Rania gadis manja yang dipaksa masuk ke sebuah pesantren karena kelakuannya yang tidak bisa diatur oleh kedua orang tuanya dan selalu membuat masalah.
Namun, Rania menolak mentah-mentah perintah orang tuanya lebih tepatnya perintah sang Mama.
Nikmati kisahnya hanya di NOVELTOON
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umul khaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
HAPPY READING!!!!🌹🌹🌹🌹🌹
Setelah selesai shalat Rania kembali lagi ke dalam kamar yang akan dia tempati untuk dua hari ke depan atau bisa jadi hanya untuk hari ini saja itu tergantung mood Rania sendiri.
Rania masuk ke dalam kamar dengan santainya dia tidak peduli siapa saja yang ada di dalam kamar tersebut yang dia pikirkan hanya tidur menyimpan tenaga untuk bisa kabur dari pondok.
Teman sekamarnya ternyata ada tiga orang, itu saja yang Rania tahu selebihnya dia tidak peduli. Setelah Rania melepaskan jilbabnya dia langsung tidur tanpa menyapa siapapun yang ada di dalam kamar.
" Dasar sombong" lirih teman sekamar Rania. Namun, Rania bodo amat dengan omongan mereka.
Karena tidak ada respon apapun dari Rania teman sekamar Rania keluar dari kamar meninggalkan Rania sendirian.
" Dasar orang kampung," lirih Rania dan kembali tidur.
Rania terbangun ketika menjelang shalat ashar, tidak ada siapapun di dalam kamar kecuali dia sendirian.
"Kemana mereka apa belum kembali juga" lirih Rania mengucek matanya.
Rania bangun dari kasurnya dan keluar tanpa menggunakan hijabnya, dia berdiri di depan kamar dan melihat ke sekeliling tapi tidak ada siapapun yang terlihat.
" Kemana semua orang" gumamnya bingung kenapa tidak ada satu orangpun yang terlihat, Rania berjalan keluar dari lorong kamarnya dan mulai terdengar suara orang mengaji dari arah musholla.
"Tempat apa ini sebenarnya! Kenapa sempit seperti ini," gumam Rania.
Rania berjalan keluar melewati kamar-kamar yang berjejer rapi di samping kiri dan kanannya dia terus mengikuti sumber suara dan berhenti di dekat musholla, di sana banyak santri dan santriwati yang sedang mengaji ada juga yang menghafal. Rania yang baru pertama kali melihat pemandangan seperti itu ada perasaan lain dari dalam hatinya. Namun, dia berusaha untuk tidak peduli dan membuang jauh-jauh perasaannya.
" Rania sadar, ini pasti karena Lo baru pertama kali melihat hal seperti ini. So ini bukan apa-apa" gumam Rania melangkah pergi dari depan musholla tapi di cegah seseorang.
" Assalamualaikum," ucap seseorang menepuk pundak Rania.
"Waalaikumsalam," balas Rania memutar ke arah sumber suara dan mendapati seorang ustazah yang menegurnya.
" Kenapa kamu tidak masuk? Dan kenapa tidak menggunakan hijab?" Tanya ustazah.
" Panas ustazah," jawab Rania.
" Kamu santri baru di sini?" Tanya ustazah lagi kerena belum pernah melihat Rania sebelumnya.
" Iya," jawab Rania singkat.
"Ma Syaa Allah, udah cantik, sholehah lagi" ucap ustazah.
" Ustazah nggak usah nyindir saya,"sahut Rania salah paham.
" Saya tidak menyindir, nama kamu siapa? Saya ustazah Intan!" Ucap ustazah Intan.
" Saya Rania," jawab Rania.
" Nama yang cantik seperti orangnya, sekarang kamu ambil hijab kamu kita ke mushola ya!"Ucap Intan.
" Iya," balas Rania patuh. Baru kali ini dia bertemu dengan seseorang dan langsung merasa nyaman dan bisa patuh kepada orang itu. Entah apa yang di miliki ustazah Intan yang bisa membuat Rania merasa kalau ustazah Intan adalah orang yang tulus.
" Kenapa aku dengan mudah menurut padanya" lirih Rania bingung dengan dirinya bisa patuh kepada orang lain bahkan dengan orang tuanya saja Rania selalu membantah hanya sesekali dia menurutinya, tapi ini baru bertemu sudah membuatnya patuh.
Meskipun begitu, Rania tetap mengambil hijabnya dan kembali menjumpai ustazah Intan yang masih menunggunya di tempat yang sama. Ustazah Intan tersenyum ke arah Rania dengan senyuman yang tulus menurut Rania. Sepersekian detik Rania mulai nyaman dengan tempat yang menurutnya penjara ini.
" Ma Syaa Allah kamu cantik sekali setelah menggunakan hijab seperti ini,"puji ustazah Intan. Rania tersenyum menanggapinya.
Rania dan ustadzah Intan masuk ke dalam musholla yang sangat luas bahkan bisa dikatakan sebagai mesjid di dalam pondok. Saat memasuki musholla semua santriwati melihat ke arah Rania dan ustadzah Intan. Hampir seharian ini saat Rania keluar selalu menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di pondok pesantren Darussalam.
" Dasar orang-orang kampung nggak pernah lihat orang cantik apa!" Batin Rania
Rania duduk di samping ustazah Intan, mereka sudah terlihat akrab satu sama lain. Rania yang tidak biasa duduk di pengajian mulai merasa tidak beres dengan dirinya, dia mulai merasa nyaman dengan semuanya.
"Ingat Rania, kamu tidak boleh terbuai dengan ini semua," batin Rania.
Setelah mengikuti pengajian dan shalat ashar entah kenapa ada yang berbeda dari Rania.Namun, Rania yang keras kepala terus menepis semua yang dia rasakan.
" Aku harus cepat keluar dari tempat ini, sebelum aku semakin tidak beres,"gumam Rania duduk sendirian di kamar.
" Assalamualaikum," ucap teman sekamar Rania yang terdiri dari tiga orang.
" Waalaikumsalam," jawab Rania cuek.
" Kamu nggak mandi? Nama kamu siapa? Saya Dewi " Tanya Dewi
" Nanti saja, gue Rania" balas Rania.
" Sebaiknya kamu mandi sekarang, setelah ini kita akan ke mushola lagi mengikuti pengajian dari Gus Salman" ucap Dewi
" Iya, bawel banget sih," ucap Rania bangun dari kasurnya dengan kesal meraih handuk dan peralatan mandinya.
" Bawa baju ganti juga," sambung Dewi.
" Eum! Kamar mandinya di mana?" Tanya Rania.
" Dua kamar selang dari kamar ini," jawab Dewi.
" Ok, thanks" ucap Rania mengambil baju ganti dan keluar dari kamar menuju kamar mandi mengikuti arahan Dewi.
Rania berjalan ke arah yang berlawanan dari arah pintu keluar dan benar saja tidak jauh dari kamar mereka Rania sudah bisa menemukan kamar mandi dan ada yang mengantri di depannya.
" Aku bisa gila lama-lama di sini" gumam Rania ikut menunggu. Tapi lama menunggu orang yang ada di kamar mandi belum juga terlihat batang hidungnya, Rania yang tidak bisa menunggu lagi memotong antrian dan menggedor pintu kamar mandi dengan keras.
" Woyyy! Lama banget sih! " teriak Rania membuat yang lain bingung.
" Sabar" jawab orang yang ada di dalam.
" Gue udah sabar dari tadi, cepat keluar! Lo pikir ini punya nenek moyang Lo" balas Rania.
" Cepat keluar kalau enggak gue dobrak," sambung Rania.
Setelah Rania mengatakan itu tidak lama orang yang di dalam kamar mandi keluar, tanpa menunggu Rania langsung masuk ke dalam. Dia tidak peduli dengan suara teriakan dari luar karena dia menerobos masuk tanpa menunggu antrian terlebih dahulu.
Sudah hampir satu jam Rania ada di kamar mandi tapi belum juga keluar membuat yang menunggu ikut kesal dan teriak-teriak.
" Cepat dong, nanti kita telat ini," ucap salah satu dari mereka dari luar.
Rania keluar setelah mendengar teriakan yang sudah mengganggu dia, dia keluar dengan cuek melewati mereka semua yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
Rania masuk ke dalam kamarnya dan melihat teman sekamarnya sudah siap untuk ke mushola.
" Mau di tungguin atau enggak?" Tanya Dewi.
" Lo duluan aja," jawab Rania.