Alur maju-mundur.
****
Kini senyum menawan itu hilang, menyisakan penyesalan merayap datang.
Hal terindah di sia-siakan demi nafsu pekerjaan.
Terpuruk dalam kesedihan, seakan mimpi menjadi kenyataan.
Istri cantik ku berlumuran darah kaku seperti kayu.
****
Menikahi seorang wanita yang masih asing, membuat Ridwan acuh dalam rumah tangganya. Ridwan yang merupakan seorang peneliti, tetap sibuk dengan penelitian meski sudah menikah. Hingga suatu saat, Ridwan baru menyadari jika dirinya mulai nyaman dan tertarik Ketika istrinya sudah tiada.
Apa yang akan di lakukan seorang genius gila penelitian untuk menebus kesalahannya?
Hal gila akan di lakukan demi melihat senyum istrinya yang sangat jarang nampak di lihat.
Akan tetapi, hal gila tersebut membuatnya merasakan sakit yang berulang dan lebih sakit dari sebelumnya.
yuk ikuti ceritanya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pejuang imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Rumah Surya
Saat Ridwan sedang mengerjakan penelitiannya untuk mencoba hasil kerjanya selama satu bulan terakhir, HP Ridwan berdering.
"Siapa telpon malam-malam seperti ini? Pak Dirut...?" Ridwan mengangkat telp dan terlihat dari raut wajah Ridwan yang menjadi masam. Dalam telpon Ridwan juga tidak banyak bicara dan hanya mendengarkan suara dalam panggilannya serta sesekali menjawab iya dan anggukan kepala.
Setelah menerima telpon, Ridwan tidak tidur semalaman. Dia terus berada di ruang penelitiannya, dengan memegang kepala Ridwan menahan sakit kepala yang tidak ada obatnya. Hanya keberhasilan penelitian yang bisa menyembuhkan sakit kepalanya.
Malampun berlalu, Ridwan berkemas dan bersiap berangkat ke kantor meski ini hari minggu karena panggilan khusus dari Dirut. Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, Ridwan harus memenuhi panggilan Dirut.
Semua laporan hasil penelitian sudah di persiapkan semalaman, waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi. Ridwan bergegas berangkat, brruuunngg...suara mobil sport menderu. Saat pagar rumah terbuka, Ridwan berangkat dengan banyak fikiran. Hal itu di karenakan hasil yang kurang memuaskan dari hasil penelitiannya.
Sesampainya di kantor, Ridwan bergegas menuju ruang rapat yang sudah di tentukan oleh Dirut dalam panggilannya semalam. Kantor yang tidak seperti biasanya, terlihat lebih ramai dan banyak orang penting.
"Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa semua pejabat LIPI masuk di hari minggu...?" Ridwan berbicara dalam hatinya saat melewati lobi.
Jam sudah menunjukkan 7.55, itu artinya kurang 5 menit lagi rapat di mulai. Ridwan memasuki ruang rapat 2 menit sebelum waktu yang di tentukan, tapi kursi di ruang rapat tersebut sudah terisi semua dan hanya kursi Ridwan yang kosong. Terlihat beberapa petinggi LIPI menunjukkan raut wajah tegang meski berusaha menutupinya dengan candaan ringan.
Rapatpun di mulai, setelah sekretaris LIPI membuka rapat, waktu di berikan kepada Ridwan untuk memberikan laporan atas hasil kerjanya.
Bruak... Dirut memukul meja rapat. "Apa yang kamu kerjakan selama 8 tahun ini...? kenapa hasilnya seperti ini!! Berapa dana yang telah kamu habiskan untuk penelitian yang tidak memiliki hasil akhir. Mulai hari ini, kamu tidak lagi menangani penelitian ini dan silahkan ambil cuti tahunanmu." Setelah berkata penuh dengan amarah, Dirut LIPI meninggalkan ruang rapat.
**Dalam perjalanan pulang**
"Hallo, kau ada di mana? Baiklah, aku ke sana sekarang." Ridwan menelpon Surya dan menuju bandara.
Ridwan melakukan perjalanan ke Surabaya untuk menemui Surya, teman dan saudara yang selalu dapat menenangkan pikirannya di saat down meski sangat cerewet dalam hal pasangan.
** Surabaya **
"Aku sudah di tempat biasa, cepat kesini." Tempat favorit Ridwan ketika ada di Surabaya jl. Pemuda. duduk di seberang jalan monumen kapal selam. Dengan memesan kopi kepada pedagang kaki lima, Ridwan duduk menghadap kapal selam.
** Beberapa saat kemudian **
"Hei adik bujangku, ada apa kamu tiba-tiba ke Surabaya?" Surya yang mengagetkan Ridwan yang sedang melamun dengan menghisap sebatang rokok di tangannya. Lalu duduk di samping Ridwan.
"Tentu saja aku mencarimu... Aku cuti 3 bulan, temani aku liburan." Ridwan tanpa basa basi mengutarakan niatnya tanpa memberi alasan kenapa dia cuti.
"Tidak usah banyak berfikir... Aku sudah menelfon istrimu. Kak Alya gak masalah asal kak Alya dan ponakan ku juga ikut dan aku sudah menyanggupi. Aku juga sudah pesan tiket pesawat untuk besok dan dua kamar hotel untuk 1 bulan. Aku butuh liburan." Ridwan telah menyiapkan semuanya untuk mereka berlibur ke Bali.
1 bulan? yang benar saja, kenapa kamu tidak bicara kemarin saat aku di rumahmu? Aku sudah tanda tangan kontrak kerja sama dengan perusahaan Malaysia." Surya merasa keberatan dengan jadwal yang di tentukan Ridwan.
"Mungkin saja aku menemukan jodohku di sana, mungkin aku harus mengenal beberapa wanita di sana." Ridwan sangat paham cara agar Surya sulit untuk menolak ajakannya.
"Aku akan mempertimbangkannya nanti malam, setalah aku berbicara dengan Alya." sambil menghisap rokok di tangan, Surya memandang kendaraan yang lewat di depannya dan berfikir beberapa hal. Setelah mendengar kata-kata Ridwan, sulit Surya menolak ajakan itu. Sebab sangat jarang Ridwan mau untuk di ajak liburan meski cuma 1 hari. Hanya penelitian yang ada di dalam otaknya.
"Setidaknya sekarang Ridwan mulai membicarakan tentang wanita, itu artinya Ridwan sudah mulai waras lagi." Surya berbicara dalam hatinya dengan senyum kecil.
"Kamu menginap di mana malam ini?" Surya bertanya kepada Ridwan sambil menepuk pundaknya.
"Aku menginap di ho..." Belum selesai Ridwan menjawab, Surya sudah memotong kata-kata Ridwan dan mengajaknya menginap di rumahnya.
"Gak ah... Di rumahmu banyak anak kost." Ridwan dengan sigap menolak ajakan Surya. Sebab rumah Surya juga menyediakan kost untuk mahasiswi karena hitung-hitung untuk menemani istrinya ketika Surya harus ke luar kota untuk mengurus usahanya.
Tetapi Surya tidak menghiraukan jawaban Ridwan dan dengan cepat menarik tangan Ridwan agar cepat berdiri. Setelah Ridwan di paksa berdiri, Surya dengan cepat memegang kedua pundak Ridwan dan mendorongnya menuju tempat parkir.
"Jika kamu menolak untuk menginap di rumahku malam ini, aku pastikan aku juga akan menolak ajakanmu tanpa harus berunding dengan Alya. Bukankah sebanding, 1 malam ajakanmu di tukar dengan 1 bulan ajakanmu." Dengan tetap mendorong pundak Ridwan, Surya terus berbicara.
Setelah berhasil memasukkan Ridwan ke dalam mobil, Surya dengan cepat memacu mobilnya dan menelusuri keramaian jalan Surabaya. Setelah 30 menitan berkendara, mereka berdua mulai memasuki gerbang perumahan elite.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Surya. Dari dalam mobil sudah terlihat beberapa mahasiswi di teras kamar kost. Di rumah surya, semua kamar kost di gratiskan karena sebetulnya Surya hanya ingin mencarikan teman untuk istrinya. Bukan hanya kamar kost yang Surya gratiskan tapi dengan semua fasilitasnya dan mendapatkan pinjaman motor jika mereka tidak memiliki kendaraan.
Surya bekerja sama dengan salah satu universitas untuk memberikan beasiswa bagi mahasiswi luar kota yang berprestasi, berupa tempat tinggal dan motor untuk transportasi.
"Papa... Adek cepat, papa datang..." Kedua anak Surya dengan cepat menyambut kedatangan Surya dan Ridwan.
"Waaah... Om Ridwan... Om, bermalam di sini ya om... nanti tidurnya sama Very om. Very kangen sama om Ridwan." Very anak pertama Surya berumur 9 tahun berbicara dengan meminta di gendong kepada Ridwan. Sedangkan anak kedua Surya bernama Shyla 5 tahun.
"Keponakan om Ridwan sudah kelas berapa sekarang?"
"Kelas 2 om. 2 bulan lagi kelas 3...aku sudah sampai surat Al-Qiamah om sudah ayat 28. aku lulus jus 30 belum di kasih hadiah loh ya..." Anak pertama Surya selalu manja kepada Ridwan, meski mereka jarang bertemu langsung. Tetapi Ridwan selalu menyempatkan telp keponakannya di tiap akhir pekan.
"Hadiahnya, besok kita berangkat liburan ke Bali." Karena Very meminta hadiah kepada Ridwan. Hal itu dengan cekatan di manfaatkan untuk membuat Surya lebih sulit menolak.
🙏🙏 mohon dukungannya ya, dengan cara LIKE, COMMENT, BERI HADIAH dan VOTE jangan lupa jadikan Favorit😍💕 🙏🙏
setiap org mengharapkan dpt istri salehah yg selalu berbakti pd suami, krn tanggungan sebagai suami itu sangat lh berat..
penelitian apa yg membuat Ridwan tega meninggalkan istri yg baru 1 hari dinikahinya..