NovelToon NovelToon
Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Sebuah Penantian (Melepas Lajang)

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:525.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Puput

Anda memasuki kawasan bucin, baper 🤧

***
"Will you marry me?"
Sebuah pertanyaan yang harusnya disambut dengan bahagia oleh pasangan yang telah bertahun-tahun menjalin hubungan. Tapi tidak dengan Rili. Dia justru sangsi harus segera menerima lamaran itu atau tidak. Bukan dia tidak cinta atau tidak ingin menikah dengan Alvin tapi dia memikirkan perasaan Kakaknya, Rasya.

Masa lalu Rasya yang pernah kehilangan seseorang dalam hidupnya, membuatnya enggan membuka hati untuk yang lainnya. Sikapnya terhadap wanita semakin dingin bagai es kutub. Akankah ada seseorang yang mampu mencairkannya?

Lalu bagaimana kisah Alvin dan Rili. Karena penolakan Rili, orang tua Alvin ingin menjodohkannya dengan wanita lain. Dijodohkan? Tidak rela kan, hubungan yang terjalin dari nol sampai Alvin sukses itu kandas di tengah jalan.

Bagaimana perjuangan Alvin selanjutnya untuk tetap mempertahankan Rili?

Baca yuk!! Siapkan tisu untuk menghapus sesuatu yang basah. Air mata misal.. 🤭🤧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit Hati Lagi

"Jadi data entry penanganan proyek baru di simpan di drive G...." Rasya dengan telaten menjelaskan semua letak data entry dalam komputer kerja sekretaris. Dia sedikit membungkuk sambil memegang mouse. Sedangkan Dira, dia duduk sambil menatap pada layar komputer.

"Kalau ada yang tidak mengerti, kamu langsung tanya saja ya. Jangan sungkan-sungkan. Kebetulan hari ini tidak ada jadwal bertemu client."

"I-iya Pak." Dira mendongakkan kepalanya, pandangan matanya kini bersirobok dengan Rasya. Pipi yang sedari tadi telah memerah semakin bersemu merah. Benar-benar posisi yang membuat orang lain salah paham ketika melihat kedekatan mereka.

"Ehem!!" satu deheman akhirnya membuyarkan pandangan itu.

Rasya menegakkan badannya dan melihat Nana yang berdiri di ambang pintu sambil membawa sebendel kertas laporan.

"Pak Rasya ini laporan slip gaji karyawan."

Rasya berjalan mendekati Nana. Lalu dia mengambil laporan yang berada di tangan Nana. "Iya, terima kasih," kata Rasya sambil berjalan menuju ruangannya.

Nana kini berjalan mendekati Dira. Dia pandangi Dira mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut, benar-benar sama persis dengan Dira.

Dia kini menarik kursi plastik lalu duduk di dekat Dira.

Dira hanya tersenyum menyapa Nana.

"Jadi, kamu beneran kembarannya Dara?" tanya Nana memastikan lagi.

"Iya Mbak."

"Gak usah panggil Mbak, kita seumuran. Nama aku Nana, dulu aku sempat satu sekolah sama Dara."

Dira mengangguk paham. "O, iya."

"Tapi meskipun wajah kamu sama dengan Dara, kami gak boleh dekati Pak Rasya. Dia itu my crush. Inget itu!!"

Dira hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

"Kamu ngapain di sini?" tanya Doni yang baru saja keluar dari ruangan Rasya.

"Gak papa. Cuma mau kenalan aja." Nana berdiri lalu berjalan keluar dari ruangan sekretaris.

"Jangan mencampurkan urusan pribadi dengan urusan kantor," sarkas Doni secara langsung.

Nana hanya mencibir sambil melewati Doni.

"Kamu jangan terpancing sama omongan Nana. Dia memang kayak gitu."

"Iya Kak. Tidak apa-apa."

...***...

Rasya terus membolak-balik lembar demi lembar berkas-berkas yang ada di hadapannya. Pikirannya sedang tidak fokus dengan pekerjaan. Entahlah, mengapa hanya dekat dengan Dira dadanya terus berdebar-debar. Senyuman dan tatapan matanya benar-benar mengingatkannya pada pertemuan pertamanya dengan Dara.

Di jam makan siang, dia keluar dari ruangannya berniat untuk melihat Dira. Bukan melihat tapi berniat untuk mengajak Dira makan siang bersama.

"Dira kamu sudah makan siang?" tanyanya basa-basi.

"Iya, ini mau makan Pak." terlihat Dira sedang mengeluarkan kotak bekalnya.

"Tidak gabung sama yang lain?" tanya Rasya lagi.

"Tidak Pak, di sini saja."

Rasya kembali ke ruangannya lalu beberapa saat kemudian dia masuk ke ruangan Dira sambil membawa kotak bekalnya.

Ya, meskipun sudah menjadi seorang pimpinan perusahaan tapi bekal dari Mami tetap nomor satu. "Boleh aku ikut makan di sini?"

"Iya Pak, silahkan." Meski sebenarnya Dira cukup sungkan dengan kehadiran Rasya yang tiba-tiba ikut makan di sampingnya, tapi dia tidak bisa untuk menolaknya. Yang pertama karena dia bos, yang kedua karena ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Gak nyangka Pak Rasya yang seorang bos besar tapi membawa bekal makan dari rumah. Saya kira biasa makan siang di restoran."

Rasya tersenyum kecil. Inilah Dira, selalu bisa mencairkan suasana. Sepertinya dia memang sangat berbeda dengan Dara yang introvert.

"Iya, gak papa kan? Lebih sehat makanan dari rumah. Dari dulu mami memang selalu menyiapkan bekal makan siang buat aku."

"Ya gak papa. Sama sih. Saya juga lebih suka bawa bekal ketimbang makan diluar. Lebih boros. Biasa ya Pak, teori ibu-ibu untuk berhemat."

Rasya tersenyum. Baru dua hari bertemu dengan Dira, hidupnya seolah memiliki semangat baru.

Mereka masih asyik mengobrol sampai jam istirahat selesai.

"Kamu bawa kendaraan sendiri?"

Dira menggelengkan kepalanya. "Tadi saya diantar Papa. Sejak Dara kecelakaan, Mama gak ngebolehin saya bawa motor sendiri."

"Ya udah kalau gitu nanti..." belum selesai Rasya meneruskan kalimatnya ada panggilan darurat dari Doni.

"Pak Rasya, ada masalah di proyek Pak Agus."

"Kenapa?" Rasya seketika berdiri. "Aku tinggal dulu ya." setelah itu Rasya mengikuti langkah jenjang Doni menuju ruangannya.

Dira hanya tersenyum kecil. Dia mengemas kotak bekal Rasya yang telah kosong.

Andai saja Kak Rasya tahu...

...***...

Rasya tersenyum kecil melihat Dira yang sedang berdiri di dekat tempat parkir. Sore itu, kala matahari mulai memancarkan sinar jingganya.

Rasya melangkahkan kakinya mendekat. Tapi baru dua langkah dia urungkan niatnya. Dia berhenti dan kembali meragu.

Ajak bareng? Nggak? Ajak bareng? Nggak?

Hanya ingin mengantarnya pulang saja Rasya sudah gerogi. Bahkan dia seolah sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.

Ayo Rasya, kalau bukan sekarang kapan lagi?

Rasya akhirnya memantapkan langkah kakinya mendekat. "Ra," panggilnya yang membuat Dira kini menatapnya.

"Iya, Pak?"

"Kamu pulang sama siapa?"

"Ini, saya lagi nunggu..."

"Dira..." Seorang pria bertubuh tegap dengan memakai kemeja dan blazer itu melambai ke arah Dira sambil berjalan mendekat. "Maaf macet, udah nunggu lama?"

Rasya hanya bisa menatap kedatangan pria itu yang seolah bergerak melambat. Tatapan dan senyumannya pada Dira jelas berbeda. Tapi bukan hanya itu yang membuatnya terkejut.

Ketika pria itu menatap Rasya, seulas senyum semakin mengembang. "Rasya, apa kabar?" mereka berpelukan sesaat, seperti seorang yang telah lama tidak bertemu.

"Fandi. Aku baik. Kamu sendiri apa kabar? Kapan kamu ke sini?"

"Baik juga. Baru sebulan ini. Ini perusahaan kamu?" Fandi mengedarkan pandangannya melihat sekeliling perkantoran Rasya.

"Iya."

"Wah, hebat. Dari dulu memang kamu selalu hebat."

Rasya tertawa sumbang. Hebat? Tapi dalam hal percintaan dia sangat lemah.

"Oiya, jadi kamu kerja di kantor Rasya? Kamu kok gak bilang?" Fandi kini menatap Dira yang hanya berdiri mematung.

"Kan, Kak Fandi gak tanya. Aku juga gak tahu kalau ternyata kalian saling kenal."

Fandi tersenyum manis lalu mengusap puncak kepala Dira. Hal yang romantis tapi sangat tragis di hati Rasya.

"Dulu waktu aku kuliah di Amerika, Rasya salah satu sahabat aku." Sedikit cerita Fandi pada Dira. "Alvin apa kabar? Lama aku gak lihat video terbarunya di youtube."

"Dia sibuk ngurus cafenya sekarang. Gak nyangka kalian juga saling kenal, ternyata bumi itu sempit ya." Tawa Rasya. Tawa palsu untuk menutupi segala kegalauan hatinya.

"Iya, Dira calon tunangan aku." Fandi merengkuh bahu Dira meski Dira masih saja mematung dengan kaku. Bahkan sudah tidak ada lagi sahutan suaranya.

Dira calon tunangan aku.

Meskipun kalimat itu sudah melewati gendang telingannya, tapi masih seolah terdengar berulang-ulang kali yang semakin menancapkan duri tajam di hatinya.

"Ya udah, kapan-kapan kita ngobrol ya. Kita makan-makan di cafenya Alvin sekalian temu kangen."

"Oke, next time." Rasya masih saja tersenyum hambar. Walau perasaannya telah terbiasa terluka, tapi kali ini dia menatap dua punggung yang kian menjauh itu tanpa kerelaan.

.

.

.

1
Ryani
Rili aneh🤣 moga ajah d tinggal nikah🤭
Siti patma
sedih harus bepisah dengan kisah alvin rili dkk sukses terus ya thor
Author Halu: Ada kisah anaknya. Airin. 🤭
total 1 replies
Siti patma
novelmu ceritanya bagus kok semangat thor
Siti patma
aneh kok suami ikut istri biasanya kan istri ikut kerumah suami di novel lain
Siti patma
pria di novel banyak yg berhati baik tdk dengan duni nyata dikit
Siti patma
akhirnya ketemu jodohnya tak sia2 menunggu
Siti patma
fandi yang berjiwa besar semoga dapat jodoh yang baik juga
Siti patma
alvin memang terbaik
sinta febrianti
enak yah punya kaka kya rasya coba aja aku punya kaka kya rasya seneng bngt kli yah akur n di manja kya gtu. sedangkan aku punya kaka cwok tpi udah punya istri skrg istrinya ngelarang buat kakaku akur sma adik2ny bhkan lebaran aja gak pernah ngumpul lgi skrng smenjak punya istri. datang kerumahnya aja gak bleh sma istrinya. adek2ny di larang injak2 kaki kerumah kakaku sndri. bahkan sma mertuanya(ibunya kakaku) aja berani bngt smpe nge dorong mertuanya bhkan brang2 mertuanya sndri di miliki sma dia.
Ninoi: Tenang aja kak Sinta. klo kakak ipar kamu gak cepet sadar, inshaf dan minta maaf pd bumernya (ibunya kakak) jg klrg mu.. Smg aha gak terlambat. Kak Sinta dan klrg cukup doa, ikhlas, jalani aja bagian kehidupanmu, maafkan, jng dendam apa lg mendoakan dng meminta keburukan, maka biarkan TUHAN dengan waktuNYA ambil bagiannya kelak entah dng kesempatan bertoubat, karma atw azab. 🙏
total 1 replies
Indah Alifah
seru dari awal sempat halu andaikan ini cuma prank eh ternyata beneran makasih Thor g bikin galau
Siti Khalimah
heheheeeee
Azizah az
pernah diposisi Nana, nyeseknya 🤧🤧
Azizah az
Nana mending menjauh ajah lh nyesek loh
Azizah az
udh sampai sini kk
Al Fatih
cerita yang bagus,, no pelakor,, para suami yg so sweet banget....,, makasih Kaka utk karyanya yg menghibur.....
Author Halu: sama2 kak..
total 1 replies
Al Fatih
ealah d prank tho Ki 🤣
Al Fatih
menguras esmosis jiwa
Al Fatih
rili sudah memberi kesan ga bagus sama camer
Al Fatih
awalnya aq mau baca kisah anakx Airin,, katanya ad kisah orang tuanya Alvin rili....,, akhirnya k sini dulu deh....
lanjuuuuut
Al Fatih: rili sudah ketemu,, tp alvian pas remaja judulnya ap ya kaka
total 4 replies
Zuni Zun
ayla jadi ponakan ngeselin deh ntar kayanya, kya bapaknya,tpi banyak yg sayang sama dia..hhhahhhaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!