NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:963
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Deklarasi OerangyDi Balik Layar

Lampu-lampu studio bioskop perlahan menyala, menandakan bahwa pemutaran film Gala Premiere malam itu telah usai. Tepuk tangan riuh dari para undangan, kritikus film, dan rekan sesama artis menggema memenuhi ruangan. Di atas panggung, Alena berdiri berdampingan dengan Adrian, membungkuk memberi hormat kepada penonton dengan senyuman yang tampak sempurna di bawah sorotan lampu teater. Namun, bagi Alena, dua jam di dalam kegelapan bioskop tadi tidak berbeda dengan duduk di atas kursi eksekusi. Pikirannya sama sekali tidak berada pada alur cerita film yang baru saja ditonton, melainkan terpaku pada rencana gila yang dilontarkan Adrian di lorong darurat tadi.

Pernikahan.

Sebuah kata yang terasa begitu asing, berat, dan menakutkan.

Begitu acara turun minum dan sesi foto bersama selesai, Adrian memberikan isyarat halus kepada tim pengawalnya. Empat pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam langsung membuat barikade, memotong jalur Alena dari kepungan staf agensinya sendiri, dan mengarahkannya menuju lift khusus VIP yang langsung menuju ke basemen parkir bawah tanah tingkat paling bawah tempat di mana sebuah mobil sedan mewah milik keluarga Dewangga sudah menunggu dengan mesin yang menyala.

"Adrian, kita mau ke mana? Aku harus kembali ke manajemen, tim operasional agensiku pasti mencariku," ujar Alena panik begitu pintu lift tertutup, menyisakan hanya mereka berdua di dalam ruang metal yang bergerak turun tersebut.

"Kita tidak akan kembali ke tempat Siska," jawab Adrian tenang, namun tatapan matanya lurus menatap angka lantai yang terus berkurang pada layar digital lift. "Mulai detik ini, kamu berada di bawah perlindungan hukum Dewangga Group. Siska sudah mengambil langkah pertama dengan memanfaatkan situasi ini untuk menekan kita secara terpisah.

Jika kamu kembali ke apartemenmu atau ke kantor agensi malam ini, mereka akan memaksamu menandatangani dokumen pembatalan hak asuh atau memaksa prosedur Singapura itu terjadi secara sepihak dengan ancaman denda lima puluh miliar."

Alena terdiam. Logika Adrian sangat dingin, namun sangat akurat. Siska adalah tipe wanita yang menghalalkan segala cara demi bisnis. Jika Alena terisolasi di tempat yang dikuasai agensi, ia tidak akan punya kekuatan untuk melawan.

Ting.

Pintu lift terbuka di basemen sunyi yang dijaga ketat. Adrian membimbing Alena masuk ke dalam mobil sedan tersebut. Sepanjang perjalanan membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang oleh tengah malam, keheningan mencekam menyelimuti kabin mobil. Alena hanya bisa menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalanan yang kabur oleh bayangan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa seperti sepotong pion yang sedang digerakkan di atas papan catur raksasa, di mana taruhannya adalah hidupnya sendiri dan janin yang ada di dalam rahimnya.

Tujuan mereka ternyata adalah gedung milik firma hukum utama yang ditunjuk oleh Dewangga Group di kawasan bisnis Sudirman. Di dalam sebuah ruang rapat besar berlantai marmer dengan pemandangan malam kota Jakarta, tiga orang pengacara senior dengan pakaian formal sudah duduk menunggu di balik meja kaca besar yang dipenuhi dengan tumpukan berkas.

"Selamat malam, Tuan Adrian, Nona Alena," sapa salah satu pengacara senior bernama Baskara, pria paruh baya dengan kacamata berbingkai perak dan tatapan mata yang sangat jeli. "Kami sudah menerima instruksi awal dari Tuan Adrian dua jam yang lalu, dan kami telah meninjau salinan kontrak eksklusif Nona Alena dengan pihak agensi Star Media Management."

Adrian menarik sebuah kursi untuk Alena, lalu duduk di sampingnya. "Bagaimana analisis kalian mengenai klausul moralitas dan denda ganti rugi lima puluh miliar yang digaungkan oleh manajernya?" tanya Adrian langsung pada poin utama.

Baskara membuka salah satu map tebal dan membenarkan posisi kacamatanya. "Klausul moralitas dalam kontrak Nona Alena memang sangat ketat, menyatakan bahwa kehamilan di luar nikah atau keterlibatan dalam skandal moral yang menurunkan nilai komersial artis dapat memicu pemutusan kontrak sepihak dan tuntutan ganti rugi. Angka lima puluh miliar rupiah itu adalah batas maksimal penalti yang tertera."

Baskara jeda sejenak, menatap Alena dengan pandangan profesional yang objektif. "Namun, klausul tersebut memiliki celah hukum yang sangat besar. Dokumen kontrak menyebutkan kata 'skandal publik yang terbukti menurunkan nilai komersial'. Jika sebelum berita kehamilan ini bocor sebagai sebuah skandal negatif, kita telah mengubah narasinya menjadi sebuah 'hubungan keluarga yang sah dan direncanakan', maka secara hukum, tidak ada pelanggaran moralitas yang terjadi. Pernikahan yang sah di mata hukum Indonesia tidak bisa dikategorikan sebagai skandal moral yang merugikan, melainkan sebuah hak asasi warga negara."

"Jadi, rencana konferensi pers pernikahan itu aman secara hukum?" Adrian memastikan.

"Sangat aman, Tuan Adrian," lanjut Baskara. "Bahkan jika pihak agensi Star Media tetap bersikeras membawa masalah ini ke pengadilan atau menuntut denda penalti karena merasa dirugikan secara komersial akibat Nona Alena yang harus mengambil cuti hamil, tim kami siap melayangkan tuntutan balik atas dasar intimidasi psikologis, pelanggaran privasi medik, dan pemerasan yang dilakukan oleh Saudari Siska sebagai perwakilan agensi. Kami memiliki bukti salinan hasil laboratorium yang didapatkan Saudari Siska secara ilegal tanpa izin pemilik medis, yaitu Nona Alena sendiri."

Mendengar penjelasan panjang lebar dari tim hukum tersebut, Alena merasakan secercah harapan kecil mulai tumbuh di dadanya. Beban berat seolah-olah diangkat dari pundaknya. Kekuatan uang dan jaringan hukum yang dimiliki oleh keluarga Adrian ternyata mampu membalikkan situasi buntu yang sebelumnya membuatnya ingin mati.

Namun, di tengah rasa lega itu, sebuah kenyataan pahit kembali menyergap batin Alena. Pernikahan. Ini berarti ia harus mengikatkan dirinya, nama baiknya, dan seluruh sisa hidupnya kepada Adrian—pria yang baru ia kenal sebagai rekan kerja di lokasi syuting, pria yang tidak mencintainya, dan pria yang menikahinya hanya karena rasa tanggung jawab atas sebuah kesalahan.

"Alena," panggil Adrian lembut, membuyarkan lamunan wanita itu.

"Bagaimana? Tim hukumku sudah menyiapkan draf surat pemutusan hubungan kerja dengan Star Media. Begitu kamu menandatanganinya, Baskara akan mengirimkan surat fisik dan pembayaran deposit ganti rugi awal ke kantor agensimu besok pagi pukul delapan. Setelah itu, kamu secara resmi bebas dari cengkeraman Siska."

Alena menatap lembaran kertas putih di depannya. Pena hitam di tangan kanannya terasa sangat berat. Jika ia menandatangani surat ini, tidak ada lagi jalan kembali ke kehidupannya yang lama. Panggung megah sebagai 'Nation's Sweetheart' yang suci dan tak tersentuh akan runtuh, digantikan oleh identitas baru sebagai seorang istri dari pewaris Dewangga Group yang sarat akan intrik korporasi dan sorotan tajam publik.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Alena menggoreskan tanda tangannya di atas meterai. ‘Demi anak ini,’ bisik batinnya menenangkan diri, seraya membawa tangan kirinya mengusap perutnya yang tersembunyi di balik meja rias.

Keesokan harinya, tepat pukul sembilan pagi, badai yang sesungguhnya pecah di industri hiburan tanah air. Surat pemutusan kontrak sepihak dari tim hukum Dewangga Group yang dikirimkan ke kantor Star Media Management memicu kepanikan massal di kalangan eksekutif agensi tersebut. Siska, yang baru saja tiba di kantornya dengan secangkir kopi, langsung histeris ketika mendapati ruangannya sudah dipenuhi oleh jajaran direksi dan surat resmi bertanda tangan Alena serta stempel firma hukum Baskara & Partners.

Ponsel Alena tidak berhenti bergetar sejak pagi. Ada ratusan panggilan tak terjawab dan pesan singkat penuh kemurkaan dari Siska. Namun, nomor tersebut telah diblokir secara sistematis oleh tim keamanan Adrian, dan Alena kini berada di sebuah tempat rahasia yang aman—sebuah penthouse mewah milik Adrian yang terletak di kawasan terisolasi di Jakarta Pusat, tempat di mana tidak ada satu pun jurnalis atau staf agensi yang bisa menembus masuk tanpa izin khusus.

Di ruang tamu penthouse yang luas, Adrian sedang berdiri di depan jendela besar, berbicara dengan suara rendah melalui telepon selulernya. Ia sedang berbicara dengan ayahnya, sang patriark dari keluarga Dewangga Group.

Alena bisa mendengar nada bicara Adrian yang tegas namun penuh rasa hormat, mencoba meredam kemarahan sang ayah yang tentu saja merasa terkejut dengan keputusan mendadak putranya untuk menikahi seorang aktris secara mendadak.

"Ayah, aku tidak meminta persetujuan bisnis, aku mengabarkan sebuah keputusan," ujar Adrian dingin sebelum mengakhiri sambungan teleponnya dengan bunyi klik yang tajam.

Adrian membalikkan badannya, menatap Alena yang sedang duduk di meja makan dengan segelas susu hangat di depannya.

"Konferensi pers dijadwalkan sore ini pukul empat di Grand Ballroom Hotel Dewangga. Seluruh media utama, baik media hiburan, media bisnis, hingga jurnalis investigasi sudah mengonfirmasi kehadiran mereka. Siska dan pihak Star Media juga dikabarkan sedang menyiapkan konferensi pers tandingan untuk menjatuhkanmu, jadi kita harus bergerak lebih cepat daripada mereka."

Alena meremas gelas susunya, merasakan kehangatan yang menjalar di telapak tangannya. "Adrian... apakah kamu benar-benar siap menghadapi ini semua? Bagaimana dengan para penggemarmu? Bagaimana dengan saham perusahamu yang mungkin akan bergejolak besok pagi karena berita ini?"

Adrian melangkah mendekat, lalu duduk di kursi seberang Alena. Wajahnya yang biasanya dipenuhi oleh ekspresi dingin di lokasi syuting kini tampak sangat dewasa dan penuh keyakinan.

"Saham bisa turun dan naik, Alena. Itu hanya angka di atas kertas digital. Penggemar bisa kecewa, tapi mereka akan menemukan idola baru seiring berjalannya waktu. Tapi kehidupan di dalam dirimu itu... dia hanya memiliki kita berdua untuk melindunginya saat ini. Jika aku mengorbankannya demi grafik saham atau popularitas, maka aku tidak lebih dari seorang pengecut yang tidak pantas menyandang nama keluargaku."

Kata-kata Adrian masuk begitu dalam ke lubuk hati Alena, meruntuhkan sebagian dinding pertahanan dan prasangka buruk yang selama ini ia bangun terhadap pria itu. Adrian mungkin bukan pria yang romantis, dan hubungan mereka tidak diawali oleh bunga-bunga cinta yang indah, namun di dalam diri pria itu, ada sebuah integritas dan rasa tanggung jawab yang sangat kokoh—sesuatu yang sangat jarang ia temukan di dunia hiburan yang penuh dengan kepalsuan.

"Terima kasih, Adrian," ujar Alena tulus, suaranya sedikit parau karena menahan haru.

"Jangan berterima kasih dulu, Alena. Pertunjukan yang sesungguhnya baru akan dimulai beberapa jam lagi. Gunakan waktu yang tersisa untuk beristirahat. Tim penata busana dan rias yang baru, yang sudah dikontrak di bawah sumpah kerahasiaan oleh Dewangga Group, akan tiba di sini jam satu siang untuk mempersiapkan penampilahmu," ujar Adrian seraya bangkit berdiri, memberikan senyuman tipis yang menenangkan sebelum berjalan menuju ruang kerjanya.

Pukul tiga sore, suasana di Grand Ballroom Hotel Dewangga sudah menyerupai medan perang informasi. Lebih dari dua ratus jurnalis dari berbagai media massa telah memenuhi ruangan, dengan barisan kamera televisi dan tripod yang berjejer rapat di bagian belakang. Bisik-bisik spekulasi terdengar berdengung di setiap sudut ruangan. Surat undangan konferensi pers yang dikirimkan oleh perwakilan hukum Dewangga Group sangat mendadak dan hanya menuliskan tajuk: “Pernyataan Resmi Terkait Hubungan dan Masa Depan Adrian Dewangga & Alena Putri.”

Di dalam ruang transit di balik panggung, Alena sedang berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun formal terusan berwarna putih tulang yang sangat elegan, dengan potongan yang sopan dan tidak terlalu mencolok.

Riasan wajahnya dibuat sangat natural, menonjolkan kecantikan alaminya tanpa kesan berlebihan. Di sampingnya, Adrian sudah berdiri dengan setelan jas abu-abu gelap yang membuatnya tampak sangat berwibawa sebagai seorang eksekutif muda sekaligus bintang papan atas.

Pintu ruang transit terbuka, dan Baskara masuk dengan wajah yang serius. "Tuan Adrian, Nona Alena, waktu kita sudah tiba. Di luar sana, suasana sangat panas. Saya menyarankan agar Nona Alena tetap tenang dan membiarkan saya serta Tuan Adrian yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat agresif dari para jurnalis."

Alena mengangguk pelan. Ia melirik ke arah Adrian, dan tanpa diduga, Adrian mengulurkan tangan kanannya ke arahnya. Alena menatap telapak tangan besar itu sejenak, lalu perlahan meletakkan tangan kanannya di atas tangan Adrian. Jari-jari Adrian langsung bertautan dengan jari-jarinya, memberikan cengkeraman yang hangat, kokoh, dan menyalurkan kekuatan yang luar biasa ke dalam tubuh Alena yang mulai mendingin akibat rasa gugup.

"Ayo kita hadapi mereka bersama," bisik Adrian tepat sebelum pintu menuju panggung utama dibuka oleh petugas keamanan.

Begitu melangkah keluar dari balik tirai hitam panggung, kilatan lampu flash dari ratusan kamera langsung meledak secara serentak, menciptakan dinding cahaya putih yang menyilaukan mata. Suara riuh jurnalis yang saling berteriak memanggil nama mereka bergaung memenuhi langit-langit ballroom yang tinggi.

Alena merasakan lututnya sempat lemas selama satu detik, namun cengkeraman tangan Adrian yang kuat di jemarinya membuatnya tetap mampu berjalan dengan tegak dan anggun menuju meja konferensi pers yang terletak di tengah panggung.

Mereka berdua duduk, diapit oleh Baskara di sisi kiri dan juru bicara utama Dewangga Group di sisi kanan. Di depan mereka, belasan mikrofon dari berbagai stasiun televisi berjejer rapi, siap merekam setiap helaan napas dan kata yang akan keluar dari mulut mereka.

Juru bicara membuka acara dengan suara yang formal melalui pengeras suara, meminta para jurnalis untuk tenang sebelum pernyataan utama dibacakan. Suasana ballroom mendadak menjadi sangat hening, begitu mencekam hingga suara detak jarum jam dinding di bagian belakang ruangan seolah bisa terdengar jelas.

Adrian mendekatkan mikrofon ke arahnya. Ia menatap lurus ke arah ratusan lensa kamera di depannya dengan pandangan mata yang tajam, tenang, dan tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Selamat sore kepada rekan-rekan media yang hadir hari ini," buka Adrian, suaranya yang berat bergaung mantap melalui pengeras suara ballroom. "Kami mengumpulkan kalian di sini hari ini untuk meluruskan berbagai spekulasi dan rumor simpang siur yang mulai berkembang di industri hiburan terkait hubungan kami berdua.

Saya, Adrian Dewangga, bersama dengan Alena Putri, hari ini ingin menyampaikan sebuah kabar bahagia sekaligus keputusan besar mengenai masa depan kami."

Adrian menjeda kalimatnya sejenak, sengaja membangun ketegangan di dalam ruangan, sebelum ia menoleh ke arah Alena dan menggenggam tangan wanita itu di atas meja, memperlihatkannya dengan jelas di hadapan seluruh kamera jurnalis.

"Kami berdua telah memutuskan untuk mengakhiri masa lajang kami dan akan melangsungkan pernikahan resmi dalam waktu dekat ini. Keputusan ini diambil bukan secara mendadak, melainkan setelah melalui komitmen yang mendalam di antara kami berdua untuk membangun sebuah keluarga yang utuh di luar profesi kami sebagai pekerja seni," deklarasi Adrian dengan lantang.

Suara gemuruh kepanikan dan keterkejutan langsung meledak di antara barisan jurnalis. Pertanyaan-pertanyaan agresif mulai dilontarkan tanpa menunggu sesi tanya jawab dibuka.

"Tuan Adrian! Apakah pernikahan ini terkait dengan rumor pemutusan kontrak sepihak Alena dari Star Media?!" teriak seorang jurnalis dari baris depan.

"Nona Alena! Benarkah rumor yang menyatakan bahwa pernikahan mendadak ini dilakukan karena Anda sedang hamil di luar nikah?!" cecar jurnalis lain dengan pertanyaan yang langsung menghujam tepat ke jantung pertahanan Alena.

Mendengar kata 'hamil', Alena merasakan tubuhnya menegang hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan. Namun, sebelum ia sempat menunjukkan kepanikannya, Adrian sudah terlebih dahulu mengambil alih situasi. Ia menatap jurnalis yang melontarkan pertanyaan tersebut dengan pandangan mata yang sedingin es, membuat jurnalis itu mendadak terdiam kikuk.

"Mengenai masalah kontrak dengan Star Media, tim hukum kami sudah menyelesaikan seluruh administrasi penalti secara sah hukum, jadi tidak ada lagi sangkut paut antara Alena dengan manajemen lamanya," jawab Adrian dengan nada suara yang penuh penekanan dan otoritas. "Dan terkait kehidupan pribadi kami... kami mengumumkan pernikahan ini karena kami menghormati nilai-nilai keluarga dan masa depan bersama yang sedang kami bangun. Kami tidak akan memberikan ruang bagi spekulasi liar atau gosip murahan yang berusaha merusak momen bahagia kami. Siapa pun, atau pihak agensi mana pun, yang mencoba menyebarkan berita bohong atau fitnah pencemaran nama baik terkait privasi calon istri saya mulai detik ini, akan langsung berhadapan dengan tim hukum pidana Dewangga Group tanpa ada jalur kekeluargaan."

Ancaman hukum yang dilontarkan Adrian dengan sangat tegas itu seketika membuat sebagian besar jurnalis di ruangan itu menahan napas mereka. Mereka tahu betul bahwa Dewangga Group tidak pernah bermain-main dengan ancaman hukum mereka. Di industri ini, perlindungan penuh dari sebuah keluarga konglomerat adalah perisai absolut yang tidak bisa ditembus oleh rumor sekecil apa pun.

Alena melirik ke arah Adrian dari samping.

Di bawah kilatan lampu flash yang terus menyala, ia melihat profil wajah pria itu yang tampak begitu kokoh dan melindungi di depannya. Di tengah badai panggung hiburan yang siap menguliti dan menghancurkannya hidup-hidup, pria yang awalnya ia sesali kehadirannya itu kini justru menjelma menjadi satu-satunya pelindung yang berdiri tegak menantang dunia demi dirinya dan anak di dalam rahimnya. Alena tahu, labirin kehidupan barunya bersama Adrian baru saja dimulai, dan panggung megah penuh sandiwara ini telah resmi berubah menjadi medan perang yang sesungguhnya bagi masa depan mereka.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!