Bianca Fernandez baru saja putus dengan kekasihnya yang berpacaran dengannya selama tiga tahun. Hatinya sangat hancur dan ia memutuskan pergi ke suatu tempat dan tak sengaja bertemu dengan Lucas Taylor. Ironisnya takdir kembali mempertemukan mereka yang ternyata akan menjadi saudara tiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Lucas baru saja pulang dari kantornya pada pukul 2 dini hari. Walaupun beberapa jam lalu sedang berlangsung pernikahan ayahnya, ia harus melanjutkan beberapa pekerjaan di kantor, sehingga ia bisa pulang untuk beristirahat. Lucas merasa sangat lelah. Ia tahu bagaimana cara menghilangkannya. Tangannya merogoh ponsel dan menelpon seseorang.
"Bersiaplah. Aku akan menjemputmu."
Lucas menjemput Gaby di apartemen wanita itu.
"Tumben... nginap di rumah kamu." Ujar Gaby sambil memasuki mobil.
"Ayah sama Anastasia sedang bulan madu, jadi aku harus pulang ke rumah untuk Lusy." Jawab Lucas. Mereka pun segera pergi ke kediaman Taylor.
Sesampai di sana, Lucas langsung membersihkan dirinya. Setelah itu, mereka mulai melakukan kegiatan panasnya. Entah kenapa, Lucas merasa ada yang aneh pada dirinya. Bukannya bersemangat, ia malah terbayang wajah wanita lain.
"kenapa?" tanya Gabby, wanita itu merasakan gelagat aneh dari Lucas.
"Entahlah... sepertinya hanya kelelahan. Kita tunda dulu saja." Gabby terkejut dengan jawaban dari Lucas. Terlebih lagi pria itu mendorongnya pelan, agar turun dari tubuhnya. Lucas tidur dengan membelakangi Gabby dan tanpa memeluk.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Gabby.
"Iya, aku baik-baik saja. Aku akan tidur sebentar, lalu kita akan turun makan."
...
Karena sudah terbiasa, Bianca selalu bangun pagi buta. Setelah menggosok gigi dan cuci muka, ia beranjak pergi ke dapur. Namun saat keluar dari kamarnya, ia bertemu dengan Lucas yang juga baru keluar dari kamarnya. Pria itu tidak memakai atasan. Bianca berlalu begitu saja tanpa memperdulikan dia.
"Pagi, Bi." Sapa Bianca. Wanita paruh baya itu terkejut melihat Bianca yang sudah bangun dan menghampiri dapur.
"Eh, Non. Sudah bangun?"
"Iya, Bi.... Tapi sepertinya aku terlambat karena Bibi sudah selesai memasak makanan." Bianca langsung terlihat lesu, rencananya ingin membantu, tapi ternyata sudah selesai memasak.
"Maaf, Non. Tuan muda semalam pulang, jadi saya harus menyiapkan makanan lebih cepat."
"Tidak apa-apa, Bi. Aku akan menata semua makanan di meja."
Saat Bianca sedang memindahkan semua makanan ke meja, Lucas dan Gaby pun berjalan mendekati meja makan. Gaby terlihat memakai pakaian yang sangat kurang bahan, belahan dadanya terpampang jelas.
"Kau serba bisa ya... menjadi pembantu juga sangat cocok." Sindir Gaby. Bianca tidak perduli dengannya, ia fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Kau mengabaikan ku?" Gaby kesal, ia seperti berbicara dengan angin.
"Kau memohon aku memperhatikanmu?" ejek Bianca, Bibi di sampingnya ingin tertawa mendengarnya.
"Dasar cewek miskin." Hina Gaby.
Saat makanan terakhir yang dipindahkan ke meja, Bianca berkata, " Sebaiknya kau makan, menghina juga perlu tenaga." Gaby menggeram kesal.
Pandangan Bianca dan Lucas bertemu. Bianca langsung saja memalingkan wajahnya. Saat Bianca hendak meminum susu cokelat hangat, entah mengapa ia merasa mual. Ia menutup mulutnya dan langsung berlari ke kamar mandi.
"Huek... Huekkk"
"Non.... Apakah kau baik-baik saja?" Bibi mengikuti Bianca ke kamar mandi dan memijat tengkuknya. Wanita paruh baya itu nampak sangat khawatir.
Bianca mengangguk pelan, tapi masih terus muntah. Anehnya, tidak ada isi perutnya yang keluar, melainkan hanya lendir-lendir bening.
Setelah membaik, Bianca membersihkan mulutnya dan kembali ke ruang makan.
Sepasang sejoli di meja makan menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Gaby menatapnya jijik, sedangkan Lucas menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau tidak tahu sopan santun, ya? ini meja makan dan kau berprilaku menjijikkan seperti itu." Sindir Gaby.
"Tidakkah kau lihat juga seberapa menjijikkan dirimu?" balas Bianca. Ia tiba-tiba merasa sedikit linglung, dan kepalanya terasa pusing.
"Bi... aku merasa pusing. Bianca mau istirahat sebentar." Pamitnya pada wanita paruh baya di sampingnya yang nampak khawatir.
"Baik, Non. Jika kau membutuhkan sesuatu, panggil saja Bibi." Bianca langsung saja mengangguk dan pergi ke kamarnya.
Gabby menahan Lucas yang langsung berdiri, "Mau kemana?" tanyanya.
"Aku akan naik mengambil tablet kantor." Jawab Lucas, Gabby pun segera melepaskan tangannya.
Lucas langsung saja pergi ke lantai tiga, anehnya bukannya memasuki kamarnya, ia malah masuk ke kamar Bianca.
Bianca terkesiap, "Kenapa masuk ke kamar ku?" tanyanya. Bianca terkejut saat tubuhnya di himpit oleh Lucas.
"Apakah kau sudah gila?"
"Gugurkan kandungan mu." Ujar Lucas.
"Kau sungguh gila, apa maksudmu? aku hanya masuk angin, bukan hamil."
"Jika kau hamil, langsung saja gugurkan!" tandasnya lalu meninggalkan Bianca.
Bianca bungkam setelah kepergian Lucas. Ia menatap kalender diatas meja belajarnya.
"Tidak mungkin." Gumamnya.
....
Terlihat Hana sedang menarik pelatuk pada sebuah pistol. Ia memfokuskan pandangannya pada target melalui kekeran pada pistol.
DOR!
Peluru melaju dengan kecepatan sepersekian detik dan menembus papan target. Hana tersenyum puas melihat hasil tembakannya itu.
"Kau makin mahir, Hana." Ujar seorang pria paruh baya di sampingnya. Pria itu adalah Larry Smith, berumur sekitar 40an, sekaligus pemilik tempat pelatihan menembak itu dan seorang pelatih.
"Terimakasih, pelatih." Ucap Hana sambil mengisi amunisinya, namun tangannya ditahan oleh Larry.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu begitu tekun latihan menembak?" tanyanya sambil menatap Hana. Wanita itu tersenyum tipis dan mengarahkan pistol itu ke target di depannya.
DOR!
Hana tersenyum, lagi-lagi tembakan tepat mengenai sasaran.
"Karena waktunya untuk menggunakan kemampuan menembak ku, sudah dekat."
...
Bianca memasuki sebuah kafe, pandangan menelusuri semua pelanggan di situ dan berhenti pada Hana yang sedang melambaikan tangan padanya. Ia membalas lambaian tangan itu dengan senyum senang. Ia menghampiri meja Hana dan makin tersenyum melihat sandwich dan jus alpukat yang berada di atas meja itu. Hana melihat arah pandangan Bianca.
"Aku tahu kalau kamu belum makan, jadi aku sekalian pesan makanan buat kamu." Jelas Hana.
"Kau sangat mengerti aku." Ucap Bianca dengan memandang Hana terharu.
"Oh... ayolah. Tak perlu berlebihan, kau harus lihat tugas kita kali ini. Makin kesini tugas-tugasnya bikin makin pusing, mana lagi sudah susah-susah kerja, tetap saja nilainya selalu kurang." Keluh Bianca.
"Benarkah sesulit itu? coba mari aku lihat." Pinta Bianca.
"Aku harap kau bisa mengerti, aku sudah mencoba memahaminya dari kemarin tapi tetap saja tidak ada yang ku mengerti." Hana menyerahkan kertas yang berisi tugas mereka. Bianca pun fokus terhadap tugas itu.
"Oh iya, sekali lagi maaf ya, aku tidak bisa datang ke acara pernikahan Bunda mu dan suaminya." Ucap Hana, ia menatap Bianca dengan penuh penyesalan.
"Oh, ayolah.... Sudah terhitung empat kali kau meminta maaf karena itu. Sudah aku bilang, tidak apa-apa." Ujar Bianca masih fokus dengan secarik kertas itu. Mereka kembali hening, tapi sesuatu pertanyaan kembali terbesit di pikiran Hana.
"Oh, iya. Aku selalu lupa menanyakan sesuatu kepada mu, tapi sekarang aku telah ingat."
"Apa?" tanya Bianca, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Itu... malam yang selesai kita pergi dari acara ulang tahun Brian, kamu pulang sama siapa dari bar?"
Tubuh Bianca langsung menegang, kembali lagi memori itu terlintas di pikirannya.
"Ada apa? apakah malam itu terjadi sesuatu?" Hana bertanya karena ia tahu ada yang tidak beres pada sahabatnya itu. Bianca mengatur napasnya dan kembali fokus pada tugas mereka.
"Aku menggunakan taksi." Jawabnya.
"Taksi? bukankah itu tengah malam?" batin Hana.
gak seru...thor