Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
"Sahabat. Sekaligus partner cari duit," jawab Kinan singkat. "Jadi, di mana saya harus tanda tangan?"
Arga berdehem pelan. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan meja kerja, membuka folder digital di tabletnya untuk menunjukkan bagian lampiran yang perlu direvisi ulang.
"Di sini. Teks kecil di sudut bawah ini adalah tambahan mengenai kamarmu yang tadi," Arga menunjuk layar tabletnya.
"Omong-omong, sepertinya kita juga perlu menyinkronkan jadwal untuk tiga hal," ucap Arga dengan nada bisnisnya. "Pertama, fitting baju pengantin hari Sabtu besok jam sembilan pagi. Kedua, sesi foto pre-wedding studio semiformal di hari Minggu. Dan ketiga, masalah honeymoon."
Kinan yang baru saja menyimpan ponselnya langsung menegakkan punggung dengan dahi berkerut. "Pre-wedding? Honeymoon? Pak CEO, bukankah kita sepakat pernikahan ini hanya kemitraan untuk menenangkan orang tua? Saya tidak punya energi untuk liburan romantis."
"Kamu pikir saya punya waktu untuk liburan?" jawab Arga tenang. "Ini hanya untuk memenuhi tuntutan orang tua kita. Jadi, saya berpikir untuk menggabungkan jadwal honeymoon dengan jadwal pekerjaan saya. Tepat pukul tiga sore setelah resepsi selesai, kita akan langsung terbang ke Singapura. Di depan orang tua kita, itu adalah perjalanan bulan madu. Tapi kenyataannya, itu adalah jadwal rapat kerja saya dengan investor asing selama tiga hari."
Kinan berkedip lambat, otaknya langsung memproses usulan tersebut dengan cepat. "Lalu, apa yang harus saya lakukan selama di sana?"
"Terserah kamu. Saya akan memesan kamar suite di hotel. Kemungkinan saya akan berada di ruang rapat atau kantor cabang dari pagi sampai malam. Kamu bebas menggunakan fasilitas hotel atau tidur seharian tanpa ada yang mengganggu. Kita hanya perlu mengambil satu atau dua foto bersama di bandara atau lobi hotel untuk dikirim ke grup WhatsApp keluarga sebagai bukti." Arga menatap Kinan. "Bagaimana? Opsi yang efisien, bukan?"
Kinan menaikkan sebelah alisnya. Menghindari omelan Ibu, tidur di kasur hotel bintang lima di Singapura secara gratis, dan tidak perlu berpura-pura mesra? Ini adalah penawaran terbaik abad ini. "Penawaran bulan madu fungsional diterima, Pak CEO."
BRAKK!
Pintu mendadak terbuka tanpa ketukan. Seorang pria muda dengan kemeja yang lengannya digulung asal-asalan melangkah masuk sambil membawa dua cup kopi hitam.
"Ga! Akhirnya gue bisa kelarin revisi sistem dari investor Singapura. Eh?" Pria itu menghentikan langkahnya. Pandangannya bolak-balik menatap Arga yang duduk tegap, lalu beralih ke Kinan yang sedang bersandar di kursi.
Arga langsung mengembuskan napas pendek, memijat pelipisnya. "Evan. Berapa kali saya bilang, ketuk pintu sebelum masuk."
"Bentar, bentar. Telinga gue gak salah dengar kan tadi?" Evan mengabaikan teguran Arga. Dia menaruh dua cup kopi di atas meja dengan heboh, lalu menyandarkan badannya di samping meja Arga sambil menatap sahabatnya itu dengan pandangan tidak percaya. "Seorang Arga Draken... barusan ngomongin honeymoon sambil menyelundupkan jadwal rapat di Singapura?!"
"Ckckck... Gila... Emang gila temen gue yang satu ini...!" Evan kemudian berbalik, memberikan senyum lebar yang sangat ramah kepada Kinan. "Halo! Gue Evan, CTO sekaligus tumbal nomor satu di perusahaan ini. Kamu pasti Kinan, kan? Calon korban... eh, maksudnya calon istri manusia ini?"
Kinan menahan senyumnya, mendadak merasa terhibur dengan kemunculan manusia hiperaktif ini. "Kinan. Salam kenal, Mas Evan."
"Gila, Bro. Lu bener-bener gak ada romantis-romantisnya ya!" Evan menyenggol bahu Arga dengan sikutnya, membuat kacamata Arga sedikit bergeser. "Kinan, kamu yang sabar ya. Manusia satu ini jadwal kerjanya emang di luar nalar. Ini nikah aja, proyek kerjaan di Singapura langsung di-bundling jadi paket bulan madu. Bener-bener modus hemat modal namanya!"
"Evan, keluar. Saya sedang dalam pertemuan penting," potong Arga, suaranya naik satu oktaf dengan wajah yang mulai mengeras.
"Pertemuan penting bahas bundling bulan madu? Hahaha! Oke, oke, gue keluar," Evan mengangkat kedua tangannya sambil tertawa puas. Sebelum melangkah pergi, dia mengedipkan sebelah mata kepada Kinan. "Kinan, kalau nanti di Singapura dia malah sibuk megang laptop daripada nemenin kamu, kunciin aja dia di luar kamar hotel!"
"Evan!"
Dengan tawa yang masih terdengar, Evan berjalan keluar dari ruangan dan menutup pintu, meninggalkan keheningan yang mendadak terasa canggung.
Arga berdeham keras, membetulkan letak kacamatanya, berusaha keras mengembalikan wibawa CEO-nya yang baru saja runtuh. "Abaikan Evan. Otaknya memang sering malfungsi kalau kurang tidur."
Kinan menyesap sisa air mineralnya dengan santai. Reaksi Arga yang telinganya perlahan memerah ternyata cukup menghibur untuk disaksikan. "Tidak apa-apa. Menurutku, strategimu memang cukup jenius."
Kinan segera meraih pena digital, menorehkan tanda tangan terakhirnya di sudut layar tablet Arga. "Kontrak dan jadwal kita selesai. Saya permisi dulu, Pak CEO. Selamat melanjutkan aktivitas Anda."
**
Pukul tujuh malam, di sebuah kedai bubur ayam yang riuh di dekat area perumahan lama mereka, Kinan duduk dengan kaki yang disilangkan di atas kursi plastik. Dia sudah berganti pakaian, mengenakan kaus kebesaran yang dipadukan dengan celana longgar dan sandal jepit andalannya.
"Muka lu lecek banget, Nan. Kayak cucian gak disetrika tiga minggu," celetuk Danu, mendorong mangkuk bubur tanpa seledri pesanan Kinan ke tengah meja.
Danu adalah tipe cowok dengan rambut ikal yang selalu diikat asal-asalan ke belakang, mengenakan kaus hitam polos yang menunjukkan lengan berototnya. Dia adalah mantan tetangga sebelah rumah Kinan sejak mereka masih hobi bermain lumpur di got, sekaligus sahabat satu jurusan saat kuliah.
"Jangan ngeledek lu. Energi gue hari ini diperas sampai tetes terakhir di SCBD," sahut Kinan lemas. Dia langsung mengaduk buburnya dengan gerakan lambat.
Danu mengerutkan dahi, menyesap es teh manisnya. "Ada angin apa lu tiba-tiba harus ke SCBD? Proyek lu tembus korporat?"
"Bukan proyek gambar," Kinan menyuapkan sendok pertama buburnya. "Gue mau nikah, Nu. Sekitar dua minggu lagi."
UHUK!
Danu langsung tersedak es teh manisnya. Dia terbatuk-batuk sampai wajahnya memerah, buru-buru menarik beberapa lembar tisu untuk menyeka bibirnya. Kejadian itu bahkan membuat beberapa pengunjung kedai bubur sempat menoleh heran ke arah meja mereka.
"Lu... lu bilang apa tadi?" Danu menatap Kinan dengan mata membelalak. "Nikah? Dua minggu lagi? Mungkin maksud lu karakter di drama Korea lu yang mau nikah, kan? Nggak mungkin kalau lu yang nikah?"
"Gue serius, Danu," jawab Kinan datar tanpa ekspresi, lalu menyuap buburnya lagi. "Gue dijodohin sama nyokap."
Danu terdiam. Senyum jenakanya perlahan surut. "Kenapa mendadak banget?" tanya Danu.
"Gue terpaksa, Nu. Tapi ini simbiosis mutualisme yang logis," Kinan mulai menjelaskan draf kontrak gila Arga, mulai dari zona merah di apartemen, wilayah otonomi khusus kamarnya, hingga rencana bulan madu fungsional ke Singapura yang merangkap perjalanan bisnis Arga.
Mendengar penjelasan Kinan, perlahan ketegangan di bahu Danu sedikit mengendur. Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir.
"Sumpah? Lu berdua bikin kontrak bisnis buat pernikahan?" Danu mencoba tertawa. "Gila. Calon laki lu bener-bener bikin gue nggak bisa berkata-kata. Dan lu... lu setuju nikah sama laki-laki kayak gitu?"
"Kenapa enggak?" Kinan menaikkan sebelah alisnya. "Gue dapet kenyamanan, dan gue bebas tidur seharian di kasur mewah tanpa ada Ibu yang ngomel nyuruh gue cari kerja, beres-beres rumah, atau bahkan dibanding-bandingin sama anak temen arisannya. Menurut gue, ini adalah kesepakatan terbaik abad ini."
Danu tertegun menatap Kinan yang tampak sangat puas dengan logika yang menurutnya sama sekali tidak masuk akal.
"Tapi, Nan..." Danu menjeda kalimatnya. "Dunia pernikahan nggak sesimpel yang lu pikir. Ditambah lu nikah sama laki macem jelmaan robot begitu. Lu pasti kesepian, Nan."
Kinan mendongak, menatap Danu. "Nu, lu tahu sendiri gue kayak gimana. Gue justru seneng kalau dia semakin sibuk, dan gue emang suka kesunyian. Bukankah itu jadi klop?"
"Tapi Nan, lu bakal tinggal sama pria dewasa. Apa lu nggak takut perasaan lu bakal berubah jadi cinta sama itu cowok? Gue cuma nggak mau nantinya lu kesiksa sama perasaan lu sendiri."
Kinan yang mendengar itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya geli. "Nu... Nu... Lu mah ngadi-ngadi aja. Gue buat peduli sama diri sendiri aja mager, mana ada energi buat jatuh cinta sama Cowok kaku kayak dia?"
Danu menatap lekat-lekat mata Kinan, lalu mengembuskan napas berat. "Semoga gue bisa pegang kata-kata lu ya," ucap Danu pelan, nyaris berbisik.
Kinan mengernyitkan dahinya bingung. "Maksudnya?"