk pelan.
"Lalu Mas?"
"Sama."
Queen berkedip. "Hah?"
"Saya juga belum bisa tidur."
Kini Queen merasa lega karena ternyata bukan hanya dirinya yang gugup. "Kirain cuma saya."
Revan tersenyum tipis. "Kamu pikir saya robot?"
Queen langsung terkekeh. "Mirip."
"Hm."
"Di kampus kan Mas selalu tenang."
Revan menggeleng pelan. "Itu cuma kelihatannya saja."
Queen memperhatikannya beberapa detik. Baru kali ini ia melihat Revan berbicara dengan santai tanpa suasana ruang bimbingan, tanpa tumpukan skripsi, dan tanpa wajah galak khas dosen pembimbing. Aneh, tapi menyenangkan. Tiba-tiba Queen teringat sesuatu.
"Mas."
"Iya?"
"Kenapa kemarin nggak angkat telepon saya?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Revan terdiam, Queen langsung duduk lebih tegak.
"Nah kan."
"Apa?"
"Berarti memang sengaja."
Revan menghela napas panjang. "Saya memang sengaja."
Mata Queen langsung membulat. "Hah?!"
"Saya lihat semua panggilan kamu."
Queen tidak percaya. "Terus kenapa nggak diangkat?"
Revan terdiam cukup lama. Sampai akhirnya ia menjawab dengan jujur. "Karena saya takut."
Queen membeku. "T-takut?"
"Iya."
Queen menatapnya tidak percaya. Dalam hidupnya, ia tidak pernah membayangkan mendengar kata takut keluar dari mulut Revan.
"Takut apa?"
Revan tersenyum kecil, namun kali ini senyum itu terlihat sedikit pahit. "Kalau kamu minta pernikahan ini dibatalkan."
DEG.
Queen langsung terdiam. Ruangan kembali sunyi. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Revan menatap lantai. "Saya tahu ini semua terjadi terlalu cepat. Saya juga tahu kamu belum siap. Tapi kalau waktu itu kamu benar-benar bilang tidak mau menikah..." Revan menghela napas pelan. "Saya tidak yakin bisa memaksa kamu."
Jantung Queen berdebar semakin cepat. Kini pria itu terlihat begitu jujur. Begitu terbuka, dan begitu manusiawi.
Perlahan Queen menunduk. "Lalu kalau saya bilang nggak mau?"
Revan terdiam sesaat, kemudian menjawab pelan. "Mungkin saya akan tetap melepaskan kamu."
Jawaban itu membuat dada Queen terasa hangat sekaligus aneh. Karena ia tahu... Revan serius. Pria itu benar-benar akan melakukannya. Meskipun mungkin itu akan menyakitinya.
Keheningan kembali memenuhi kamar.
Lalu tanpa sadar Queen tersenyum kecil. "Mas."
"Hm?"
"Sebenarnya saya nggak pernah mau batalin."
Kali ini giliran Revan yang menatapnya. Queen memainkan ujung selimutnya. "Saya cuma panik."
Revan tidak mengatakan apa-apa. Namun tatapannya melembut. "Sangat panik malah," lanjut Queen pelan.
"Kelihatan."
"Mas."
"Iya?"
"Saya juga takut."
Revan mengangguk pelan. "Saya tahu."
Saling support sabi kali ya😉