Cinta itu tak bisa dijelaskan seberapa besarnya. Orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun, tak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.
"Apa itu sangat menyakitkan? Kamu ingin menguburnya saja?"
"Ya, begitulah."
"Kamu bilang 'cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati.' Bagaimana dengan itu? Jiwamu telah terikat pada cintanya, jadi kamu akan terus memikirkannya?"
"Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di hati. Itulah cinta yang sebenarnya, cinta sejati. Sedangkan cinta yang lain, bisa berada di mana saja, bisa datang dan pergi."
"Jadi, jiwamu belum terikat sama sekali? Aku yang akan mengikat jiwamu."
'Sudah sejak lama Ardi. Hanya saja telah tersimpan, kunci hatiku entah hilang kemana, kamu harus cari.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rikha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dodol resek
Happy Reading 😘
🍂🍂🍂
"Kamu janjian sama Teo di mana Dim...," tanya Rindu saat telah duduk di jok belakang mobil Dimas. Lalu menyapa Dian di kursi depan penumpang.
"Di studio kakaknya Teo."
"Ooo... ok...! Oya, semalam Ardian datang ke rumah, Dia ngajak aku keluar hari ini, ketemu ceweknya buat konfirmasi kalau kami gak pacaran."
Dimas dan Dian saling pandang dengan muka kesal. Dian yang mengerti situasi sebenarnya melirik Rindu, dia tahu hati sahabatnya itu pasti sakit. Tatapan mata Dian seolah bicara pada Rindu 'Sabar ya Rin, ini pasti sulit buat kamu.'
"Lalu kamu bilang apa Rin?" tanya Dimas kemudian.
"Aku bilang gak bisa lah...!"
Muka Dian mulai masam.
"Jalan Dim... gue lagi malas ngebahas si kunyuk itu!"
Dimas yang mengerti tabiat Dian, patuh lalu melajukan mobilnya. Rindu menatap temannya bergantian. Rindu harus memikirkan cara supaya mereka berhenti marah. Rindu mengeluarkan HP dari tas, lalu menghubungkan ke Audio mobil Dimas.
Lagu 'Best day of my life - American authors' dipilihnya. Rindu menepuk bahu kedua temannya, mencoba mencairkan suasana tegang saat ini. Dimas dan Dian tersenyum saling pandang. Mengerti akan jalan pikiran Rindu.
"Yeaaa... lagu ini gue suka... Hoowww!"
Dimas mulai mengerakkan tubuhnya. Disusul Dian dan Rindu bersorak, melupakan kekesalan sejenak. Mereka mengikuti lirik bernyanyi penuh semangat. Gelak tawa kembali menceriakan suasana dalam mobil.
I had a dream so big and loud
I jumped so high I touched the clouds
Wo-o-o-o-o-oh, wo-o-o-o-o-oh
I stretched my hands out to the sky
We danced with monsters through the night
Wo-o-o-o-o-oh, wo-o-o-o-o-oh
I'm never gonna look back
Woah, never gonna give it up
No, please don't wake me now
This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife
This is gonna be the best day of my life
My li-i-i-i-i-ife
Kepekaan Rindu seperti ini yang membuat Sahabatnya sayang padanya. Mampu memberi solusi tanpa emosi. Mampu mengubah suasana hati tanpa banyak kata. Dari yang sedih menjadi senang. Dari yang tidak bertenaga menjadi bersemangat. Rindu adalah penguat bagi teman-teman nya. Rindu juga adalah obat bagi mereka. Rindu tempat mereka berkeluh kesah, membuat mereka nyaman berada di dekatnya.
"Dian... Dimas... Ardian WA aku nih," menunjukkan pesan dari Ardian.
"Balas aja Rin," jawab Dimas santai.
"Ardian minta share lokasi studionya, di kasih gak nih."
"Nanti aja, pas nyampe sana... Biarin dia nunggu, biar kapok," kata Dimas.
Dian pun tersenyum jahil. Kapan lagi bisa mengerjai si Ardian, biar tau gimana rasanya di cuekin.
"Ok... Aku gak balas lagi."
_____
Sementara di sisi lain. Ardian dengan sabar menunggu balasan pesan dari Rindu.
Sekarang dia ada di depan rumah Rindu. Mama Lia bilang kalau Rindu baru saja pergi, Ardian berniat menyusul.
"Di read doang? Ya ampun Rindu, balas cepat," gumam Ardian.
15 menit menunggu, ia mulai gusar dan akhirnya Ardian menelpon.
"Halo... Rindu, kamu dimana?"
"......"
"Kamu sama Dimas, Dian? Share Lokasi nya."
"......"
"Kelamaan lah... idah tanya Dimas aja, nama studionya apa? Aku nyusul ke sana."
"......"
"Ok... aku ke sana sekarang, bye."
Ardian menyalakan mesin motor lalu segera menyusul ke sana. Perjalan sekitar 30 menit, tidak lama Ardian sampai. Gedung dua lantai yang di bangun khusus untuk rekaman. Beberapa penyanyi dari kelas bawah hingga kelas atas pernah rekaman di sini. Studio ini milik keluarga Teo yang juga ada menjalin kerjasama dengan papanya.
Pintu masuk studio itu di bukanya. Matanya beredar mencari keberadaan Rindu Dimas dan Dian. Lalu Adrian melihat Rindu sedang bersalaman dengan Tio dan Bram. Mata Teo tidak lepas dari Rindu. Tatapan kagum, yang setiap cowok bisa mengartikan itu sebagai tanda suka. Entah kenapa Ardian jadi marah.
"Hguuh...! Rindu kamu senyum-senyum gitu mau tebar pesona?" Ardian juga tidak tau kenapa dia marah.
"Rinduuu...!" panggil Ardian lantang.
Semua orang di lobby menatap heran dan kaget ke arahnya. Termasuk Teo yang melihat Ardian tiba-tiba datang dan berteriak saat ia bersalaman dengan Rindu. Rindu yang kebingungan tidak mengerti kenapa Ardian berteriak langsung berlari menghampiri. Dian dan Dimas melihat penuh tanya. Kenapa Ardian marah?
"Ardi... kenapa kamu harus teriak gitu... sini," bisik Rindu menahan rasa malunya.
Rindu mengajak Ardian untuk bergabung dengan yang lain. Ardian yang masih binggung kenapa tadi dia teriak, hanya diam.
_____
Di dalam ruangan latihan.
Ruangan yang sudah dipersiapkan secara khusus oleh kakak Teo untuk mereka. Teo yang anak kesayangan mendapat dukungan dari keluarganya. Alat-alat musik lengkap semua. Mereka bisa berlatih kapanpun mereka mau. Rindu, Dian, Dimas, Teo dan Bram.
Ardian yang hanya sekedar ikut melihat mereka berdiskusi lebih banyak diam. Pandangan selalu tertuju pada Rindu dan Teo. Entah kenapa hatinya panas melihat kedekatan mereka. Rindu yang bisa dekat dengan orang lain selain dirinya membuat Ardian panas. Dalam pikirannya, hanya dia yang boleh jadi sahabat baik Rindu.
"Heii guys... Kalian gak lapar? Gue lapar banget nih?" rengek Dian dengan rencana jahat melirik Dimas. Dimas yang langsung paham menyeringai.
"Gue juga lapar, udah waktunya makan siang... Ardi...," melirik Ardian lalu menunjuk jam tangan dan saku celananya, itu sebuah kode meminta traktiran. Saatnya untuk membalas si Ardian, yang tidak mempedulikan mereka beberapa hari ini.
"Kalian pesan makanan apa aja, gue yang traktir hari ini," Ardian si dompet tebalpun paham.
"Wooahhh... untung bos kita ada, bisa makan enak kita nih," kata Dimas.
"Yeeaa... ayo pesan makanan... Pakai aplikasi gue aja."
Dian pun membuka aplikasi delivery di HPnya.
"Kalian mau makan apa? Mumpung Bos ada disini, pesan yang banyak."
Semua bersorak kegirangan. Ardian menggeleng lalu tersenyum. Menyuap teman-temannya dengan makanan. Seperti biasa, Ini kesempatan bagus untuk berbaikan lagi. Dimas dan Dian mendapatkan waktu yang tepat untuk menguras uangnya. Begitulah Ardian tidak pernah pelit berbagi. Membuat teman-teman nya senang juga kebahagian bagi Ardian.
🍂🍂🍂
Lima jam waktu berlalu. Mereka pun bubar dan pulang ke rumah masing-masing. Dimas Dian dan Ardian kembali seperti semula. Kembali bergurau dan bercanda seperti biasa. Persahabatan yang kental sulit untuk di goyah kan. Kemarahan antara satu dengan yang lain nya hanya bersifat sementara. Selagi ada kata maaf semua masalah bisa segera selesai. Rindu senang telah berhasil menjadi penengah di antara mereka.
"Dim.... Lo ngantar Dian pulang, Rindu biar gue yang nganter."
"Ok... Lo hati-hati bawa motornya. Jagain anak orang. Lecet dikit aja Awas lo...!"
"Iyaaa.... Udah sana berangkat, lo juga hati-hati nyetirnya," Dimas mengangguk. qMereka berpamitan satu sama lain.
"Ardi... Kita gak langsung pulang ya," ucap Rindu.
"Ermmm... Kamu mau kemana dulu."
"Anterin aku ke toko musik biasa, bisa?"
"Buat kamu apa sih yang gak bisa," senyum manis Ardian. Senyum yang membuat hati Rindu selalu berdebar.
"Udah dehhh... Kamu jangan...! '*g*odain aku terus, jangan buat aku semakin sayang sama kamu, bakalan sulit buat aku melepaskan kamu'." sambung Rindu dalam hati
"Jangan apa?" Ardian penasaran, kata-kata Rindu terhenti.
"Jangan nyebelin...!"
"Aku? Nyebelin...!"
"Banget... Ngapain kamu tadi teriak panggil aku, kan jadi malu," Rindu pura-pura marah.
"Iya... Kenapa aku teriak manggil Rindu?" Pertanyaan yang sama juga ada di benak nya.
"Aku kesel kamu gak balas WA aku," jawab Ardian berkilah. Rindu cemberut.
"Udah... udah... jangan di bahas lagi. Jangan manyun gitu, aku minta maaf ya!"
Ia mengeluarkan jari kelingking meminta maaf. Rindu kemudian mengaitkan kelingkingnya memaafkan.
"Nahhh... Senyum gitu kan cantik."
Puncak kepala Rindu di usap.
"Iiiihhhhhh... dodol resek!"
Rindu menepis tangan Ardian lalu merapikan rambutnya. Ardian meledakkan tawanya. Rambut panjang Rindu adalah tempat ternyaman untuk ia sentuh, ia gemas.
"Hahaha... Udah ah... Sini aku pasangin."
Ardian mengambil helm dan memasangkan ke Kepala Rindu. Seketika pandangan mereka bertemu, lalu terdiam.
Deg...deg...deg...
Namun menjadi masalah untuk Rindu. Debaran jantungnya begitu cepat.
"Duuhhh... Ardi dengar detak jantung aku gak nih? Mana kenceng amat bunyinya," seketika dadanya sesak, napasnya tertahan.
"Ok... Udah."
"Huufftt... Lega, lama-lama bisa jantungan aku, Ardian bahaya banget, untung aja bibir sexy itu gak kecium," Rindu menggeleng menghilangkan pikiran nakal di kepalanya. Ardian tidak melihat.
*
*
*
*
Jangan lupa tinggalin jejak nya yaa...
LoPe dan JemPol kamu yang berharga. 🥰
Komen Yuuu ramein, biar Aku semangat nulisnya...
Wooahhh... ngantuk banget, secangkir kopi enak nih 🥱
Love U all ☺️😘
diMangatoon lah tempatnya 😁
Hari ini kutemui karyamu 😊
Mari salkung bersama - sama 🤣
Semangat Kaka 🤗 !!!
Jika kak Author ada waktu mari mampir kekarya saya :
" MISTERI DUA CINCIN DIBALIK RUNTUHNYA ISTANA ANDALUSIA " .
Semangat terus 👍👍
...
Nanggung Ardiii...
😭😁🤣