Perselingkuhan? Itulah yang dilakukan Liora, perselingkuhan yang tidak sengaja dilakukannya kala dipaksa meminum minuman keras. Seorang pemuda rupawan yang merenggut kesuciannya. Kesucian yang seharusnya dijaga untuk suaminya. Walaupun dirinya menikah hanya karena hutang budi.
Suami yang cacat, buruk rupa akibat kebakaran. Sang suami yang telah pergi meninggalkannya ke luar negeri untuk urusan bisnis, selama lima tahun.
Dirinya menangis terisak, merutuki kebodohannya yang menikmati malam dengan pria lain. Pemuda yang mengulurkan tangannya, tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Terimakasih," ucap sang pemuda, mengecup punggungnya. Namun wanita itu hanya menangis.
"Apa yang harus aku katakan pada suamiku saat dia pulang nanti?! Aku sudah memiliki suami! Dasar sialan!" umpatnya memukul sang pemuda.
Sang pemuda mengenyitkan keningnya, ini juga yang pertama baginya. Namun, meniduri istri sendiri memang terasa menyenangkan.
"Rahasiakan dari suamimu, jadikan aku simpananmu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon Menantu
Hari ini adalah hari yang baru. Setidaknya itulah yang ada di benak wanita yang baru bangun dari tidurnya. Perlahan bangkit bangun lebih awal membersihkan dirinya. Kemudian berpakaian rapi, menggunakan parfum murah pemberian salah satu pelayan.
Dirinya harus merebut perhatian suaminya, salah maksudnya calon suaminya. Mengapa dapat seperti ini? Mati-matian memegang prinsip. Keluarga yang tidak menyetujui, di tambah wajah sang pemuda yang rusak.
Namun, itu tidaklah mengapa. Beberapa orang akan tetap teguh pada prinsip yang ada dalam dirinya. Ada juga beberapa orang yang akan dengan mudah mengingkari kata-kata dan janjinya pada Tuhan.
Liora tidak akan melakukannya. Arga adalah suaminya dari mulai pemuda itu membawa keluar dari tempat prostitusi. Takut? Hari pertama memang hanya senyuman palsu. Tapi hari kedua sama sekali tidak.
Mengenakan sepatu olahraga yang memang disiapkan untuknya. Wanita itu mulai melangkah keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi!" ucapnya, membuka pintu kamar Arga tanpa permisi. Kemudian mulai membuka tirai.
Arga menghela napas kasar. Suara cempreng yang membuatnya terbangun."Bebek! Tutup tirainya," perintahnya.
"Kamu harus banyak-banyak terkena cahaya matahari pagi. Agar kamu yang sudah tampan bertambah tampan," rayuan dari Liora.
Pemuda itu hanya tertawa kecil mulai duduk diatas tempat tidurnya. Perlahan dirinya meminum air putih yang ada di atas meja.
Mengikuti langkah Liora dengan sekali-sekali berpegangan padanya, ketika keseimbangannya menghilang. Berlatih berjalan tanpa tongkat, walaupun hanya di kamar.
Hingga sampai di kamar mandi, tanpa ragu lagi Liora melepaskan pakaian yang dikenakan Arga. Kemudian memeras handuk yang dibasahi dengan air hangat. Berusaha agar tidak mengenali luka sang pemuda, terakhir menggunakan handuk kering pada tubuh sang pemuda.
Salep mulai dibukanya mengoleskan pada jari tangannya. Namun kali ini Arga menghentikan Liora."Gunakan cotton bud, aku kemarin hanya ingin membuatmu jijik saja,"
Liora menggeleng, kemudian tersenyum."Jika ingin menjadi istrimu, tanganku tidak boleh gemetaran ketika mengurusmu. Bagaimana jika suatu hari nanti kamu terkena stroke? Aku harus mengurus sisa buang air kecil dan buang air besarmu."
Arga kembali tertawa, menyentil dahi Liora."Aku tidak akan menikah denganmu. Karena kamu seperti bebek,"
"Karena kamu terlalu cantik." Kata-kata yang tertahan tidak diucapkan olehnya. Tersenyum pahit, pria sepertinya tidak berhak jatuh cinta bukan?
"Dasar tupai!" umpat Liora dalam hatinya. Perlahan dirinya membantu Arga menuju tempat untuk membilas bagian yang tidak boleh dibersihkan Liora. Tidak ingin bagian tersebut bangun dari tidurnya.
Liora segera mengalihkan pandangannya saat Arga melakukan tugasnya seorang diri.
"Sudah selesai?" tanya Liora.
"Sudah!" jawaban dari Arga membuat Liora menoleh. Kembali membimbing sang pemuda, keluar dari kamar mandi, mendudukkannya di tepi tempat tidur.
Pakaian mulai dipilihkan Liora, bertindak layaknya seorang istri. Membantunya berpakaian, bahkan memilihkan wangi parfum pria yang terkesan segar namun maskulin.
Terakhir wanita itu menata rambut Arga. Setengah dari rambut pemuda itu menghilang, menyisakan luka bakar yang tidak begitu dalam. Wanita yang menyisir sisa rambutnya dengan rapi.
"Pangeran sudah terlihat tampan. Maukah menikah denganku?" gombalan gadis itu kembali.
"Tidak! Dasar! Aku mau bekerja!" ucap Arga meraih tongkatnya tidak ingin terlalu bergantung pada wanita yang akan meninggalkannya suatu hari nanti.
Pemuda yang mengambil beberapa dokumen dan laptop kembali duduk di atas tempat tidurnya.
"Sayang, mau aku ambilkan buah?" tanya Liora menggoda. Godaan yang sejatinya tidak ingin dikeluarkan gadis itu. Namun, memang ada yang aneh, ini baru hari kedua. Rasa jijik Liora bagaikan lenyap. Apa akan bisa cinta yang didasari mengsugesti diri sendiri menjadi cinta yang nyata? Entahlah.
"Kenapa?" tanya Arga.
"Karena aku mencintaimu," jawaban Liora, berlari keluar dari kamar, menahan malunya.
Sedangkan Arga hanya tertawa kecil menghela napas kasar."Nakal!" gumamnya gemas.
*
Sementara Liora mulai turun ke lantai satu. Hendak mengambil sarapan dan juice buah untuk suaminya. Maaf salah, calon suaminya.
Matanya menelisik, mengamati wanita gemuk berbalut pakaian bermerek. Memakan makanan dengan lahap, bersama dengan wanita paruh baya yang sama gemuknya berbicara dengan Intan.
"Saskia bersedia menerima kekurangan Arga," ucap wanita paruh baya yang datang dengan putrinya.
"Aku percaya Saskia akan menjadi menantu yang baik," Intan tersenyum, tepatnya berpura-pura tersenyum. Matanya menelisik mengamati Saskia.
Wanita dengan perawakan gemuk, masih mengunyah makanannya. Namun, mungkin hanya wanita ini yang akan dapat merawat putranya. Wanita baik-baik dari kalangan menengah keatas.
"Saskia apa kamu mau berkenalan dengan Arga?" tanya Intan pelan.
"Iya bibi, tapi apa Arga akan akrab dengan anakku?" Saskia balik bertanya.
"Anak?" Intan mengenyitkan keningnya.
"Iya, Saskia sudah pernah menikah," jawab Afifah, ibu dari Saskia.
Intan berusaha bersabar, masih dapat tersenyum. Mungkin ini jodoh untuk putranya yang penting wanita baik-baik dan tidak materialistis.
"Nanti ibu perkenalkan dengan Arga ya?" ucap Intan meraih cangkir tehnya dengan tangan gemetar.
"Maaf, setelah menikah nanti apa bisa kita menyewa seorang perawat saja untuk Arga. Saskia bekerja hingga sore, ditambah lagi dengan menjaga anak. Saskia pasti akan kerepotan, jangan lupa baby sitter juga..." Syarat yang diucapkan Afifah.
"Memang Afifah bekerja sebagai apa?" tanya Intan masih menekan emosinya.
"Dia menjadi guru les," jawaban dari Afifah dengan nada bagaikan menyombongkan putrinya.
"Satu lagi, saat pernikahan nanti aku ingin Arga tinggal di rumah sendiri, luasnya mungkin cukup seperti rumah ini saja. Agar aku juga tidak sungkan untuk tinggal di sana. Anak bungsuku masih mengumpulkan uang untuk membangun rumah. Tidak apa-apa kan jika tinggal sementara dengan Arga nanti..." ucap Afifah penuh senyuman.
"Sialan!" maki Intan dalam hatinya.
"Aku tidak jadi menjodohkan putraku," Intan tiba-tiba meletakkan cangkir tehnya.
"Kenapa? Tidak akan ada yang bersedia menerima putramu selain putriku. Aku sudah berbaik hati tapi kenapa kamu..." Kata-kata Afifah disela.
"Aku tidak perlu cucu dari mantan suami putrimu. Aku juga tidak memerlukan putrimu jika pada akhirnya, aku harus menyewa perawat yang gajinya bahkan lebih tinggi dari putrimu yang hanya seorang guru les. Aku juga tidak ingin membeli rumah yang hanya akan dihuni kelurga kalian..." tegas Intan, tidak dapat terima syarat yang tidak masuk akal sama sekali.
"Wajah putramu cacat! Kakinya pincang! Tidak ada calon yang lebih baik dari putriku!" bentak Afifah, sedangkan Saskia masih mengunyah kue kering yang ada di toples.
Kesal? Tentu saja, atas nama ibu-ibu kompleks yang anaknya dihina. Dirinya harus menghina balik, melupakan statusnya sebagai nyonya keluarga konglomerat.
"Ada! Dia calon menantuku, aku memanggilmu kemari memang ingin membatalkan untuk mempertemukan anak kita!" ucap Intan, menarik tangan Liora. Mengedipkan matanya agar Liora bekerja sama.
"Akhirnya aku mendapatkan restu," batin Liora dengan tingkat kepercayaan diri yang super tinggi.
"Iya! Aku bersedia menerima kekurangan Arga. Bahkan tadi pagi aku memandikannya! Dengar ini! Arga tidak jelek, dia tampan jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda," tegas Liora.
Ikhlas menerima pemberian Tuhan, mengapa? Karena takut kualat.
selingkuhan Liora suaminya sendiri, gmn saat tau nanti akan semakin membenci Arga atau gmn
kepikiran dgn anaknya Lisa yg di adopsi Liora, jadi masalah gak ya nanti nya
walaupun ditinggal untuk bisnis dan berobat agak nyesek ya lima lho