"Cinta kerap datang tanpa memberi aba-aba pada otak agar mengerti. Terkadang ia hadir menyelinap ke dalam hati dan menetap. Tanpa di sadari cinta telah bersemayam di dalam lubuk hati."-- Fakhri
"Terkadang cinta datang namun harus pergi. Dan terkadang kita yang harus pergi meninggalkannya."-- Tania
Penghujung cinta dari setiap insan memiliki jalan yang berbeda untuk sampai ke titik sebuah penyatuan cinta.
Dan tak ada satu insan pun yang tahu bagaimanakah akhir dari penghujung cintanya? Mendapatkan atau malah harus meninggalkannya.
Lalu bagaimana dengan cinta Tania? Apakah ia dapat menemui akhir dari cintanya. Bagaimana kisahnya? Pantengin aja cerita ini.
*Selamat membaca dan jangan lupa like, komen yang bijak untuk perbaikan author sendiri dan vote ya teman-teman!*
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akhwat Uyee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6# Jacketed Man
Ponsel Tania bergetar dan sebuah panggilan masuk.
"Assalamualaikum, kenapa Nad?" Tania bertanya langsung tanpa memastikan siapa yang menelponnya karena Tania dalam posisi sudah ngantuk berat.
"Wa'alaikumussalam." suara laki-laki menyaut dari sebrang sana.
"Kamu belom tidur Tan? Aku mengganggumu?"
"iya, aku ngantuk. Wassalamamualikum." Tania langsung mematikan ponselnya agar tak ada yang menelponnya lagi.
Pagi menyapa dan mentari mulai bersinar, cahayanya menerobos masuk melalui celah-celah dari gorden dan menyilaukan mata Tania. Tetapi Tania malah menutupnya dengan selimut dan terpejam kembali. Alarm yang berdering pun tidak ia huraukan.
"Tania! Bangun sayang sudah pagi!" suara lembut itu tetap membuat Tania tidak bergeming. "Tania bangun, terus mandi, tuh ada teman kamu di bawah, dia cowok. Katanya ada yang pengen diomongin..."
"Oke Ma, Tania bangun." seketika juga Tania bangun dari tidurnya, berlari menuju tempat handuk, dan masuk ke kamar mandi. Sedangkan Mamanya menahan tawa melihat kelakuan anaknya yang lucu.
Setelah mandi Tania langsung menyiapkan keperluan yang akan di bawa ke sekolah, biasanya Tania menyiapkan keperluan sekolah pada malam harinya setelah belajar dan mengerjakan PR. Namun semalam Tania hanya belajar dan seusai belajar ia tak merapikannya lagi. Tania buru-buru karena tak ingin membuat temannya menunggu.
Tania masih penasaran dengan lelaki yang dibilang Mamanya, masa iya ada laki-laki berani datang pagi-pagi gini. Bukan tidak mungkin namun Tania kan notabenya anak baru, jadi sepertinya tidak mungkin. Setelah menyiapkan semuanya Tania langsung menghambur ke bawah dan matanya sibuk mencari-cari sosok lelaki itu.
"Nyari siapa, Mbak?"
"Eh Pak Korim, itu Pak. Ada liat temannya Tania nggak, Pak?"
"Ah nggak ada, Mbak. Mungkin Mbak habis mimpi ketemu sama temannya. Apa mimpiin yang ngasih paket kemarin? Hayo ngaku," ucap Pak Korim menggoda Tania sambil tertawa.
"Eh ya nggak,Pak. Tapi ..."
"Tapi apa sayang? Udah cepet sarapan. Nanti terlambat lagi." Mamanya muncul dari ruang makan dan menarik lengan Tania untuk makan.
"Mama bohong sama Tania, ya?" Tania memotong rotinya sambil sedikit kesal.
"Siapa suruh bagun tidurnya susah. Apa Mama harus menikahkan kamu dengan anak teman Mama biar kamu semangat pagi?"
Uhuk!
Tania tersedak lalu meminum segelas air putih, "Mama, ini bukan jamannya perjodohan. Tania nggak mau juga cepet-cepet nikah."
"Kalau kamu nggak mau nikah, kamu harus janji bakal bangun pagi tanpa harus di bangunin Mama ya? Kamu sudah besar, kamu harus mandiri. Kamu memang pintar sayang, kamu juga baik. Tapi kamu harus mandiri. Dan kamu juga harus teliti sama barang kamu. Boneka hello kitty kamu hampir terbuang lho gara-gara kamu tarok di pinggiran meja, trus bonekanya jatuh di tempat sampah. Tapi bonekanya udah Mama tarok di kamar kamu lagi kemarin."
Tania mendengarkan penjelasan Mamanya, "Iya, Ma. Tania akan berusaha jadi seperti apa yang Mama inginkan." Tania menghabiskan rotinya kemudian berpamitan untuk berangakt sekolah.
Tania rupanya berangkat cukup pagi hari ini, dan terlihat jelas baru beberapa siswa yang berlalu lalang di halaman.
"Tania! Ikut Ibu keruangan ya?" seorang guru bertubuh ideal dengan tinggi sekitar 165-an menghampiri Tania yang berjalan santai di koridor. Tania pun mengikuti langkah kaki Ibu tersebut hingga keruangannya. Dan barulah tahu kalau yang memanggilnya adalah Bu Andini.
"Tania, Ibu harap kamu mau mewakili sekolah kita untuk olimpiade matematika antar sekolah ya."
"Lho kok Tania sih, Bu?"
"Soalnya kemarin ibu sudah menyuruh Laila salah satu kakak kelas kamu. Tapi berhubung dia sakit, dia izin tidak bisa mengikutinya. Jadi Ibu harap kamu mau menggantikan dia, ya?"
"Tenang kamu nanti ada temannya kok, kamu akan bareng sama Mario. Dia kakak tingkat kamu, matematikanya jago juga lho, Tan. Dan kamu, Pak Burhan kemarin bilang katanya hari pertama kamu masuk langsung ulangan harian, dan nilai kamu bagus sekali. Jadi sepertinya pilihan Ibu tidak salah." Ibu Andini menjelaskan panjang kali lebar dan Tania hanya menganggukan kepala tanda mengerti.
"Oh iya, satu lagi. Tania, tolong kamu kasih soal ini ke Mario ya, kalian bisa diskusi bersama ya." Tania menerima soal, lalu ia menuju ruang kelas.
Saat menuruni tangga ia berpapasan dengan lelaki yang berjalannya menunduk terus, sekilas Tania melihat badge namanya dan terlihat nama "Mario".
"Kayanya Mario yang ini yang di maksud Bu Andini tadi." Tania berbicara dalam hati. " Assalamualaikum. Hai, Mario!", Tania mendekati orang yang bernama Mario tersebut. "Eh maksudnya Kak Mario." Tania jadi merasa tak enak sudah memanggilnya dengan sebutan nama saja, tapi belum tentu juga yang di maksud Ibu Andini yang ini.
"Aku?" lelaki itu menunjuk dirinya sendiri sambil celingukan lihat ke kanan dan ke kiri, barangkali ada Mario lain yang ia maksud.
"Em, maybe. Eh Kakak itu yang ikut olimpiade matematika kan?"
"Kok tahu? Apa harus berita seperti ini juga cepat menyebar?"
"Ceritanya panjang Kak, pokoknya ini soal-soal matematika yang Kakak harus pelajari ya. Tania males kalau harus lihatin soal kaya gitu, hehe." Tania menyodorkan soal-soal tersebut.
"Dari?"
"Bu Andini, udah ya Kak Tania mau kelas. Assalamualaikum." Tania langsung meninggalkan Mario yang masih berdiam diri di tangga, bahkan Tania tak mendengar jawaban salamnya. Sedangkan Tania langsung berlari turun menyusuri anak tangga dan menuju kelasnya.
Di depan pintu kelas Tania mendapati sosok yang asing, namun tatapannya seperti telah mengenal Tania bahkan ia tersenyum pada Tania.
"Hai Tania!" ia tersenyum dengan senyum manisnya.
"Assalamualaikum. Iya,ada apa ya?"
"Eh, wa'alaikumussalam. Nggak ada. Aku cuma mau tahu apa kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik."
"Oke, aku pergi. Daaa." Lelaki itu beranjak meninggalkan Tania sembari melambaikan tangan. Tania benar-benar merasa aneh sendiri melihat kelakuan laki-laki tadi dan Tania sempat melirik bagde nama di bajunya yang terlihat jelas namnya Rehan.
Saat Tania mencari pulpennya yang tertinggal di dalam laci mejanya, ia menemukan sesuatu selain pulpennya. Tania menemukan sebungkus coklat. Ia berpikir keras kira-kira siapa yang memberikan coklat itu.
"Wah dapat coklat dari siapa ini?" Nadia tiba-tiba duduk di samping Tania.
"Nggak tau sih." Tania mengangkat bahunya.
"Uh enaknya coklat ini, pasti dari Rehan ya?" tiba-tiba Syela datang dan merebut coklat tersebut dari tangan Tania.
"Kamu apa-apaan sih, Syel? Itu punya Tania. Kamu nggak ada hak mengambilnya." Nadia berdiri sambil memandangi Syela.
"Sorry, ini bukan punya Tania. Aku tahu kalau Tania dapat ini dari Rehan kan? Tadi aku melihat mereka berdua ngobrol di depan kelas. Aku semakin yakin ini dari Rehan dan Rehan itu cuma buat aku. Jadi ini milikku." Syela berucap dengan gaya sombongnya.
"Bukan, itu dari aku. Aku meletakkan di dalam laci meja Tania dan aku memberikan pada Tania sebagai tanda persahabatan kami bertiga." suara Fakhri membuat semua terdiam, " Iya kan Tania? Kamu dapat dari dalam laci meja kamu kan?"
"Iya." jawab Tania singkat.
"Oke, tapi ini tetep jadi milikku, karena aku yang megang sekarang. Anggep aja ini hutang kamu Tania. Karena aku selama ini belom sempat balas dendam atas perlakuan kamu pada hari pertama sekolah." Syela meninggalkan kelas dengan tetap dengan gaya sombongnya, namun terlihat bahwa Syela malu karena ternyata coklat tersebut bukan dari Rehan.
***
Tania dan Nadia berjalan bersama menuju parkiran sekolah yang cukup jauh dari kelas mereka.
"Tan, kamu ada hubungan apa sama Rehan?"
"Nggak ada." Tania menjawab dengan cuek.
"Seriusan deh Tan, kamu sampai kena marah si Syela segala lho!" Nadia semakin penasaran.
"Aku nggak kenal, tadi tu dia..." Tania berhenti berbicara dan berlari. Meninggalkan Nadia yang kebingungan namun Nadia langsung menyusul Tania dari belakang.
"Tan kamu ngejar siapa sih?"
"Cowok misterius di dekat perpustakaan tadi. Dia pake jaket." Tania berbicara sambil ngos-ngosan.
"Bakal ku kejar tu anak." Nadia berlari lebih kencang lagi daripada Tania. Tania jadi pelan larinya karena dalam kondisi haus.
Aksi kejar-kejaran mereka mengelilingi kelas tak juga kunjung berhenti hingga akhirnya Nadia mendapati sosok laki-laki berjaket duduk di depan ruang laboratorium.
Nadia langsung menarik lengan lelaki tersebut hingga berdiri dan memutar lengannya hingga badannya menghadap pada Tania.
"Lho kamu kan ..." Tania terdiam sejenak.
#sudah revisi
jujur sih ni novel yg ke 2 aku baca yg jdi favorit ku jga
jangan lupa dengerin audio ny ya soalnya aku yg dubiing 😊
maaf jika suara nya agak gak jelas
terimakasih
mampir ya....
PENDEKAR TAK PERNAH KALAH
semangat terus ya nulisnya 💪 semoga ide-ide nya selalu dapat🤗
Mampir juga ya di novelku "Suami Dadakan" makasih💖
Salam dari kisah danau hijau buatan kakek
Salam dari "Pacaran Setelah Menikah "Halal)"
Terima kasih. 🤗