Kinan Maharani 23 tahun adalah sosok ibu idaman bagi para suami, dia sangat pandai mengurus anak-anaknya tanpa bantuan orang lain. Akan tetapi, satu kesalahan terbesar Kinan, dia melupakan akan peran istri yang ternyata juga penting dalam rumah tangga.
Muhammad Raka 27 tahun, sebenarnya adalah seorang laki-laki baik dan penyayang. Namun, melihat istrinya yang selalu fokus mengurus dua anaknya sehingga dirinya tak lagi mendapatkan perhatian, selalu saja diabaikan seakan peran nya sebagai seorang suami tak penting dalam hidup Kinan sejak kedua anak kembarnya lahir. Sebagai seorang laki-laki normal, Raka membutuhkan belaian manja dari istrinya walaupun itu hanya sebentar saja. Tapi Kinan tak pernah lagi memberikan kewajiban nya karena selalu anak yang menjadi mayoritas istrinya tersebut.
Merasa bosan dan jenuh, tak lagi mendapatkan hak kewajiban seorang istri untuk melayani dirinya. Raka mengambil jalan pintas yaitu mendua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pulang kerumah
" Kamu mau langsung kerja atau pulang ke rumah dulu?" Tanya Kiran sambil menyerahkan secangkir kopi untuk pagi ini.
" Iya aku harus pulang dulu, kamu tahu kan tadi malam dia menelepon terus aku takut ada apa-apa sama mereka." Bohong jika tidak khawatir tapi karena percintaannya tadi malam yang begitu hot melupakan segalanya.
" Apa malam ini kamu bakalan tidur di sana?"
Bohong jika tidak serakah, istri mana yang tidak menginginkan suaminya tidur di sampingnya hanya wanita bodoh saja mungkin. Kiran tahu betul jika Raka memiliki istri lain selain dirinya bahkan yang pertama, tetapi Kiran ingin menguasai Raka sepenuhnya, terdengar jahat bukan. Mungkin karena sudah terbiasa selama satu bulan ini, jadi rasanya hambar jika tidak ada Raka di sampingnya.
Ya mereka sudah melakukan pernikahan siri tanpa sepengetahuan siapapun hanya beberapa saksi saja Bahkan keluarga Kiran tidak mengetahui status Raka yang sudah memiliki anak dan istri semuanya dilakukan secara cepat dan tersembunyi. Keduanya memang belum memiliki cinta tapi setelah bersama rasa nyaman itu selalu ada dan ingin selalu berdekatan tak ingin berjauh walaupun hanya terpisah jarak pekerjaan saja. Kiran sangat bahagia atas pernikahan ini, hari-harinya yang merasa sepi kini terpenuhi rasa bahagia sejak ada Raka dalam hidup nya. Entah sejak kapan sosok laki-laki itu hadir dalam hatinya mungkin saat ini, sekarang ini Kiran sudah memiliki rasa pada laki-laki itu.
" Kita lihat saja nanti, aku sudah lama tidak pulang kasihan juga Kinan jika aku berlama-lama tidur di luar rumah bagaimanapun juga mereka adalah keluarga dan terutama untuk anak-anak aku harus dekat dengan mereka."
Sejak kembali menikah Raka memang jarang pulang paling seminggu sekali atau dua kali pulang hanya untuk melihat keadaan anak-anaknya. Namun saat dia pulang melihat Kinan yang acuh dan cuek padanya, mau tak mau Raka pun pergi dari rumah daripada emosi semakin menjadi. Rumah yang dulunya tempat ternyaman dia pulang kini bagaikan neraka tidak lagi ada rasa aman damai dan tentram hanya terasa hawa panas dan penuh emosi, entah itu sejak perubahan Kinan yang habis melahirkan atau rasa cintanya yang sudah berkurang.
Mendengar ucapan Raka yang tidak pasti pulang atau tidak ke apartemennya membuat Kiran agak sedikit sedih tapi dia tidak mungkin menunjukkan ekspresi sedihnya itu kepada Raka. Kiran tersenyum manis menyimpan semuanya dalam-dalam, Kiran memang agak sedikit jahat semenjak menjadi istri kedua Raka dia menjadi serakah ingin memiliki seutuhnya itulah yang jadi utama Kiran. Tetapi sesaat pikiran jernihnya muncul dia merasa kasihan kepada Kinan. Setidaknya masih ada sosok manusiawi di dalam hatinya.
" Baiklah setidaknya menginap lah di sana sehari, dua hari. Kasihan anak-anak, mereka sangat membutuhkan kamu terutama Kinan. Akankah kamu berjanji akan bersikap adil padaku dan padanya. Jika kamu tidur disini terus lalu kapan lagi kamu punya waktu padanya."
Pikiran jernih Kiran pedang baik pagi ini, dia memberikan saran untuk Raka.
" Bujuk dia, bicaralah baik-baik dengannya jika dia masih acuh dengan cuek padamu. Mungkin kalian itu sebenarnya hanya kurang berkomunikasi saja, kamu terlalu sibuk bekerja dan dia terlalu sibuk mengurus anak-anak sehingga rumah tangga kalian agak renggang."
Tidak ada yang tahu sifat asli Kiran terkadang baik terkadang buruk, tergantung modnya saja.
Dan jika pikirannya buruknya muncul, keinginan menguasai Raka seutuhnya ada dalam pikirannya. Tidak peduli apapun yang penting Raka harus ada di sisinya. Akan tetapi jika berhati baik dan lembut seperti sekarang ini memberikan saran nasihat layaknya seorang wanita yang sangat baik berhati mulia. Tidak ada yang tahu seperti apa hatinya itu.
Raka tersenyum bahagia, dia memeluk erat Kiran setidaknya sangat bersyukur memiliki istri sepertinya sudah baik berhati mulia itulah yang ada dipikiran Raka. stressnya selama ini hilang sejak hadirnya Kiran, mungkin karena hasrat naluri laki-lakinya sudah terpenuhi olehnya. Beban lesu pikiran saat bekerja hilang seketika dimanja oleh wanita berstatus istri keduanya ini, inilah yang Raka mau, seperti inilah yang Raka inginkan saat bersama Kinan. Tetapi apa yang dia dapatkan sejak memiliki anak kembarnya, wanita itu berubah drastis terhadap dirinya, dia juga tidak mengerti kenapa Kinan seperti itu sehingga dia nekat menikah lagi. Mungkin awalnya hanya bertanggung jawab atas kesalahannya tetapi setelah dijalani ternyata tidaklah buruk dan dia tidak menyesal sama sekali karena telah menduakan Kinan.
" Terima kasih, kalau begitu aku berangkat dulu ya kamu hati-hati di sini kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Raka berpamitan panel mengecup kening Kiran.
" Iya Raka berhati-hatilah di jalan."
Sementara itu di rumah Kinan sudah sangat merasa lega karena demam Riska sudah mulai membaik, suhu tubuh panasnya mulai menurun demamnya tidak lah serius, hanya saja Kinan terlalu panik karena baru pertama kalinya Riska terserang demam seperti ini.
" Anak-anak, Papah pulang. Kinan!" Raka pulang tak hanya membawa tangan kosong saja. Dia membelikan manian untuk kedua anaknya dan beberapa makanan kesukaan Kinan.
" Hai anak Papah, liat Papah bawakan mainan untuk kalian." Setelah sampai di kamar anaknya Raka langsung saja membagi rata mainan yang dia beli, kedua anaknya sangat bahagia menyambut walaupun masih belum mengerti cara memainkan nya.
" Kenapa baru pulang sekarang, Mas?"
Raka menoleh arah kamar mandi, pantas saja istrinya tidak terlihat ternyata dia berada di dalam sana. Raka tersenyum menghampiri dan hendak memberikan kecupan lembut di kening. Raka tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika sebenarnya dia sangat merindukan wanita ini.
" Aku tanya kenapa baru pulang sekarang? Apa kamu tau semalam aku hampir mati karena panik tau gak? Kamu saat di butuhkan malah gak ada, dan sekarang ngapain kami pulang?"
Kinan menghindar saat Raka hendak mencium keningnya. Kinan justru mengoceh karena kesal lantas tadi malam telponnya tidak di jawab-jawab padahal sangat diperlukan.
" hp-ku di silent dan kerjaanku banyak di kantor jadi aku tidak sempat melihat HP lagi aku nggak tahu kalau kamu telepon, memangnya ada apa?" Bohong Raka.
" Ck, untung saja Riska sudah baikan. Dia deman tadi malam panasnya tinggi," kata Kinan dia berjalan menghampiri Rizki yang sedang memegangi mainan mobil-mobilan beremot kontrol yang baru saja di belikan oleh Raka.
" Demam?" Raka merasa bersalah, dia menyentuh kening Riska dan ternyata memang sudah baikan bahkan anak perempuannya itu nampak ceria.
" Maafkan Papah ya Nak." Raka menggendongnya, dia benar-benar sangat bersalah sekali.
" Kamu ini belikan mereka apa-apaan sih? Mainan kayak gini gak guna, mereka belum bisa berjalan. Yang ada dimasukan kedalam mulutnya, itu kan kotor."
Kinan membuang mainan yang dibelikan Raka tadi ke tong sampah tanpa perasaan. Raka hanya melihat saja dengan ekspresi sulit diartikan. Seharusnya Kinan jangan begitu, walaupun masih belum bisa memainkan nya setidaknya di hargailah, disimpan juga boleh. Kinan tidak tahu bagaimana perasaan Raka sekarang ini walaupun Raka tidak ada disaat anaknya sakit tapi dia selalu perhatian, selalu mengirimkan pesan menanyakan kondisi sikembar. Dan hanya kebetulan tadi malam saja dia lalai karena tengah asik bercinta, jika putus ditengah-tengah jalan rasanya sungguh tidak enak.
klo istri ad slh n kurang bkn jd alesan selingkih
Biarpun awalnya Kinan bersalah mengabaikan Raka, harusnya Raka ga seperti itu.