Garis kehidupan setiap orang kadang berliku. Awalnya mungkin sedikit menyimpang, tapi tujuan akhir yang ditentukan Tuhan tidak pernah meleset. Demikianlah yang terjadi dengan kehidupan Darel dan Dara di kisah sebelumnya.
Novel lanjutan ini akan mengisahkan:
》Perjalanan hidup Darel dan Dara selanjutnya bersama kedua anak mereka.
》Begitu juga dengan garis kehidupan Mikha dan Manche yang terhisap dalam lika liku kehidupan cinta Darel dan Dara sebelumnya.
Selamat membaca.
Semoga terhibur. 🙏🤗💖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06. Keluarga Manche.
...~•Happy Reading•~...
Mikha masih duduk beberapa saat di balkon kamar hotelnya untuk mengenang perjalanan hidupnya yang sangat berwarna.
Kembali dia memandang langit yang luas dan cerah, dia mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada. 'Bagaimana pun cara hidup kalian berdua, biarlah berlalu bersama hidup kalian di dunia ini. Aku akan selalu mengingat kalian sebagai orang tuaku.' Mikha membatin dengan hati terharu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Mikha segera mengeluarkan ponselnya, karena khawatir kedua anak Darel menghubungi. Ketika melihat siapa yang telpon, Mikha segera merespon.
"Hallo, Manche." Mikha menyapa setelah menenangkan hati, karena Manche yang menghubungi.
"Hallo, Mikha. Apa aku mengganggumu?" Tanya Manche ragu-ragu mendengar sapaan Mikha yang tidak seperti biasa.
"Tidak juga. Aku lagi istirahat sebentar. Bagaimana kabarmu?" Tanya Mikha mengingat percakapan terakhir mereka dan Mikha belum sempat menanyakan kondisinya lagi, karena harus mengurus acara konferensi pers Darel.
"Baik. Terima kasih sudah infoin acara konferensi pers Darel. Jadi semangat untuk segera lakukan sesuatu." Manche termotivasi dengan pesan yang diselipkan Darel untuknya, saat melakukan konferensi pers.
"Sama-sama. Harus tetap semangat." Mikha turut menyemangati, karena yakin ucapan terima kasih Manche untuk apa yang dikatakan Darel padanya, saat konferensi pers.
"Iya. Apa Dara atau Darel ada di dekatmu? Aku telpon, tapi ponsel Dara tidak aktif." Manche ingin berbicara dengan Kandara, tetapi tidak bisa dihubungi. Sudah berkali-kali hubungi, tetapi tidak terhubung.
"Hahaha... Mereka sedang melanjutkan bulan madu yang tertunda." Mikha berkata sambil tertawa, mengingat apa yang dikatakan Darel padanya. Agar mereka berada di hotel untuk beberapa waktu, karena butuh waktu sendiri dengan Dara.
"Oooh... Mereka jadi pergi bulan madu? Apa si kembar dibawa juga? Lalu bagaimana dengan Oma si kembar?" Tanya Manhce beruntun, ingat terakhir bertemu dengan mereka, Kandara mengatakan tidak pergi bulan madu. Dia tidak mau meninggalkan anak-anak dan Mamanya sendiri di Korea Selatan.
"Tidak. Aku hanya bercanda. Kami semua sedang ada di hotel, karena ada yang perlu Darel selesaikan dengan Dara. Sekalian tunggu situasi di luar lebih aman untuk Darel sekeluarga bisa kembali ke mansion...." Mikha menjelaskan dengan tenang dan serius. Dia tidak ingin Manche salah mengartikan candaannya terhadap apa yang pernah dikatakan Kandara.
"Kalau kau ada ada perlu dengan Dara, tunggu agak sore atau malam baru hubungi Dara. Atau nanti kami bertemu, aku akan sampaikan padanya." Mikha menyampaikan solusi yang baik kepada Manche, karena tahu hubungan persahabatan mereka.
"Iya. Nanti saja baru aku hubungi Dara. Aku hanya mau tahu, apakah Darel masih lama di Korea." Manche berkata pelan. Dia ingin tahu keberadaan Darel di Korea Selatan.
"Kalau soal itu, sepertinya Dara belum tahu, sebagaimana aku juga belum tahu. Karena kalau Darel sudah putuskan untuk berangkat ke situ, dia akan bicarakan dengan aku." Mikha berkata dengan serius untuk meyakinkan Manche, karena Darel akan berbicara dengannya tentang semua yang berhubungan dengan pekerjaan.
"Kau ada perlu atau mau bicara dengan Darel?" Tanya Mikha serius, mendengar Manche menarik nafas berat.
"Iya, Mikha. Mengenai pekerjaan dan perusahaan Daddy." Manche berkata pelan. Mikha sontak menepuk dahinya, mengingat kondisi Daddy Manche dan dia lupa menanyakan kondisinya.
"Apakah Daddymu baik-baik saja? Apa kau sudah ke rumah sakit untuk melihat kondisinya?" Tanya Mikha beruntun, karena dia hampir lupa menanyakan Manche. Banyak hal yang harus ditangani sebelum dan setelah konferensi pers Darel, sehinga dia lupa menanyakan Manche.
"Aku sedang di rumah sakit dan kondisinya tidak lebih baik. Mommy mau pindahkan ke rumah sakit yang lain, karena berbagai alasan. Tapi aku tidak mau bicarakan itu dengan Darel."
"Aku mau menanyakan pendapatnya, karena perusahan Daddy ada bekerja sama dengan perusahaannya di sini." Manche menjelaskan dengan suara pelan dan berat.
"Manche, alangkah baiknya kau tidak bicarakan itu dengan Darel saat Dara sedang bersamanya. Kecuali kau ingin Dara tahu kondisi Daddymu." Mikha memberi saran, karena Manche telah meminta dia dan Darel berjanji tidak bicarakan kondisi orang tuanya kepada Kandara dan Bu Selvine.
"Oh, iya. Atau kau bisa bantu bicara dengan uncle Darpha? Aku sangat butuh solusi yang baik dalam kondisi Daddy sekarang ini. Apalagi Mommy sedang uring-uringan dengan semua urusan pekerjaan, jadi suka berlaku tidak baik kepada Daddy." Manche berkata pelan, karena dia baru saja berselisih paham dengan Mommynya.
"Sebentar. Kau sudah keluar dari rumah, atau belum sempat lakukan yang pernah kita bicarakan bersama Darel?" Tanya Mikha serius, mengingat dia dan Darel meminta Manche keluar dari rumah orang tuanya setelah pengacara Darel berbicara dengan Daddynya di rumah sakit.
"Aku belum keluar, karena belum temukan semua dokumen Daddy. Mungkin Mommy sudah curiga dan menyimpan di tempat lain. Sekarang malah mau menjual rumah kami, katanya untuk biaya rumah sakit Daddy. Padahal Daddy punya banyak simpanan, sebelum tiba-tiba sakit." Manche sedikit merasa lega setelah berbicara dengan Mikha.
"Oh. Sementara ini, kau dengar baik-baik apa yang aku katakan. Kau segera keluar dari rumah itu, lalu cari hotel atau apartemen. Soal dokumen, kau tidak usah pikirkan, karena Daddymu sudah bicara dengan pengacara Darel. Jadi Mommymu tidak bisa lakukan sesuatu, tanpa persetujuanmu." Mikha kembali memikirkan kondisi orang tua Manche. Semua yang direncanakan bersama Darel untuk Manche kembali berputar di kepalanya.
"Berikutnya, kau tidak usah bicarakan soal perusahaan Daddymu dengan Daddy kami. Karena semua yang berhubungan dengan perusahan Daddy di Amerika, adalah tanggung jawab Darel. Daddy tidak bisa putuskan sesuatu di situ, tanpa berbicara dengan Darel dan akan mengikuti keputusan Darel." Mikha menjelaskan dengan pelan dan tenang, agar Manche mengerti kondisi sebenarnya.
"Berikutnya, kau jangan pernah cerita pada Mommymu tentang kami dan perusahaan kami yang sedang bekerja sama dengan perusahaan kalian. Jangan katakan kau mengenal pemiliknya, terutama Darel."
"Agar saat Darel ambil keputusan apa pun termasuk akuisisi, Mommymu tidak curiga, sehingga tidak menghalangi atau tidak mau melepaskan padanya." Mikha terus menjelaskan dengan serius, karena dia akan bicara dengan Darel.
"Kau mengerti maksudku bukan?" Tanya Mikha untuk meyakinkan, bahwa Manche sedang mendengar dan mengerti yang dia katakan, karena Manche tidak bersuara.
"Iya, Mikha. Aku mengerti. Terima kasih." Manche berkata pelan, seakan beban di pundaknya terangkat setelah mendengar yang dikatakan Mikha.
"Pertahankan Daddymu dirawat di rumah sakit itu. Apa pun alasan Mommymu untuk pindah, jangan kau ikuti. Jika kau butuh dana untuk merawatnya, katakan padaku. Nanti aku bicara dengan Darel untuk cari solusinya." Mikha berkata serius yang sudah curiga terhadap Mommy Manche.
'Mungkin Mommynya sudah tidak sabar menunggu kematian suaminya. Jadi mau pindahkan suaminya ke rumah sakit yang lebih murah dan minim fasilitas perawatan.' Mikha berkata dalam hati.
"Manche?" Panggil Mikha, karena tidak mendengar suaranya, tapi dia merasa Manche sedang terisak.
"Iyaa..." Manche menjawab pelan, setelah berdehem untuk melegakan tenggorokan dan mengendalikan tangisnya.
"Heeiiii... Kau tidak sendiri. Selain ada kami, ada Tuhan yang menemanimu. Balik ke ruangan Daddymu lalu bicara dengannya. Walau tidak sadar, beliau mendengarmu."
"Kalau kau bisa bernyanyi, bernyanyilah. Dan jangan lupa berdoa dengannya, agar beliau bisa tenang dan tau kau baik-baik saja." Mikha berkata pelan, tapi serius untuk menguatkan Manche yang sedang sedih.
...~•••~...
...~●○♡○●~...
Terimakasih buat authornya..