NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Langkahku baru saja terasa ringan setelah melepas jas putih, saat aku hendak menikmati heningnya ruang ganti, namun getaran ponsel di dalam saku seolah menarikku kembali ke kenyataan.

Ponselku kembali bergetar sebuah ritme yang sudah sangat kukenal. Aku mengeluarkan benda itu, aku membukanya dengan helaan napas panjang dan layar menampilkan deretan pesan singkat yang dingin namun menusuk. Tanpa basa-basi, dia menanyakan keberadaanku dan menuntut penjelasan kenapa aku belum keluar dari gedung rumah sakit.

Membaca barisan kata-kata itu saja sudah cukup membuat udara di sekitarku terasa lebih tipis, Pesan-pesan itu bukan sekadar perhatian, melainkan rantai tak terlihat yang selalu menarikku kembali ke bawah kendalinya. mengingatkanku bahwa meski aku dokter di sini, aku hanyalah miliknya di luar sana.

Abhi " What time does it finish ? " (Selesai jam berapa ?)

​Caca " At 12 o'clock there will be a small action first, maybe a little bit later. " (Jam 12 nanti ada tindakan kecil dulu, mungkin agak mundur sedikit.)

​Abhi " I'll pick you up. We'll have lunch outside. " (Aku jemput. Kita makan siang di luar.)

​Caca " Oh, no need. I already ordered delivery to the doctor's office. I'm just going to rest here, I'm feeling a bit tired. " (Oh, tidak perlu. Aku sudah pesan delivery ke ruang dokter saja. Aku sedang ingin istirahat di sini, agak lelah rasanya.)

​Abhi " Just cancel the order. I'm already on my way. We're eating out. " (Batalkan saja pesanannya. Aku sudah di perjalanan. Kita makan di luar.)

​Caca " But I really don't want to go out, bhi. I just want to sit quietly in this room during break time. Please understand, okay ? " (Tapi aku benar-benar tidak ingin keluar, bhi. Aku cuma ingin duduk diam di ruangan ini selama jam istirahat. Tolong mengerti, ya ?)

​Abhi " You're not asking permission. I don't like you eating alone there. I'll be in the lobby in 15 minutes. " (Kamu tidak sedang meminta izin. Aku tidak suka kamu makan sendirian di sana. 15 menit lagi aku sampai di lobi.)

​Caca " I don't want to be disturbed, bhi. I need some time to myself. " (Aku sedang tidak ingin diganggu, bhi. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.)

​Abhi " I won't bother you. I'll check it myself. Don't turn off your phone. See you later. " (Aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya akan memastikannya sendiri. Jangan matikan ponselmu. Sampai nanti.)

Setelah mematikan telepon dengan tangan yang masih gemetar, aku membiarkan tubuhku meluruh di kursi, mencoba mencuri sedikit kedamaian dalam ruang praktik yang sunyi, aku menyandarkan kepala ke kursi, memejamkan mata rapat-rapat demi mengusir penat.

Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Sebuah sentuhan jemari yang dingin namun familiar tiba-tiba terasa di puncak kepalaku, mengusap helai rambutku dengan ritme yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memaksakan kehendaknya, setiap inci dari jemarinya yang hangat di kepalaku adalah milik pria yang sama yang baru saja mendikte hidupku lewat telepon.

Aku tak perlu membuka mata untuk tahu siapa pemilik sentuhan itu, dia sudah di sini, bahkan sebelum aku sempat menyadari kehadirannya. Aku membuka mata perlahan, dan mendapatinya sudah berdiri tepat di belakang kursiku, menatapku dengan tatapan dingin yang tak terbaca. Dan dia tidak pernah benar-benar membiarkanku sendiri, bukan?

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!