Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat Gila dan Rencana Kabur yang Gagal Total
Aroma ragi dan mentega yang terbakar dari oven besar di bagian belakang toko roti "Bakery Lezat" biasanya menjadi anestesi alami bagi pikiran Alessa yang semrawut. Namun sore itu, rasa nyeri di punggungnya justru semakin mengganas seiring berjalannya waktu. Lapisan foundation murah di pipinya mulai luntur terkena peluh, memaksa Alessa berkali-kali memoles ulang riasannya di toilet karyawan dengan gerakan super hati-hati.
Tepat pukul empat sore, lonceng di atas pintu toko berdenting nyaring. Seorang gadis dengan jepit rambut stroberi raksasa dan jaket jens kedodoran menerobos masuk dengan napas terengah-engah, mirip orang yang baru saja dikejar sekawanan angsa galak. Itu Maya.
"Alessa! Ikut aku sekarang! Darurat nasional!" seru Maya dengan volume suara yang sukses membuat tiga emak-emak yang sedang memilih roti bergidik kaget.
Ko Alung yang sedang menghitung uang di mesin kasir mendongak, membenarkan letak kacamata bacanya. "Eh, Maya. Kamu kalau masuk toko orang jangan teriak-teriak begitu, lambung saya sampai mau copot rasanya."
"Maaf, Ko Alung yang paling tampan se-kecamatan! Ini urusan hidup dan mati, hak asasi manusia, dan masa depan bangsa! Saya pinjam Alessa sepuluh menit ya, Ko? Boleh ya? Makasih!" Tanpa menunggu jawaban dari pemilik toko yang melongo, Maya langsung menyambar pergelangan tangan Alessa—untungnya bukan bagian lengan yang terkena sabetan—dan menyeretnya paksa ke area gudang tepung di bagian paling belakang.
Begitu pintu gudang tertutup, Maya langsung mengunci selotnya dari dalam. Suasana gudang yang remang-remang dan dipenuhi karung-karung tepung terigu putih setinggi dada itu mendadak terasa seperti markas rahasia agen mata-mata amatir.
"May, lu apa-apaan sih? Ini kalau Ko Alung mengira kita mau mencuri formula rahasia roti sobek gandumnya gimana?" Alessa memprotes sambil mengusap lengannya yang pegal.
Maya membalikkan tubuhnya, menatap Alessa dengan mata bulat yang berbinar-binar penuh kegilaan yang familier. "Al, lupakan roti sobek! Hari ini, jam ini, detik ini juga... kita akan melaksanakan rencana besar kita. Operasi Pembebasan Alessa dari Neraka Dunia. Singkatnya: Kita kabur!"
Alessa mengerutkan dahi. "Kabur? Sekarang? Lu jangan gila, May. Rencana kabur itu butuh logistik, butuh paspor, minimal butuh uang jajan yang cukup buat beli tiket bus antarkota!"
"Siapa bilang aku tidak siap logistik?" Dengan bangga, Maya menghentakkan ransel kanvas besar yang sejak tadi disandره di punggungnya ke atas karung tepung. Brak! Suara hantaman ransel itu terdengar cukup berat.
Maya membuka ritsleting ranselnya dengan dramatis. "Nih, lihat! Aku sudah menyiapkan segala kebutuhan esensial untuk pelarianmu ke luar kota!"
Alessa melongokkan kepalanya ke dalam tas ransel Maya. Detik berikutnya, matanya berkedip tidak percaya. Dia menarik napas dalam-dalam, menatap Maya dengan pandangan yang kosong sekaligus lelah secara spiritual.
"May... boleh gue tanya sesuatu?" bisik Alessa, suaranya mendadak sangat tenang, jenis ketenangan yang biasanya dimiliki oleh para biksu sebelum mencapai pencerahan.
"Tanya apa, Al? Hebat kan persiapan gue?" sahut Maya, bangga.
"Kenapa di dalam tas pelarian darurat ini ada catok rambut, tiga botol kuteks warna neon, wig warna pirang ala penyanyi dangdut pantura, dan... bentar, ini apa? Pistol air?!" Alessa mengangkat sebuah pistol mainan plastik berwarna hijau neon dari dalam tas.
Maya merebut pistol air itu dengan wajah serius. "Al, lu jangan meremehkan aspek penyamaran! Kalau kita mau kabur dari Rian, lu harus merubah identitas total! Lu pakai wig pirang ini, terus kalau Rian atau preman penagih utangnya mengejar kita, gue bakal tembak mata mereka pakai pistol air ini! Tenang aja, isinya bukan air keran biasa, sudah gue campur pakai air perasan jeruk nipis dan ulekan cabai rawit sisa jualan seblak emak gue semalam! Ini namanya senjata kimia organik!"
Alessa memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut menyamai denyutan lebam di pipinya. "May... ya Tuhan, kasih gue kesabaran lebih. Gue ini mau kabur menyelamatkan nyawa dari kakak kandung yang abusif, bukan mau audisi jadi anggota girlband gagal di terminal bus. Kenapa isi tas lu kagak ada baju ganti atau makanan kering sedikit pun?!"
"Oh iya, baju ganti lupa," Maya menyengir tanpa dosa, menampilkan deretan giginya yang rapi. "Tapi tenang, uang tabungan gue ada nih. Cukup buat beli dua tiket bus ekonomi ke kota sebelah. Di sana ada rumah tanteku yang kosong. Rian gak bakal bisa nemuin lu di sana. Kita berangkat sore ini juga lewat terminal belakang pasar. Sekarang, lu lepas apron lu, kita lewat pintu belakang toko!"
Meskipun rencana Maya terdengar seperti lelucon komedi yang ditulis oleh orang mabuk, di dalam lubuk hati Alessa yang paling dalam, sebersit perasaan haru yang luar biasa menyeruak. Amarahnya pada takdir sedikit mereda demi melihat bagaimana sahabat gilanya ini rela mempertaruhkan kenyamanannya sendiri demi mengeluarkan Alessa dari penderitaan. Setitik air mata haru hampir saja lolos dari pelupuk mata Alessa, namun dia segera mengedipkan matanya dengan cepat. Dia tidak boleh menangis di depan Maya; kalau dia menangis, Maya pasti akan ikut menangis, dan gudang tepung ini akan berubah menjadi lautan air mata berlapis karbohidrat.
"Oke, May. Grazie di cuore (terima kasih dari lubuk hati terdalam)," kata Alessa perlahan, menyisipkan bahasa Italia ibunya sebagai bentuk rasa terima kasih yang sakral. "Lu memang sahabat paling gila yang pernah gue punya, tapi lu juga satu-satunya orang yang peduli sama hidup gue sekarang. Ayo, kita coba."
Dengan cepat, Alessa melepas apron kerjanya dan menulis sepucuk surat izin singkat untuk Ko Alung, meminta maaf karena harus pergi secara mendadak demi urusan keluarga yang mendesak. Setelah itu, dengan menggunakan wig pirang menyala pemberian Maya—yang membuat penampilan Alessa berubah drastis dari gadis anggun berdarah Italia menjadi mirip karakter anime salah asuhan—mereka berdua mengendap-endap keluar melalui pintu belakang gudang yang terhubung langsung dengan gang sempit di samping pasar.
"Aman, Al. Jalur bersih," bisik Maya sambil mengintip ke luar gang dengan gaya agen rahasia yang terlalu berlebihan, memegang pistol air berisi ekstrak cabai di tangan kanannya.
Mereka mulai berjalan dengan terburu-buru menuju terminal bus yang jaraknya sekitar sepuluh menit dari sana. Setiap langkah kaki Alessa memicu rasa sakit yang menusuk di punggungnya karena guncangan, namun tekad untuk bebas dari cengkeraman Rian membuat Alessa mengabaikan rasa perih tersebut. Dia memaksakan dirinya untuk terus melangkah di samping Maya. Di dalam pikirannya, Alessa sudah membayangkan kehidupan baru yang tenang di kota sebelah, jauh dari cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang kulit.
Namun, semesta tampaknya memiliki selera humor yang sangat kelam dan hobi mematahkan harapan Alessa di tengah jalan.
Tepat saat mereka berdua baru saja keluar dari mulut gang dan hendak menyeberang jalan raya menuju gerbang terminal bus, sebuah suara bentakan yang sangat akrab dan mengerikan menggelegar dari arah kanan.
"Heh! Mau ke mana kalian, hah?!"
Tubuh Alessa langsung membeku seketika. Darahnya seolah berhenti mengalir, berubah menjadi es yang mendinginkan seluruh sendi-sendinya. Dia menoleh perlahan dengan patah-patah, seperti robot yang kekurangan oli.
Di sana, hanya berjarak lima meter dari posisi mereka, berdiri Rian. Wajah kakaknya itu tampak luar biasa kotor, bajunya basah oleh keringat, dan matanya memancarkan amarah yang membara dua kali lipat lebih mengerikan daripada semalam. Di samping Rian, berdiri dua orang pria berbadan kekar dengan tato penuh di lengan mereka—preman penagih utang dari bandar judi pasar. Rupanya, Rian sejak siang tadi sudah mengintai tempat kerja Alessa setelah menyadari bahwa adiknya tidak ada di rumah.
"Wah, wah, wah... lihat siapa ini," Rian melangkah maju dengan seringai iblis di wajahnya. Dia menatap Alessa dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu tertawa mengejek. "Gue cariin ke mana-mana, ternyata lu mau kabur ya? Pakai wig pirang murahan begini lagi. Lu pikir gue gak ngenalin kemeja almarhum Papà yang lu pakai, hah?!"
"Rian! Jangan macem-macem ya lu!" Maya dengan berani langsung pasang badan di depan Alessa, mengangkat pistol air plastiknya tinggi-tinggi dengan kedua tangan yang sebenarnya gemetar hebat. "Mundur lu semua! Kalau berani maju satu langkah lagi, gue tembak mata lu pakai senjata pemusnah massal ini!"
Salah satu preman bertato di samping Rian mengerutkan dahi, menatap pistol mainan hijau neon di tangan Maya. "Bos... itu bocah mau ngajak kita main perang-perangan di terminal atau gimana?"
"Minggir lu, cewek gila!" Rian menepis tangan Maya dengan kasar hingga pistol air itu terlepas dan jatuh ke aspal, pecah menjadi beberapa bagian dan mengeluarkan cairan merah keruh yang berbau cabai menyengat.
"Maya!" Alessa menjerit saat melihat sahabatnya terdorong hingga jatuh terduduk di pinggir jalan.
Rian maju dan langsung mencengkeram kerah kemeja Alessa dengan beringas. Sentakan kasar itu seketika merobek kancing bagian atas kemejanya, mengekspos sebagian kulit leher dan pundak Alessa yang dipenuhi jalur luka sabetan berwarna merah keunguan yang belum kering. Beberapa calon penumpang bus di sekitar terminal sempat menoleh, namun pandangan intimidatif dari dua preman di belakang Rian langsung membuat orang-orang itu buru-buru memalingkan muka, enggan ikut campur dalam urusan "domestik" yang berbahaya.
"Ikut gue pulang sekarang! Lu harus tanggung jawab! Gara-gara lu gak mau ngasih tahu sisa uang Ibu, hari ini gue harus menyerahkan lu ke mereka sebagai jaminan utang!" raung Rian tanpa malu, menjambak rambut Alessa—membuat wig pirangnya terlepas ke tanah—dan menyeret tubuh adiknya kembali ke arah gang gelap.
Rencana kabur itu gagal total hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit. Air mata keputusasaan yang luar biasa pekat mengalir deras membasahi pipi Alessa, merusak seluruh lapisan bedak yang menyembunyikan lebamnya. Rasa sakit fisik di punggungnya akibat seretan kasar Rian menyatu dengan rasa hancur di dalam jiwanya. Dia melihat ke belakang, melihat Maya yang sedang menangis histeris sambil mencoba bangkit untuk mengejarnya namun ditahan oleh salah satu preman.
Di tengah seretan kasar itu, di tengah rasa sakit yang membakar kulit dan hatinya, Alessa menatap wig pirang yang tergeletak mengenaskan di atas aspal jalanan, yang kini terlindas oleh ban motor yang lewat.
Dalam sisa-sisa kesadarannya yang mulai menipis akibat rasa sakit dan putus asa, Alessa mendengus getir di dalam hatinya. “Hebat banget hidup gue,” batinnya dengan sarkasme terakhir yang tersisa. “Boro-boro sampai ke kota sebelah buat memulai hidup baru... Penyamaran anime gue hancur, senjata kimia organik Maya pecah di jalan, dan sekarang gue bakal dibawa balik ke neraka buat dijadiin barang gadai. Kalau ada kompetisi manusia paling sial sedunia, gue pasti sudah dapet piala emas berlapis berlian.”
Kesedihan mendalam dan amarah yang tak tersalurkan bergolak di dalam dadanya saat kegelapan gang sepi kembali menelan tubuhnya. Alessa memejamkan mata pasrah, membiarkan tubuhnya diseret menuju ketidakpastian yang mengerikan, sama sekali tidak menyadari bahwa di belahan kota yang lain, sebuah mobil mewah berlogo korporasi global sedang bergerak membelah malam, membawa takdir baru yang akan meremukkan seluruh neraka hidupnya ini menjadi berkeping-keping.