Ini adalah kisah tentang dua insan yang sangat jauh berbeda, tetapi jatuh cinta.
Takdir menyedihkan menimpa keduanya selama hidup sampai Mahapatih Candrakumara Dewananda dan Putri Balqis Humaira Azhari meninggal dalam pesakitan memperjuangkan cinta untuk melampaui sekat-sekat agama dan sosial.
Tapi...
Kisah Candrakumara dan Balqis kembali terjalin dengan inkarnasi modern mereka. Candrakumara terlahir kembali sebagai Garalt Zayn Mahesa, seorang bintang film yang sangat menawan. Dan Balqis terlahir kembali sebagai Aneska Zoya Raveena, seorang gadis cantik nan lugu yang bermimpi menjadi seorang aktris besar. Semesta mempertemukan mereka kembali.
Dapatkah mereka mencegah tragedi yang sama terjadi pada diri mereka? Atau justru takdir pahit itu akan terulang lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vera Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal Bersama
"Raja Sanjaya telah memberi banyak hadiah pada kita," ucap Gasendra pada Arimbi seraya menunjukkan hadiah-hadiah itu.
"Aku merasa senang," ucap Arimbi.
"Waktunya sangat pas. Ada begitu banyak beban."
"Jadi membantu Citrapsada terbukti menguntungkan bagi kita," ucap wanita paruh baya itu seraya tertawa kecil.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti saat melihat sebuah tandu datang.
"Apa ini?" gumam Arimbi.
Dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik turun dari tandu itu membuatnya kebingungan karena tidak pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.
"Kau siapa?" tanya Arimbi.
"Beliau adalah putri Raja Sanjaya," ucap salah satu pengawal Balqis.
"Aku tidak tahu kalau dia punya putri secantik ini. Senang mengenalmu," ucap Arimbi seraya berjalan mendekati Balqis.
"Terima kasih."
"Siapa namamu?"
"Balqis."
"Balqis... Nama yang indah. Ayahmu punya banyak istri, lantas kau anak dari yang mana?" tanya Arimbi.
"Farida Jalal."
"Aku tahu, kau seorang Muslim. Tapi Raja Sanjaya tidak perlu repot-repot mengirim putrinya jauh-jauh kemari hanya untuk mengantar hadiah. Bagaimana, Gasendra?" Arimbi menoleh pada putra bungsunya yang berdiri di belakangnya dan hanya direspon dengan tawa kecil oleh Gasendra.
"Aku kesini bukan untuk mengantar hadiah," ucap Balqis.
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Candrakumara," ucap Balqis yang sukses merubah ekspresi Arimbi dan Gasendra yang awalnya tersenyum berubah total.
"Gasendra, tolong urus tempat tinggalnya di tempat lain," ucap Arimbi.
"Temui aku sebelum kau kembali ke Sumatra," ucap Arimbi pada Balqis.
Di kamarnya, Ashwina memegang pedang milik Candrakumara sembari memperhatikan dirinya di depan cermin.
"Akan ikut berperang?" tanya Candrakumara pada istrinya.
"Sudah kuputuskan. Lain kali, aku akan menemanimu berperang. Tak peduli apa kata orang," ucap Ashwina.
"Tapi kau tidak bisa menunggang kuda. Bagaimana kau bisa ikut?" tanya Candrakumara seraya meliipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku akan ke kandang kuda, menungganginya, mencambuknya, dan berjalan secepat angin. Ini dia, Ashwina!" Ashwina mempraktekkan seakan-akan dirinya sedang menunggangi kuda.
Candrakumara memperhatikan tingkah laku istrinya itu lalu tertawa dan menarik Ashwina ke dalam pelukannya.
"Kita belum sampai di medan pertempuran dan kau sudah mulai."
"Apa lagi yang pejuang ini butuhkan? Sedikit lahan, makanan dua kali lipat, hamparan langit, kuda, pedang, dan Ashwinaku," ucap Candrakumara seraya menatap lekat mata bulat Ashwina.
"Semuanya 27."
"Kenapa begitu?"
"27 luka! Kali ini kau biarkan musuh mendekat." Ashwina mengusap luka Candrakumara.
"Dan sekarang, untuk menghindari luka ke 28, cincin ini akan melindungimu dari marabahaya dan pedang musuh." Ashwina memasangkan sebuah cincin ke jari manis Candrakumara.
***
Balqis sedang melihat-lihat lingkungan tempat tinggalnya.
"Putri, aku tidak mempercayai maksud baik orang-orang tadi. Ini bukan tempat tamu! Ini siasat untuk menjatuhkanmu. Jika mereka berani menempatkan kau di antara para ******* maka mungkin mereka akan menyuruh kau menari nantinya!" ucap Khansa pada Balqis tapi gadis itu tidak mendengarkannya dan terus berjalan memasuki setiap celah tempat itu.
"Putri!" panggil Khansa tetapi Balqis tetap tidak mendengarkannya.
"Nah, nah... Lihatlah kupu-kupu itu!" celetuk salah satu wanita yang ada disana pada teman-temannya. Kemudian mereka menertawakan Balqis.
Setelah sampai di tempat mereka, Khansa masuk ke kamar Balqis dan membereskan barang-barangnya.
"Sungguh tidak bijak menyuruh pengawal kita pulang, Putri. Kita di daerah asing, dikelilingi orang asing. Kau tidak akan pernah tahu masalah apa yang akan muncul. Orang macam apa yang tega menempatkan tamunya di antara para *******? Dan itu pun pada putri Raja Sanjaya. Citrapsada akan umumkan perang jika mereka tahu hal ini. Tapi kau hanya duduk disini membisu...." ucapan Khansa terhenti saat melihat apa yang dilakukan Balqis. Gadis itu memegang sebuah pedang, dan memainkannya layaknya dia sedang berperang.
"Aku tahu kau merasa dipermalukan, Putri. Mari kita pulang saja daripada dihina seperti ini. Jika dia sungguh mencintaimu, maka dia akan mengejarmu ke Sumatra. Satu hal lagi, tidak peduli seberapa besar usahamu, mereka tidak mungkin akan membiarkannya tahu kalau kau disini." Khansa memandang iba pada Balqis.
"Dan aku tidak akan pernah membiarkan mereka melupakan cintaku padanya," ucap Balqis dengan mata yang berkaca-kaca.
***
Zayn membawa Zoya ke rumahnya, karena gadis itu bercerita kalau dia tidak punya keluarga di Jakarta. Dan uangnya pun sudah habis sehingga jika dia tidak lulus casting, dia akan benar-benar menjadi gembel di kota sebesar itu.
Zayn membawa Zoya ke rumah yang ditempatinya bersama Aidan karena dia tidak mungkin membawa Zoya pulang ke rumah yang ditempatinya bersama ayahnya. Sebenarnya, Zayn lebih sering tinggal di rumahnya sendiri dibandingkan tinggal dengan ayahnya. Dia hanya menginap di rumah ayahnya sepekan dalam sebulan, itu pun agar ayahnya tidak kesepian.
Menjadi seorang aktor sejak dirinya masih berusia 23 tahun, tentunya Zayn sudah sangat menjadi mapan sekarang meskipun karirnya berawal karena dia adalah seorang anak dari aktor ternama pada zamannya. Tetapi dengan prestasinya Zayn mampu membuktikan bahwa dia memang berbakat, bukan semata-mata karena dia adalah anak angkat seorang aktor senior.
Zoya memperhatikan setiap detail kota Jakarta dari mobil. Dia mulai membandingkan antara lingkungan tempat tinggalnya dengan kota ini. Perbedaannya adalah 180 derajat. Ya meskipun ibu kota akan dipindahkan ke Kalimantan dan area tempat tinggalnya akan menjadi jalur utama orang-orang yang hendak bertolak ke ibu kota, tetap saja kota tempat tinggalnya tidak sebesar Jakarta.
"Aku suka ada di Jakarta," ucap Zoya seraya terus memandangi gedung-gedung tinggi yang mereka lewati.
"Cuacanya dingin. Aku bakal nutup jendelanya," ucap Zayn lalu menaikkan kaca mobil. Itu membuat Zoya terkejut dan gadis itu segera menjauhkan kepalanya.
"Aku seneng bisa ketemu sama kamu. Tapi kenapa kamu pengen langsung debutin aku padahal aku belum casting?" tanya Zoya.
"Ada sesuatu di diri kamu," ucap Zayn dengan mata yang fokus memandang ke arah jalan.
"Apa?"
"Kamu nggak perlu tau."
Tiba-tiba, Zayn merasa seseorang sedang mengikutinya dari belakang. Laki-laki itu kemudian mengetes apakah benar mobil yang ada di belakangnya itu sedang mengikuti mobilnya, dan benar saja dia sedang diikuti oleh seseorang.
"Ah, siapa sih orang itu?" gumam Zayn yang kesal karena diikuti seperti itu.
Zayn melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang malam itu cukup lengang. Dia melajukan mobilnya secepat mungkin. Sampai pada saat dia memasuki area komplek perumahannya, dia melihat mobil itu sudah tidak lagi ada di belakangnya, mungkin karena kehilangan jejak.
***
Zayn menyuruh Zoya masuk ke dalam rumahnya. Mata Zoya tidak bisa berkedip melihat rumah itu. Rumah yang besar, tv yang besar, kolam renang yang besar. Sungguh, dirinya tidak pernah bermimpi bisa tinggal di rumah besar seperti ini.
Saat Zoya sibuk melihat-lihat rumah, Aidan menarik Zayn dan mengajaknya untuk berbicara.
"Kenapa lo bawa dia kesini sih?" protes Aidan.
"Kan lo denger sendiri tadi cerita dari dia," ucap Zayn seraya mengambil sekaleng bir dari dalam kulkasnya. Zayn termasuk pecinta minuman beralkohol dan itu sudah sejak 5 tahun yang lalu saat dirinya masih berusia 20 tahun. Dia menjadi candu, Zayn sudah berusaha menahan dirinya dan mengikuti berbagai macam terapi agar dia tidak terlalu kecanduan, tetapi tetap saja semuanya tidak mempan.
"Zayn, kayaknya dia nggak cocok ama gue," ucap Aidan dengan suara pelan sehingga Zoya tidak bisa mendengarnya.
"Trus lo mau apa kalo nggak cocok? Terima ajalah!"
"Ya tapi tetep aja, kita bakal hidup satu rumah."
"Lo kan juga numpang disini. Terus apa masalahnya sih? Kalo lo nggak suka mending lo cari tempat tinggal baru aja deh."
"Heh kutu kupret! Kalo gue pergi, apa yang bakal kalian berdua lakuin?"
Tiba-tiba bel rumah mereka berbunyi. Zayn bergegas pergi ke pintu dan membukakan pintu rumahnya.
Saat Zayn masuk ke dalam rumah, dia membawa seorang gadis cantik masuk. Hal itu membuat Zoya bertanya-tanya siapa gadis yang sedang bersama dengan Zayn. Gadis itu juga membawa makanan yang sangat banyak.
Apa mungkin itu pacarnya Zayn? Tapi hubungan mereka nggak pernah kecium publik, batin Zoya.
Zoya merasakan aura persaingan dengan gadis itu dan menatapnya tajam.
"Kamu punya tamu! Siapa dia?" tanya gadis yang bernama Airin itu.
Zoya mendekati Zayn dan Airin lalu menatap Airin dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat. "Hai, aku Zoya."
Tiba-tiba, sebuah benda menabrak kaki Zoya sehingga menyebabkan gadis itu berteriak ketakutan dan memeluk Zayn dengan erat. Zayn mencoba melepaskan pelukan Zoya yang sangat erat. Sedangkan Airin merasa terganggu melihat itu.
Mereka semua kemudian menikmti makanan yang dibawa Airin bersama-sama. Semua orang terdiam saat melihat cara makan Zoya yang sangatlah tidak anggun, sangat tidak singkron dengan wajahnya yang anggun.
Airin nampak kesal karena makanan yang dibawanya juga diberikan kepada Zoya. Dia kemudian melancarkan aksinya dengan menyiapkan makanannya untuk Zayn.
Airin sangat dekat dengan Zayn sejak pertama kali Zayn diangkat sebagai anak oleh David. Itu karena orang tua mereka berdua bersahabat, hanya saja jika Zayn memilih menjadi seorang aktor, Airin menetapkan pilihannya untuk menjadi seorang sejarawan.
Saat Airin tengah berbincang-bincang dengan Zayn, Zoya diam-diam mengamati gaya berpakaian Airin dan aksesoris yang dia kenakan.
Setelah acara makan-makan selesai, Airin menarik Aidan keluar dengan perasaan yang sangat kesal. "Jadi, dia bakal tinggal disini buat sementara waktu?" tanyanya.
"Aku juga udah berusaha nyegah Zayn. Tapi Zayn itu cepat kasian sama orang. Kenapa kamu peduli banget tentang cewek itu sih? Kamu nggak usah khawatir," ucap Aidan.
"Terserahlah," ucap Airin lalu pulang ke rumahnya.
"Hati-hati," ucap Aidan.
Di sisi lain, Zayn sedang menunjukkan kamar yang akan ditempati Zoya pada gadis itu. Kamar tersebut cukup luas dan sudah dilengkapi dengan tempat tidur.
"Apa aku tinggal disini?" tanya Zoya.
"Dasar. Apa maksud kamu 'tinggal'? Kamu cuma numpang disini buat sementara waktu. Ntar kalo kamu udah sukses, kamu harus beli rumah sendiri dan tinggal di rumah kamu," ucap Zayn lalu keluar dari sana dan pergi ke kamarnya.
"Makasih!" teriak Zoya.
"Ya pasti lah kamu harus berterima kasih. Sekarang kita harus hidup tenang," ucap Zayn.
Zoya naik ke atas tempat tidur dan melompat-lompat di atasnya. Setelah lelah melompat-lompat, dia mulai mengantuk dan tidur karena besok adalah hari pertama dia dilatih untuk akting sebelum nantinya syuting dilakukan.
***
Bersambung...
Next up. 😉
Semangat untukmu. 😊
Salam manis dari STILL IN LOVE. 💖
Ditunggu kelanjutannya. 😉
Salam manis dari Still In Love. 😊
maaf baru bisa mampir
Jangan lupa mampir dikaryaku
Aisyah Aqila ya...
Semangat menulisnya
Salam dari LOVATY
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
hmmm...