Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Kulit yang Berdenyut Panas
Bunyi ceklek-ceklek dari stapler besar yang kuhantamkan ke tumpukan resi pengiriman barang tidak mampu meredam gemuruh di dalam kepalaku. Sejak adu mulut dengan Bang Roy di meja admin dua jam lalu, fokusku buyar kelaut.
Jemariku bergerak lambat, menyortir lembar demi lembar kertas manifes kuning dan merah berdasarkan zonasi wilayah kelurahan di Tanjungbalai, tapi pikiranku tertinggal di Kamar Nomor Empat. Di atas kasur lantai yang tipis, tempat cowok aneh bermata vertikal itu kusembunyikan.
"Lara! Jangan melamun! Itu paket rute inti jangan sampai ketukar dengan wilayah pinggiran!" teriakan Kak Ita, admin senior berlipstik menor dari kubikel sebelah, membuyarkan lamunanku.
"Iya, Kak! Ini lagi dipisahkan!" sahutku berbohong.
Aku memaksakan diri bekerja lebih cepat, mengabaikan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis. Namun, tepat saat aku hendak menjepret tumpukan dokumen kelima, sebuah rasa sakit yang luar biasa menusuk pergelangan tangan kiriku.
Sreeet!
Sensasinya mirip seperti kulit yang ditempelkan paksa ke permukaan wajan yang sedang panas-panasnya. Aku terpekik pelan, refleks menjatuhkan stapler besi ke atas meja hingga menimbulkan bunyi dentuman keras yang membuat beberapa kurir harian di dekatku menoleh curiga.
Aku segera menarik tangan kiriku ke bawah meja, menyembunyikannya dari pandangan orang-orang. Jantungku bertalu-talu gila. Kulit di pergelangan tanganku—tepat di bekas luka cakaran tipis yang kudapat dari Kala saat kami bergulat di Gudang Sembilan kemarin—mendadak membengkak kemerahan. Polanya aneh, meninggi seperti bekas keloid, tapi warnanya merah pekat menyerupai urat yang berdenyut kencang mengikuti irama jantungku.
Yang membuat bulu kudukku berdiri bukan cuma rasa perihnya. Kulitku yang memerah itu terasa membakar, tapi dari pori-porinya justru mengepulkan uap dingin tipis. Putih, samar, dan sedingin es batu.
"Gila, apa-apaan ini?" bisikku ketakutan.
Uap dingin itu mulai menguar agak tebal, meliuk-liuk di udara pengap depo sortir. Panik setengah mati, aku langsung menyambar potongan plester kain dekil warna cokelat dari dalam laci meja kerja yang biasa dipakai untuk membungkus paket rusak. Tanpa pikir panjang, kulilitkan plester tebal itu berkali-kali ke pergelangan tanganku, menekan luka yang berdenyut panas itu sekuat tenaga sampai uap dinginnya terperangkap di dalam kain. Rasa sakitnya membuatku harus menggigit bibir bagian dalam agar tidak berteriak.
Belum sempat aku bernapas lega setelah berhasil menyembunyikan keanehan fisik itu, ponsel bututku di atas meja bergetar hebat. Tidak cuma sekali, tapi beruntun tanpa henti. Bzzzt... bzzzt... bzzzt...
Aku menyambar ponsel itu. Layarnya yang retak menampilkan puluhan notifikasi dari grup obrolan internal kurir pelabuhan Tanjungbalai. Isinya membuat seluruh darah di tubuhku mendadak serasa membeku.
> Udin_KurirUtara: Woy, hati-hati yang mau lewat jalur pasar ikan. Ada razia ketat.
> Sitorus_BaronExpress: Razia polisi? Polantas?
> Udin_KurirUtara: Bukan, Bos. Pasukan keamanan internal Baron Logistics. Yang pakai seragam hitam-hitam. Mereka bawa alat aneh, mirip pistol tapi depannya ada lampu layar. Katanya pemindai suhu tubuh genggam.
> Putra_Sektor3: Iya betul, di depan dermaga bongkar muat ikan mereka juga nyisir. Semua orang disuruh berhenti terus ditempel alat itu ke dahi atau leher. Nyari apaan sih mereka?
> Udin_KurirUtara: Katanya ada anomali biologis kargo yang hilang dari gudang pusat kemarin. Mereka meriksa sampai ke gang-gang kecil pemukiman dekat pasar ikan. Kos-kosan juga diketok satu-satu.
>
Ponsel di genggamanku hampir saja merosot ke lantai semen kalau aku tidak cepat-cepat mencengkeramnya. Mataku melotot membaca baris demi baris pesan di grup obrolan tersebut.
Pasukan keamanan Baron. Alat pemindai suhu tubuh. Gang pasar ikan. Kamar Nomor Empat.
Semua kata kunci itu berputar di dalam otakku seperti blender. Kala sedang terluka parah.
Semalam, saat aku menyentuh tubuh besarnya, rasanya seperti menyentuh balok es yang baru keluar dari freezer. Suhu tubuh cowok itu turun drastis akibat luka robek keperakan di badannya.
Dia mahluk berdarah dingin, atau setidaknya, dalam kondisi sekarat seperti sekarang, suhunya berada jauh di bawah batas normal makhluk hidup biasa.
Jika pasukan Baron memeriksa area kosanku menggunakan pemindai suhu tubuh digital, Kamar Nomor Empat akan menyala seperti lampu suar di tengah kegelapan. Kala akan langsung terdeteksi sebagai anomali biologis yang paling mencolok di seluruh kawasan pasar ikan. Dia akan tertangkap, dan aku... aku akan diseret karena dituduh menyembunyikan properti ilegal milik Baron Logistics.
"Lara! Itu paket ke Teluk Nibung kenapa belum dimasukkan ke keranjang kerjamu?!" suara lengkingan Kak Ita kembali terdengar, kali ini disertai ketukan penggaris besi ke sekat kubikelku.
Aku tidak mendengarnya lagi. Telingaku mendengung hebat. Di bawah lilitan plester kain, pergelangan tanganku makin berdenyut kencang, memancarkan rasa ngilu yang semakin menjadi-jadi seolah memberi tahu bahwa bahaya sudah berada di depan pintu pagar kosanku. Kala tidak bisa berpindah tempat sendiri. Ranjang kayuku saja patah karena bobot tubuhnya yang tidak masuk akal, apalagi berjalan mengendap-endap menghindari pasukan bersenjata.
Kalau aku tidak pulang sekarang, tamatlah riwayat kami berdua.
"Lara! Kamu dengar tidak, sih?!" Kak Ita berdiri dari kursinya, wajahnya kelihatan kesal karena merasa diabaikan.
Persetan dengan resi pengiriman. Persetan dengan bonus harian. Persetan dengan ancaman potong gaji lima puluh ribu rupiah dari manajer logistik yang pelit itu. Jika kepalaku dipenggal atau aku dijebloskan ke penjara bawah tanah Baron, uang lima puluh ribu tidak akan ada gunanya lagi.
Brak!
Aku berdiri dengan sentakan kasar hingga kursiku terdorong ke belakang dan menabrak tumpukan boks plastik kosong di jalur pejalan kaki. Aku melempar begitu saja seikat tumpukan kertas resi kuning ke atas meja hingga berhamburan berantakan memenuhi lantai semen yang becek.
"Lara! Mau ke mana kamu?!" Kak Ita berteriak histeris melihat kekacauan yang kubuat. Beberapa kurir harian senior yang sedang bersiap memuat barang ke motor mereka melongo menatapku dengan pandangan tidak percaya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, aku menyambar jaket oranyeku yang tergantung di sandaran kursi, meraba kantongnya untuk memastikan kunci motor bebek bututku ada di sana, lalu berlari sekencang-kencangnya membelah barisan pekerja depo sortir. Kakiku bergerak cepat, melompati tumpukan palet, menerobos pintu besi depo yang terbuka lebar, dan mengabaikan panggilan-panggilan marah yang menggema di belakang punggungku.
Matahari pagi Tanjungbalai mulai terasa menyengat saat aku tiba di tempat parkir, namun di balik plester kain yang melilit lenganku, uap dingin terus merembes keluar, memacu adrenalin di dalam dadaku untuk segera menghidupkan mesin motor dan pulang sebelum pasukan Baron meruntuhkan pintu Kamar Nomor Empat.