Aku masih berusia 17 tahun dan mereka dengan santainya mengatakan niatnya untuk menjodohkanku dengan putra sahabat ibuku. Apakah dunia hanya sebesar daun kelor? Bagaimana tidak. Calon suamiku adalah wali kelasku sendiri! Dimanakah aku harus menyembunyikan wajahku dari anak-anak satu sekolah? Bagaimana mungkin seorang Carlina Deani menikah dengan Krisan Yosia yang adalah wali kelasnya?
Tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan masa remajaku. Semua orang seusiaku umumnya baru mengenal cinta -meskipun itu cinta monyet, berpacaran, ya menjalani masa penjajakan. Tapi aku sekarang sudah harus menikah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eunike lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Aku terdiam. Aku melihat dirinya nampak kebingungan mengetahui aku datang bersama seorang pria –yang tidak diketahuinya bahwa ia adalah suamiku. Mungkin ia cemburu. Karena kutahu terakhir kali ia sempat menyatakan cinta padaku dan aku tidak menjawab apapun. Aku merasa aneh dengan semua ini. Hingga suamiku meraih lenganku dan berbisik padaku. “Siapa dia, Lin?”
“Em.. Mas, kenalin ini Kak Krisna. Kak, kenalkan dia –” aku menghentikan kalimatku. Aku tak yakin melanjutkannya. Namun ia mengangguk memberi isyarat agar aku menjelaskan semua. “– Mas Krisan.”
“Ohya maaf, aku ada keperluan mendadak. Sayang, aku duluan ya!” ia pergi menjauh dariku setelah memberiku kecupan.
Aku hanya terdiam. Membeku bak patung. Aku tak tahu bagaimana tanggapan Krisna. Pria di hadapanku ini kulihat begitu terkejut dengan adegan yang baru saja terjadi. Mirip seperti drama namun itu adalah kenyataan.
“Siapa dia sampai berani menciummu?”
“Maaf sebelumnya, Kak. Dia itu –” aku menunduk. “– suamiku.”
“Hhah? Sejak kapan kamu menikah? Jangan bohongi aku, Carlin.” katanya dengan nada sedikit meninggi. “Aku menahan rasa ini sampai satu tahun. Sampai studiku benar-benar selesai. Aku memegang janji kita –yaitu aku akan datang kembali dan menikahimu ketika aku sudah menjadi dokter seperti sekarang. Tapi ini apa, Carlin?”
“Maaf, Kak. Aku dijodohkan. Aku sebenarnya tidak mau mengingkari janji kita.”
“Dan kamu mau? Itu artinya kamu juga suka dengannya kan?”
“Awalnya aku –” aku belum menyelesaikan kalimatku dan dia sudah menarik lenganku untuk duduk di deretan belakang. “Awalnya aku nggak mau. Tapi aku melakukan ini untuk ibuku. Kebahagiaannya lebih penting daripada kebahagiaanku.”
“Sepenting itu daripadaku?” aku terdiam mendengar ucapannya. “Aku tahu dia kaya. Dari penampilannya sudah aku sudah tahu. Tapi kondisimu, Carlin. Aku memikirkan kondisimu. Aku berjuang menjadi seorang dokter untuk bisa menyembuhkanmu. Tapi kamu malah pergi ketika aku telah kembali.”
“Aku nggak pergi, Kak. Aku masih di sini. Kita bisa berteman.”
“Iya ragamu tak pergi. Tapi hatimu sudah menjadi milik orang lain!”
“Tapi kak–”
“Cukup, Lin. Lebih baik aku menjauh dari kehidupanmu. Lebih baik dari pada aku menjadi pelakor. Kebahagiaanmu adalah yang terutama bagiku.” ia berdiri dan membalikan badannya hendak pergi. “Dan untuk kesehatanmu. Kamu bisa menghubungiku jika terjadi sesuatu padamu. Tapi ingat, aku hanya sebatas dokter. Sebatas temanmu yang berprofesi dokter. Ingat itu!”
“Kak!” aku berusaha mencegahnya pergi namun tangannya menghempaskan tanganku.
Apakah aku telah membuat kesalahan? Tapi aku juga kecewa Krisna tidak memberi kabar apapun selama dia di sana. Sekarang rasanya semuanya telah hilang. Aku kecewa akan segala hal. Bahkan aku kecewa karena aku menikah dengan Krisan. Karena pernikahan inilah sosok yang kucintai pergi.
Aku menopang kepalaku dengan kedua tanganku. Air mata mengalir membasahi kedua pipiku. Pikiranku benar-benar kacau. Sungguh lebih baik aku pulang daripada aku melayani tapi hati dan pikiranku tidak fokus sama sekali. Baru saja aku ingin pergi namun sebuah tangan mencegahku. Dia adalah sahabatku, Pipin.
“Kemana, Lin? Kamu baru datang sudah pulang lagi.”
“Aku lagi nggak fokus, Pin. Aku mau sendiri dulu.”
“Kamu ke gereja untuk beribadah pada Tuhan, berdoa meminta ampun dan memohon jalan keluar. Iya kan?” aku terdiam. Ucapan Pipin benar. Tapi… “Kamu jangan pulang. Ikuti kebaktian sampai selesai dan percayalah hatimu akan tenang, Lin.”
Di sini aku menemukan sebuah kebahagiaan bersahabat bersamanya. Pipin selalu ada dan mengerti kondisiku. Meski terkadang ia cerewet dan sedikit ngeyel alias keras kepala. Tapi aku sangat bersyukur memilikinya sejak kami ada di bangku sekolah dasar.
***
haii mampir ke karyaku yu.. ENDINGKU BERSAMAMU
kisah romansa dua insan manusia
jangan lupa like, vote, rate dan komennya..
sumpah bingung
thor klw penjelasaan ceritanya beraturan bagus loh critanya...ini kesannya dipotong2 critanya pingin cpt2 selesai kah thor?
sama judulnya jg jd g pas...
ujung2nya ke sana jg
g ada ketegangan nih...tp klw itu tulang sumsum krisan, jd dia g boleh capek2 loh..