NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 5

Pelan-pelan, mata Sarah terbuka sempurna.

Pandangan buramnya menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Hanya cahaya remang dari lampu taman luar rumah yang menyusup tipis melalui celah gorden.

Tangannya bergerak pelan meraba sisi ranjang di sebelahnya.

Kosong.

Tak ada hangat tubuh Mas Leo di sana.

Kening Sarah berkerut kecil. Napasnya tertahan sesaat.

“Mas…” panggilnya lirih, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.

Tak ada jawaban.

Sarah mengusap pelan perutnya yang membesar. Kandungannya sudah memasuki bulan-bulan akhir, membuat setiap gerakan terasa berat dan harus dilakukan hati-hati. Bahkan sekadar bangkit dari posisi tidur pun kini menjadi perjuangan kecil setiap harinya.

Dengan perlahan, ia menyandarkan tubuh pada headboard ranjang. Jemarinya meremas ujung selimut tipis di pangkuannya.

“Mas Leo ke mana, sih?” gumamnya pelan dalam hati.

Biasanya lelaki itu selalu ada di sampingnya. Sekalipun harus keluar kamar, Leo pasti meninggalkan pesan atau sekadar membangunkannya lebih dulu. Namun malam ini berbeda. Terlalu sunyi. Terlalu kosong.

Perasaan tidak nyaman mulai merayap pelan di dadanya.

Sarah menarik napas dalam sebelum menurunkan kedua kakinya ke lantai dingin. Ia meringis kecil saat pinggangnya terasa nyeri. Satu tangan menopang perutnya, sementara tangan lain meraba dinding mencari sakelar lampu.

Klik.

Cahaya temaram langsung memenuhi kamar.

Sarah memicing pelan, lalu menoleh ke seluruh sudut ruangan. Tetap tidak ada siapa-siapa.

“Mas…” panggilnya sekali lagi, kali ini sedikit lebih keras.

Tetap sunyi.

Hanya suara detak jam dinding yang terdengar jelas, seolah sengaja mempertegas kesepian malam itu.

Entah kenapa, jantung Sarah mendadak berdebar tidak tenang.

Ia melangkah perlahan keluar kamar, menahan napas setiap kali perutnya terasa mengencang. Lorong rumah tampak gelap dan dingin. Lampu ruang tamu bahkan belum dinyalakan.

“Mas Leo…” suaranya mulai bergetar.

Tak ada sahutan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Sarah merasa takut.

Langkah Sarah terhenti saat suara pintu kamar lain terbuka pelan.

Bu Anisa keluar dengan wajah kusut dan sorot mata tajam. Wanita paruh baya itu masih mengenakan daster satin mahalnya, tetapi ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan kelembutan seorang ibu mertua.

Tatapannya langsung jatuh pada Sarah yang berdiri sambil menopang perut besarnya.

“Ngapain malam-malam keluyuran begitu?” tanyanya dingin.

Sarah menelan ludah pelan.

“Ma… Mas Leo nggak ada di kamar, Bu. Saya kira mungkin di bawah.”

Bukannya terlihat khawatir, Bu Anisa justru mendecakkan lidah kasar.

“Leo itu pusing karena mikirin kamu.”

Kalimat itu membuat Sarah terdiam.

Wanita itu melangkah mendekat, lalu melipat kedua tangan di dada.

“Coba kamu pikir,” lanjutnya dengan nada menyindir. “Sudah dua kali hamil, tapi tetap saja nggak bisa kasih anak laki-laki.”

Napas Sarah tercekat.

Ucapan itu sebenarnya bukan pertama kali ia dengar. Namun tetap saja, setiap kalimat yang keluar dari mulut mertuanya selalu berhasil menghantam tepat di bagian paling rapuh dalam dirinya.

“Bu…” suara Sarah melemah. “Jenis kelamin anak bukan—”

“Jangan ngajarin saya!” potong Bu Anisa tajam. “Kenyataannya keluarga ini butuh penerus laki-laki.”

Sarah menunduk cepat. Jemarinya mencengkeram ujung baju hamilnya erat sampai bergetar.

Dadanya mulai sesak.

“Apa salah saya kalau yang Tuhan kasih perempuan?” bisiknya lirih hampir tak terdengar.

Namun Bu Anisa masih belum berhenti.

“Dulu waktu kamu hamil anak pertama, saya masih sabar. Saya pikir nanti yang kedua laki-laki. Ternyata sama saja.” Wanita itu tertawa hambar. “Leo itu anak tunggal. Nama keluarga ini siapa yang mau teruskan nanti?”

Setiap kata terasa seperti pisau yang diiris perlahan ke hati Sarah.

Matanya mulai memanas.

Ia benar-benar berusaha menjadi menantu yang baik. Menjadi istri yang patuh. Menjalani kehamilan dengan penuh perjuangan. Menahan mual, sakit, tubuh yang berubah, bahkan rasa takut saat dokter pernah bilang kandungannya lemah.

Tapi semua itu seolah tidak pernah cukup.

Karena di mata Bu Anisa, nilai dirinya hanya ditentukan oleh satu hal—

Anak laki-laki.

Sarah menahan air matanya mati-matian. Tangannya refleks mengusap perutnya pelan, seolah sedang melindungi bayi dalam kandungannya dari luka yang sama.

“Jangan nangis,” ujar Bu Anisa sinis. “Saya cuma ngomong fakta.”

Suasana rumah terasa makin dingin.

Dan di tengah lorong yang remang itu, Sarah berdiri sendirian dengan hati yang perlahan hancur sedikit demi sedikit.

Sarah mengangkat wajahnya pelan.

Matanya sudah dipenuhi air, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya—lelah, terluka, sekaligus kecewa.

“Ibu juga perempuan, kan?” suaranya lirih, nyaris bergetar.

Bu Anisa terdiam sesaat.

Sarah menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Ibu pernah hamil… pernah jadi istri… pernah ngerasain capeknya bawa anak sembilan bulan.” Napasnya mulai tidak teratur. “Tapi kenapa Ibu ngomong seolah anak perempuan itu musibah?”

Kalimat itu membuat lorong rumah mendadak sunyi.

Sarah memeluk perutnya pelan. Air matanya akhirnya jatuh juga.

“Anak saya belum lahir, Bu…” bisiknya penuh sesak. “Tapi dia sudah seperti ditolak bahkan sebelum membuka mata.”

Bu Anisa mengalihkan wajah sebentar, tetapi gengsi membuat wanita itu tetap memasang ekspresi keras.

“Kamu nggak akan ngerti kalau punya anak lelaki adalah hal yang membanggakan."

Sarah tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip luka.

“Kalau cuma karena dia perempuan lalu dianggap gagal… berarti dulu Ibu juga pernah dianggap gagal sama orang lain?”

Deg.

Ucapan itu menghantam telak.

Wajah Bu Anisa langsung berubah. Untuk pertama kalinya wanita itu kehilangan kata-kata.

Sementara Sarah menunduk, mengusap air matanya cepat.

“Saya nggak minta dimuliakan, Bu,” katanya pelan. “Tapi tolong… jangan benci anak saya hanya karena dia lahir sebagai perempuan.”

Suaranya pecah di akhir kalimat.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak menikah, Sarah tidak terdengar seperti menantu yang selalu diam.

Ia terdengar seperti seorang ibu yang sedang melindungi anaknya.

Dengan napas yang masih memburu, Sarah melangkah mundur pelan. Dadanya terasa sesak, kepalanya pening menahan tangis yang sejak tadi dipaksa tetap kuat.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik masuk ke kamar.

Brak.

Pintu tertutup.

Tidak keras, tetapi cukup membuat suasana rumah mendadak membeku.

Sarah menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Tangannya gemetar saat memeluk perutnya sendiri.

“Maafin Mama…” bisiknya lirih pada bayi dalam kandungannya.

Ia tahu tindakannya barusan terlihat tidak sopan. Menutup pintu di depan mertua. Membalas ucapan orang tua. Semua itu bukan sifat Sarah biasanya.

Namun malam ini… hatinya benar-benar sudah terlalu lelah.

Di luar kamar, suara Bu Anisa terdengar semakin tajam.

“Dasar menantu kurang ajar!” umpat wanita itu penuh emosi. “Baru juga dikasih tahu sedikit sudah berani melawan!”

Sarah memejamkan mata kuat-kuat.

“Ternyata benar,” lanjut Bu Anisa lagi dengan nada menyakitkan. “Perempuan kalau nggak bisa kasih anak laki-laki biasanya jadi sensitif!”

Kalimat itu membuat bahu Sarah bergetar hebat.

Ia menutup mulutnya sendiri agar isaknya tidak terdengar keluar.

Sementara di luar, Bu Anisa berjalan menuju teras rumah sambil terus mengomel kesal. Dada wanita itu naik turun menahan emosi.

Namun baru beberapa langkah—

Sorot lampu mobil mendadak menyapu halaman rumah.

Bu Anisa terdiam.

Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pagar.

Pintu mobil terbuka perlahan. Leo turun dengan wajah tegang.

Tatapan pria itu langsung menangkap sosok ibunya yang berdiri di teras sambil menyeka air mata penuh amarah.

“Ma…?” kening Leo berkerut. “Ada apa?”

Bu Anisa langsung menangis.

“Leo…” suaranya bergetar dramatis. langsung memeluk putranya.

1
THE GIRL COOL😑
aduhhhhh gue cuma bisa tutup mata🤣
THE GIRL COOL😑
aduhhhhh gemes nya/Smile//Smile//Smile/
Renarenn
Lah, temen sesat rupanya
Renarenn
Akhirnya karma is real🤭🤭🤭
Rhica_Yubie
papa sama mama gema buatkan gema adik biar lebih seru🤭
Miu.Nuha
hidupny pk dokter ternyata penuh lika-liku 🤧
Yuliana Purnomo
hayooo gercep dr Gema,, udah ada sinyal dr Sarah 💪
Myz Pena
apakah Hana lelah dengan hubungan mereka ??🤧
Myz Pena
apakah dokter gema tidak memiliki kelemahan ?? 🤭
Myz Pena
luar biasa ya dokter kandungan 😍
Dinarkasih1205
kasihan karakter gema di buat kasar
mama Al: keburu panas saat lihat kebersamaan Ibra dan Sarah
total 1 replies
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: makanya di paksa nikah sama Leo
total 3 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!