NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Emas mentah

Permukaan singkong rebus itu sedingin batu. Sumarni menekan telunjuknya ke sana. Keras. Jelas ini sisa kemarin sore yang dipanaskan asal-asalan.

Dimas menelan ludah. Mata bulatnya menatap piring seng itu lekat-lekat, lalu beralih ke wajah Sumarni. Perut bocah tiga tahun itu berbunyi lagi, lebih keras dari sebelumnya.

"Ibu... Dimas lapar."

Sumarni menarik napas pendek. Ia menyapu remah kotoran di meja kayu dengan tangannya. Otak bisnisnya berputar cepat. Menerima makanan ini berarti menunjukkan kelemahan. Membuangnya berarti membiarkan anak ini kelaparan.

"Kita tidak makan ini." Sumarni berdiri. Ia meraih tangan Dimas. "Ayo."

Langkah Sumarni membelah taman belakang. Udara pagi terasa kebas di kulit, tapi dadanya memanas. Ia melangkah lurus menuju ruang makan utama.

Di sana, Sulastri duduk anggun di kursi jati. Istri pertama itu sedang menyesap teh melati dari cangkir keramik motif mawar. Di depannya terhidang nasi uduk yang masih mengepul, ayam goreng kuning bumbu lengkuas, dan empal daging sapi berdaging tebal. Aroma ketumbar dan santan memenuhi ruangan.

Sumarni masuk tanpa permisi. Ia menarik kursi di seberang Sulastri, mendudukkan Dimas, lalu duduk di sebelahnya.

Sulastri meletakkan cangkirnya perlahan. Senyum tipis mengembang di bibir bergincu merah mudanya. Ia sama sekali tidak terlihat kaget.

"Kenapa repot-repot ke sini, Dik Marni?" sapa Sulastri lembut. Suaranya mengalun tenang. "Mbok Darmi sudah mengantar sarapanmu ke belakang, kan?"

Sumarni menatap piring lauk di tengah meja. "Uang belanja bulan ini tombok, Mbakyu?"

"Begitulah." Sulastri mengaduk teh melatinya pelan. "Harga tembakau dan cengkih sedang gila-gilaan. Pabrik butuh banyak putaran dana. Kita yang di rumah harus mau prihatin, Dik."

"Prihatin." Sumarni mengangguk pelan. Matanya terkunci pada piring di depan Sulastri. "Empal daging sapi kualitas satu. Teh melati keraton. Prihatin yang aneh."

Sulastri terkekeh pelan. Jari lentiknya merapikan lipatan serbet di pangkuan.

"Mas Harjono harus makan enak sebelum kerja, Dik. Lagipula, Mas Harjono baru saja berangkat ke Kudus subuh tadi. Urusan pabrik selama tiga hari ke depan." Sulastri mencondongkan tubuhnya ke depan. Senyumnya kini berubah menjadi seringai penuh kemenangan. "Uang di rumah ini, aku yang pegang. Aturannya, aku yang buat."

Pesan itu jelas. Tuan Pabrik tidak ada. Sumarni kehilangan pelindung sementaranya.

Orang biasa akan langsung ciut. Sumarni justru tersenyum.

Ia mengambil piring bersih dari tumpukan di tengah meja. Tanpa ragu, ia menyendok nasi uduk dan sepotong empal besar, lalu meletakkannya di depan Dimas.

"Makan, Sayang," perintah Sumarni.

"Marni!" Nada suara Sulastri akhirnya naik setengah oktaf. Tangannya menahan tepi meja. "Kamu tuli? Uang belanja menipis. Lauk itu jatahku siang nanti!"

Sumarni bersandar santai ke punggung kursi. Ia melipat tangan di depan dada, menatap Sulastri dengan raut geli.

"Mbakyu bebas memotong jatah makanku. Tapi kalau Mbakyu membiarkan anak kandung Mas Harjono kelaparan, aku punya cara lain." Sumarni memiringkan kepalanya. "Bagaimana kalau jam istirahat siang nanti, aku bawa Dimas duduk di depan gerbang pabrik?"

Mata Sulastri melebar.

"Biar ratusan buruh pabrik lihat," lanjut Sumarni santai. "Ahli waris Tjokro duduk di tanah, makan singkong dingin, karena Nyonya Besar kehabisan uang belanja. Menurut Mbakyu, apa yang akan dipikirkan para mandor dan buruh tentang wibawa Mas Harjono?"

Skakmat.

Cangkir keramik di tangan Sulastri terhempas ke atas tatakan. Bunyinya berdenting keras. Reputasi dan pandangan orang luar adalah titik lemah keluarga Tjokro, dan Sumarni tahu persis cara memanfaatkannya.

Sulastri mengatur napasnya cepat. Ia memaksakan senyum kembali ke bibirnya, meski rahangnya terlihat kaku.

"Silakan, Dik Marni. Makanlah sepuasmu hari ini." Sulastri berdiri, merapikan kebaya sutranya. "Tapi besok, aku pastikan pintu dapur utama terkunci rapat."

Wanita itu melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum mawar yang pekat.

Sumarni menatap punggung Sulastri hingga menghilang di balik pintu. Ancaman itu nyata. Sulastri bukan musuh yang bodoh. Sumarni berhasil merebut makanan untuk hari ini, tapi besok adalah cerita lain. Ia tidak bisa terus-menerus memakai nama Harjono.

Ia butuh uang. Ia butuh modal sendiri untuk melawan.

Selesai sarapan, Sumarni membawa Dimas kembali ke paviliun belakang. Di sudut halaman, Mbok Darmi sedang menyeret sebuah karung goni tua menuju tempat pembakaran sampah.

"Mau dibawa ke mana, Mbok?" tegur Sumarni.

Mbok Darmi berhenti. "Ini, Ndoro... kain perca sisa jahitan Nyonya Sulastri. Kan Nyonya sering panggil penjahit ke rumah. Sisa potongannya menumpuk, jadi Nyonya suruh bakar saja."

Mata Sumarni menyipit. "Buka karungnya."

Pelayan tua itu ragu-ragu, tapi tetap membuka ikatan tali rami di pucuk karung.

Bau apak debu langsung menguar. Namun, di balik tumpukan kotoran itu, mata Sumarni menangkap kilau material mahal. Potongan kain sutra warna-warni, sisa kain beludru, dan potongan batik tulis pola keraton teronggok tak berdaya. Potongannya memang kecil, tapi kualitas benangnya luar biasa.

Jantung Sumarni berdetak lebih cepat. Di matanya, isi karung ini bukanlah sampah rumah tangga.

Ini adalah emas mentah.

"Jangan dibakar, Mbok." Sumarni menarik ujung kain sutra merah marun dari dalam karung. Jari-jarinya mengenali serat premium kain itu.

Sebuah ide gila, brilian, dan penuh perhitungan meledak di kepala Sumarni.

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!