NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Pertemuan di Jalur Darah

Perjalanan menuju utara melintasi sisa-sisa peradaban bukanlah sekadar mengayunkan kaki, melainkan merangkak di atas tumpukan tengkorak. Selama dua minggu penuh, Zeng Niu bergerak layaknya hantu di antara reruntuhan sekte dan hutan yang menghitam. Dengan kekuatan Penempatan Tubuh Tahap 2 dan insting membunuh yang kian terasah, ia berhasil menghindari kawanan monster besar dan hanya membunuh Yao yang terisolasi demi menyerap inti kacau mereka.

Sore itu, awan berkarat menggantung rendah. Zeng Niu sedang bertengger di dahan pohon pinus mati, mengamati seekor Kadal Sisik Besi yang sedang memakan bangkai rusa mutan. Kadal itu setidaknya berada di puncak Tingkat Rendah, sebentar lagi bermutasi ke Tingkat Brutal. Intinya akan sangat berharga untuk menstabilkan Qi liar di dalam tubuh Zeng Niu.

Matanya menyipit, menghitung jarak dan arah angin. Tangannya sudah menggenggam belati berburu, siap melompat untuk serangan fatal ke leher makhluk itu.

Namun, sebelum otot kakinya menegang, semak belukar di arah jarum jam tiga meledak.

Gedebuk! Grasak!

Seorang remaja bertubuh sangat gemuk menabrak semak-semak itu, tersandung akar, dan berguling-guling ke tanah berlumpur tepat di bawah pohon Zeng Niu. Pakaian pemuda itu kotor dan robek-robek, namun dari sisa kain sutra halus di kerahnya, terlihat jelas ia bukan rakyat jelata biasa. Ia memeluk sebuah buntalan kotor dengan erat. Wajahnya bundar, pucat pasi, dan dibanjiri keringat dingin.

"Mati aku, mati aku, mati aku!" gumam pemuda gemuk itu sambil berusaha bangkit, napasnya memburu seperti puputan pandai besi.

Keributan itu seketika menarik perhatian Kadal Sisik Besi. Makhluk itu mendesis marah, menjatuhkan bangkai rusa, dan menoleh dengan mata kuningnya yang lapar ke arah si pemuda gemuk.

Pemuda itu membeku. Ia mendongak perlahan, dan secara tidak sengaja matanya bertemu dengan Zeng Niu yang berada di dahan pohon tepat di atasnya. Mata Zeng Niu menatapnya sedingin bilah es, tanpa emosi, murni menilai situasi.

Melihat ada manusia lain, pemuda gemuk itu tidak minta tolong. Sebaliknya, insting bertahannya yang gila langsung bereaksi. Ia melompat sekuat tenaga, tangannya yang gemuk meraih ujung baju compang-camping Zeng Niu dan menariknya dengan tenaga luar biasa.

"Hei! Lari! Lari cepat!" teriak si gendut panik, menyeret Zeng Niu hingga bocah malang itu nyaris terjerembab dari dahan. "Aku punya firasat buruk... dan biasanya firasatku benar!"

Zeng Niu mengerutkan kening. Cengkeraman anak gemuk ini mengejutkan; ada fluktuasi Qi yang stabil di tubuhnya, setidaknya Pengumpulan Qi Tahap 2, kultivasi ortodoks yang normal. Namun, alih-alih bertarung, pemuda itu sudah berbalik dan mengambil langkah seribu, berlari menjauh dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya.

Kadal Sisik Besi itu mendesis keras dan melesat mengejar.

Di kejauhan, setelah berlari sepuluh tombak, si gendut menoleh ke belakang, berharap melihat Zeng Niu mengikutinya. Namun matanya melotot lebar.

Zeng Niu tidak berlari menjauh. Sebaliknya, bocah kurus dengan tatapan membunuh itu malah berjalan maju menyambut sang monster, memutar belati di tangannya.

"Orang gila dari desa mana itu?!" pekik si gendut, meremas rambutnya sendiri. Ia sudah siap untuk terus berlari meninggalkan Zeng Niu mati. Ia bahkan sudah membalikkan badannya lagi.

Satu langkah. Dua langkah.

Tiba-tiba langkah si gendut terhenti. Bahunya merosot. Wajahnya dipenuhi penyesalan yang amat sangat. Ia mengutuk pelan ke arah langit merah. "Sialan! Kenapa ibuku harus melahirkan orang berhati lembut di era terkutuk ini?!"

Dengan wajah pucat yang dipaksakan, lutut yang gemetar hebat, dan mata yang setengah terpejam karena takut, si gendut berbalik. Ia memungut sebuah batu bata dari reruntuhan di dekatnya dan berlari kembali ke arah pertarungan sambil berteriak histeris, "Hiaaa! Rasakan kemarahan Tuan Muda Bao Tuo yang punya banyak pengalaman ini!"

Di saat yang sama, Kadal Sisik Besi melompat, rahangnya terbuka lebar mengincar leher Zeng Niu.

Zeng Niu tidak panik. Ia menyamping dengan gerakan patah-patah namun efisien, menghindari gigitan maut itu dengan jarak setipis rambut. Tangannya terangkat untuk menikam mata makhluk itu.

Namun tiba-tiba, Trak!

Batu bata yang dilempar dengan mata tertutup oleh Bao Tuo mendarat secara ajaib tepat di hidung monster itu. Tidak menimbulkan luka fatal, tapi cukup mengejutkan sang kadal hingga gerakannya tertunda selama setengah detik.

Bagi Zeng Niu, setengah detik adalah perbedaan antara hidup dan mati.

Tanpa ragu, Zeng Niu menusukkan belatinya menembus celah sisik di bawah rahang monster itu, mendorongnya ke atas hingga menembus otak kecilnya. Ia memutar belati itu dengan kejam, lalu menendang bangkainya menjauh. Monster itu kejang-kejang dan tewas seketika.

Zeng Niu menarik napas dalam, mencabut belatinya, dan mengelap darah kotor ke bajunya. Ia menoleh ke arah Bao Tuo yang kini sedang terduduk di tanah, terengah-engah dan memegangi dadanya yang naik turun.

"B-bagaimana... pukulanku hebat, kan?" Bao Tuo mencoba menyombongkan diri, meski giginya masih bergemeletuk. "Sudah kubilang, aku punya banyak pengalaman menghadapi hal gila seperti ini."

Zeng Niu tidak mempedulikan omong kosongnya. Ia berjalan mendekati bangkai kadal, membelah dadanya dengan brutal, dan mencongkel inti Qi liar dari dalam sana, lalu menyimpannya.

Melihat kekejaman Zeng Niu dalam membedah monster tanpa mengubah ekspresi wajah, Bao Tuo menelan ludah. "K-kau... siapa namamu? Kultivasimu aneh... tidak ada aura Qi, tapi tubuhmu keras sekali."

"Zeng Niu," jawabnya pendek, suaranya kering dan dingin.

Zeng Niu berbalik untuk pergi. Ia tidak butuh beban.

"Tunggu!" Bao Tuo bangkit dengan susah payah, berlari kecil menyusul Zeng Niu. "Arah utara, kan? Kau mau ke Akademi Jiannan? Kebetulan! Aku juga mau ke sana. Bagaimana kalau kita jalan bersama? Di dunia yang kacau ini, dua kepala lebih baik dari satu!"

Zeng Niu melirik perut buncit Bao Tuo. "Kau lambat. Penakut. Menarik perhatian."

Wajah Bao Tuo memerah, tapi ia segera menepuk dadanya (yang bergetar seperti puding). "Hei, jangan salah sangka! Aku ini ahlinya bertahan hidup! Kultivasiku mungkin biasa, tapi instingku... oh, tidak ada yang bisa mengalahkan instingku. Tadi saja, aku merasakan bau darah kadal itu dari jarak lima mil, makanya aku lari ke arahmu! Lagipula..."

Bao Tuo merendahkan suaranya, matanya melirik ke kiri dan kanan dengan waspada, "Aku tahu jalur rahasia melewati Ngarai Pemutus Jiwa. Tanpa aku, kau akan masuk ke sarang monster Tingkat Brutal di depan sana."

Langkah Zeng Niu terhenti. Ia memang tidak memiliki peta yang mendetail, hanya selembar kulit domba kasar. Jika bocah misterius di depannya ini benar-benar memiliki semacam 'Radar Bahaya' alami, ia bisa memanfaatkannya sebagai detektor jebakan.

"Kau lari saat ada bahaya," ucap Zeng Niu datar.

"Tentu saja! Orang bodoh mana yang maju ke mulut kematian?" protes Bao Tuo. Lalu ia tersenyum lebar, senyum yang sedikit licik tapi entah bagaimana terlihat polos di wajah bundarnya. "Tapi tenang saja, jika kau diserang, aku pasti akan berlari sejauh mungkin untuk mencari bantuan... atau mencarikan tempat yang bagus untuk menguburmu."

Zeng Niu mendengus tipis, nyaris tak terdengar. Ia berbalik dan kembali berjalan ke utara.

Bao Tuo tersenyum lega. Ia segera mengekor di belakang Zeng Niu. Dalam hatinya, si gendut tahu satu hal: pemuda dingin di depannya ini membunuh monster seperti memotong sayur. Di era Langit Runtuh ini, menempel pada orang gila jauh lebih aman daripada berjalan sendirian.

"Oh ya, Saudara Niu," cerocos Bao Tuo memecah keheningan yang mencekam, "Aku punya firasat buruk tentang kabut merah di depan sana. Firasatku biasanya benar. Bagaimana kalau kita memutar jauh ke timur?"

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zeng Niu mencengkeram kerah belakang baju Bao Tuo, menyeretnya langsung masuk menembus kabut merah yang ditakutkan si gendut.

"TIDAAAK! KAU ORANG GILA!" jerit Bao Tuo, suaranya menggema tragis di tengah Hutan Kematian.

1
saniscara patriawuha.
cepat ambil pedang yang kabur dari mang zhao xuan,,,
.
absen Thor
Sang_Imajinasi: siap lanjutkan
total 1 replies
eka suci
si gendut SDN gadis ilusi di ajak ngga🤔
eka suci
paling brutal woy🤭
Xiao Bar
lnjut
Xiao Bar
ada kaitan nya kah ini? pedang Zhao xuan
Xiao Bar
ngeri 💪
eka suci
ini perpaduan Shen yu yg merangkak dari nol juga Zhao xuan yg di yg di hinggapi jiwa licik dan arogan 👍
eka suci
Lei Ling kau itu nasibnya ngga lebih baik dari kakek gu yg dulu bersemayam di Zhao xuan😄
saniscara patriawuha.
lanjutttt keunnnnn....
i
jangan kendor
i
gas niu
k
gasss
k
lanjut thor😍
p
lanjut thor👍
1
lanjut kan thor👍
eka suci
MC mu semuanya di luar nurul😄 lanjutkan 💪
p: kwkwk
total 1 replies
eka suci
pedang nya masuk cincin kah🤔
saniscara patriawuha.
gasssds keunnnnn...
eka suci
pedang yg angkuh 😄 takut Zhao xuan tapi nyari pewaris 😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!