Ilona, gadis jalanan yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Kehidupan jalanan memaksanya menjadi gadis kuat dan pemberani. Berbeda dengan Ayyara, seorang gadis culun yang selalu menjadi sasaran bully di sekolahnya. Selain penampilannya yang culun dan dianggap jelek, dia sedikit gagap saat berbicara. Bahkan kakak dan sepupunya tidak suka padanya.
Hingga suatu hari, terjadi kecelakaan yang membawa perubahan dalam hidup keduanya. Ilona terbangun dalam raga Ayyara. Kecelakaan itu mengubah semua jalan hidup keduanya. Ilona yang tidak memiliki orang tua dan kehidupannya yang susah, berubah mendapatkan kasih sayang orang tua dan kehidupan layak. Dan Ayyara, dia berubah menjadi gadis yang tak mudah ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquilaliza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayyara Hilang
Pagi sekali, Ayyara keluar dengan stelan olahraga. Di lemari Ayyara, banyak baju-baju yang mungkin sangat jarang di pakai gadis itu.
Ayyara menghampiri kedua orang tuanya, Deon dan Gian yang sedang sarapan. Keempat orang itu mengerutkan kening heran. Ayyara sangat jarang berolahraga. Tapi, kenapa hari ini dia mengenakan stelan olahraga. Gadis itu memang gemar mengoleksi berbagai jenis pakian. Tapi ia jarang menggunakannya.
"Pagi Ma, Pa, Abang." Ayyara mengambil tempat di sebelah Mamanya.
"Kamu udah rapih gini. Mau kemana nak?" Mala mengisi piring Ayyara dengan sarapan yang dibuatnya pagi ini.
"Ayya mau jogging, Ma."
Jawaban Ayyara membuat Mala dan Abima menghentikan makan mereka. Deon dan Gian juga saling pandang dan keheranan mendengar ucapan Ayyara.
"Kamu kan baru pulang dari rumah sakit sayang. Jangan cape-cape dulu, ya?" Abima mencoba menjelaskan pada putrinya.
"Iya, sayang. Yang Papa bilang benar lho. Kamu istirahat di rumah aja, ya?"
"Ma, Pa, olahragakan sehat. Buat mulihin kondisi Ayya, Ayya harus sering olahraga."
"Sayang, kepala kamu masih pusingkan?"
"Engga lagi kok, Ma." Balas Ayya. "Ma, Pa, Ayya cuman lari-lari kecil doang kok. Ngga akan terlalu cape. Ayya janji. Cuman sekitaran sini, kok." Bujuk Ayyara.
"Gini aja. Biar Mama sama Papa ga khawatir, gimana kalo abang jogging bareng Ayya?" Usulnya.
Mala dan Abima saling pandang. Usulan Ayyara tidak buruk. Sementara Deon dan Gian, keduanya menatap sengit ke arah Ayyara.
"Baiklah, Papa izinin kamu jogging. Tapi, bareng abang." Putus Abima, membuat Ayyara tersenyum senang.
"Makasih, Pa." Ayyara bangun dan memeluk leher Papanya.
"Ingat ya, jangan cape-cape."
"Siap, Ma." Ayyara juga memeluk Mamanya.
Abima mengalihkan pandangan ke arah kedua putranya. "Kalian Papa tugasin buat jaga adek kalian. Jangan sampai terjadi sesuatu."
Deon ataupun Gian tak menjawab. Keduanya bangkit dan langsung menuju kamar masing-masing. Tak lama, keduanya kembali dengan stelan olahraga. Pandangan keduanya masih terlihat kesal.
"Ayo!" Ucap Deon.
Ayyara bangun dan menyalimi kedua orang tuanya. Setelah itu, dia menggandeng Deon dan Gian keluar rumah. Kedua lelaki itu hanya bisa mengepalkan tangan, menyalurkan rasa kesal mereka.
Deon dan Gian melepaskan gandengan Ayyara dengan kasar saat tiba diluar rumah. Wajah keduanya benar-benar terlihat kesal.
"Ih, abang kok kasar, sih?" Ayyara merengut, tak suka.
"Lo bisa ngga, ngga ngerepotin orang?!" Deon mengeraskan rahangnya sambil menunjuk wajah Ayyara.
"Tau ngga? Beban kaya lo, ga pantas ngerepotin kita." Gian juga molot padanya. Suara mereka sengaja mereka kecilkan agar tak terdengar oleh Mala dan Abima.
"Ya udah. Kalo lo berdua ngga mau, biar gue sendiri." Ayyara langsung berlari keluar gerbang, meninggalkan Deon dan Gian.
"Sialan!" Umpat Deon. "Ayo, Gi!" Keduanya langsung berlari mengikuti Ayyara.
Ayyara hanya berlari pelan. Ia sedikit melirik ke belakangnya. Deon dan Gian juga sedang berlari mengikutinya. Ia berhenti sejenak. Bagaimanapun, ia belum benar-benar pulih.
"Kalo lo sampe berulah, gue ga segan nyakitin lo." Suara Deon terdengar datar. Ayyara hanya meliriknya sekilas, kemudian melanjutkan larinya. Deon dan Gian kembali mengikutinya.
Saat tersadar kedua cowok itu lengah, Ayyara tersenyum licik. "Haha, gue kerjain lo berdua. Gue pastiin lo berdua bakal dimarahin Papa." Gumamnya dalam hati, lalu berbelok di pertigaan. Ia berlari dengan sekuat mungkin agar Deon dan Gian tak bisa menemukannya.
Kedua cowok itu terus melempar candaan sambil membicarakan Vanya, Elen dan cewek-cewek cantik di sekolah mereka. Hingga tiba di pertigaan, Gian mulai tersadar.
"Kemana si cupu?" Ujar Gian langsung menghentikan larinya. Deon pun turut menghentikan larinya. Ia menoleh kiri kanan mencoba menemukan Ayyara.
"Anjir! Benaran hilang tu bocah." Ujar Deon saat tak menemukan Ayyara.
"Mampus kita. Bakal dimarahin Papa." Gian mengacak rambutnya kasar. Mereka tahu, Ayya jarang keluar. Jika gadis itu tersesat dan terjadi apa-apa padanya, habislah hidupnya dan Deon. Abima dan Mala tidak akan memaafkan mereka.
"Cari-cari! Gue yakin, dia masih sekitaran sini."
"Ya udah. Lo ke kiri, gue ke kanan." Pinta Gian dan langsung mendapat anggukkan Deon.
"Sialan lo Ayya! Ngerepotin aja." Umpat Deon sambil berlari ke arah kiri jalan.
Merasa tidak bisa ditemukan Deon dan Gian lagi, Ayyara berhenti berlari. Ia mengambil nafas panjang dan membuangnya. Rasanya sangat bahagia bisa mengerjai abang-abangnya.
"Lega banget rasanya. Gue jadi rindu susana jalanan. Gue juga rindu sama Reka." Gumamnya.
Ayyara kembali melanjutkan jalannya. Ia berjalan pelan dan kembali berhenti ketika tiba-tiba mendengar suara seseorang minta tolong. Ayyara mengedarkan pandangannya dan melihat seorang Ibu hamil sedang memegang perutnya sambil duduk di kursi halte. Ia segera menghampirinya.
"Astaga, Ibu kenapa?" Ayyara juga ikut khawatir melihat si Ibu yang meringis kesakitan.
"Aduh neng, saya mau melahirkan neng."
Mendengar jawaban si Ibu, Ayyara menoleh kiri kanan, berharap ada kendaraan yang lewat. "Gimana ni, Bu. Ga ada kendaraan yang lewat."
"Aduh neng, sakit banget."
Alula berlari ke tengah jalan, dengan harapan ada mobil atau transportasi umum yang lewat. Saat hendak kembali ke halte, sebuah mobil mewah datang dari arah kanan jalan. Dengan senyum merekah, Ayyara memberitahukan si Ibu.
"Ada mobil, Bu." Ujarnya.
Tanpa berlari ke pinggir jalan, Ayyara melambaikan tangannya, menghentikan mobil. Ia yakin, jika dirinya terus berada di tengah jalan, pemilik mobil itu akan berhenti. Dan sesuai prediksinya, mobil tersebut benar-benar berhenti. Pemilik mobil menurunkan sedikit kaca mobilnya.
"Om tolongin Ayya, om. Bantuin anter Ibu ini ke rumah sakit. Dia mau melahirkan."
"Masuk!" Balas lelaki itu, begitu singkat.
Tanpa berpikir panjang, Ayyara segera menuntun Ibu itu berjalan memasuki mobil. Ia mengambil tempat disamping Ibu tersebut sambil sesekali mengusap keringat di dahi si Ibu.
"Jalan om!" Perintahnya, bak pemilik mobil.
Cowok dengan kaca mata yang masih setia membingkai wajahnya itu melajukan mobil dengan sedikit cepat. Sesekali ia menatap ke belakang melalui spion. Terlihat, gadis yang ia yakini bukan siapa-siapanya Ibu tersebut, begitu pandai memperlakukan si ibu. Seolah yang akan melahirkan adalah Ibunya.
Mobil berhenti tepat di tangga masuk rumah sakit. Ayyara dengan cepat turun dan menuntun Ibu tersebut. Beberapa suster membantu Ibu itu berbaring di brankar dorong lalu membawanya masuk.
Setelah suster membawa ibu tersebut masuk, Ayyara berjalan mendekati mobil. Ia mengetuk kaca mobil pelan, sehingga pemilik mobil menurunkan sedikit kacanya.
"Terima kasih, om. Udah bantuin kita." Ujarnya. Mendengar Ayyara kembali memanggilnya om, cowok tersebut menurunkan kaca mobilnya dengan sempurna.
"Gue bukan om-om!" Tegasnya, lalu melajukan mobil begitu saja.
"Mampus gue salah manggil orang. Ternyata masih muda. Gue pikirnya udah om-om. Kan jarang tuh, yang muda-muda mau nolongin orang." Garutunya. "Ya udah deh, lain kali kalo ketemu lagi, gue ga bakal panggil om." Sambungnya, lalu bergegas masuk ke rumah sakit, untuk melihat kondisi si Ibu.
***
Deon dan Gian hanya mampu menunduk menghadapai kemarahan Abima dan Mala. Sudah cukup lama mereka mencari Ayyara, namun gadis itu tak berhasil mereka temukan.
"Papa sudah bilang, jaga Ayyara! Apa kalian tuli, hah?! Apa saja yang kalian lakukan sampe adik kalian hilang?! Hah?! Ayo, jawab!!" Bentak Abima.
"Pa, kita udah jagain Ayya dengan baik." Ujar Deon.
"Terus, kenapa Ayya bisa hilang?!" Abima tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia hampir saja kehilangan putrinya itu. Bagaimana bisa ia kehilangan untuk kedua kalinya.
"Jika Ayya tidak segera di temukan, jangan pernah berbicara dengan Mama." Ujar Mala.
"Kita udah cari kemana-mana, Pa, Ma. Tapi Ayya ga kita temui, Pa."
"Diam!" Bentak Abima. "Astaga... Kakak macam apa kalian!" Abima terlihat begitu frustasi.
"Ya Tuhan, putriku tidak begitu mengenal dunia luar, tolong lindungi dia." Gumam Mala. Air matanya terus berderai meski ia sudah menghapusnya.
Abima mengahampiri sang istri dan memeluknya. "Tenanglah. Kita akan mencarinya. Aku juga akan meminta orang-orangku untuk mencarinya." Abima berusaha menenangkannya.
Abima meraih handphonenya, hendak menelpon orang-orang kepercayaannya. Namun belum sempat ia mendial nomornya, hp Deon berbunyi.
"Ayya, Pa." Ada kelegaan di wajah cowok itu. Dan Abima, dia segera meraih hp tersebut dari tangan Deon dan menjawabnya.
"Hallo nak, ini Papa."
"Papa?"
"Iya, nak. Kamu dimana?"
"Ayya di rumah sakit Asri."
"Kamu kenapa? Ya Tuhan... Tetap disitu. Papa akan segera kesitu." Abima langsung mematikan panggilannya, kemudian meraih kunci mobil.
"Ayo, Ma! Kita ke rumah sakit Asri. Ayya ada di sana." Ujar Abima dan langsung diangguki Mala.
Lelaki itu menoleh pada kedua putranya dengan tatapan tajam. "Kalian berdua juga pergi! Kalian yang jadi penyebab Ayya di rumah sakit. Kalian juga yang harus tanggung jawab!" Tegas Abima, lalu menggandeng istrinya keluar.
Mobil yang melaju cepat mempersingkat waktu untuk tiba di rumah sakit. Abima dan Mala tergesa masuk. Deon dan Gian, mereka juga bergerak cepat turun dari mobil dan mengikuti kedua orang tua mereka.
Ayyara yang terduduk di lobby, segera bangun dan melambaikan tangannya pada Mama dan Papanya.
"Ya ampun, nak. Apa yang terjadi sama kamu?" Mala memeluk erat putrinya. Sementara Abima, ia membelai sayang rambut sang putri.
"Kamu ngga apa-apakan?" Tanya Abima.
"Ma, Pa, Ayya ga apa-apa. Ayya disini cuman anterin ibu-ibu yang mau melahirkan. Ngga terjadi apa-apa sama Ayya."
"Syukurlah." Ucap Mala dan Abima bersamaan.
Ayyara menoleh pada kedua abangnya. Ia tersenyum mengejek, seolah mengatakan ia berhasil menjalankan rencananya.
"Maaf ya, bang udah buat kalian khawatir. Soalnya kalian larinya lelet, terus pake becanda lagi. Ya Ayya tinggalin. Eh pas mau balik, ketemu ibu-ibu yang mau lahiran. Jadi Ayya bantuin dan ga jadi pulang." Ucap Ayyara membuat kedua cowok itu mengeraskan rahang mereka. Bagaimana bisa gadis itu menceritakan apa yang sudah mereka tutupi dari Abima dan Mala? Jika begini, habis sudah mereka mendapatkan hukuman dari Abima.
Mendengar ucapan Ayyara, Abima menatap sengit kedua putranya. Mereka tidak menceritakan yang sebenarnya padanya. Dia akan memberikan hukuman pada keduanya.
"Ayyara sialan!" Umpat keduanya dalam hati masing-masing.