NovelToon NovelToon
Villain & Villainess

Villain & Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.

Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.

Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.

Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04: Books

Sinar matahari siang itu menyelinap masuk melalui celah-celah dedaunan pohon raksasa di taman istana, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang beralun di atas tikar piknik berwarna merah bergaris putih tempat Amorette duduk bersandar. Udara terasa hangat namun sejuk karena dihembus angin lembut yang membawa aroma wangi bunga mawar dan melati yang tumbuh subur di sekelilingnya. Di samping kanan dan kirinya, berdiri tegap dua sosok pelayan yang setia: Esther, wanita paruh baya yang lembut dan bijaksana, serta Lily, gadis muda yang lincah dan cekatan. Keduanya adalah satu-satunya orang di istana yang masih memperlakukan Amorette dengan hormat dan tulus, bahkan saat gadis itu masih menjadi sosok yang kejam dan dibenci semua orang.

Amorette tenggelam dalam keheningan yang damai, matanya bergerak cepat menyusuri setiap baris tulisan di halaman terakhir buku yang sedang dipegangnya. Jari-jarinya yang ramping mengusap pinggiran kertas yang mulai menguning, menyerap setiap informasi yang tertulis di sana. Bagi orang lain, buku berjudul Dasar-Dasar Pertempuran dan Seni Bertahan Hidup hanyalah kumpulan tulisan membosankan yang tidak berguna bagi seorang putri. Namun bagi Amorette, atau lebih tepatnya bagi Autumn, setiap kata di dalamnya adalah bekal penting. Di dunia asalnya, ia belajar bertahan hidup dengan kecerdasan; di dunia baru ini, ia harus melengkapi dirinya dengan kekuatan fisik dan strategi pula.

Beberapa menit berlalu, dan akhirnya ia menutup buku itu dengan pelan. Bunyi halus itu memecah keheningan, membuat Esther yang sedang menyusun bunga di dekatnya menoleh.

"Sudah selesai dibaca, Yang Mulia?" tanya Esther dengan nada lembut.

Amorette mengangguk perlahan, tersenyum puas. "Ya. Isinya cukup jelas dan terperinci."

Segera saja, Esther mengulurkan tangannya untuk mengambil buku itu. "Kalau begitu, izinkan saya mengembalikannya ke perpustakaan sekaligus mengambilkan buku bacaan lain untuk Tuan Putri. Apakah ada judul tertentu yang Yang Mulia inginkan?"

Mata Amorette berbinar. Ia memang sudah menyiapkan daftar buku selanjutnya dalam benaknya.

"Ambilkan buku yang judulnya Cara Berpedang dan Teknik Menyergap Musuh, ya," ujarnya seraya tersenyum manis, seolah-olah ia baru saja meminta buku dongeng anak-anak, bukan panduan cara membunuh atau melumpuhkan lawan.

Esther sedikit tertegun, namun ia sudah terbiasa dengan kebiasaan aneh tuannya yang belakangan ini semakin sulit dimengerti. Ia hanya mengangguk patuh, menerima buku yang sudah selesai dibaca itu, lalu berjalan cepat meninggalkan taman menuju gedung perpustakaan.

Untung saja aku punya ingatan yang baik. Hampir semua isi di buku itu telah kuingat, batin Amorette sambil merentangkan kakinya dengan santai, membiarkan sinar matahari menyentuh kulitnya. Ingatan fotografis yang menjadi kebanggaannya semasa kuliah dulu kini sangat berguna. Ia tidak perlu membaca berulang kali; sekali baca, isi buku itu sudah tersimpan rapi di dalam kepalanya.

Suasana kembali hening. Lily menyajikan segelas teh dingin dan kue buah yang segar, namun sebelum Amorette sempat menyentuhnya, suara sapaan yang tenang dan berwibawa terdengar dari arah jalan setapak yang tertutup pepohonan.

"Hari yang cerah ya, Putri Amorette."

Gerakan tangan Amorette terhenti sepersekian detik. Ia mengenali nada suara itu. Ia mengenali timbre bicaranya, cara pengucapannya, dan aura yang menyertai suara itu. Semua itu muncul dari sisa-sisa ingatan pemilik tubuh aslinya yang begitu terobsesi pada pemilik suara itu.

Pangeran Theodore Sullivan Remington.

Dengan gerakan perlahan, Amorette berbalik ke arah sumber suara. Di sana, berdiri seorang pemuda tampan dengan seragam kebesaran bangsawan berwarna biru tua berlambangkan elang emas. Wajahnya gagah, rahangnya tegas, dan matanya yang berwarna biru laut menatap lurus ke arahnya. Itulah pria yang dalam cerita digambarkan sebagai sosok ksatria sempurna, pria yang seharusnya menjadi milik Amorette namun memilih Elarise, dan pria yang kelak akan menjadi salah satu hakim yang menjatuhkan hukuman mati padanya.

Pandangan Amorette saat itu sangat rumit. Ada rasa waspada, ada rasa ingin tahu, namun sama sekali tidak ada sedikit pun rasa cinta, kagum, atau sakit hati. Perasaan itu sudah mati bersama dengan kematian Amorette yang lama. Di sini, yang ada hanyalah Autumn Isabella, wanita yang dikhianati tunangannya sendiri dan sudah tidak percaya lagi pada pesona laki-laki manapun, apalagi laki-laki yang berpihak pada musuhnya.

Amorette segera berdiri tegak, merapikan sedikit lipatan gaun putih sederhananya yang hanya dihiasi pita hijau kecil. Ia membungkuk hormat dengan gerakan anggun dan sopan, sesuatu yang jarang dilakukan oleh Amorette terdahulu pada siapa pun, apalagi pada Theodore.

"Selamat siang, Pangeran Theodore," jawabnya tenang, nada suaranya datar dan ramah tanpa ada nada menggoda atau berusaha menarik perhatian.

Theodore tampak terkejut. Matanya membulat sedikit, lalu ia menyapu pandangannya dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun Amorette. Ia teringat betul bagaimana penampilan gadis ini biasanya: selalu bergaun kain beludru mewah yang berat, penuh dengan sulaman emas, permata berkilauan, riasan wajah yang tebal, dan rambut yang ditata rumit dengan hiasan berlebihan—semua itu dilakukan hanya untuk terlihat lebih mewah dan mencolok dibandingkan Elarise.

Namun hari ini... pemandangan di hadapannya sungguh berbeda seratus delapan puluh derajat.

Gaun yang dikenakan Amorette sangat sederhana, polos, dan jauh lebih sederhana dibandingkan gaun-gaun yang biasa dipakai Elarise yang penuh renda dan pita. Rambut pirang terangnya dibiarkan terurai jatuh indah dipeluk angin, tanpa hiasan apa pun selain pita hijau kecil. Tidak ada riasan mencolok di wajahnya, namun justru membuat kecantikannya yang alami dan tajam itu terlihat semakin menonjol. Ia terlihat bersih, segar, dan damai. Rasanya aneh bagi Theodore melihat perubahan ini, namun entah mengapa, ia merasa sulit untuk mengalihkan pandangannya.

"Penampilanmu berbeda sekali hari ini," ucap Theodore pelan, alisnya berkerut karena rasa penasaran yang bercampur curiga. Ia tidak percaya Amorette bisa berubah tanpa alasan. "Apa karena Elarise lagi? Kau berusaha meniru gayanya yang sederhana dan alami ini supaya terlihat baik di mata orang lain, begitu?"

Di dalam hati Amorette, ia tertawa sinis. Dasar orang yang berpikiran sempit. Semua hal pasti dikaitkan dengan Elarise di otakmu yang kosong itu? Namun, di luar ia hanya menampilkan senyum tipis yang sedikit mengejek.

"Pangeran Theodore," ucapnya pelan namun tegas, "tidak semua hal di dunia ini harus berhubungan dengan Putri Elarise. Pusat dunia ini bukanlah dirinya. Matahari tetap bersinar, bunga tetap mekar, dan aku tetap hidup dan bernapas tanpa harus berputar di sekelilingnya."

Ia berhenti sejenak, menatap mata biru itu dengan tatapan yang jujur dan sedikit melelahkan.

"Aku hanya lelah. Lelah membuang-buang waktu dan uang hanya untuk meminta perhatian dari ayah dan kakakku. Kupikir, berusaha keras mendapatkan pandangan dari orang yang tidak pernah mau melihat kita itu sangat kekanak-kanakan, bukan? Aku sudah cukup dewasa untuk berhenti melakukan hal bodoh seperti itu."

Theodore terdiam. Kalimat itu, nada bicara itu, dan pandangan mata yang jauh itu... semuanya terdengar begitu bijak, begitu dewasa, dan begitu menyedihkan sekaligus. Ia selalu menganggap Amorette sebagai gadis manja yang penuh kecemburuan sosial. Ia tidak pernah berpikir bahwa di balik semua kemarahan dan tingkah laku buruk itu, ada rasa kecewa dan kesepian yang begitu besar.

Di tengah keheningan yang canggung itu, Esther kembali berjalan mendekat. Wanita itu membawa dua buku tebal di tangannya. Ia menghampiri tuannya dengan hormat dan menyerahkan kedua buku itu.

"Ini buku yang Tuan Putri minta," ucap Esther pelan, lalu mundur kembali ke tempat semula.

Kedatangan Esther memecah kebisuan. Theodore menatap sampul buku yang kini ada di tangan Amorette, dan matanya kembali melebar karena tak percaya.

"Cara Berpedang", "Teknik Menyergap Musuh", dan "Panduan Ilmiah Tanaman Beracun dan Penawarannya".

Dua judul buku yang sama sekali tidak wajar ada di tangan seorang putri kerajaan.

"Kulihat, kau suka membaca hal-hal yang aneh hari ini," celetuk Theodore, nada bicaranya sedikit meremehkan namun juga penasaran. "Lebih mengejutkannya lagi, itu adalah buku panduan bertarung dan racun. Itu bukan bacaan yang biasa dibaca untuk wanita bangsawan. Apa rencanamu mempelajari hal seperti itu?"

Amorette menatap tajam ke arah pria itu. Ia merasa sedikit jengkel. Kenapa setiap orang merasa berhak mengomentari apa yang aku lakukan atau baca?

"Ah," sahutnya santai sambil membuka halaman pertama buku pedang itu, seolah tidak ada hal yang istimewa. "Aku tidak tahu kau adalah tipe laki-laki yang sangat mengurusi hobi dan bacaan wanita, Pangeran Theodore. Sepertinya waktu luangmu terlalu banyak, ya?"

Ia mengangkat pandangannya, menatap lurus ke manik mata biru itu dengan sorot mata yang tajam dan cerdas.

"Dan kau tahu? Pernyataanmu tadi itu sedikit menyinggungku. Apa artinya 'bukan bacaan biasa untuk wanita'? Bagaimana jika di masa depan ada wanita bangsawan lain yang tertarik pada strategi militer, ilmu pengobatan, atau seni bela diri sama sepertiku? Apakah kau akan menertawakan mereka juga? Apakah kau akan menganggap mereka aneh? Bukankah itu akan sangat memalukan bagi ksatria sepertimu jika kau menilai kemampuan seseorang hanya berdasarkan jenis kelaminnya?"

Kalimat itu meluncur keluar begitu saja, tajam dan tepat sasaran, membuat Theodore tersentak hebat. Pangeran itu menelan ludahnya dengan canggung. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Di dalam pikirannya yang kaku, wanita hanya seharusnya belajar memasak, menjahit, musik, atau tata krama. Namun, logika Amorette masuk akal, dan cara gadis itu berargumen... sungguh memukau. Ada kecerdasan yang tajam di balik wajah cantik itu, kecerdasan yang entah mengapa baru ia sadari sekarang.

Wajah Theodore memerah karena rasa malu yang aneh. Ia menundukkan kepalanya sedikit, nada suaranya berubah menjadi lebih lembut dan hormat.

"Maafkan ketidaktahuanku, Putri Amorette. Kau benar... aku terlalu berprasangka dan membatasi kemampuan seseorang. Aku minta maaf," ucapnya tulus. Ia merasa ada perubahan besar pada gadis di hadapannya ini, perubahan yang membuatnya semakin sulit untuk dipahami, namun sekaligus membuatnya semakin tertarik.

"Baiklah, sepertinya aku sudah cukup lama mengganggu waktumu untuk membaca. Aku akan pergi sekarang. Kita akan bertemu lagi di pesta ulang tahun Elarise besok," pamit Theodore, lalu berbalik perlahan meninggalkan taman itu, sesekali menoleh ke belakang seolah enggan pergi.

Amorette hanya membalas dengan salam perpisahan yang sopan dan dingin, lalu begitu sosok tinggi itu menghilang di balik pepohonan, ia langsung memutar bola matanya ke atas dengan rasa malas yang mendalam.

"Dasar laki-laki yang membosankan dan sok tahu," gumamnya pelan, cukup untuk didengar oleh Lily yang tertawa kecil menahan tawa.

Kedua pelayannya itu tampak sangat tertarik dengan interaksi yang baru saja terjadi. Selama ini, tidak pernah ada satu pun percakapan antara Amorette dan Theodore yang berakhir damai dan sopan. Biasanya, keduanya akan berdebat atau berakhir dengan Theodore yang membela Elarise. Namun hari ini... Amorette berhasil membuat sang pangeran tampan itu meminta maaf dan pergi dengan wajah bingung.

Namun, saat Lily hendak bertanya, Amorette hanya menggeleng pelan dan kembali menunduk ke arah bukunya. "Jangan tanya apa-apa, Lily. Dia hanya orang asing yang kebetulan kami saling kenal. Tidak ada yang penting dibahas."

Di sisi lain jalan setapak, Theodore berjalan perlahan dengan langkah yang berat. Ia tersenyum sendiri, sebuah senyum yang tidak ia sadari muncul di bibirnya. Di dalam kepalanya, bayangan wajah Amorette terus berputar. Kecerdasan gadis itu, ketenangannya, senyum mengejeknya, dan rasa kesepian yang ia ungkapkan tadi... semuanya membuat hati pria itu bergemuruh.

Ia berpikir kembali, menganalisis semua kejadian belakangan ini. Dia berubah begini karena ingin menarik perhatianku, bukan? pikirnya, penuh dengan rasa percaya diri yang keliru namun meyakinkan. Dia bilang dia berhenti mencari kasih sayang ayah dan kakaknya... artinya dia memang sangat kekurangan kasih sayang, dan dia membutuhkan seseorang untuk melihatnya. Dulu dia mencoba cara yang salah dengan menjadi jahat, tapi sekarang dia berusaha menjadi lebih baik agar aku melihatnya.

Rasa simpati yang besar mulai tumbuh di hati Theodore. Ia selalu menganggap Amorette sebagai penjahat, namun ternyata gadis itu hanya korban dari lingkungan dan kasih sayang yang tidak seimbang. Rasa bersalah perlahan menjalar di dadanya. Ia teringat bagaimana ia selalu memihak Elarise, bagaimana ia selalu mengabaikan Amorette, dan bagaimana ia membuat gadis itu semakin tersisih.

Langkah kakinya terhenti tepat di sudut lorong. Ia menatap langit-langit istana yang tinggi, matanya menatap kosong namun pikirannya penuh dengan gejolak baru.

"Seharusnya aku tidak mendekati Elarise..." ucap Theodore pelan, suara itu hilang terbawa angin, menjadi awal dari perubahan besar yang tidak pernah tertulis di naskah cerita aslinya. "Mungkin... selama ini aku salah menilai segalanya."

1
Agus Hidayat
rambutnya Amorette sebenarnya warna pirang apa hitam kok selalu berubah?
cynth: Kayaknya lupa kuubah deh. Seharusnya itu pirang (walau rencana awalnya hitam biar senada sama warna matanya). Terima kasih ralatnya ya, Kak (^-^)/
total 1 replies
kitty ❤
seru thor, lanjutkan 😍🔥
cynth: Thank you Kak (*^^*)
total 1 replies
MayAyunda
keren👍👍
cynth: Terima kasih udah mampir <3!
total 1 replies
cila_aa
baguss banget kak next nunggu chapter selanjutnyaa
cynth: Makasih udah mampir, Kak <3
total 1 replies
Sahabat Oleng
Keren 👍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
lidiaaa
semangat Kaa, ceritanya seru
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
Davina Aurora
menarik ceritanya😍
cynth: Makasih Kak <3
total 1 replies
4revenge
hanssssss
4revenge
ini ni 😍
4revenge
seru padahal baru baca awal awal.
NonaMudaDesi
Kayaknya bagus nih cerita, konspenya kuereennn, tetep semangat kakk, aku mau nabung episode duku
cynth: Hai! Makasih banyak udah mampir <3
total 1 replies
Cattygril
semangat thor
Cattygril: sama-sama👌☺
total 2 replies
T28J
anggur sianida
T28J
kutu kupret juga si hans nih /Angry/
T28J
main catur saja biar akur kak 😂
MayAyunda
keren 👍👍
cynth: Terima kasih <3
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!