Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku ingin menikahi Alisa
Hafidz tatap sang Abah itu cemas, "Bah...! Meskipun Alisa masa laluku tapi perasaanku padanya itu murni, Bah!"
Zefano tak sanggup menahan tawanya. Menatap ke arah Hafidz dengan sorot mata yang berkilat.
Kiai Hakim faham betul perasaan Hafidz, namun justru ini adalah kesempatan yang bagus. Karena dengan Alisa menjadi milik kakaknya, Hafidz tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak dari perjodohan ini.
"Bah...aku mohon! Ada banyak nama Alisa! Mungkin saja maksud kakak Alisa yang lain, kan?"
"Alisa yang ku maksud adalah gadis berkerudung syar'i dengan lesung Pipit bergamis mocca."
DEG!
Jantung Hafidz langsung dibuat berhenti berdetak. Gamis mocca adalah pakaian Alisa tadi sore. Yang itu artinya, Alisa yang Zefano maksud adalah masa lalunya, gadis yang dia campakan demi menikah dengan Anisa.
"Baiklah." Final Kiai Hakim, mengejutkan Hafidz.
"Bah!"
"Sudahlah, Hafidz! Kenapa kamu terus memikirkan gadis itu!? Fikirkan Saha masa depanmu dengan Anisa! Suatu saat kamu akan menggantikan Abah mengurus pesantren ini! Fikirkan secara baik-baik, Hafidz!"
Hafidz mengepalkan tangannya di atas pangkuan, merunduk dalam setelah mendapat penolakan telak dari sang Abah.
Sementara Zefano, senyum lebarnya langsung terbit. Seolah ia mendapatkan kemenangan telak disini.
"Aku tak mengira, gadis yang selalu membawa tasbih kokka itu ternyata masa lalumu."
Hafidz yang merunduk itu seketika mendongak, "Tasbih kokka?" Ulangnya.
Satu alis Zefano tertarik ke atas, "Iya, kenapa?"
Hafidz kembali merunduk, air matanya menitik kecil. Tangannya meremat sofa di samping tubuhnya kuat.
Tasbih kokka, bagaimana bisa ia melupakan tasbih itu. Tasbih yang ia berikan satu hari sebelum ia berangkat ke Kairo. Ternyata Alisa masih menyimpannya. Hal itu semakin menggores hati Hafidz karena itu artinya, Alisa begitu berharap ia yang akan dipinang olehnya.
"Maafkan aku, Alisa." Lirihnya terisak.
Sementara Zefano semakin merasa jumawa. Ia merasa satu langkah di atas adiknya. Meski begitu, cintanya pada Alisa itu benar-benar getaran tersendiri dari dalam hati.
"Saat aku pertama kali melihat wajahnya, aku langsung jatuh cinta. Dan entah mengapa, darahku berdesir hebat setiap berdekatan dengannya. Bukankah ini jodoh?" Ucap Zefano dengan tenang. Menatap adiknya itu intens.
Hafidz yang semula merunduk sembari menangis itu mendongakkan kepalanya cepat, menatap tajam sang kakak, "Cukup, Kak! Kamu tidak pantas mendapatkan cinta suci dari Alisa! Dia gadis yang baik-baik, seharusnya dia mendapatkan pria yang jauh lebih baik daripada dirimu!"
Zefano tak mampu menahan tawanya, "Wow? Kau meragukanku, adikku? Memangnya aku itu seperti apa di gambaran otakmu, hmm?"
Hafidz tatap tajam sang kakak, tangannya semakin mengepal di samping tubuh.
"Kakak itu cuma lelaki yang sudah rusak! Kakak hampir memp*rkosa santriwati dulu! Sementara Alisa adalah gadis yang sangat terjaga. Aku bahkan tidak berani menyentuhnya saking sucinya gadis itu. Dia tidak pantas menjadi milik kakak!" Final Hafidz, mengeluarkan unek-unek yang sedari tadi memadat di dadanya.
Zefano terkekeh geli, "Ada bukti?"
Satu alis Hafidz naik, "Maksud kakak?"
"Ada bukti tidak jika aku benar-benar memp*rkosa santriwati?" Tanyanya lagi dengan tenang, menyeringai tipis.
Raut wajah Hafidz langsung pucat. Ia memang tidak melihat langsung. Tapi seluruh santri membicarakan tentang kakanya dulu melakukan hal bejat di kamar mandi santri putri. Meski ujungnya, tuduhan itu tidak terbukti.
"Semua orang membicarakannya! Kalo kakak—"
"Cukup kalian berdua!" Potong Abah Hakim panas.
"Selalu seperti itu, jika kalian disatukan tidak pernah akur!" Imbuhnya geram, memukul sandaran tangan di kursinya kuat.
Zefano hanya terkekeh saja, menaikkan satu kakinya ke atas kaki yang lain. Menatap Hafidz dengan senyum remeh.
Sementara Hafidz, dia tidak bisa berucap apapun lagi. Abah sudah menyetujuinya. Meski begitu, Hafidz tetap tak mau Alisa menjadi istri kakaknya yang terkenal bejat itu.
Lelaki itu lekas berdiri dari duduknya, tangannya mengepal erat di samping tubuh. Menatap abahnya serius.
"Abah, saya izin keluar terlebih dahulu."
Hafidz langsung keluar tanpa menunggu persetujuan Abah Hakim. Membuat sang pengurus pesantren itu hanya bisa mendesahkan nafas pasrah. Sementara Zefano hanya melirik sekilas kepergian Hafidz dengan senyuman remeh.
Hafidz berjalan serius menuju asrama putri. Tak perduli santriwati menggosip apa, yang jelas—Alisa harus tau niat kakaknya itu.
Saat ia hendak menuju gerbang putri, ia tak sengaja melihat Alisa hendak ke kamar mandi. Buru-buru berbisik untuk memanggil gadis itu.
Baru saja Alisa hendak melangkahkan kakinya, suara seseorang menghentikan langkahnya, yang tak lain adalah Hafidz.
"Gus Hafidz?"
Terlihat Hafidz berbisik 'sini!' sembari melambaikan tangannya untuk Alisa mendatanginya.
Alisa awalnya enggan, namun terlihat Hafidz terus memaksa. Membuat dirinya juga merasa penasaran. Berjalan mendekat ke arah gerbang.
"Ada apa, Gus? Sudah malam, tolong kembali ke tempat anda." Ucap Alisa datar, tak ada lagi senyuman ataupun tatapan penuh binar pada Hafidz. Membuat hati mungil pria itu tercubit.
Meski begitu, Hafids tak terlalu mempermasalahkan, tersenyum manis pada Alisa.
"Keluarlah, Alisa. Aku ingin mengobrol sebentar denganmu, ini penting." Bisik Hafidz lagi.
Alisa yang semakin penasaran itu pun menurut saja. Ia segera membuka pembatas antara dunia luar dengan asrama putri. Menghadap pada sang putra kiai itu.
"Kenapa, Gus? Tolong cepat karena saya harus tidur." Tegas Alisa dingin.
"Kamu harus pergi dari sini, Alisa." Final Hafidz tiba-tiba.
Tubuh Alisa langsung terpaku. Dadanya berubah sesak.
"Apa ini? Rasa sakitnya saja belum reda tapi dia justru mengusirku secepat ini?" Batin Alisa, tersenyum getir.
"Tenang saja, Gus. Saya tidak akan mengacaukan pernikahan anda. Saya akan turut berbahagia, dan semoga, pernikahan anda dengan Ning Anisa berjalan lancar."
Hafidz menganga, spontan mengusak rambutnya frustasi saat menyadari Alisa salah paham dengan maksud ucapannya.
"Aku bukan ingin mengusirmu, Alisa. Tapi kamu akan dijodohkan dengan Kak Zefano! Dia pria yang tidak benar, Alisa. Aku tidak mau kamu hancur hidup dengan pria seperti dia!"
Melongo Alisa disitu. Menatap kosong Hafidz yang menatapnya cemas.
"Di-dijodohkan?" Ulangnya, lemah.
Hafidz mengangguk cepat, "Benar, Alisa. Kak Zefano bukanlah pria baik-baik, Alisa. Aku tidak mau hidupmu hancur di tangan pria seperti dia!"
Alisa masih tak mengerti. Zefano? Dia memang pernah mendengar nama itu sekilas. Namun belum pernah melihat seperti apa sosok Kakaknya Hafidz itu.
"Aku cari kau kesana kemari rupanya kau disini, Hafidz."
Suara dingin itu, dengan intonasi rendah nan datar yang sesiapapun mendengarnya akan terkejut. Hafidz dan Alisa menoleh bersamaan.
Betapa terkejutnya Alisa, ternyata Zefano yang dimaksud oleh Hafidz adalah pria yang ia takuti saat berjumpa dengannya tadi.
Kaki Alisa refleks mundur setapak, menatap kosong sosok Zefano yang berjalan dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celana, sementara satu tangannya lagi itu menyebat sebatang rokok. Menatap mereka intens.
"Kenapa kau menjelek-jelekkanku di depan calonku, Hafidz?"