NovelToon NovelToon
Naik Ranjang Dengan Mantan

Naik Ranjang Dengan Mantan

Status: tamat
Genre:Angst / Menikah Karena Anak / CEO / Menikah dengan Musuhku / Ibu Pengganti / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:372k
Nilai: 4.8
Nama Author: Imamah Nur

Takdir seakan mempermainkan kehidupan Lintang Arjuna, ia yang dulu harus merelakan Danuar Anggara, kekasihnya untuk menikahi Libra, sang kakak, kini ia harus terlibat hubungan kembali dengan pria di masa lalunya.

Awalnya Lintang pikir Danuar datang menawarkan sejuta harapan dan cinta terpendam. Namun, siapa sangka Danuar justru kembali dengan misi membalas dendam atas rasa sakit yang Lintang torehkan di masa lampau.

Hari-hari bersama Danuar begitu menyesakkan. Dia bukan sekadar istri di atas kertas, dia adalah pengasuh kedua anak kembar Danuar yang harus selalu menuruti perintahnya tanpa dihargai sedikitpun.

Hingga akhirnya Lintang begitu sakit hati dan tidak tahan oleh perbuatan Danuar yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan serta merasa seperti istri murahan, ia memutuskan untuk diam-diam pergi dari kehidupan Danuar, saat itulah Danuar menyadari kesalahannya terhadap sang istri.

Bagaimana Kehidupan mereka ke depannya? Apakah ada kata damai atau justru perpisahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Bukan Tuan Putri

Mas Danu ikut masuk setelah berpamitan pada ayah dan ibu. Lalu ayah dan ibu mendekat ke arahku dan memberikan wejangan-wejangan. Aku hanya manggut-manggut saja padahal tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan. Ini seperti seorang siswa yang menerima pelajaran, masuk dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Jika ditanyakan kembali, sudah pasti tidak akan bisa menjawab.

Mobil membelah jalanan, menyusuri jalanan desa kami yang mulai rusak akibat hujan deras yang sering mengguyur. Kata orang-orang, ini karena kepala desa kami tidak mau diaspal. Ya, mana mau lah pak kades diaspal wajahnya. Penduduk di sini memang kocak.

Mas Danu melirikku dari kaca spion, bibirnya mengulas senyum, entah apa yang lucu dari diri ini. Aku menatapnya hingga dia pura-pura melihat kedua putrinya. Percuma, sudah kulihat.

"Lain kali tidak perlu menunjukkan ketidakharmonisan hubungan kita di depan orang lain." Wajahnya kembali datar lalu kembali fokus pada jalanan.

Aku mengerucutkan bibir lalu memalingkan muka. Jadi dia memintaku untuk berakting? Yang benar saja, aku bukan aktris.

"Aku tidak suka kepalsuan," kataku dengan ketus berharap dia tersindir dengan ucapanku.

Nyatanya dari kaca spion mobil kulihat dia tetap terlihat santai. "Kata-kata itu lebih pantas untukmu, bukan?" tanyanya dengan menyeringai.

Aku tidak menjawab, terserah dia mau menilai seperti apa. Percuma menjelaskan diri kita seperti apa pada orang yang hanya bisa menilai dari sisi keburukan. Hanya membuang-buang energi saja.

Sepanjang perjalanan kami saling diam, hanya bunyi mesin mobil dan desau angin yang terdengar lembut di telinga. Aku melirik kedua bayi yang masih tertidur dengan pulas. Mereka seakan hidup tanpa beban, bagaimana kalau suatu saat mereka tahu bahwa ibu mereka bahkan sudah meninggal saat melahirkan mereka? Tidak bisa terbayangkan ekspresi sedih mereka di masa depan.

Mobil sudah melaju jauh meninggalkan kampung halamanku sedangkan rumah Mas Danu masih jauh juga, sementara kedua bayi tidak bisa diajak bicara karena selalu tidur. Aku merasa mulai bosan. Jadi, aku menurunkan kursi mobil lalu berbaring dengan nyaman.

Di luar cuaca terlihat gelap dan hawa udara terasa adem menyentuh kulit. Aku bisa menebak sebentar lagi akan turun hujan. Jadi, aku menutup mata, bersamaan dengan itu hujan benar-benar turun. Udara semakin dingin dan itu membuat kantukku kembali menyerang. Tidak ada salahnya, kan tidur di mobil? Toh tidak ada aktivitas apapun yang bisa aku lakukan di dalam kendaraan ini kecuali hanya diam seraya melihat pemandangan luar.

"Mas, kalau sudah sampai, bangunkan aku ya!" kataku pada Mas Danu. Dia hanya diam seperti orang bisu.

"Dia dengar nggak sih? Apa telinganya bermasalah?" gumamku kesal.

"Kamu kira aku pembantumu yang bisa kau suruh-suruh?!" katanya dengan angkuh.

Astaga! Bicaranya ... aku hanya bisa mengelus dada lalu menghela napas berat. Aku merasa dia bukan Mas Danuku dulu. Ya, dia memang bukan Mas Danuku, tapi dia Mas Danunya Kak Libra.

"Aku juga tidak tuli," lanjutnya dengan nada emosi.

"Bedakan antara orang minta tolong dengan memerintah," ucapku dengan menekan rasa kesal. Dia menatapku dingin, lebih dingin dari hawa di luar.

"Sama saja."

Aku menggeleng lalu memejam kembali. Aku rasa duniaku sudah berubah, jadi lebih baik aku banyak-banyak menutup mata kalau tidak ingin tekanan darahku naik drastis.

Hujan masih belum berhenti, hawanya yang dingin dan menusuk tulang memang cocok untuk tidur hingga aku mudah terlelap. Entah berapa jam aku tertidur di mobil Mas Danu, aku baru membuka mata tatkala tangis kedua keponakanku pecah. Aku membuka mata dengan limbung. Kepala terasa ingin pecah karena dibangunkan dengan paksa oleh keadaan. Segera aku mendudukkan posisi kursi mobil seperti semula.

Aku panik, bingung akan menangani siapa dulu diantara keduanya. Biasanya bayi kembar ini tidak pernah menangis bersamaan. Kalau pun iya, pasti ada selang waktu meskipun hanya beberapa menit. Pada siapa aku akan meminta tolong sementara ayah dari kedua bayi itu sedang menyetir?

"Buatkan mereka susu!" Mas Danu memberikan solusi saat aku tidak bisa mengambil keputusan akan menggendong yang mana terlebih dahulu. Aku mengangguk lalu dengan cepat membuat susu untuk keduanya. Tangan kananku memegang botol dan mengarahkan ke mulut Lilac sedangkan tangan kiriku pada Lula. Mereka menyedot botol susu dengan kuat, sepertinya mereka sudah sangat kelaparan.

Hatiku menghangat melihat mereka menyunggingkan senyum polosnya setelah masing-masing susu dalam botol tandas. Senyuman mereka membuatku lupa bahwa kebahagiaan mereka harus ditukar dengan kebahagiaanku.

Saat seperti ini aku meraih Lula terlebih dahulu dan menggendongnya dengan posisi duduk.

"Punggungmu panas Sayang," kataku sambil mengangkat Lula lebih tinggi lalu meniup punggung bayi itu. Menyesal tadi aku membiarkan mereka tetap berada dalam troli sepanjang perjalanan. Setelah punggung bayi tersebut lebih dingin aku meletakkan kembali dan gantian mengambil Lilac.

"Maafkan Tante ya Sayang, Tante pikir karena di luar hujan tubuhmu nggak bakal panas." Aku memandang lekat mata lebarnya yang berbinar. Dia menggeliat, lucu, hingga membuat senyumku terbit.

"Mama bukan Tante!" Mas Danu menekan kata-katanya seakan itu perintah yang tidak boleh dilanggar. Aku hanya diam.

"Tujuanku menikahimu hanya agar dia nggak kehilangan sosok mama," katanya kemudian. Sesungguhnya kata-kata itu biasa saja, tetapi kata 'hanya' membuatku sensitif dan hatiku terluka.

"Aku paham," ucapku seraya menyembunyikan kepedihan di hati. Aku kembali meletakkan bayi di tanganku karena tenagaku seolah melemah. Aku memandang ke depan pada kendaraan yang berlalu lalang dengan pikiran tidak menentu.

"Sudah sampai."

Samar aku mendengar perkataan Mas Danu setelah sekian lama aku merenung, bahkan aku dapat melihat adik ipar dan mertuaku berjalan ke arah mobil dengan payung di tangan. Mereka buru-buru mengeluarkan kedua bayi dari dalam mobil dan membawanya ke dalam rumah.

Namun, pikiranku tidak sinkron dengan apa yang aku lihat dan kudengar. Aku hanya membeku di tempat masih dalam keadaan melamun seraya memandang tetesan air hujan yang jatuh semakin deras.

"Turunlah! Kamu bukan Tuan putri yang harus dijemput dengan payung. Aku tidak seromantis itu, terlebih aku bukan ojek payung." Mas Danu keluar dari mobil dan membuka sebuah payung untuk dirinya sendiri, lalu pergi meninggalkanku di dalam mobil.

Aku tersentak lalu menatap Mas Danu dengan sinis. Setelah itu aku keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan kasar.

Tak peduli hujan yang masih lebat, aku menembusnya dan berlari ke arah rumah menyusul adik dan ibu Mas Danu. Saat aku melewati Mas Danu aku mendekat pada sebuah genangan air lalu kuhentakkan kaki hingga air terpercik ke baju Mas Danu.

"Rasain kamu Mas, aku basah kamu juga harus basah." Aku tersenyum puas.

Lagipula siapa suruh jarak dari garasi ke rumah tidak ada atapnya.

"Lintang!" Mas Danu berteriak dengan tangan terkepal.

1
ayu cantik
bagus
Imamah Nur: Terima kasih. Yuk lanjut baca novelku yang berjudul "Paket Cinta".
total 1 replies
Qiano Alfarizqi
visual nya dong
Ririn Nursisminingsih
ndak jelass critanya maless jdinya
Eva Karmita
aamiin ya rabbal allamin doa yang sama untuk otor semoga rejekinya lancar dan sukses selalu untuk karya"nya 🤲🤗❤️
Imamah Nur: Aamiin
total 1 replies
Iges Satria
akhirnya /Heart//Heart/
Rahma Inayah
ending yg bahagia
Rahma Inayah
selamat lintang dpt dunuar junior twins.selamt JD ibu muda
Eva Karmita
masyaalloh bahagia adem bacanya ngak ada huru hara yang ada cuma kebahagiaan ❤️🥰
Iges Satria
senangnya pada akur /Heart//Good/
Rahma Inayah
ya GK jg BS menyalakan dokter sangkin byk pasien nya BS slah mendiagnosa pasien dktr jg manusia.tp lain kli hrs hati2 dok Krn pasti pasien dan Kel merasa takut dan khawatir .tp alhamdulilah baby junior Danuarta sehat
Eva Karmita
Alhamdulillah selamat ya atas kelahiran si kembar
Eva Karmita
semangat lintang
Eva Karmita
semoga ada keajaiban si kembar 😭😭
Rahma Inayah
bukannya BS ya di oprasi dini utk mengambil baby yg meninggal aja tp yg hdp NNT pas sdh ckp br di keluarin yg mn NNT nya akan 2 kali operasi yg akan lintang lewati .apa km nyaman. lintang saat bersendawa akn keluar bau dr mulut mu spt bau busuk .yaitu bangkai dr baby td .spt teman ku Krn nikah muda dan merantau jauh dr Kel pas hamil GK tau klu baby nya sdh LM meninggal dlm perut tapi bersendawa pasti keluar bau busuk awal nya dia pikr biasa lama kelamaan ternyata baby ny sdh LM meninggal dlm perut mau GK mau hrs operasi
Imamah Nur: Beresiko operasi 2 kali dalam jarak beberapa bulan aja. Kan bayinya dalam satu rahim.
total 1 replies
Rahma Inayah
apa.gk bahaya dok nyimpen baby yg GK bernayawa dlm perutibunya .bknya hrs dikeluarkan .semoga ada keajaiban baby yg di nyatakan meninggal ternyata hdp lagi
Imamah Nur: Kalau cuma satu bisa langsung dikeluarkan tapi yang satunya belum cukup kondisinya. Masalah bahaya yang penting tetap dalam pantauan dokter
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut thoooorr 🔥💪🥰
Rahma Inayah
akhirnya kabr yg mmg dinantikan Danu akan kehamilan lintang.semoga debay nya sehat sampai lahiran .
Eva Karmita
sabar ya pa harap di maklumi mulut anakmu memang pedas kaya bon cabe tapi aslinya mas Danu sayang banget sama papa 🥰😁
Rahma Inayah
Danu GK SDR dia bcr spt tu padhl dia dl yg nuduh lintang selingkuh tp TDK terbukti
Eva Karmita
ya ampun mas Danu kamu kenapa kok sepertinya takut sama buah rambutan ada trauma kah ...???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!