Kau tahu apa yang sering diinginkan laki-laki? Ya, petualangan, dan itu akan mereka lakukan untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya mereka berpisah, hidup atau mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dollmen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Teror
Lama mereka terdiam menunggu Randy kembali, namun tak juga terlihat tanda-tanda darinya, seraya menunggu mereka tetap waspada karena makhluk tersebut bisa saja muncul tiba-tiba menyerang mereka, tempat seperti ini sangat menguntungkan bagi makhluk pemburu untuk mencari mangsa, dan saat ini sepertinya mereka adalah mangsa yang empuk.
"Anjixx, sebenernya makhluk sialan apa itu."
Beni mengumpat mengungkapkan rasa kesalannya dengan apa yang terjadi saat ini, serta mengutuk makhluk yang membuat mereka susah. Anita yang menjadi kekasihnya gusar melihat Beni seperti itu, Beni memang seorang tempramental tapi Anita tak berusaha menenangkannya saat ini karena yang menjadi prioritasnya kali ini adalah Aini, sahabatnya dan juga kekasih Danu yang masih bersedih dan tak percaya atas kematian Danu. Tak berapa lama akhirnya Randy kembali, dengan sebuah kabar tanpa hasil.
"Sial, gua gak nemuin makhluk itu, bahkan jasad Danu juga gak ada, sama sekali gak ada jejak yang tertinggal, gua cuma nemuin ini aja."
Randy menunjukkan apa yang ada dalam genggaman tangannya, yang ia temukan ketika mencari jasad Danu didalam hutan.
"Ini kan?"
Beni memperhatikan benda itu, heran melihat sebuah benda seperti tulang namun berbentuk menyerupai gigi taring yang tajam, benda itu masih berlumuran darah segar seperti baru saja mencabik-cabik sesuatu, atau mungkin telah mencabik-cabik Danu hingga tewas.
"Jangan-jangan itu gigi makhluk itu."
Yang ada dalam fikirkan Arie sama dengan apa yang ada dalam benak Randy dan Benie. Arie beringsut takut, membayangkan makhluk mengerikan apa yang telah membunuh Danu dengan gigi atau taring sebesar itu, bahkan gigi hewan buas seperti singa dan harimau saja tak sampai sebesar itu. Beni tak melihat secara langsung apa yang menyerang Danu walaupun dia sendiri yang pada waktu kejadian pergi bersama Danu namun ketika peristiwa itu terjadi mereka sedang mencari kayu dan ranting secara terpisah walaupun tak terlalu jauh satu sama lain, namun suasana hutan yang gelap dan diselimuti kabut membuat keduanya tak bisa saling mengawasi.
"Sial, makhluk apa yang punya gigi segede gini?"
Beni shok memikirkan makhluk besar buas menyeramkan yang ada dalam bayangannya telah membunuh Danu sebagai mangsanya, atau mungkin mereka tanpa sengaja sudah memasuki wilayah kekuasaan makhluk itu dan tanpa sengaja juga telah mengusiknya hingga makhluk tersebut merasa terganggu, dan sifat hewan buas ketika daerah kekuasaannya dimasuki oleh makhluk lain, maka hewan buas tersebut akan mengusir atau bahkan membunuhnya.
Anita dan Aini yang melihat Randy kembali hanya seorang diri, harus kembali berderai air mata, Aini masih belum bisa menerima kejadian yang saat ini menimpa Danu kekasihnya, baginya kejadian yang mereka alami terlalu cepat hingga terasa begitu menyakitkan.
Sepertinya Belum lengkap penderitaan mereka di tempat itu, karena tiba-tiba saja dari jauh terdengar suara petir bergemuruh menandakan akan turun hujan, dan terdengar dari gemuruhnya yang saling bersahutan sepertinya akan terjadi hujan yang cukup deras.
"Bener-bener sial, belum lengkap apa yang kita alamin sekarang?"
Beni semakin frustasi dengan keadaan mereka saat ini, dia tak peduli lagi dengan norma yang harus dijunjung tinggi ketika berada ditempat seperti ini.
Benar saja, tak butuh waktu lama bagi hujan untuk menurunkan airnya yang tak diinginkan untuk saat seperti ini, rintik gerimis mulai turun, perlahan namun pasti, dari rintik gerimis kemudian berubah menjadi hujan deras hanya dalam waktu singkat, tak ada pilihan lain bagi mereka, mereka harus berlindung di dalam tenda, hanya ada dua tenda yang akan mereka gunakan, karena Beni akan satu tenda dengan Anita dan Aini yang ketakutan untuk menjaga mereka berdua, awalnya mereka berada dalam satu tenda, namun karena Anita ketakutan akhirnya mereka di temani Beni, sedangkan Arie berada satu tenda dengan Randy. Semakin lama hujan semakin turun dengan deras dan sepertinya akan berlangsung cukup lama, di dalam tenda mereka hanya di temani lampu penerangan seadanya, hanya mengandalkan lampu senter yang mereka bawa.
Lelah dan dingin tak membuat mereka bisa memejamkan mata, karena ketakutan selalu bergelayut di fikiran masing-masing, membawa mereka berimajinasi membayangkan makhluk mengerikan yang bisa kapan saja memangsa mereka, namun setidaknya ketika mereka bersama rasa takut itu bisa sedikit berkurang.
"Ben, gua takut." Ucap Anita lirih.
"Gua disini Ta, Gua akan ngelindungin loe, walaupun gua harus mati, loe harus tetep selamat."
Beni berusaha menenangkan Anita walaupun dirinya sendiri tak yakin akan bisa menyelamatkannya, dalam situasi seperti ini mereka memang seharusnya tenang agar semuanya bisa lebih terkendali dan tak melakukan kesalahan fatal yang bisa saja justru mencelakakan diri sendiri.
Gemuruh petir menyamarkan suara di dibalik semak-semak yang sejak tadi seperti sedang mengawasi mereka. Hujan deras membuat perlengkapan dan perbekalan yang mereka bawa basah dan rusak yang kemungkinan tak bisa digunakan lagi, tak ada satu pun yang bisa mereka selamatkan karena mereka takut dan sibuk untuk menyelamatkan diri sendiri. Semakin lama cuaca semakin dingin seiring hujan yang tak kunjung mereda, membuat mereka menggigil hingga hampir membeku, namun tak lama setelah itu keberuntungan kembali memihak mereka, alam pun seperti menunjukan belas kasihnya pada mereka. Hujan perlahan mulai berhenti dan hanya menyisakan gerimis kecil saja, tapi teror mengerikan justru baru saja dimulai. Perlahan terdengar jerit tertahan disekitar tenda yang Beni, Anita dan Aini tempati, lalu kemudian terdengar suara ribut dari tenda yang Randy dan Arie tempati.
"Toloooonggg."
Arie berteriak dan langsung keluar dari tendanya lalu berlari menuju ke tenda Beni, Anita dan Aini dengan terengah-engah padahal jarak tenda mereka sangat dekat, namun ketakutan yang Arie alami sukses membuatnya menjadi seperti orang yang begitu kelelahan setelah rasa takut itu menguras energinya.
"Kenapa Rie?"
Tanya Beni yang ikut panik dan khawatir setelah melihat Arie masuk ke tenda dengan tangan terluka dan pakaian yang berlumuran darah.
"Randy Ben, Randy."
Merasa ada yang tak beres telah terjadi pada Randy, Beni langsung keluar menggenggam sebilah belati di tangan kanannya, karena dia mengerti ada sesuatu yang mengerikan yang sepertinya telah terjadi pada Randy, namun sebelum masuk ke dalam tenda, Beni tertegun melihat tenda itu telah robek dari sisi yang menghadap ke semak-semak, dan terdapat darah pada robekan tersebut, perlahan Beni menghampiri untuk memastikan apa yang telah terjadi, dengan posisi tetap waspada Beni mendekati tenda itu, tangan kirinya membuka pintu tenda yang hanya tertutup sebagian saja, sementara tangan kanannya masih menggenggam erat belati dalam posisi siaga untuk mengantisipasi serangan tak terduga, matanya melihat dan memperhatikan apa yang ada dibaliknya, berbekal senter yang setia menempel dikepala akhirnya Beni melihat Randy yang telah menjadi mayat, dengan kondisi mata melotot, mulut menganga, tenggorokan terkoyak, serta isi perut terburai begitu mengenaskan.
Anita dan Aini yang sejak tadi hanya menunggu didalam tenda, dengan takut namun penasaran berjalan menghampiri Beni yang terdiam mematung di depan tenda dan jasad Randy, seketika mereka menangis histeris berpelukan, tak kuat menahan ketakutan dan kehilangan teman mereka setelah mereka berdua dengan jelas melihat jasad Randy dalam kondisi mengerikan.
"Anjiiiiixxxxx, keluar lo,lawan gua ***."
Emosi Beni tak terbendung menantang makhluk tersebut, matanya berkeliling memperhatikan sekeliling semak belukar gelap yang mengelilingi daerah kedua tenda itu, sekali makhluk itu muncul maka keberanian dan kenekadan Beni akan langsung silampiaskannya, namun sayang sepertinya makhluk tersebut telah bersembunyi dan menunggu mangsanya lengah kembali.
yeeaaayy... selamet....
eits jgn sedih marimar... peran utama tdk mati smudah tu
😁🤭
Danu mahh ank Eike
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤦🏻♀️🤣
🤣🤣 bhuahaaaiii de
R : ni tor'y ank gnung kyk'y 😁
A : g juga keleeus
😁
🏃💨 kbuuurrr ahh .... ada yg ngntip 😱
atuuut
Haadeeehhh