Tepat di hari pernikahan Aaron.
Zianca dan Aaron akhirnya di pertemukan kembali setelah berpisah selama bertahun-tahun. Ternyata kini Zianca tengah menjalin hubungan dengan kakak laki-laki Aaron, Lucas pria dingin dan misterius itu kini sangat mencintai dan terobsesi dengan sosok Zianca. Namun di balik hubungan Zianca dan Lucas, ada rahasia besar di dalamnya.
Setelah kembali bertemu, Zianca dan Aaron perlahan memperbaiki hubungan pertemanan mereka. Namun, siapa sangka jika Aaron masih menaruh hati padanya. Lucas yang menyadari hubungan antara Aaron dan Zianca yang tampak tak biasa itu mulai terganggu, ia mulai bersikap semakin posesif dan over-reaction terhadap Zianca, bahkan ia sampai menyakiti Zianca tanpa ia sadari.
Perselisihan semakin memanas di antara ketiganya, hingga akhirnya Lucas sadar jika Zianca selama ini tidak mencintainya, melainkan ingin membalas dendam padanya atas kemaatian kakak perempuannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunita tri maryadi Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6 : Penuh Kejutan
Sebelumnya ia hanya memakai barang-barang bekas milik Mikha, mulai dari ponsel jadul bekas kakaknya, tas dan sepatu juga bekas kakaknya yang masih layak pakai.
Saat Zianca menggunakan uang tabungannya waktu itu, ayah dan ibunya sempat marah dan terkejut karena berpikir dia telah melakukan hal buruk untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Meski sudah memberitahu kedua orang tuanya, ibunya masih saja curiga padanya, namun ayahnya telah yakin jika Zianca memang menabung uang tersebut, karena ia gadis yang sangat hemat. Ditambah ibunya tidak tau jika ayahnya kerap memberi uang saku tambahan, karena tau istrinya tidak memberi uang saku yang cukup untuk Zianca. Bahkan kerap mengambil uang saku tambahan pemberian ayahnya diam-diam.
Awalnya sang ayah selalu terbuka tentang uang saku tambahan Zianca, namun ibunya pernah beberapa kali ketahuan diam-diam mengambil uang saku pemberian ayahnya yang di tinggalkan di atas meja makan. Saat itu ayahnya mulai memberi uang saku tambahan secara diam-diam.
Zianca tidak pernah mengeluh soal uang sakunya, berapapun yang diberikan dia akan selalu menerimanya dengan senang. Namun ia hanya tidak tahan jika harus mendengar omelan dari ibunya yang tanpa sebab.
Zianca segera memakai sepatunya, lalu keluar rumah, tak lupa ia segera mengunci pintu rumahnya. Lalu meletakkannya di bawah pot bunga seperti biasa.
Namun saat keluar dari pagar rumahnya, ia tersentak.
Tubuhnya mematung.
"Morning.." sapa Aaron tersenyum manis.
"Kamu ngapain disini??" Seru Zianca kaget.
"Ya jemput kamu lah.. yuk pergi bareng.." serunya santai.
Zianca melongo melihat mobil mini cooper berwarna biru putih milik Aaron yang tampak sangat mewah. Lalu ia melihat ke sekeliling, banyak pasang mata tetangga yang melihat ke arah Zianca. Maklum saja, dia tinggal di komplek perumahan yang biasa saja, jadi tetangganya kerap menjadi sangat julid dan kepo.
"A..aku udah pesan ojek online.." ujar Zianca bohong.
"Udah.. batalin aja.. mending uangnya kamu simpan aja.. yuk buruan.. nanti kita telat.." ajak Aaron lagi membuka kan pintu mobilnya untuk Zianca.
Dengan berat hati Zianca melangkah pelan masuk ke dalam mobil Aaron yang beraroma mint. Namun sebenarnya dia merasa di untungkan karena bisa menghemat uang sakunya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Aaron menyodorkan kotak makan dalam sebuah tas bekal kecil.
"Nih.." serunya menyodorkan itu pada Zianca.
"Apa ini.." tanya Zianca menerima tas kecil itu.
"Sarapan buat kamu.."
"Tapi aku udah sarapan.." tolak Zianca sungkan.
"Di makan nanti aja.. soalnya kalau aku tawarin lebih dulu.. kamu pasti bakal nolak terus.. jadi mulai sekarang aku bakal ngelakuin apapun yang aku mau tanpa persetujuan kamu.. karena aku nggak mau kamu tolak lagi.." jelas Aaron menatap Zianca intens.
Zianca merasa terintimidasi oleh tatapan Aaron. Ia lalu mengalihkan pandangannya, memegang erat kotak bekal itu.
"Terima kasih bekalnya.." jawab Zianca terpaksa. Dia benar-benar gelisah dan merasa tidak nyaman.
"Aku tau kamu merasa nggak nyaman.. tapi aku harap mulai sekarang kamu harus mulai terbiasa.." jelasnya lagi penuh penekanan.
Zianca hanya menelan salivanya gugup.
'Apa yang dia lakukan?? Tiba-tiba aku merasa aneh dan mual..' gumam Zianca membatin. Hal ini sering terjadi ketika Zianca merasa cemas dan gelisah yang berlebihan.
Aaron menyetir mobilnya dengan sangat keren, ia hanya berdiam diri sepanjang perjalanan, sementara Zianca berusaha tenang sepanjang jalan sambil mendengarkan lagu kesukaannya.
'Bahkan ia memutar lagu-lagu kesukaanku.. oh iya.. kemarin dia kan dengerin lagu ini dari earphoneku..' batin Zianca lagi dengan gelisah.
Aaron sama sekali tidak menoleh ke arah Zianca, maupun mengajaknya bicara.
Setibanya di parkiran, Zianca semakin gugup, banyak pasang mata menatap kagum pada mobil mewah Aaron, kaca mobil yang super gelap itu memang tidak tembus pandang dari luar, namun Zianca sudah membayangkan kehebohan yang akan terjadi ketika mereka melihat dirinya keluar darisana.
"Kamu nggak mau turun??" Tanya Aaron kemudian.
"Eh.. iya.." Zianca segera membuka safety-belt nya. Namun ternyata Aaron lebih dulu memegang safety-belt itu. Sentuhan tangan itupun tak terhindarkan.
Zianca segera menyingkirkan tangannya. Namun Aaron menahan tangan itu dengan gerakan cepat.
"Ingat.. mulai sekarang jangan abaikan aku lagi.." ujarnya lirih.
Bola mata Zianca membesar, Aaron pun tersenyum tipis. Zianca segera melepas pegangan tangan Aaron, melepas safety-belt nya dan berlari keluar.
"Zii..!!" Seru suara yang tak lagi asing dari arah belakang. Langkah Zianca terhenti. Ia membalikkan badan dengan ragu.
Puput dan Fina tengah melihatnya dengan tatapan meledek. Mereka melambaikan tangan sambil tersenyum sangat lebar.
Zianca segera berlari kecil menghampiri Puput dan Fina, menarik kedua lengan temannya, namun Aaron menghentikan langkahnya.
"Kenapa tidak di bawa??" Tanya Aaron menyodorkan kotak bekal pemberian Aaron tadi yang tak terbawa olehnya.
"Oh iya.. makasih ya.." senyum Zianca terpaksa.
"Pulang nanti aku tunggu disini ya.." timpal Aaron tersenyum segera pergi.
Zianca merasa kedua lututnya terasa lemas seketika.
"Lo pacaran sama Aaron?"
"Lo udah jadian sama Aaron??"
Tanya kedua temannya bersamaan.
"Tolong jangan bicarakan itu dulu.. gue aja nggak tau apa yang dia lakuin.." tukas Zianca kesal segera berlalu.
Samar-samar ia mendengar banyak pasang mata mencibirnya, karena melihatnya datang bersama Aaron ke sekolah.
Zianca adalah satu-satunya perempuan di sekolah yang pernah menaiki mobil Aaron.
****
Selama jam pelajaran seperti biasa Zianca selalu fokus tak peduli masalah apa yang sedang di hadapinya. Kini dia memiliki tujuan baru, yaitu mendapatkan beasiswa kuliah keluar negeri. Ia butuh nilai maksimal untuk memenuhi syarat. Zianca terbilang cukup pintar di sekolahnya. Meski hanya masuk 10 besar, namun ia sangat aktif dalam banyak kegiatan di sekolah. Setelah kelas 12 semester 2 dia tak lagi mengikuti kegiatan sekolah karena ingin fokus untuk kelulusan.
Setelah jam mata pelajaran kedua selesai, Zianca di panggil ke ruang guru saat jam istirahat. Pagi tadi ia telah mendiskusikan perkara beasiswa kuliahnya, ia meminta saran dan bimbingan dari wali kelasnya. Itu sebabnya, kini dia di panggil ke ruang guru.
"Zizi mana?" Tanya Aaron pada Fina dan Puput yang tengah membeli minuman dingin di kantin.
"Ohh.. dia lagi di panggil ke ruang guru.." jawab Puput mode ramah.
"Ruang guru?? Kenapa??"
"Hmm.. nggak tau sih.. katanya ada perlu.." jelas Puput lagi mengangkat kedua bahunya.
Aaron kemudian segera keluar dari kantin menuju ruang guru. Dari luar ia berusaha mengintip ke dalam ruang guru. Lalu ia menemukan sosok yang ia cari tengah duduk dan tampak serius bersama wali kelasnya Pak Cahya. Pak Cahya tampak berbicara serius pada Zianca dan sesekali tersenyum hangat padanya.
"Put.. liat deh.. Aaron lagi ngeliatin apa sih?? Kok serem banget cara ngeliatnya??" Seru Fina setengah berbisik saat melihat Aaron yang berdiri membatu menghadap jendela ruang guru.
"Eh.. iya.. nggak pernah-pernah gue liat dia kayak gitu.." sahut Puput memperhatikan.
"Yaudah ah.. yuk ke perpustakaan.. gue mau minjem buku kimia. Makalah gue belum kelar nih.. nanti jam istirahat keburu habis.." seru Fina menarik tangan Puput segera pergi.
Setelah membahas banyak persiapan dan kebutuhan menjelang pendaftaran beasiswa, Zianca segera keluar dari ruang guru, ia kini semakin bertekad untuk mencoba beasiswa itu.
Deg !!
Mata mereka saling bertemu. Aaron berdiri di lorong menatap Zianca dengan tatapan aneh.
Zianca melihat ke sekeliling mengalihkan tatapan Aaron. Lalu Aaron menarik tangannya keras menuju kantin. Ia mendorong pundak Zianca duduk di kursi kantin.
"Kamu mau ngapain??" Tanya Zianca bingung. Lagi-lagi Aaron bertindak sesukanya. Ia tampak memesan sepiring mi goreng bakso pedas dan mengambil sebotol minuman dingin dari dalam kulkas.
Aaron lalu membawa makanan dan minuman itu ke hadapan Zianca.
"Buruan makan, bentar lagi jam istirahat selesai.." ujarnya datar.
Kaka gak ada akhlak