Lanjutan Dari Novel Terpaksa Menikah. Sebelum membaca kisah dari Anak - Anak Raka dan Eva beserta sahabatnya. Mohon di baca untuk Season pertamanya.
Sebelum ke sini tolong baca dulu Terpaksa Menikah.
Memilih pasangan yang pas, seperti sang mama adalah keinginginan Rava Atmadja. Banyak keinginan yang ia dasari dari kisah cinta papa dan mamanya, yang bersatu karena sebuah kesalahan. Kesalahan yang menurut sang papa dan juga mamanya, adalah berkat dan kebahagiaan dengan hadirnya, Rava di kehidupan mereka.
.
Karena di Jodohkan oleh sang mama dengan anak sahabatnya, Rava mencoba untuk lari dari kenyataan. Dan berusaha untuk memilih yang terbaik antara pilihan sang mama dan juga pilihannya sendiri. Mari baca dan berikan dukungan kalian. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPA : KAKAK BERADIK.
Dalam perjalanan, Rava hanya terdiam. Membuat Vara merasa merinding, karena ia tidak suka suasana hening, seperti di kuburan saja pikirnya.
"Kak Rava." panggilnya ke Rava.
"Hemmmm." balas Rava tanpa menoleh ke adiknya.
"Kenapa kak Vanessa ada di sini, Kak? Bukankah, dia ada di Irlandia?" tanya Vara penasaran.
"Bukan urusan kita, tidak perlu di pikirkan."
"Tapi Ka... Vara sangat tidak suka melihat dia, bersama kakak." ucap Vara dengan bibir yang di kerucutkan dan menoleh ke jalan.
"Terus, Vara sukanya kakak sama siapa?" ledek Rava.
"Sama siapa aja , kecuali kak Vanessa."
"Hemmm.... sama Kak Renata boleh dong ya?" ucap Rava menimpali.
"Nggak boleh juga, Vara gemes sama kak Renata!"
"Sssttt... Enggak baik begitu! Renata baik sayang."
"Tidak! pokoknya tidak. Awas saja kalau kakak menerima perjodohan mama dan bibi Casandra." ancam Vara.
Rava mengacak rambut adiknya dengan gemas.
"Kau ini, kenapa menjadi cerewet sekali!"
"Kakak!"
Rava tertawa melihat wajah adiknya berubah kesal.
"Sudah... jangan kesal - kesal. Temani kakak makan siang." ucap Rava.
"Lebih tepatnya, Late Lunch kakaku sayang."
"Ohh iya... kakak lupa kalau ini uda sore." balas Rava.
"Karena kakak uda T."
Rava mengernyitkan keningnya, karena bingung.
"Apaan itu T?" Rava penasaran.
"TUA!!!" Vara terkikik.
"Sialan! Adik durhaka kamu." ucap Rava kesal.
Akhirnya abang beradik itu tiba di salah satu Resto ternama di Negara tersebut. Resto yang menyajikan berbagai olahan makanan daging.
"Pesanlah, Vara" ucap Rava saat mereka sudah duduk di salah satu meja.
"Ambil nafas dulu kak."
"Emangnya kamu sedang berenang! Jangan bercanda."
"Ya udah, Kakak duluan. Adik mau foto - foto dulu, mau posting ke Instagram." balasnya dengan mengambil gambar dirinya.
"Kau itu aneh! Kakak bilang pesan sekarang, kalau tidak akan kakak lempar ponselmu."
"Astaga Kak, kenapa dirimu selalu cerewet? Kakak akan tampak tua jika selalu marah - marah padaku." ucap Vara dengan menyimpan ponselnya ke dalam tas. Lalu ia mengambil menu makanan yang ada di hadapannya.
Rava melirik tajam, menendang kaki Vara dengan kesal. Vara yang merasa tendangan Rava meringis sakit.
"Kakak!"
"Jangan membentakku! Kau lihat pelayan yang di depanmu ini? Apa kau senang kita menjadi tontonan?" Rava memberikan kode ke pelayan yang menjamu mereka.
Lirikan Rava, membuat arah pandangan mata Vara mengikutinya. Mengubah pandangannya dan melirik ke pelayan resto, "Apa kau mengerti yang kami katakan?" tanya Vara ke si pelayan yang mengernyitkan keningnya pertanda bingung.
"Syukur, dia tidak mengerti apa yang kita katakan kakak," ujar Vara dengan senang.
"Sudah pesanlah! Jangan membuang waktu Kakak."
Dengan cepat Vara memilih makanan yang hendak ia makan, begitu juga Rava. Si pelayan mencatat dan mengulang setiap menu makan yang mereka pesan. Usai di rasa pas, pelayan izin untuk meninggalkan meja mereka.
"Apa setiap hari makanan kamu segitu banyak, Vara?" tanya Rava dengan tatapan menelusuri wajah Vara.
Vara menggelengkan kepalanya. "Tidak, karena kakak yang membawaku makan, aku harus banyak makan. Karena selama ini, Vara jarang keluar. Tidak punya teman yang pas untuk di ajak jalan."
"Kenapa? Apa uang yang kakak kirimkan sudah habis?" tanya Rava penasaran.
"Bukan, Vara hanya menghemat. Karena Vara tidak mau menyusahkan kak Rava , mama dan juga papa. Walau kalian semua memiliki banyak uang."
"Baguslah, Kau harus belajar sejak dini. Menabung apa saja yang bisa kau tabung, siapa tahu suatu saat kakak dan papa mu bangkrut! " Rava asal bicara.
"Kakak apaan sih! Garing banget. Gak lucu tahu!"
"Yeee... Kakak bukan seperti sepupu ingusanmu!"
"Jangan menyebut namanya Kak! Vara merinding. Oh ya, bagaimana kabar mama dan papa , Ka? Vara sangat merindukan mereka."
"Mama dan papa baik, mereka juga merindukanmu. Jika kau libur dari kampusmu, ikutlah kakak pulang."
Vara melototkan matanya karena senang.
"Seius kak!"
"Ssstt... pelankan suaramu. Kau mau kita menjadi tontonan? kakak serius, asal kau rajin belajar." imbuh Rava.
"Hemmm... kakak duduk denganku seperti ini saja, sudah membuat kita menjadi tontonan orang." ucap Vara sedih.
"Apa kau tidak suka berjalan dengan kakakmu?"
"Bukan seperti itu, Vara sangat suka. Karena Vara bisa makan banyakkkkkk."
"Dasar kau gadis rakus!"
"Kakak!"
"Jangan berteriak dengan kakakmu. Kau ini, Tidak sopan sekali."
Tiba - tiba pelayan datang memutus percakapan kakak beradik itu. Semua pesanan tiba dengan menu yang sudah mereka pesan. Pesanan itu membuat meja mereka terisi penuh, hampir saja tidak cukup. Membuat Rava malu, dia merasa kali ini dia membawa tong sampah berjalan.
Seusai makan, Rava membawa Vara untuk pulang ke Apartmentsnya. Dengan perut yang penuh, membuat hasrat Vara seketika itu juga, untuk menidurkan tubuhnya. Itulah Vara, kalau perutnya sudah terisi penuh, menjadi sangat kenyang bawaan matanya membuat ia ingin tergeletak.
"Hoaaaammmm." Vara menguap, dengan cepat Rava menoleh.
"Tidak sopan! Jorok banget" sentak Rava.
"Kakak... Vara sangat mengantuk. Bolehkah, Vara bobok kak?" tanya Vara dengan menoleh ke Rava.
"Kau seperti Kebo saja! Sudah sana tidur, nanti kalau sudah sampai kakak bangunkan." ucap Rava.
"Sampai di mana, Kak?" tanya Vara dengan memejamkan kedua matanya.
"Kebun binatang." balasnya kesal.
"Kakak..." rengek Vara.
"Sudah... tidurlah."
"Baiklah, Kak."
Rava menyusuri malamnya kota itu, terkadang sesekali melirik ke arah adiknya yang mulai menimbulkan suara dengkuran, membuat kuping Rava merasa risih.
"Kenapa anak ini tidurnya seperti itu?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Tiga puluh lima menit, Rava akhirnya tiba di depan gedung Aparments Vara. Dengan cakep, ia mengemudikan Mobilnya masauk ke dalam basement. Langsung saja, Rava membangunkan sang adik saat ia sudah memarkikran mobilnya.
"Vara, bangun sayang." katanya dengan mengguncang pelan tubuh adiknya.
"Kita sudah sampai kak?" tanyanya saat kakanya menatap wajahnya.
"Sudah... Ayo turun, biar kakak antar ke atas.
"Tidak usah Kak, pulanglah. Vara yakin kakak sudah sangat lelah seharian ini."
"Tidak, Kakak akan mengantarkan kamu, sampai ke kamarmu."
Langsung saja, Rava berjalan keluar dari mobilnya tanpa menunggu sang adik. Dengan rasa kesal, Vara turun dari mobil dan mengejar sang kakak.
Di dalam Lift, Vara tidak berhenti mengoceh. Membuat kepala Rava seakan mau pecah. Tiba di depan kamar Vara.
"Sudah, pulanglah Kak."
"Kau mengusir kakakmu?" tanya Rava dengan menatap tajam ke Vara.
"Hayahhh... kalau kakak tiap hari begini, mungkin Vara bis jadi perawan tua."
Plakkk....
"Kakak!" seru Vara, seraya menyentuh kepalanya.
"Jangan berteriak di depan kakakmu! Kau itu masih berkuliah, kenapa sudah memikirkan perawan tua segala! kakakmu saja belum laku!"
"Kenapa kakak malah berteriak denganku! Sudah masuk, aku malu kalau di dengar tetangga!"
Vara langsung saja membuka sepatunya dan menggantikan alas kakinya dengan sandal rumah berwajah kucing.
"Buka sepatu kakak! Dan pakailah itu!" perintah Vara, menunjuk sandal rumah berwajah kelinci.
"Astaga... kenapa harus seperti ini? Ini menggelikkan Vara. Kau ini ada - ada saja!"
"Kakak... Kalau tidak ma memakainya, kakak keluar saja!"
"Adik durhaka! Aparmentsmu ini milikku!"
"Tidak perduli! Adikmu , tuan rumah di sini." ucap Vara lalu berjalan meninggalkan Rava.
"Astaga... punya Adik kenapa keras kepala seperti ini?" umpat Rava , dengan berat hati akhirnya Rava memakain sendal wajah Kelinci yang tersenyum saat menatap ke bawah.
"Apa kau senyum - senyum!" ucapnya pada sang sandal.
Rava berjalan masuk, melihat seluruh si kamar sang Adik. Vara sangat rapi, tidak ada satupun barang yang berserak. Semuanya pada posisi masing - masing , ada juga foto keluarga mereka yang terpajang di salah satu sudut ruangan kamar Vara. Tampak sangat jelas , foto itu terlihat dari ruangan tamu. Foto Rava dan Vara yang bersamaan, bermesraan , hingga berantam juga terpajang rapi di dinding ruangan tamu.
"Duduklah Kak." ucap Vara sembari meletakkan susu putih kesukaannya.
"Apa kau masih minum susu?"
"Yah... bukankah, mama juga masih memberikan papa susu saat sebelum berangkat bekerja dan sebelum papa tidur?"
"Baguslah, kau mengingat ajaran mama."
"Vara sangat merindukan mama," ungkap Vara seraya mendudukan tubuhnya.
"Buat panggilan Video sama mama, apa susahnya?" tanya Rava dengan meneguk habis susu putih yang di buat Vara untuknya.
"Bukan tidak mau kak, Vara hanya takut buat mama sedih. Kasihan mama merindukan, Vara terus." ucap Vara dengan rasa sedihnya.
"Jangan bersedih, kakak akan membawamu pulang saat liburan tiba. Yang penting, Kau harus rajin belajar."
"Vara rajin belajar, kakak uda lihat semua koleksi buku yang kakak kirim buat Vara? Itu semuanya ada di rak buku yang kakak design buat Vara." Tunjuknya pada rak buku pembatas ruangan tamu dengan ruangan menontonnya.
"Yaa... Kakak tahu, Vara sangat pintar." ucap Rava seraya berdiri dan menyentuh kepala adiknya dengan lembut. "Beristirahatlah, Kakak mau pulang. Apa pun yang menjadi masalah kamu di sini, beri tahu Kakak. Kakak akan menetap di sini, sampai Vara dan Defan di wisuda."
"Benarkah Kak?" tanya Vara kaget.
"Ia... Apa kau tidak senang?"
"Hemmm... Bukan begitu. Hanya saja , kalau kak Rava di sini Vara seperti di jepit di mana - mana."
"Jangan berkata seperti itu! Fokuslah pada masa depanmu."
"Baiklah cerewet!" ucap Vara lalu berjalan membawa kakaknya ke arah pintu.
Rava tersenyum melihat adik kecilnya. Di matanya, Vara itu masih anak bocah yang masih manja - manjanya. Tapi kali ini dia salah, adiknya sudah berubah. Sudah sangat dewasa , semenjak Vara di tinggal Rava kembali ke Jakarta.
"Kakak... Berhati - hatilah di jalan. Jangan main - main, Enggak baik bermain di jalanan." ucap Vara menatap kakaknya di depan pintu.
Rava kembali tersenyum, dan mengacak rambut sang adik. Membuat Vara menjadi kesal karena kakaknya memperlakukannya seperti kucing.
"Kakak!"
"Jangan berteriak pada kakakmu , Vara! Sudah sana masuk. Oh ya... Lain kali kalau kakak datang, kau harus membelikan Sandal rumahan yang khusus buat Pria tampan seperti kakakmu, Kau mengerti?"
"Hemmmm... Tampan! Tapi mulutnya seperti saos cabe."
"Sudah sana masuk... Kakak pusing mendengar ocehanmu." ucap Rava mendorong tubuh Vara agar seerah masuk ke kamarnya. Sesudah ia rasa Vara tidak keluar lagi, Rava berjalan ke arah Lift meninggalkan area kamar Vara.
Sesampainya di Basement, dengan cepat Rava melajukan mobilnya meninggalkan gedung Apartments menuju kediamannya. Beberapa menit, ia menyusuri jalanan malam kota itu, tampak dari arah Cafe. Wanita yang menumpahkan kopi di jasnya tadi pagi, sedang mengayuhkan sepedanya dengan lambat.
Rava melambatkan laju mobilnya , melirik sesekali ke arah samping jalan. Ayuhan sepedanya, terlihat jelas menggambarkan kelelahannya. Perusahaan Rava dengan Cafe di mana Alice bekerja, tidaklah berjauhan. Cafe di mana Alice bekerja, berada hampir di perempatan kota besar itu, sedangkan Perusahaan Rava berada di pertengahan. Begitu juga dengan Apartments Vara, Rava memang sengaja membuat Vara tidak juah dari pantaunnya. Bukanlah suatu kebetulan, malam itu Rava bertemu dengan Alice. Jam pulang kerja Alice, berketepatan dengan kepulangan Rava dari Apartments adiknya.
"Gadis penuh misteri. Kenapa bisa mengayuh sepeda dengan wajah yang di tekuk seperti itu?"
.
.
Bersambung
....
Jangan lupa tekan Like dan VOTE ya. Untuk Update, saya tidak bisa seperti Terpaksa Menikah. Karena Novel on Going saya lainnya masih ada. Terima Kasih ya 🥰😍
terima kasih krn masih mau menulis cerita untuk kami di sini 😍😍