Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Berlutut di Kakiku
Keheningan di dalam aula utama Restoran Royal Jade semakin mencekam. Kakek Bramasta Wijaya duduk tersandar di kursinya dengan napas yang memburu dan tidak teratur. Tatapan matanya yang biasa dipenuhi keangkuhan seorang kepala keluarga konglomerat, kini meredup, menyisakan ketakutan mendalam yang menggerogoti jiwanya. Rahasia penyakit mematikan dan manipulasi surat wasiat almarhum ayah Kirana adalah dua kartu as yang dia simpan rapat-rapat demi menjaga dinasti bisnisnya. Dan sekarang, kedua kartu itu berada di tanganku.
Kirana yang berdiri tidak jauh di samping meja utama mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dia melihat wajah kakeknya yang mendadak memutih seperti kapas, lengkap dengan keringat dingin yang membasahi dahi tuanya setelah aku membisikkan sesuatu tadi.
"Kakek? Kakek tidak apa-apa?" tanya Kirana dengan nada cemas, melangkah mendekat untuk memegang lengan Bramasta. "Adrian, apa yang sebenarnya kamu katakan pada Kakek? Kenapa wajah Kakek sampai seperti ini?"
Aku hanya memberikan senyuman tipis yang menenangkan kepada Kirana. "Aku tidak melakukan apa-apa, Kirana. Aku hanya mengingatkan Kakek tentang pentingnya menjaga kesehatan dan... menjaga kejujuran dalam keluarga."
Kakek Bramasta tersentak mendengar kata 'kejujuran' yang sengaja kutekankan. Tubuhnya yang ringkih bergetar hebat. Di dalam otak tuanya yang licik, dia sedang menghitung segala risiko yang akan terjadi jika aku membongkar dokumen surat wasiat asli itu ke publik atau ke pengadilan. Jika Kirana mengetahui bahwa dia adalah pemilik sah atas enam puluh persen saham Wijaya Group, maka seluruh anak dan cucu Bramasta yang lain—termasuk Kevin dan anak pertamanya—akan jatuh miskin dalam sekejap. Belum lagi skandal hukum yang bisa menjebloskan dirinya ke penjara di sisa umurnya yang tinggal enam bulan akibat kanker paru-paru.
Tidak... ini tidak boleh terjadi! Reputasi keluarga Wijaya tidak boleh hancur di tanganku! pekik Bramasta dalam hatinya yang dirundung kepanikan luar biasa.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Kakek Bramasta mencengkeram lengan Kirana, lalu perlahan-lahan menggeser tubuhnya turun dari kursi mewah tersebut. Gerakannya yang lambat dan gemetar menarik perhatian seluruh kerabat keluarga Wijaya yang masih bertahan di dalam aula.
"Kakek? Apa yang Kakek lakukan?! Jangan paksakan berdiri!" seru paman kedua Kirana, berusaha maju untuk membantu ayahnya.
Namun, apa yang terjadi berikutnya membuat seluruh orang di dalam ruangan itu mendadak kehilangan kemampuan untuk berpikir waras.
Kakek Bramasta tidak sedang berusaha untuk berdiri tegak. Alih-alih berdiri, kedua lutut tuanya justru perlahan-lahan turun ke lantai marmer yang dingin. Di depan mata ratusan kerabat, mitra bisnis, dan para pelayan restoran, sang kepala keluarga besar Wijaya yang selalu diagung-agungkan, kini berlutut dengan kedua lututnya tepat di depan kaki usangku.
Brak!
Suara tongkat naganya yang terjatuh ke lantai marmer terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang mematikan tersebut.
"Kakek?!" Kirana menjerit histeris, menutup mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat. Kakeknya yang begitu keras kepala dan dihormati oleh seluruh pengusaha di kota ini, sekarang bersujud di depan suaminya yang selama ini dianggap sampah.
"Ayah! Apa yang Anda lakukan?! Kenapa Anda berlutut pada si pengemis ini?!" paman kedua Kirana berteriak panik, wajahnya memerah padam karena merasa nama baik keluarganya telah diinjak-injak sampai ke dasar bumi.
"Diam kalian semua! Tutup mulut kalian!" bentak Kakek Bramasta dengan sisa tenaga suaranya yang serak dan gemetar, menoleh sekilas kepada anak-anaknya yang hendak mendekat. "Jangan ada yang berani melangkah maju atau berbicara satu kata pun! Ini adalah urusanku dengan Adrian!"
Setelah membentak keluarganya, Bramasta kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan sepatuku. "Adrian...
maafkan orang tua yang buta ini. Selama dua tahun ini, keluarga Wijaya telah memperlakukanmu dengan sangat buruk. Kami bersalah... aku bersalah karena telah membiarkan Kevin dan Erika menghinamu serta ibumu. Tolong... mohon belas kasihanmu, Adrian. Jangan hancurkan apa yang tersisa dari orang tua ini..."
Aku menatap pria tua yang sedang bersujud di bawah kakiku ini tanpa ada rasa iba sedikit pun di dalam hatiku. Dua tahun penuh siksaan mental, caci maki, dan penghinaan yang kuterima tidak akan bisa dihapus hanya dengan satu kali berlutut yang didasari oleh rasa takut kehilangan harta benda. Aku tahu persis, Bramasta berlutut bukan karena dia menyesal telah menyiksaku, melainkan karena dia takut rahasia busuknya terbongkar dan bisnisnya hancur.
[Ding! Misi Rahasia Diaktifkan: Penyerahan Kekuasaan Tahap Pertama.]
[Tugas: Buat Kakek Bramasta menyerahkan hak saham milik Kirana secara sukarela dalam waktu 24 jam.]
[Hadiah Misi: Kartu Pemulihan Medis Tingkat Dewa (Dapat menyembuhkan segala jenis penyakit dalam waktu instan) & Penambahan Saldo Rekening senilai 50 Miliar Rupiah!]
Mendengar suara digital dari Sistem yang kembali berdengung di dalam kepala ku, senyumanku semakin melebar. Sistem ini benar-benar tahu bagaimana cara menuntun alur balas dendamku menjadi sebuah mahakarya yang sempurna. Hadiah berupa kartu pemulihan medis adalah umpan terbaik yang tidak akan bisa ditolak oleh seorang pria sekarat yang ingin memperpanjang hidupnya seperti Bramasta.
Aku membungkukkan sedikit badanku, mendekati telinga Bramasta yang masih menempel dekat dengan lantai. "Kakek Bramasta, jika Anda ingin saya menutup mulut dan memberikan Anda kesempatan untuk hidup lebih lama dari enam bulan, besok pagi jam sembilan, datanglah ke rumah kontrakan kecilku bersama pengacara pribadi Anda."
Bramasta mendongak perlahan, matanya yang merah dan berair menatapku dengan binar harapan yang rapuh. "A-Adrian... apa maksudmu dengan hidup lebih lama?"
"Saya punya cara untuk menyembuhkan kanker paru-paru stadium tiga Anda dalam sekejap, Kakek. Sesuatu yang tidak akan bisa dilakukan oleh teknologi medis mana pun di dunia ini," bisikku dengan penuh percaya diri. "Tapi syaratnya mudah. Kembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Kirana tanpa ada yang kurang sepeser pun. Jika besok pagi saya tidak melihat draf revisi surat wasiat asli itu di meja kontrakanku... maka bersiaplah melihat nama Wijaya Group hancur di seluruh media cetak dan televisi nasional sebelum matahari terbenam."
Bramasta menelan ludah, dadanya naik turun dengan cepat menahan debaran jantung yang luar biasa. Tawaran ini adalah berkah sekaligus kutukan baginya. Di satu sisi, dia bisa sembuh dari penyakit mematikan yang menyiksanya, namun di sisi lain, dia harus menyerahkan kendali utama perusahaan kepada Kirana, cucu yang selama ini dia pinggirkan.
"B-baik... aku mengerti... aku akan datang besok pagi, Adrian. Aku berjanji," jawab Bramasta dengan suara yang pasrah, menandakan kekalahan mutlaknya di ronde pertama ini.
Aku kembali menegakkan tubuhku, lalu berbalik menatap Kirana yang masih mematung dengan tatapan kosong karena syok yang beruntun. Aku menggandeng tangan halusnya yang terasa dingin karena cemas.
"Ayo kita pulang, Kirana. Acara ulang tahun ini sudah selesai, dan tempat ini sudah tidak menarik lagi bagi kita," ujarku lembut, menariknya perlahan meninggalkan panggung utama.
Manajer Thomas dan puluhan sekuriti segera membuat barisan barikade di kanan dan kiri kami, membungkuk hormat mengiringi langkahku dan Kirana yang berjalan gagah keluar dari aula restoran mewah tersebut. Seluruh kerabat keluarga Wijaya hanya bisa menatap punggungku dengan rasa ngeri yang mendalam. Mereka tahu, mulai malam ini, roda nasib telah berputar, dan menantu sampah yang selalu mereka injak telah berubah menjadi sosok dewa yang memegang kendali atas hidup dan mati keluarga mereka.