Rana Anandita, seorang gadis remaja yang baru saja duduk dibangku kelas 2 SMA. Disinilah Rana mulai mengenal yang namanya jatuh cinta. Bertemu seseorang yang membuatnya malu tanpa sebab. Rana tidak pernah menyangka jika pertemuannya dengan pemuda yang bernama Zevan, akan mengubah beberapa hal dalam hidupnya.
Bukan hanya tentang perubahan, namun sebuah kebenaran dibalik orang-orang terdekat Rana. Rana mulai menyadari, tidak semua orang yang bersikap baik padanya selalu memiliki niat baik juga.
Dengan adanya Zevan, Rana mulai menghabiskan banyak waktu dengannya, meninggalkan sahabat kecilnya Dean. Rana yang selalu bersama Dean kemanapun kini posisi Dean tergantikan oleh Zevan.
Zevan menunjukkan banyak cinta kepada Rana. Menjadikan pasangan ini layaknya bucin dimata teman-teman mereka. Namun Rana sangat beruntung, mendapatkan pemuda sebaik Zevan, pemuda yang mungkin tidak akan pernah kalian temui didunia kalian.
Selamat Membaca !!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atps0426, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LB - 6
Bel pulang sekolah berbunyi sangat nyaring, semua murid berhamburan keluar kelas. Entah mengapa, namun ini adalah waktu dimana para murid merasa terlepas dari beban yang memenuhi otak mereka. Belajar memang membosankan, tapi itu kewajiban. Sungguh nasib.
Rana, Latu, Mia dan Ovi berjalan keluar kelas sambir berbincang ria. Latu yang sibuk membicarakan mengenai turnamen tinju yang akan ia ikuti dalam beberapa bulan kedepan. Mia yang mengeluh karena soal matematika yang sulit ia pahami. Sedangkan Rana dan Ovi hanya mendengarkan dan mengiyakan perbincangan yang membingungkan itu.
"Ran, tuh belahan jiwa loe." kata Ovi yang membuat ketiga temannya terdiam dan menoleh kearah siswa itu.
Dean dan teman-temannya juga mendengar apa yang dikatakan oleh Ovi. Mereka pun menoleh dan berdehem menggoda Rana dan Dean.
"Sialan kalian, yaudah gue duluan ya." pamit Rana seraya memegang tas Dean dan berlalu pergi.
"Aaahhh, mereka itu so sweet banget tau gak. Jadi iri gue" ujar Latu dengan antusias. Mereka yang mendengar sangat setuju dengan Latu. "Mana ada cowok yang mau sama loe? Ntar loe pukulin mulu cowoknya. Hahahah" celetuk Tito yang langsung dibalasan bogeman tangan oleh Latu.
Dean mengeluarkan motornya dari parkiran, tak sengaja ia melihat Zevan lalu menyapanya. Zevan menyahuti sapaan Dean, dan mereka memulai perbincangan singkat.
"Gila, seriusan loe?" Tanya Zevan terkejut mendengar kalau Dean sangat menyukai sepak bola, dan mereka menyukai club bola yang sama. Setelah tau beberapa kesamaan, mereka meneruskan perbincangan singkat itu menjadi perbincangan yang sangat panjang. Bahkan Dean sampai lupa jika Rana menunggunya dipintu parkiran.
"Eh, curut. Malah ngobrol disini, kasihan tuh princess loe kayak gembel." sela Bayu menghentikaan perbincangan kedua temannya itu.
Dean menepuk jidatnya, dia benar-benar lupa kalau Rana sedang menunggunya. "Gue main ke rumah loe deh, kita ngobrol lah, sekalian main." kata Zevan pada Dean. Tentu saja Dean mempersilahkan Zevan yang ingin main kerumahnya.
Terlihat Rana yang sedang tertawa gembira menerima telepon yang masuk diponselnya. Kini giliran Dean yang menunggu Rana seraya berbincang dengan Zevan. Tak lama gadis itu berlari riang menghampiri Dean.
"Deaaan, Papa gue malam ini pulang loh." cerita Rana pada Dean yang sibuk mengikatkan jaket dipinggang gadis itu. Sesekali Dean menanggapi cerita Rana dengan pertanyaan-pertanyaan kecil. Gadis itu terdengar sangat bersemangat dan gembira.
"Kok tumben Minggu ini? Harusnya Minggu depan kan ya?" Tanya Dean lagi. Rana dengan ceria menjawab kalau Papanya tidak akan lagi kerja keluar kota. Karena Papanya akan membuka toko mebel dikota dimana anak tunggalnya itu tinggal.
Papa Rana adalah seorang pengusaha mebel. Beliau meneruskan usaha keluarganya, karena itu terletak diluar kota. Sedangkan Rana saat itu, selalu menangis dan tidak mau pindah dari tempat tinggalnya. Rana kecil berkata kalau ia sangat menyukai kota kelahirannya itu, sudah nyaman katanya. Apalagi dia sangat menyayangi Dean dan tidak ingin berpisah dari Dean.
Saat itu, Papa Rana tidak masalah karena ada Mama Rana yang menjaga Rana kecil. Namun setelah kejadian nahas yang menimpa Mama Rana, membuat Rana kecil harus kehilangan kasih sayang seorang Ibu di usianya yang masih sangat belia. Sering kali Papa Rana khawatir, apakah ia mampu membesarkan Rana seorang diri tanpa sosok Ibu? Apakah ia mampu mendidik putri tunggalnya itu dengan baik? Itu adalah kekhawatiran seorang Papa.
Dean segera menyuruh Rana untuk naik kemotornya. Gadis itu bergegas naik dan masih saja bercerita pada Dean sepanjang jalan hingga mereka sampai dirumah.
"Dean tau gak? Gue seneng banget, seriusan sampai gak bisa berhenti ngomong." lanjut Rana lagi. Dean hanya tertawa Daan mengangguk. Tentu saja dia tau, gadis itu tidak berhenti bicara sedetikpun, bahkan sampai mereka sampai dirumah Rana tetap saja berbicara.
Rana baru menyadari kalau mereka tidak hanya berdua. Ia melihat seseorang dengan motornya disamping Dean. "Siapa?" Tanya Rana pada Dean. Dean tak memberitahu, ia menyuruh Rana menanyakan sendiri kepada orang tersebut. Tentu saja Rana yang penasaran segera menanyakan pada orang yang dimaksud.
Cowok itu memarkirkan motornya, menghampiri Rana, dan kemudian melepas helmnya. Mata Rana terbelalak, pipinya tiba-tiba merona. "Hai, kita udah ketemu beberapa kali. Gue Zevan." kata Zevan sambil mengulurkan tangannya.
Gadis itu masih terdiam, terpaku menatap sosok dihadapannya. Entah mengapa tangan Rana seakan begitu berat untuk membalas uluran tangan Zevan. Dean hanya tertawa kecil, ia menarik tangan Rana dan menyalamkannya pada Zevan. "Rana," ucap Dean dengan tawa kecil.
Dean segera berpamitan dan mengajak Zevan untuk kerumahnya. Rana masih saja terdiam hingga kedua cowok itu memasuki halaman rumah disampingnya. Yah, rumah Dean dan Rana memang bersebelahan.
"Jantung gue, kenapa?" Tanya Rana pada dirinya sendiri. "Kenapa rasanya gue seneng banget waktu dia bilang kita?" Pertanyaan yang hanya Rana sendiri yang bisa menjawabnya.