Aku adalah Milanie, aku adalah anak gadis yang kecil namun memiliki semangat yang besar.
Dalam hal pendidikan akulah yang paling rajin peringkat. Cita-citaku setinggi langit.
Namun bagaimana jika rencanaku berantakan karena sebuah takdir?
Takdir yang memaksaku untuk tidak melakukan apa yang aku inginkan.
Menjadi boneka yang harus melakukan semua demi orang lain.
Bagaimana aku menyelesaikan semua ini?
Apakah aku bisa keluar dari mereka yang tanpa ditunjuk, tiba-tiba menjadi dalang kehidupanku?
Cerita ini penuh dengan konflik batin tentang rumah tangga.
Jadi, jika membacanya jangan lupa ditemani keripik singkong pedas dan sebotol air minum. Oke?
Happy Reading.... 😊😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Animal Lovers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Diklat
Di dalam ketakutanku, semua angota lain justru senang melihat kak Lucky telah datang. Termasuk juga Kiki teman akrabku.
"Lihat Mil, kakak ganteng sudah datang. Duh,,, sudah ganteng, pinter, berprestasi pula. Perfect bukan?" kata Kiki.
"Ah iya," jawabku untuk membuat Kiki senang dan menghindari debat.
"Apa gunanya perfect kalau cara bicaranya saja ketus" batinku.
...****************...
Saat Kak Lucky akan berjalan hendak menuju kemari. Kak Riris berlari ke arahnya dan menyusul langkah Kak Lucky. Dari kejauhan, Mereka terlihat berbincang satu sama lain.
"Kak, semua sudah Aku perintahkan untuk membuat papan nama dan mahkota. Jadi saat pukul 8 nanti, Kita bisa langsung memulai diklatnya" kata Riris.
"Kerja bagus" jawab Lucky.
Mendengar jawaban dari kak Lucky membuat kak Riris tersenyum bangga dan senang. Wajahnya juga memerah.
Tak bisa disembunyikan jika dilihat dari wajah kak Riris terlihat dia menyukai kak Lucky.
Tapi saat melihat wajah kak Lucky,,,,
Sepertinya dia tidak punya perasaan suka kepada siapapun.
...****************...
Waktu menunjukkan pukul 08.00. Dan diklat anggota baru PMR telah dimulai.
Dengan sebuah speaker putih digenggam oleh tangan kanannya. Sedangkan tangan yang lain memegang mik suara.
Kak Riris mengayunkan mik kotak hitam itu mendekat ke mulutnya. Dia mulai memberi aba-aba kepada Kami.
"Cepat kenakan atribut diklat kalian. Dan berbarislah menjadi 4 baris ke belakang" perintah kak Riris.
Segera Aku mengenakan kalung dari kertas bifalo putih yang tertulis namaku. Serta ku kenakan mahkota yang berasal dari kertas juga. Kemudian segera kami berbaris seperti yang diperintahkan.
"Sebelum kita mulai, Di sini saya akan menjelaskan proses diklat kalian" kata kak Riris.
"Yang pertama ada 3 ruangan yang harus kalian kunjungi. Yaitu ruangan A, B dan C. Dan kunjungan itu harus urut sesuai abjad. " kata kak Riris.
Semua murid junior terdiam dan tegak. Mendengarkan panduan yang diarahkan oleh kak Riris dengan sungguh-sungguh.
"Sebelum kalian masuk ke ruangan yang telah ada, kalian harus melakukan sesuatu terlebih dahulu" kata kak Riris.
"Untuk menuju ruangan yang pertama yaitu ruang A, kalian harus bisa menghafalkan pancasila terlebih dahulu di depan kakak senior kalian. Dan itu ada ketentuan waktu di situ" kata kak Riris.
"Untuk menuju ke ruangan yang kedua, yaitu ruangan B. Kalian harus dapat merakit tandu darurat yang belum dirakit dan berserakan. Dan itu harus diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan."
"Untuk ruangan yang ke 3 yaitu Ruangan C. Kalian harus mencari bendera lambang logo PMR kita dimanapun. Itu juga ada ketentuan waktu di sana." kata kak Riris menjelaskan.
"Ada pertanyaan?" tanya kak Riris.
Salah satu Junior yang berdiri di sebelahku mengangkat tangannya.
"Ketentuan waktu itu dalam jumlah berapa menit?" tanyanya.
"Nanti akan dijelaskan dengan senior yang berjaga di sana" jawab kak Riris.
"Ada pertanyaan lagi?" tanya kak Riris.
Kali ini tak ada yang mengangkat tangan lagi. Ini menandakan jika tak ada pertanyaan lagi yang terlontar dari anggota Junior.
"Baik, tak ada pertanyaan lagi. Diklat akan selesai jam 15.00 WIB. Jika ada yang melebihi itu, akan ada hukuman special untuknya" kata kak Riris.
"Diklat dimulai dari sekarang!" kata kak Riris.
Semua para Junior langsung berlari menuju ruangan pertama yaitu ruang A termasuk Aku dan Kiki.
Dari 30 orang Junior, terlihat sedang berbaris ke belakang. Mengantri untuk melakukan hafalan Pancasila di depan kakak Senior tingkat 2 yang sedang berjaga.
Dalam 15 menit, telah dapat 10 orang yang berhasil masuk ke ruangan A. Dan setelah angka itu adalah giliranku sekarang.
"Siap gerak!"
Tubuhku langsung mengikuti arahan dari kakak penjaga. Berdiri tegak dan tegap. Bagaikan seorang petugas upacara.
"Hafalkan Pancasila dalam waktu 5 menit" katanya.
Aku langsung menghafalkannya. Dan berhasil dalam 1 menit.
Akhirnya Aku lolos di rintangan pertama.
Kemudian Aku mencoba memasuki ruangan. Dengan sopan Aku mengetuk pintu ruangan itu.
Menunggu dibukakan. Setelah pintu itu dibuka oleh senior, Aku masuk ke dalam Ruangan.
Di ruangan itu ternyata masih banyak antrian yang harus berwawancara dengan kakak senior.
Di ruangan itu kakak senior terlihat tidak terlalu galak. Jadi Aku tidak khawatir.
Mereka hanya mewawancarai tentang identitas agar lebih mengenal Juniornya.
"Namamu siapa?"
"Rumahmu dimana?"
"Jurusan apa?"
"Apa alasanmu ingin ikut extrakulikuler PMR?"
Seperti itulah pertanyaan yang mereka lontarkan.
...****************...
Setelah wawancara selesai, waktunya Aku pergi ke ruangan berikutnya yaitu ruangan B.
Sebelum Aku masuk ke ruangan B, ada kakak senior yang sedang berjaga di sebelah ruangan. Dan Aku harus melalui tantangannya terlebih dahulu untuk dapat masuk ke ruangan B.
Tantangannya kali ini adalah merakit tandu yang masih berantakan.
"Rakit tandu itu! Aku beri waktu 20 menit" ucapnya.
"Waktunya,,, dimulai!" aba-abanya.
Aku langsung merakit tandu tersebut sesuai kemampuan yang pernah Aku ketahui.
Well, Aku dapat menyelesaikannya selama waktu 15 menit.
Membuatku lolos dengan tahap ini. Dan langsung diperintahkan untuk masuk ke ruangan B.
Di ruangan B, ada tiga senior yang sedang duduk dibangku depan. Terlihat di sini perkumpulan senior yang galak. Dadaku rasanya deg-deg an saat dipanggil wawancara.
"Namamu Milanie ya?" tanya senior itu.
"Iya" jawabku.
"Kenapa menunduk? Kamu takut melihatku?" kata senior.
"Sepertinya dia menganggap kita monster" sahut senior lain.
"Deg, deg, deg"
Jantungku terasa ingin meledak saat itu. Suasananya tegang sekali di sana.
"Maaf tidak kak" kataku.
"Kalau begitu tatap Aku kalo ngomong" kata senior.
"Nggak sopan banget sih jadi Junior" sindir senior.
Aku mematuhi perintahnya. Mataku langsung menatapnya.
"Milanie, berapa menit kamu dapat menyelesaikan tandu?" tanya senior.
"15 menit kak" jawabku.
"Bagus, kamu bisa keluar sekarang" kata senior.
Akhirnya Aku dapat keluar dari suasana yang tegang tadi.
"Untung jantungku tidak sampai cepot" gumamku.
Sekarang,,, adalah tantangan yang ketiga.
Ada seorang senior yang berjaga. Dan Aku menghampirinya.
"Cari bendera logo PMR kita selama 20 menit" perintahnya.
"Dimulai dari sekarang!" aba-abanya.
Aku langsung mencari bendera itu di semua ruangan sekolah. Berjalan ke depan, ke belakang, ke bagian tengah. Hingga waktu telah memakan 15 menit Aku belum menemukannya.
"Ha,,, mencari barang adalah kelemahanku" gumamku.
"Baiklah, Aku akan mencoba ke arah selatan" gumamku.
Mataku berkeliaran ke segala arah. Namun Aku masih belum mendapatkan bendera itu. Hingga waktuku habis.
"Bagaimana kamu bisa tidak dapat menemukannya?" kata Senior.
"Mata itu dipakai jangan pakai dengkul" katanya.
"Maaf kak" jawabku.
"Cari lagi, Aku beri kamu kesempatan terakhir. Jika kamu tak dapat menemukannya selama 15 menit. Akan ada sebuah hukuman untukmu" kata Senior itu.
"Iy, iya kak" jawabku.
Aku langsung mencarinya lagi. Lagi-lagi dalam 15 menit Aku tak bisa menemukannya.
Karena Aku gagal menemukan benderanya, senior itu membawaku masuk ruangan dan melaporkanku atas kejadian ini.
Di ruangan C, terlihat 3 anggota senior yang paling menonjol. Mereka adalah Kak Lucky, kak Riris dan kak Micky.
Di sana Aku juga melihat Kiki sedang merakit tandu di depan mereka.
"Apa? Dia tidak dapat menemukan benderanya?" tanya kak Lucky.
"Iya Senior" jawab senior tingkat 2 yang membawaku saat ini.
"Bodoh, Kamu mencarinya pakai apa? Mata atau kaki?" kata kak Lucky.
"Mata kak" jawabku.
"Kalau pakai mata seharusnya dapat menemukannya. Lalu kamu?" kata kak Lucky.
"Maaf kak" jawabku.
"Maaf,,, maaf,,,, emang dengan maafmu bisa membuat bendera itu ketemu gitu?" kata kak Lucky.
Badanku langsung gemigil mendengar ucapan kak Lucky yang sangat menusuk mentalku.
"Ikut Aku sekarang!" perintah kak Lucky.
"Astaga, apa yang akan Dia lakukan kepadaku?" batinku.
...----------------...
blm 3th berumah tangga.
sehrsny diatasi bersama jika ada konflik ato misscommunication
bisa salah duga nih...