Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
Cindy berjalan keluar mengikuti Dian dari belakang. Ia sempat ragu melangkah saat melihat bangunan tua itu—tampak dari luar seolah tak terawat, persis seperti tempat persembunyian yang tidak terurus. Namun ia tetap melangkah masuk sambil menggenggam tangan Dian dengan sangat erat. Begitu sampai di dalam, ia terkejut melihat suasana yang sangat berbeda, ruangan itu bersih, rapi, dan dinding‑dindingnya penuh dengan lukisan indah yang digantung berjejer rapi.
“Luar biasa… benar kata orang, jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan luarnya saja,” gumam Cindy takjub.
Tiba‑tiba terdengar suara lembut dari arah ruangan samping. “Dian? Kamu datang ke sini tapi tidak memberi kabar duluan? Dan siapa gadis manis di sampingmu ini?”
Seorang pemuda berwajah tampan berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum ramah—itu adalah Emil.
“Hai, Emil. Maaf ya mengganggumu tiba‑tiba. Ini adik dari teman ku. Sebenarnya aku ke sini ingin memintamu tolong satu hal. Dia ingin memberikan hadiah istimewa berupa lukisan untuk sahabatnya. Jika kamu bersedia melukiskannya, biaya pembayaran tidak perlu dikhawatirkan—keluarganya sangat mampu dan akan membayarmu dengan layak.”
Emil menatap Dian lekat‑lekat, senyumnya melembut. “Apa pun yang kau minta, pasti akan kucoba penuhi.”
“Kau memang sahabat ku yang paling baik."
Sementara itu, Cindy hanya terpaku diam memandang wajah Emil, matanya tak berkedip sedikit pun.
“Cindy… Cindy?” Dian menepuk bahunya pelan, membuat gadis itu tersentak kaget. “Kamu melamun apa?”
“Bukan apa‑apa, Mbak… aku hanya sangat takjub melihat lukisan‑lukisan indah yang ada di sini,” jawabnya terbata‑bata sambil tersipu.
“Lihat kan, aku sudah sangat yakin, pasti kamu akan menyukainya. Baiklah, izinkan aku memperkenalkan. Ini sahabatku, Emil.”
“Halo, Kak Emil,” sapa Cindy pelan sambil menunduk malu.
“Halo juga, Cindy. Kamu ingin lukisan bergambar apa untuk hadiah itu?” tanyanya ramah.
Cindy hanya diam bingung. Ini pertama kalinya ia berkunjung ke tempat seperti ini. Meski di rumahnya sendiri banyak lukisan indah yang dipajang—hanya sekadar hobi kakaknya untuk menghias ruangan—ia sama sekali tidak mengerti seluk‑beluk seni melukis. Ia menoleh ke arah Dian memohon bantuan.
Dian langsung mengerti maksud pandangan itu. “Sebenarnya, ia ingin memberikan sesuatu yang paling berharga bagi sahabatnya; sesuatu yang bisa menjadi kenangan abadi di antara mereka berdua.”
“Begitu rupanya… kalau begitu, aku punya saran yang lebih baik,” ujar Emil sambil tersenyum bijak. “Bagaimana kalau Cindy sendiri yang melukisnya? Bukankah maknanya akan jauh lebih dalam dan berharga jika pemberian itu murni hasil karyanya sendiri?”
“Tapi… aku sama sekali belum bisa melukis apa‑apa. Apakah mungkin aku bisa melakukannya?” tanya Cindy ragu.
“Kapan tepatnya hari istimewa temanmu itu?”
“Tanggal dua puluh tiga bulan depan.”
“Masih ada waktu cukup lama. Jika kamu bersedia datang ke sini setiap hari untuk berlatih, pasti bisa selesai tepat waktu. Aku akan membimbingmu sampai bisa,” jawabnya meyakinkan.
“Emil, saranmu itu agak berlebihan juga,” potong Dian sedikit khawatir. “Dia sama sekali tidak punya dasar pengetahuan soal ini. Bagaimana mungkin dalam waktu singkat bisa menguasainya hingga menghasilkan karya yang bagus? Kamu memang ahli, tapi dia masih pemula sekali.”
“Kamu meragukan kemampuanku mengajar?” candanya sambil tersenyum. “Lagipula aku memang berniat membuka kelas melukis, jadi Cindy bisa menjadi murid pertamaku. Bukankah akan jauh lebih berkesan jika nanti ia menjelaskan bahwa lukisan itu murni hasil keringat dan usahanya sendiri?”
Cindy menyimak pembicaraan itu dengan saksama, dan perlahan hatinya sepakat sepenuhnya. Benar juga—hadiah buatan sendiri pasti jauh lebih berarti bagi orang yang menerimanya.
“Aku mau mencobanya!” serunya tiba‑tiba dengan suara agak keras hingga membuat kedua orang di depannya terkejut.
“Wah… suaramu cukup nyaring ya sampai ke telinga,” kata Emil sambil sedikit menggelengkan kepala sambil tersenyum geli.
Cindy langsung menunduk dalam karena malu. “Maaf ya…”
“Tidak apa‑apa, Cindy. Kak Emil memang suka menggoda anak kecil yang manis seperti kamu,” hibur Dian lembut.
“Tapi aku sudah duduk di bangku SMA meskipun aku hanya ikut homeschooling… jadi aku bukan anak kecil lagi,” bantahnya meski wajah masih memerah.
“Benarkah?” Dian tampak sedikit terkejut. “Kupikir masih duduk di bangku sekolah dasar.”
“Wah rupanya begitu… tapi kami berdua tetap jauh lebih tua darimu. Kamu pun pasti baru kelas satu SMA?” tebak Emil.
“Umurku sudah sembilan belas tahun,” jawab Cindy menegaskan.
“Meski begitu tetap terlihat masih muda sekali. Sedangkan kami sudah menginjak usia tiga puluh tahun ke atas,” tambah Emil sambil menatap Dian bercanda.
“Hei, umurku baru dua puluh enam tahun lho! Jangan samakan aku denganmu,” bantah Dian tegas sambil mendengus kecil.
“Tapi kenapa kamu tetap terlihat begitu manis dan kecil persis anak sekolah dasar?” goda Dian sambil mencubit pipi Cindy dengan gemas.
“Kenapa sih semua orang selalu menganggapku anak kecil? Apakah karena tubuhku yang agak pendek begini?” keluh Cindy dengan wajah cemberut manja.
Dian hanya tersenyum sambil menepuk bahunya pelan. “Sudah, sudah jangan marah begitu. Kita harus segera bergegas pulang, takutnya kakakmu mulai mencarimu ke mana‑mana.”
Mendengar itu Cindy langsung tersentak ingat. Kakaknya memang sangat menjaga dirinya. Ia segera memeriksa ponsel di tangannya—ternyata sudah ada dua puluh panggilan tak terjawab darinya.
“Tenang saja, nanti aku yang akan menjelaskan semuanya pada kakakmu,” ujar Dian lembut melihat kekhawatiran gadis itu.
“Benarkah? Terima kasih banyak, Kakak Ipar!” seru Cindy senang lalu memeluk lengan Dian dengan erat.
Emil langsung menatap Dian dengan tatapan penuh tanda tanya mendengar sapaan itu. Dian hanya bisa tersenyum pasrah sambil berbisik pelan, “Nanti aku jelaskan semuanya padamu.”
“Kalau begitu, kapan kita bisa mulai latihan?” tanya Emil kembali ke topik semula.
“Kapan saja menurutmu cocok?” balas Dian.
“Sebenarnya hari ini pun bisa dimulai agar lebih cepat selesai.”
“Itu semua tergantung keinginan Cindy saja,” kata Dian sambil menoleh ke arah gadis itu.
“Aku… ummm biasakan dimulai besok saja? Aku harus meminta izin kakakku dulu…” jawabnya ragu‑ragu.
“Tentu saja tidak masalah. Kalau begitu, bolehkah aku menyimpan nomor teleponmu? Supaya kita bisa mengatur jam berapa kamu datang ke sini,” ajuk Emil dengan sopan.
Cindy terdiam sejenak, wajahnya perlahan memerah lagi. Ia mulai berharap dalam hati: Apakah dia juga menyukaiku sampai ingin berhubungan lebih sering? Ia hanya diam tersenyum sendiri sambil melamun lagi.
“Cindy? Kamu sedang memikirkan apa lagi?” tanya Emil sambil menyentuh bahunya perlahan agar ia sadar kembali.
“Ah… maaf ya Kak Emil. Aku hanya sedikit khawatir kakakku cemas menunggu di rumah,” jawabnya tergagap. Ia pun segera mencatat nomornya dan menyerahkannya. “Ini nomorku.”
Mereka pun saling bertukar kontak.
“Ini nomor untuk urusan kerjaku. Jika ada temanmu yang lain yang mau ikut, silakan berikan saja nomor ini padanya,” tambah Emil sambil tersenyum.
“Jadi ternyata sekalian promosi,” canda Dian sambil tertawa kecil.
“Ya harus, selagi ada rezeki yang datang sendiri di depan mata,” bisik Emil pelan hanya untuk didengar Dian saja.
Hati Cindy seketika terasa sedikit kecewa mendengar penjelasan itu—ternyata bukan hal pribadi yang diharapkannya. Ia hanya mengangguk pelan menyembunyikan rasa kecewa itu.
“Terima kasih banyak ya, Emil. Aku harus bergegas mengantar Cindy pulang sekarang,” pamit Dian.
“Tunggu sebentar Dian… ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu,” panggilnya tiba‑tiba.
Cindy memperhatikan keduanya bergantian, seolah ada hal rahasia yang sedang terjadi di antara mereka.
“Nanti pasti akan kuceritakan semuanya padamu, aku sudah berjanji kan? Sekarang kami harus pergi dulu, takutnya kakak Cindy semakin gelisah mencarinya.”
“Baiklah… hati‑hati di jalan ya.”