Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 05
Kirana pulang dengan kaki pegal dan kepala penuh suara dapur.
Suara pisau di talenan. Suara Bowo mengomel. Suara staf berbisik. Suara pria berjas yang berkata tamu VIP ingin bertemu chef pembuat nasi goreng lobster.
Kata chef itu masih terasa asing.
Di Hotel Wijaya, ia masih anak baru. Seragamnya masih kaku. Loker saja belum punya nama. Namun hari pertama sudah cukup membuat beberapa orang melihatnya dengan mata berbeda.
Sebagian kagum.
Sebagian tidak suka.
Yang paling tidak suka tentu saja Bowo.
Ketika Kirana membuka pintu kontrakan, aroma pembersih lantai menyambutnya.
Ia berhenti di ambang pintu.
Ruang depan tampak lebih rapi daripada tadi pagi. Tikar digulung ke sudut. Piring plastik sudah dicuci dan ditata terbalik. Galon sudah terpasang di dispenser manual murah yang ia beli kemarin. Lantai masih agak basah.
Raka berdiri dekat dapur kecil sambil memegang kain pel.
Kirana menatapnya.
Raka juga menatapnya.
"Kenapa?"
"Kamu mengepel?"
"Kelihatannya begitu."
"Kamu bisa?"
"Setelah percobaan ketiga."
Kirana menaruh tas, lalu melihat satu sudut yang masih tergenang sedikit air. "Itu bukti percobaan pertama?"
Raka mengikuti arah pandangnya. "Itu konsep."
"Konsep banjir?"
"Konsep lantai bersih maksimal."
Kirana tidak tahan. Ia tertawa pendek.
Raka meletakkan kain pel dan mengambil gelas. "Mau minum?"
Kirana menerima gelas air putih. Baru setelah minum ia sadar betapa hausnya dirinya.
"Kamu makan siang?" tanyanya.
"Makan."
"Apa?"
"Nasi padang."
Kirana langsung menatap tajam. "Berapa?"
"Dua puluh lima ribu."
"Pakai rendang?"
"Iya."
"Raka."
"Saya lapar."
"Aku bilang makan di warteg."
"Warteg dekat sini penuh."
"Kamu bisa menunggu."
"Saya sedang cari kerja. Butuh tenaga."
Kirana menaruh gelas. "Kamu cari kerja ke mana?"
Raka mengambil ponsel dan menunjukkan layar. Ada foto surat keterangan kerja dari seseorang bernama Bima. Tertulis bahwa Raka pernah membantu sebagai sopir pribadi dan asisten lapangan.
Kirana membaca dengan kening berkerut.
"Bima ini siapa?"
"Teman."
"Temanmu punya kop surat Mahendra Group?"
Raka diam sepersekian detik. "Dia kerja di sana."
"Sebagai apa?"
"Orang kantor."
"Jawaban macam apa itu?"
"Jawaban yang benar."
Kirana menyipitkan mata. "Kamu melamar ke Mahendra Group?"
"Belum."
"Kenapa belum?"
"Karena kalau saya diterima di sana, kamu akan banyak bertanya."
"Sekarang pun aku banyak bertanya."
"Benar juga."
Kirana ingin marah, tapi terlalu capek. Ia duduk di tikar dan melepas sepatu. Tumitnya lecet.
Raka melihat itu. "Kakimu luka."
"Biasa."
"Tidak biasa."
Ia mengambil kotak kecil dari tas plastik di dekat pintu. Plester luka dan antiseptik.
Kirana menatap curiga. "Kamu beli ini?"
"Iya."
"Pakai uang yang kuberi?"
"Iya."
"Harusnya untuk makan."
"Saya makan rendang."
Kirana melempar bantal kecil ke arahnya. Raka menangkapnya tanpa susah.
"Duduk," katanya.
"Aku bisa sendiri."
"Duduk, Kirana."
Nada itu berbeda. Tidak keras, tapi membuat orang mendengar.
Kirana tidak tahu kenapa ia menurut.
Raka berjongkok di depannya, membersihkan lecet di tumitnya dengan hati-hati. Tangannya besar, tapi gerakannya pelan. Kirana menahan napas saat kapas menyentuh luka.
"Sakit?"
"Tidak."
"Bohong."
"Kamu tanya untuk apa kalau sudah tahu?"
Raka tersenyum tipis.
Hening turun di antara mereka.
Kirana menatap kepala Raka yang menunduk. Rambutnya rapi walaupun seharian katanya mencari kerja. Kulit tangannya halus, bukan tangan orang yang biasa bekerja kasar. Bahkan caranya membuka plester pun terlalu hati-hati, seperti tidak terbiasa dengan barang murah yang gampang robek.
"Raka."
"Hm?"
"Kamu sebenarnya siapa?"
Gerakan tangan Raka berhenti sebentar.
"Suamimu, katanya."
Kirana merasa wajahnya panas. "Jangan bercanda."
"Calon suami?"
"Raka."
Ia menempelkan plester terakhir, lalu mendongak.
"Saya orang yang sedang ikut kamu."
"Itu bukan jawaban."
"Untuk sekarang, itu jawaban yang bisa saya berikan."
Kirana menarik kakinya. "Kalau kamu menyembunyikan sesuatu yang bisa membahayakanku, lebih baik bilang dari awal."
"Tidak akan membahayakanmu."
"Kamu yakin?"
"Saya pastikan."
Kirana menatapnya lama. Ia tidak puas. Tapi ada sesuatu di mata Raka yang membuatnya berhenti memaksa. Bukan karena ia percaya sepenuhnya. Lebih karena ia merasa laki-laki itu tidak sedang berniat buruk padanya.
Ponsel Kirana bergetar.
Nama Nadira muncul.
Kirana menghela napas dan menolak panggilan itu.
Tidak sampai lima detik, pesan masuk.
Kamu sudah puas mempermalukan keluarga? Akun gosip masih membahas kamu. Kalau kamu punya malu, jangan muncul dulu di mana-mana.
Kirana membaca tanpa ekspresi.
Raka berdiri. "Nadira?"
"Kamu bisa membaca dari jauh?"
"Wajahmu berubah lagi."
"Harusnya aku tidak berubah. Dia memang begitu."
Pesan kedua masuk.
Oh ya, aku dengar kamu kerja di Hotel Wijaya. Hati-hati. Tempat bagus tidak cocok untuk perempuan murahan.
Kirana menggenggam ponsel lebih kuat.
Raka mengambil ponselnya sendiri. "Mau saya urus?"
Kirana menatapnya. "Urus bagaimana?"
"Agar dia berhenti."
"Dengan apa? Kamu mau datang ke rumahnya dan mengepel lantai sampai dia takut?"
Raka menahan senyum. "Kalau perlu."
Kirana menaruh ponsel di meja.
"Jangan. Aku tidak mau kamu cari masalah. Aku sudah cukup punya masalah."
"Dia akan terus menekanmu."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Lalu aku kerja lebih baik. Hidup lebih baik. Biar dia capek sendiri."
Raka menatapnya lama.
"Itu terdengar melelahkan."
"Memang."
"Kamu selalu begini?"
Kirana menoleh. "Begini bagaimana?"
"Memilih bertahan sendirian."
Pertanyaan itu membuat dadanya sesak.
Ia ingin menjawab tajam. Ingin berkata bahwa tidak ada yang pernah datang membantunya, jadi tentu saja ia harus sendirian. Tapi kalimat itu tertahan di tenggorokan.
Ia hanya berkata, "Sudah biasa."
Raka tidak menyukai jawaban itu. Tapi ia tidak memaksa.
Malam itu Kirana memasak mie instan dengan telur dan sisa sayur yang ia beli murah di pasar. Raka makan dengan tenang, tidak mengeluh sama sekali.
"Enak," katanya.
"Ini mie instan."
"Kamu yang masak."
Kirana menatapnya. "Kamu mudah sekali dirayu makanan."
"Mungkin."
"Kalau Nadira dengar, dia akan bilang seleramu rendah."
"Saya tidak peduli selera Nadira."
Kalimat itu sederhana, tapi membuat Kirana diam.
Ia tahu Raka dan Nadira punya janji keluarga. Walau Nadira jelas-jelas jijik padanya, status Nadira tetap lebih tinggi. Cantik, terdidik, kaya, diakui. Perempuan seperti Nadira biasanya yang dipilih laki-laki saat sadar.
Sedangkan Kirana?
Ia hanya perempuan yang baru saja dipermalukan satu kota.
"Kalau suatu hari Nadira berubah pikiran dan mau menerima kamu," kata Kirana pelan, "kamu boleh pergi."
Raka meletakkan sumpit.
"Apa?"
"Aku tidak akan menahanmu. Aku tahu keadaan kita aneh. Aku bilang akan bertanggung jawab, tapi kalau kamu punya pilihan yang lebih baik..."
"Lebih baik menurut siapa?"
"Menurut semua orang."
"Saya tidak hidup untuk semua orang."
Kirana tertawa kecil tanpa humor. "Kamu bicara seolah hidup semudah itu."
"Tidak mudah. Tapi memilih Nadira akan membuatnya lebih sulit."
"Kenapa?"
Raka menatapnya. "Karena saya tidak suka dia."
Jawaban itu terlalu langsung.
Kirana menunduk, pura-pura sibuk mengaduk kuah mie.
"Kamu baru bilang begitu karena marah."
"Tidak. Saya sudah tidak suka dia sejak sebelum marah."
"Lalu kenapa kamu datang memenuhi janji keluargamu?"
"Ada sesuatu yang harus saya cari."
Kirana mendongak.
Raka menyadari ia bicara terlalu jauh. Ia mengambil gelas dan minum.
"Apa?"
"Belum bisa saya jelaskan."
"Selalu begitu."
"Maaf."
Kirana tidak menjawab.
Di rumah Pak Hendra, Nadira sedang menatap layar ponselnya dengan kesal. Beberapa unggahan tentang skandal hotel memang sudah turun. Akun gosip yang semula ramai tiba-tiba menghapus postingan. Bahkan salah satu admin mengirim pesan minta maaf karena tidak berani melanjutkan.
Nadira melempar ponsel ke kasur.
"Siapa yang bantu dia?"
Bu Ratna duduk di sofa kamar, wajahnya dingin. "Mungkin pihak hotel tidak mau namanya terseret."
"Tapi terlalu cepat, Ma. Kirana tidak punya siapa-siapa."
"Dia punya Raka."
Nadira tertawa sinis. "Raka? Laki-laki itu bahkan tidak punya rumah."
Bu Ratna tidak langsung menjawab.
Nadira menatap ibunya. "Mama jangan bilang Mama curiga dia."
"Mama hanya merasa ada yang janggal. Dulu Papa Hendra bersikeras menerima janji almarhum kakekmu. Dia bukan orang bodoh. Mungkin dia tahu sesuatu tentang Raka."
Wajah Nadira berubah.
"Maksud Mama?"
"Cari tahu. Jangan sampai kamu membuang sesuatu yang ternyata bernilai."
Kalimat itu menancap di kepala Nadira.
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia memikirkan Raka bukan sebagai beban.
Di kontrakan kecil, Raka mencuci dua piring plastik sementara Kirana menyiapkan seragam untuk besok.
Ponsel Raka bergetar lagi.
Bima: Akun terakhir sudah turun. Pelayan Lilis ditemukan. Dia mengaku dibayar oleh Bu Ratna melalui orang suruhan.
Raka membaca pesan itu dengan mata dingin.
Balasannya singkat.
Simpan bukti. Jangan bergerak dulu.
Ia menaruh ponsel.
Kirana dari kamar bertanya, "Raka, besok kamu benar-benar cari kerja, kan?"
Raka menatap busa sabun di tangannya.
"Iya."
"Jangan cuma bilang iya."
"Saya akan cari kerja."
Dan dalam hati, ia menambahkan sendiri.
Sambil menghancurkan satu per satu orang yang mengira bisa mempermainkanmu.