Berawal dari tegukan wine, hingga menjadi belahan jiwa, begitulah kisah James Davies dan Evelyn Lawrence yang sama-sama mengepalai perusahaan dan menggeluti dunia perbisnisan.
Meskipun berawal tanpa cinta, mereka sepakat akan terus menjaga baby mereka. Karena kebersamaan itulah, berbagai misteri terungkap dan cinta tumbuh bersemi dan mekar walaupun dimusim panas yang tandus dan musim hujan yang dingin.
Yuk simak kisahnya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Janesalen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar masalah
Jimmy dan Eve telah sampai di mansion mewah milik Jimmy. Mansion itu terlihat sepi karena semua pekerja langsung pulang pada sore hari tadi.
“Itu kamarmu” Jimmy menunjuk sebuah kamar yang terletak di depan kamarnya.
“Oke” Eve menjawab singkat acuh tak acuh dan berjalan menuju kamar itu, lalu kembali menoleh kepada Jimmy “Apa rencanamu selanjutnya?”
“Rencana?” Jimmy tampak bingung. “rencana yang seperti apa maksudmu?”
“Lupakan” Eve melangkah memasuki kamar yang terlihat asing baginya.
“Biar ku perjelas, karena pernikahan ini adalah pernikahan kontrak sebaiknya kau bersikap baik padaku” Jimmy menatap tak suka pada sikap Eve yang mengacuhkan pertanyaannya, bahkan cenderung tak sopan padanya
“Karena nasib perusahaan mu ada ditanganku lebih baik kau jangan mengancamku” Eve menjawab enteng sambil menutup pintu kamarnya.
“Arghhh wanita itu benar-benar” Jimmy memandang geram pintu yang sudah tertutup rapat itu.
Eve duduk di pinggiran kasur, menghela nafasnya dalam dan memindai kamar baru nya ini, terdapat wardrobe tempat baju tamu yang disediakan untuk menginap plus pintu yang berlapis cermin membuat leluasa untuk berkaca.
“Tidak buruk” gumamnya
Eve mengambil ponselnya di tas dan menelpon Adrian supaya bisa mengantarkan pakaiannya yang telah disiapkan Bi Asih dirumahnya.
“sepertinya aku tidak akan betah tinggal disini” gumamnya lagi ketika mematikan panggilan telepon
Eve menatap langit-langit kamar, pikirannya melayang jauh. Andai saja tidak terjadi kejadian sewaktu di kamar hotel pasti sekarang dia bisa mendekati lelaki yang sudah dia incar dan sukai selama ini. sebut saja namanya Ken, seorang dokter yang merupakan teman dari dokter Seyna. Ken lelaki yang baik dan lemah lembut, ini diketahui Eve karena pernah suatu kali Ken menggantikan Seyna untuk memeriksa keadaan Eve, dari situlah Eve selalu tertarik ingin mengetahui dokter Ken lebih lagi dengan cara menanyakan banyak hal kepada dokter Seyna.
Tapi mengingat dia sedang hamil anak Jimmy, dia merasa rendah diri untuk mendekati dokter Ken, dia merasa malu pada dirinya sendiri.
Tak banyak yang dapat dilakukan Eve, menikah dengan ayah dari anaknya ini merupakan keputusan yang sudah tepat menurutnya, sekalipun suatu hari nanti mereka bercerai dan Jimmy meninggalkannya, tidak apa bila harus begitu yang penting bayi diperutnya selamat dan pernah memiliki ayah dan penilaian orang kepadanya dan keluarganya tidak buruk.
“Aku keluar” terdengar ketukan kamar dan suara diseberang pintu membuyarkan lamunan Eve
“Iya” jawab Eve datar tanpa mau tau kemana tujuan Jimmy
Dipintu depan Jimmy berpapasan dengan Adrian, Adrian yang menekan bel pun dikagetkan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka. Jimmy melihat Adrian dengan tatapan datar dan berlalu begitu saja tanpa menyapanya.
“Dasar orang angkuh” dengusnya seraya mengepalkan jari kesal kepada Jimmy. Adrian memasuki mansion tersebut setelah menelpon Eve untuk menemuinya segera,
Eve yang telah turun ke lantai satu menyusulnya ke ruang depan berdinding kaca terbuka menghadap halaman yang terdapat air mancur, pemandangan itu memanjakan mata setiap orang yang duduk di ruangan tersebut.
“Aku tak yakin kau betah tinggal dengannya” Adrian berdiri menghampiri Eve sekaligus menyodorkan kunci mobil Eve yang dibawanya.
Ya, hanya asisten masing-masing dari mereka lah yang mengetahui dengan jelas bagaimana kisah Eve dan Jimmy hingga sampai menikah seperti ini.
“Aku hanya malam ini disini” jawab Eve singkat seraya menyambar kunci mobil ditangan Adrian.
“Apa rencanamu?” tanya Adrian yang sudah paham betul sifat wanita di hadapannya ini
“Tidak ada rencana, aku akan sibuk memikirkan hidupku ke depan” Eve duduk di sofa coklat empuk seperti berlapis beludru itu
“Yasudah. sebaiknya kau istirahat, kesehatanmu lebih penting dari hal lainnya” Adrian memberi saran dan berlalu pergi meninggalkan rumah Jimmy.
...***...
Eve terbangun dari tidur panjangnya, semalaman dia tidur dengan nyenyak hingga tak terasa sinar mentari telah menyapa menelusuk masuk ke dalam kamarnya melalui celah tirai jendela yang tak tertutup rapat.
Eve memasuki kamar mandi dan membersihkan diri, lalu berpakaian rapi dan modis. Hari ini dia akan melihat perkembangan pekerjaan yang telah dikerjakan beberapa hari lalu mengenai Davies Group.
Ketika dia menuruni anak tangga dia melihat pemandangan tak biasa di sofa, dua kaki jenjang berkaos kaki hitam terlihat terulur di balik sandaran sofa.
Eve memicingkan mata menyelidik dan mendekati sofa, dan ternyata benar dugaannya.
Jimmy sedang tertidur dalam keadaan mabuk masih melantur membicarakan hal-hal yang tak Eve mengerti.
Dengan kesal Eve mendekat Jimmy dan menepuk pipinya kasar “Hei, Bangun kau harus ke kantor”
Namun percuma berbicara dengan orang mabuk, Jimmy hanya berdehem dengan mata masih tertutup rapat.
Eve mengacak pinggang kesal “Tak ku sangka aku punya suami begini” dengusnya menatap Jimmy kesal
“BANGUN..!!” Eve sedikit berteriak didekat telinga Jimmy, tapi tak ada tanda-tanda bahwa Jimmy akan bangun.
Dengan penuh emosi Eve melangkah ke dapur dan kembali membawa segelas air dingin dari lemari pendingin dan menyiramkannya ke wajah Jimmy.
Jimmy yang merasakan air dingin menerpa wajahnya seketika terduduk dan membuka mata berat.
Tapi hanya terlihat punggung Eve yang tampak menjauh, membuka pintu dan berlalu keluar rumah.
“Aishhh.. sial” Jimmy mengumpat lemas melihat bajunya yang basah dan mengibas-ngibaskan air dirambutnya.
Tadi malam Jimmy merasa sangat kacau, dia merasa keputusannya menikahi Eve bukanlah keputusan tepat karena tepat pada hari pernikahan nya tadi wanita yang selama ini berstatus sebagai pacarnya telah kembali ke tanah air setelah melakukan pekerjaannya diluar negeri.
Tak ada yang mengetahui hubungan Jimmy dan wanita itu, karena mereka telah lama terpisah jauh, Jimmy pun tak pernah bercerita pada siapapun. Sebelum wanita itu pergi Jimmy berjanji akan menunggu dan segera menikahinya apabila dia telah kembali.
Ada keresahan yang mendalam menghantui perasaan Jimmy. Tapi jika dia menemui wanita itu dan kembali seperti awal membina hubungan bagaimana dengan Eve? Dan perusahaannya? Serta kesalahannya pada Eve?
Apalagi jika wanita itu tahu jika dia telah menikah, tentu wanita itu akan marah padanya, argghh menambah beban pikiran Jimmy..
Walaupun Jimmy terkenal suka mabuk, tapi dia tak pernah berbuat lebih kepada wanita-wanitanya. Ya dia masih punya pertahanan kuat kecuali dengan Eve beberapa waktu lalu, ntah hal apa yang membuat pertahanannya runtuh.
Itulah sebabnya dia melampiaskan segala kegalauannya kepada minuman yang diteguknya.
Jimmy berdiri perlahan, berjalan sempoyongan menuju tangga dan segera mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang sudah basah disiram Eve.
Jimmy kembali termenung, memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi. Untuk sementara dia tidak akan memberitahukan masalah ini dulu kepada wanitanya itu, dia akan mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya dengan keyakinan bahwa wanita itu akan mengerti dan menerima semua yang terjadi kepadanya.
Lagipula pernikahannya dengan Eve hanya kontrak dan sedikit tanggung jawab dari anak yang dikandung Eve, yang dia sendiri ragu apakah itu anaknya atau bukan.
“Kenapa aku merasa begitu bodoh terjebak di situasi seperti ini”Jimmy meraup wajah frustasi.
Tiba-tiba dia teringat hari ini ada pertemuan dengan Lawson Group yang dipimpin Eve, Jimmy segera bergegas keluar kamar mandi dan mencari pakaian kerjanya. Saat bersamaan suara teleponnya berdering.
“Hallo” Jimmy mengangkat panggilan tersebut tanpa memperhatikan nama karena sibuk memakai baju
“Apa kau masih bermimpi indah?” tanya suara dari seberang telepon
Mendengar suara tenang dengan nada sindiran Jimmy langsung melihat nama panggilan yang menelponnya
“Iya, aku sudah dijalan” bohongnya pada Eve lalu mematikan telepon
Benar-benar salah aku menikahi nenek sihir seperti dia.. umpat Jimmy dalam kesibukannya
...■■■■■■■...
...author bakalan sering up ya, ikutin aja ceritanya seru kok😊. kritik dan saran terbuka ya. mari dukung author yang tak sempurna ini agar lebih baik lagi....
...luv u🥰...
Salam dari Nan lexa........ 👍
Btw pikiran Jimmy mengarah ke Ev nih kayaknya, eh tahunya ketebak dalam diri Ev.