Satu skandal, dua musuh bebuyutan, dan 24 jam kamera yang menyala.
Sienna Rose, seorang supermodel papan atas, mendadak dihujat publik dan dituduh menjadi simpanan sugar daddy. Di waktu yang sama, Declan Bryer, aktor internasional berwajah sedingin es, tersandung skandal orientasi seksual. Demi menyelamatkan karier bernilai jutaan dolar, manajemen mereka memaksa keduanya bergabung dalam reality show pernikahan palsu, We Got Married.
Publik mengira mereka pasangan serasi yang romantis. Namun di balik layar, saat kamera mati, mereka adalah musuh bebuyutan masa kecil yang saling membenci! Sanggupkah Sienna menahan diri untuk tidak mencakar Declan di depan kamera? Dan apa yang terjadi saat masa lalu yang belum usai serta rahasia besar keluarga mereka perlahan mulai terkelupas di tengah sandiwara ini?
"Kurangin manjanya di depan kamera. Geli gue dengernya." — Declan Bryer.
"Pikir gue sudi?! Lo itu cuma kanebo kering, Declan!" — Sienna Rose.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Rahasia di Balik Debat Masa Lalu
"Bisa tolong kecilkan AC-nya? Lorong ini mendadak terasa seperti kutub utara."
Suara Damiano Bryer memecah keheningan yang membeku di sudut ruangan. Matanya melirik sekilas ke arah Kamelia Rose, lalu beralih menatap Vincent duBois yang berdiri tegak seperti patung batu di dekat jendela. Jarak di antara ketiga orang tua itu tidak seberapa, namun ketegangan masa lalu membuat atmosfer di sekitar mereka terasa begitu dingin dan menyesakkan.
Kamelia merapatkan selendang batiknya, membuang muka ke arah ranjang Sienna. "AC-nya sudah pas, Damiano. Mungkin hatimu saja yang sedang menggigil karena melihat sisa-sisa kehancuran yang kamu buat dulu."
"Kamelia, tolong, jangan mulai di depan anak-anak," desis Vincent dengan suara beratnya yang berwibawa, namun tatapan matanya yang tajam langsung menusuk ke arah Damiano. "Dan lo, Bryer. Jangan pernah lo berani natap wanita gue kayak gitu lagi kalau lo masih mau keluar dari rumah sakit ini dengan kaki utuh."
Damiano terkekeh sinis, melipat tangannya di depan dada. "Wanita lo? Bukankah lo sendiri yang menceraikannya belasan tahun lalu, duBois? Jangan bertingkah seolah lo pahlawan di sini."
"Cukup! Kalian ini sudah tua tapi kelakuannya masih seperti bocah ingusan yang berebut mainan di pasar!"
Sebuah suara serak namun penuh penekanan menginterupsi dari arah sudut sofa. Kakek Suprapto mengetukkan tongkat kayunya sekali ke lantai, membuat ketiga orang tua yang sedang tersulut emosi itu mendadak terdiam dan menundukkan kepala mereka dengan canggung.
Kakek Suprapto mengembusan napas panjang, lalu menggeser duduknya mendekati ranjang Sienna. Wajah senjanya yang dihiasi kerutan tersenyum sangat hangat, menatap Sienna yang masih terbaring lemas dengan dahi diperban. "Sienna, nduk... jangan dengerin omongan orang-orang tua yang otaknya sudah berkarat ini, ya. Lebih baik kamu dengerin cerita Kakek tentang cucu Kakek yang kaku ini."
Sienna mengedipkan matanya, sedikit bingung namun tertarik.
"Cerita apa, Kek? Soal Declan?"
"Kek, jangan mulai," potong Declan cepat. Suaranya ketus, dan dia langsung berdiri tegak, mencoba mengalihkan perhatian sang kakek. "Sienna butuh istirahat, Kakek jangan kasih tahu cerita yang gak penting."
"Oalah, Declan... kamu itu dari dulu sampai sekarang gengsinya tetap setinggi langit," ledek Kakek Suprapto sambil terkekeh pelan. Kakek lalu menoleh kembali pada Sienna. "Sienna tahu tidak? Waktu Maria pergi meninggalkannya, Declan berubah jadi anak yang sangat tertutup. Dia tidak pernah mau bicara, kerjanya cuma mengurung diri di kamar."
Sienna melirik Declan yang kini memalingkan wajahnya ke arah dinding dengan telinga yang mulai memerah. "Oh ya, Kek? Terus?"
"Tapi, ada satu hal yang membuat Kakek tahu kalau anak kaku ini masih punya hati," lanjut Kakek Suprapto dengan mata yang berbinar jenaka. "Setiap kali Kakek membersihkan kamarnya diam-diam, Kakek selalu melihat ada satu foto gadis remaja dengan seragam SMA, yang dipajang rapi di atas nakas samping tempat tidurnya. Setiap malam sebelum tidur, dia pasti menatap foto itu lama sekali."
Mata kucing Sienna langsung melebar sempurna. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar. "F-foto? Maksud Kakek... foto Sienna?!"
"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu? Memangnya Declan punya teman perempuan lain yang secerewet kamu?" Kakek Suprapto tertawa lepas, mengabaikan tatapan pasrah dari Declan.
Sienna menoleh patah-patah ke arah Declan, otaknya mendadak macet total. "Dec... lo... lo beneran pajang foto gue dari jaman sekolah dulu?!"
Declan berdeham keras, merapikan kerah kemeja robeknya dengan salah tingkah. "Kakek sudah pikun, Rose. Gak usah didengerin. Itu pasti foto orang lain yang mirip lo."
"Gak mungkin! Kakek belum pikun ya, Declan!" bela Kakek Suprapto gemas. "Kamu sendiri yang waktu itu bilang ke Kakek kalau gadis di foto itu namanya Sienna Rose, cegil atau cewek gila yang hobi banget bikin kamu pusing di sekolah."
Sienna membeku di tempat tidur. Rasa kagetnya mengalahkan rasa pusing di kepalanya. "Tapi... tapi kan dulu di SMA lo selalu ngajak gue berdebat, Dec! Lo selalu ngeledek gue, selalu menyebalkan, bahkan setiap kali ketemu lo pasti mukanya ditekuk kayak keset! Mana ada orang suka tapi kelakuannya kayak musuh bebuyutan?!"
"Itu karena dia bodoh tidak tahu cara mendekati perempuan, Sienna." sahut Kamelia ikut tersenyum hangat, kecanggungannya dengan Vincent mendadak mencair karena cerita manis ini.
"Bukan begitu, mah," cicit Sienna yang wajahnya kini sudah merah padam sampai ke leher. "Sienna tahunya dulu Declan itu banyak yang suka. Temen-temen cewek Sienna banyak yang bucin sama dia karena dia ketua OSIS yang sok keren. Lagian... dulu Declan itu hobi banget berantem, terutama sama Edrick. Dia sering banget pukulin Edrick sampai masuk ruang BK."
Sienna menatap Declan lagi, menuntut penjelasan. "Gue pikir lo pukulin Edrick karena lo emang benci sama dia gara-gara urusan keluarga kalian. Ternyata lo emang hobi cari ribut ya?"
Declan mengembuskan napas pendek, menyadari kalau dia sudah tidak bisa mengelak lagi dari interogasi massal ini. Dia berjalan mendekat ke sisi ranjang Sienna, menatap langsung ke dalam sepasang mata kucing cewek itu dengan tatapan yang mendadak berubah menjadi sangat dalam dan serius.
"Gue pukulin Edrick dulu bukan karena urusan keluarga, Rose," ucap Declan, suaranya terdengar sangat rendah dan bariton, membuat suasana kamar rawat itu mendadak hening seketika.
Sienna mengerjap. "Terus karena apa?"
"Gue pukulin dia... karena bajingan itu berani jadiin lo sebagai bahan taruhan sama anak-anak gengnya di belakang sekolah," desis Declan, rahangnya kembali mengeras saat mengingat kejadian belasan tahun lalu itu. "Edrick bilang, siapa yang bisa dapetin cinta lo dalam waktu satu minggu bakal dapet mobil sport baru dari bapaknya. Gue denger itu, dan gue gak bisa tinggal diam melihat lo dijadiin barang mainan sama dia."
Sienna tertegun, mulutnya sedikit terbuka karena syok yang luar biasa. "Taruhan...? Edrick... jadiin gue bahan taruhan juga selain selingkuh"
"Iya. Makanya setiap kali dia mau mendekat atau sok romantis ke lo di lapangan sekolah, gue selalu datang buat ngancurin suasananya atau langsung narik dia ke belakang lab buat dihajar," kata Declan, tangannya terangkat untuk mengusap lembut puncak kepala Sienna yang masih terbalut perban. "Gue sengaja bikin lo benci sama gue dengan cara selalu ngajak lo berdebat, supaya perhatian lo cuma tertuju ke gue, dan lo gak punya waktu buat nanggapin pesona palsunya Edrick. Paham sekarang, Rose?"
Air mata Sienna kembali lolos, namun kali ini bukan karena rasa sakit atau ketakutan, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat besar membanjiri dadanya. Selama bertahun-tahun ini dia hidup dalam ketidaktahuan, mengira Declan adalah musuh terbesarnya, padahal pria kaku ini adalah pelindung rahasianya yang paling setia sejak awal.
"Declan... lo... lo bener-bener kanebo kaku yang paling bodoh sedunia," tangis Sienna pecah, namun dia langsung menarik robekan kemeja Declan untuk membawa pria itu ke dalam pelukan eratnya di depan seluruh anggota keluarga mereka.
Declan tersenyum miring, membalas pelukan hangat itu dengan sangat posesif. Di sudut ruangan, Vincent duBois dan Damiano Bryer saling melirik, dan untuk pertama kalinya setelah belasan tahun penuh dendam, kedua pria keras itu perlahan menurunkan ego mereka, menyadari bahwa anak-anak mereka telah berhasil membangun masa depan yang baru di atas puing-puing masa lalu yang hancur.