Andika Saputra seorang pemuda yang baru memasuki dunia kerja di ibu kota. Dia seorang arsitek, bekerja di perusahaan kontraktor "Satria Group" yang cukup punya nama di ibu kota. Kinerjanya sangat bagus dan kejujurannya menjadi perhatian manajemen perusahaan termasuk Gunawan Presdir perusahaan tersebut. Hingga Gunawan sangat menginginkan Andika menjadi menantunya, suami untuk Karina anak semata wayangnya.
Ujian demi ujian kehidupan dilalui oleh Andika, dari mulai kepergian ibunya utk selamanya, perjuangan meraih karirnya, termasuk perjuangan cintanya.
Akankah Andika berjodoh dengan Karina?
ataukah ada wanita lain yang dicintainya?
Temukan jawabannya.....!
Selamat membaca.
Salam
Umi Haifa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Haifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirip Seseorang
Hari ini hari kedua Andika masuk kerja, tidak seperti kemarin jam 06 pagi ini Andika belum siap untuk berangkat kerja, Dia masih asyik dengan HPnya membaca berita terupdate hari ini, karena di kamar kontrakannya tidak ada TV andika mencari berita lewat internet.
Jam 08.30 Andika sudah berada di ruangan kerjanya. Erick belum terlihat batang hidungnya, hanya ada satu orang di ruangan yang sedang merapihkan dokumen di mejanya.
" Pak Andika yah ? Kenalkan saya Dio. " Sapa Dio sambil mengulurkan tangan.
" Andika..." Andika menjabat tangan Dio
" Pak Erick kemarin WA saya, katanya Pa Andika sudah mulai masuk hari kemarin."
" Iya...Pak Dio lagi tugas lapangan yah, jadi kita tidak ketemu."
" Oh ya pak tadi ada pesan dari bu Riska, dia nelfon ke sini, katanya Pak Andika diminta ke ruangan HRD menemuinya."
" Bu Riska...? yang mana yah? kayanya kemarin saya belum ketemu Bu Riska. " tanya Andika
" Dia staf HRD , ruangannya di sebelah ruangan Pa Syahrul."
" Kalau gitu saya ke ruang HRD dulu ya Pak Dio."
" Silahkan Pak."
Andika berjalan menuju lift dan turun menuju lantai 10.
Di Ruangan HRD tampak Wina sudah standby di mejanya.
"Pagi bu Wina ." Sapa Andika
" Pagi Pak Andika, wah pagi-pagi sudah di ruangan HRD, ada yang bisa saya bantu?"
Wina berharap Andika ada perlu dengannya.
Apa yang Pak Andika perlukan dengan senang hati saya bantu. Batin Wina
" Saya mau ke Bu Riska, saya diminta menemuinya, disebelah mana yah ruangannya? " Basa basi Andika, padahal dia sudah tau ruangannya di sebelah ruangan Pak Syahrul.
" Oh....mau ketemu bu Riska, mari saya antar."
Andika mengikuti langkah Wina.
"Pagi Bu Riska , ni ada yang mau ketemu bu Riska." Wina berdiri di depan meja Riska sambil senyum-senyum.
Riska yang sedang duduk sambil mengecek berkas langsung melihat ke arah Wina dan Andika.
"Oh iya ini Pak Andika yah, silahkan duduk Pak."
"Iya terima kasih bu Riska."
"Hmmmm ....kalau saya gak disuruh duduk, dicuekin mentang-mentang ada yang cakep." Canda Wina
Gak papa lah sy bilang cakep, emang bener Pak Andika itu cakep banget, siapa tau dia seneng ma saya. Batin Wina
"Yaah Bu Wina kalau di suruh duduk nanti dicariin bosnya gimana?" kata Riska
"Oh iya....Pa Syahrul kayanya dah datang deh, ya udah sy permisi dulu. Pa Andika maaf yah saya gak bisa nemenin. " Dengan PDnya Wina serasa dia dibutuhkan Andika.
"Pa Andika maaf ya saya meminta Pak Andika ke ruangan saya, ada beberapa hal yang ingin disampaikan terkait dengan administrasi kepegawaian. Yang pertama mengenai absensi kehadiran, di perusahaan ini menggunakan sistem finger print , nanti setelah ini saya akan mengantar Pak Andika ke tempat absensi sekalian merekam sidik jari Pak Andika. Yang kedua mengenai PPH.......bla...bla......bla..." Riska menjelaskan dengan detail beberapa hal tentang administrasi kepegawaian.
Disaat Riska menjelaskan panjang lebar, Andika sesekali memperhatikan wajah Riska.
Kenapa mirip sekali, gak mungkin kan kembar apa saudaranya? perasaan Riana gak punya saudara yang tinggal di ibu kota, wajahnya mirip, hanya tidak ada lesung pipitnya, gaya bicaranya juga yang lantang mirip, bahkan gaya berpakaiannya pun hampir sama, hijabnya panjang. Kok bisa hampir sama banget. Andika
Andika jadi ingat temannya yang spesial....ah bukan... hanya sahabatnya. Spesial karena mereka berteman sejak kecil hingga saat ini, teman berbagi cerita dan sharing ilmu dan pengalaman. Riana sudah seperti saudaranya, bahkan dengan keluarganya sudah seperti keluarga sendiri.
Tanpa disadari Andika memandangi wajah Riska, padahal Andika sangat anti memperhatikan lawan jenis, apalagi sampai memandangnya. Ya ini karena Andika benar-benar ingin memastikan kemiripan Riska dengan sahabatnya Riana. Riska yang merasa diperhatikan jadi kikuk.
Kenapa Pak Andika memandangi saya terus, apa ada yang aneh yah dengan wajahku, atau.....ah saya jad Ge errrr....Batin Riska
"Pa Andika barangkali ada yang mau ditanyakan?" Riska mencoba mengalihkan perhatian Andika.
"Pa Andika....?"
" Eh....iya...Bu...." Andika tersentak, tampak kaget.
Pa Andika sampai kaget gitu, apa dia terpana aja, astagfirullahaladzim.... Ya Allah kenapa dengan saya.
Muka Riska tampak memerah.
" Maaf Bu Riska, apa tadi?" tanya Andika, menyadari dia melamun dan merasa malu sendiri.
Haah....Pa Andika sampai gak dengar pertanyaanku.
" Ada yang mau ditanyakan? " ulang Riska
"Gak ada Bu Riska...saya rasa cukup jelas." Andika menutupi rasa malunya, Padahal penjelasan bagian akhir Andika sama sekali tidak mendengarnya.
"Baik kalau tidak ada pertanyaan, saya perlu no NPWP Pak Andika, apa Pak Andika sudah punya NPWP?"
"Ya ada." jawab Andika sambil mengeluarkan dompet di saku celananya.
Andika memang sudah memiliki NPWP sejak magang di perusahaan kontraktor di kota kembang saat ia masih kuliah.
Andika mengeluarkan kartu NPWPnya dan menyimpannya di meja Riska.
Sementara Riska mengambil file data Andika di file cabinet. Setiap karyawan memiliki file data dalam satu map dari mulai biodata, fotocopy ijazah, ktp, sampai penilaian kinerja yang tersimpan rapih.
Andika memperhatikan meja kerja Riska yang bersih dan tertata rapih. Andika melihat ada sebuah brosur travel umroh di meja itu, Andika membacanya dari kejauhan. Dia jadi teringat rencananya untuk mengumrohkan ibunya.
" Bu Riska boleh saya lihat brosur itu?" sambil menunjuk tangannya ke arah brosur
" Oh silahkan, ini brosur umroh, kebetulan kakak saya agen travel umroh." Riska memberikan brosur ke Andika
"Pa Andika saya fotocopy dulu NPWP nya yah." Riska mengambil kartu NPWP Andika dan mengcopynya di mesin scaner di samping meja kerjanya.
"Kalau brosurnya mau dibawa Pak Andika boleh kok." Riska selesai mengcopy dan menyerahkan kartu NPWP ke Andika.
"Kalau mau langsung daftar jg boleh nanti bisa dibantu kakak saya," tambah Riska sambil tersenyum.
Eh senyumnya .....kenapa jadi tambah mirip kalau lagi tersenyum, ada lesung pipit sedikit. Ya Allah mungkinkah Engkau ciptakan manusia yang persis begini walau bukan kembar....ya serupa tapi tak sama. Batin Andika
Ya Allah....kenapa Pak Andika melihatku terus, bikin degdegan aja, kenapa sih, memang ada apa dengan wajahku...wajahku kan cuma dipoles bedak dan pakai lipstik sedikit, apa ada sesuatu yang menempel di wajahku? Riska mengusapkan kedua tangannya ke mukanya.
Andika langsung mengarahkan pandangannya ke brosur yang dipegangnya.
" Saya bawa brosurnya ya Bu Riska, siapa tau nanti perlu."
"Ya bawa aja silahkan Pak Andika."
Andika melipat brosur dan memasukan ke saku celananya.
"Sekarang kita ke tempat finger print dulu di lantai satu, jadi mulai besok Pa Andika harus finger print saat datang dan saat pulang kerja. Mari Pak Andika."
Riska dan Andika berjalan menuju lift . Di dalam lift mereka hanya saling diam dengan pikirannya masing-masing.
Riana harus tau kalau ada kembarannya di sini, pasti dia gak percaya. Tapi kalau dibuktikan dengan foto pasti dia percaya, mau gak yah Bu Riska saya foto, atau nanti saya diam-diam foto Bu Riska aja deh. Andika senyum-senyum sendiri.
Kenapa Pa Andika senyum-senyum sendiri, apa dia sedang menertawakanku? Riska melihat ke kaca dinding lift di depannya memperhatikan wajah dan penampilannya.
Gak ada yang aneh kok dengan wajahku, tapi Pak Andika senyum-senyum kenapa yah? Batin Riska
Dan pintu lift pun terbuka, Riska keluar lebih dulu dan Andika mengikutinya .
Sampailah mereka di tempat finger print. Riska menjelaskan bagaimana cara melakukan cek absensi dengan finger print, Kemudian merekam sidik jari Andika yang akan digunakan setiap absent.
Setelah selesai mereka menuju lobi.
"Baik Pak Andika agenda dengan saya sudah selesai, Pak Andika bisa melanjutkan pekerjaannya, maaf saya mau langsung ke bagian security dulu."
" Baik Bu, saya kembali ke ruangan saya. Terima kasih."
" Sama-sama Pak Andika."
bersambung
terimakasih