Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Tekanan dari Puncak Takhta
Suasana di luar manor megah milik Cassian yang terletak di pinggiran terpencil utara Toronto malam itu sangat sunyi. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, kediaman pribadinya dikelilingi oleh hutan pinus privat yang lebat, memberikan privasi mutlak yang selalu ia agungkan. Hanya suara desau angin malam yang membentur dinding kaca kokoh setinggi langit-langit bangunan modern tersebut.
Cassian baru saja menyelesaikan mandi air hangatnya untuk meluruhkan ketegangan setelah seharian penuh menghadapi intrik. Ia melangkah keluar dari kamar mandi utama yang luas, hanya mengenakan jubah mandi sutra hitam berlogo inisial namanya. Rambut hitamnya yang setengah basah dibiarkan berantakan, sementara tetesan air sisa mandi masih menempel di rahang tegasnya.
Pria itu menuangkan sedikit wiski ke dalam gelas kristal, berniat menikmati beberapa menit ketenangan sebelum fajar tiba. Matanya menatap lurus ke arah kegelapan hutan di luar jendela besar kamarnya. Di atas meja marmer di dekatnya, sertifikat mualaf resmi dari Imam Abdulaziz tergelat rapi di samping dokumen rahasia mengenai perselingkuhan Rebecca Winston dan Julian Vance.
Dua senjata legal yang kini siap ia mainkan.
Tepat saat Cassian meletakkan gelas kristalnya ke atas meja, ponsel satelit pribadinya bergetar kuat di atas permukaan marmer. Layar gawai itu menyala, menampilkan satu nama yang langsung membuat atmosfer di dalam kamar mewah itu mendadak anjlok drastis.
Alexander Noir.
Cassian menatap layar yang berkedip itu selama beberapa detik dengan ekspresi dingin tanpa riak, sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. Ia tidak mengucapkan sapaan sepatah kata pun, menunggu suara di seberang sana yang memulai.
"Aku tidak suka membuang waktu dengan mencarimu ke pinggiran kota, Cassian," suara berat, penuh wibawa, dan sarat akan racun intimidasi milik Alexander Noir langsung menggelegar dari balik pengeras suara. Nada suaranya menandakan bahwa batas kesabaran sang patriark telah mencapai puncaknya. "Dewan direksi baru saja menyelesaikan rapat tertutup mengenai struktur saham baru untuk kuartal depan. Dan posisi namamu di puncak takhta itu tidak akan aman jika kau terus bertingkah seperti anak remaja pemberontak."
Cassian menyandarkan punggung tegapnya pada pinggiran meja marmer, melipat sebelah tangannya di dada. "Aku sedang tidak ingin membahas masalah saham di jam seperti ini, Dad."
"Ini bukan negosiasi, Cassian!" potong Alexander tajam, suaranya naik satu oktav, tidak menerima bantahan apa pun. "Keluarga Winston telah menyampaikan keluhan besar padaku mengenai caramu memperlakukan Rebecca di Casa Loma semalam. Kau telah menghina aliansi kita! Dengar baik-baik... besok pagi, pukul delapan tepat, kau harus menghadap langsung kepadaku di ruang rapat utama Noir Enterprises. Bawa seluruh berkas komitmenmu. Jika kau tidak hadir atau kembali membawa penolakan konyol tentang pertunangan ini, aku bersumpah demi nama besar Noir, hak veto dan seluruh warisan utamamu atas korporat akan dicabut detik itu juga."
Tut.
Sambungan diputus sepihak dari seberang sana.
Cassian perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Sebuah senyuman miring yang begitu dingin dan penuh kalkulasi manipulasi yang berbahaya terukir di sudut bibir tegas sang miliarder. Alexander mengira ancaman warisan itu adalah rantai yang bisa mengikat leher putranya untuk tunduk pada perintahnya. Sang ayah sama sekali tidak menyadari bahwa malam ini, Cassian telah menggenggam sebuah skenario kontra-strategi yang jauh lebih mematikan.
Ia akan datang menghadap Alexander besok pagi seperti yang diminta. Namun, bukan untuk menyerahkan diri pada perjodohan Rebecca, melainkan untuk melempar bom legalitas baru yang akan menjungkirbalikkan seluruh rencana sang ayah.
Cassian melirik jam dinding digitalnya. Masih ada beberapa jam sebelum rapat pagi itu dimulai. Pria itu meminum habis wiski di gelasnya, lalu melangkah menuju ruang pakaian untuk menyiapkan setelan jas formal terbaiknya. Permainan catur ini telah memasuki babak penentuan, dan Cassian tidak akan membiarkan siapa pun merebut kendali dari tangannya.
Tepat pukul delapan pagi, atmosfer di ruang rapat utama lantai paling atas gedung Noir Enterprises terasa begitu mencekam. Ruangan berdinding kaca tebal itu menyajikan pemandangan lanskap menara-menara pencakar langit ToroNto, namun fokus semua orang tertuju pada meja oval marmer hitam di tengah ruangan.
Alexander Noir duduk di kursi utama dengan keangkuhan seorang patriark mutlak. Di sebelah kanannya, Victoria Noir—sang ibu—duduk dengan anggun, jemarinya yang dihiasi cincin berlian menggenggam cangkir porselen dengan ekspresi tegang sekaligus kesal.
Pintu ganda ruangan itu terbuka. Cassian melangkah masuk dengan setelan jas tiga lapis (three-piece suit) berwarna hitam legam buatan penjahit terbaik Savile Row. Langkah kakinya yang berat dan tegas menggema di ruangan yang sunyi. Ia tidak membawa map ataupun berkas komitmen yang diminta ayahnya semalam. Kedua tangannya tersemat tenang di dalam saku celana.
"Kau terlambat tiga menit, Cassian," suara Alexander menggelegar dingin, sepasang matanya yang menua namun tetap tajam mengunci sosok putranya.
"Jalanan Downtown sedikit padat," sahut Cassian tanpa riak emosi sedikit pun. Ia menarik kursi di ujung meja yang berhadapan langsung dengan ayahnya, lalu mendudukinya dengan santai, menyandarkan punggung dengan keangkuhan yang setara.
Sebelum Alexander sempat meluapkan kemarahannya, Victoria langsung memotong dengan nada suara yang sengaja dibuat mendesak. "Cassian, demi Tuhan, singkirkan egomu kali ini! Apa yang kau lakukan pada Rebecca di Casa Loma semalam benar-benar memalukan keluarga kita. Ibu dari Rebecca meneleponku sambil menangis!"
Victoria mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menatap Cassian penuh tuntutan. "Rebecca itu wanita yang sempurna untukmu. Dia cantik, berkelas, dari keluarga terpandang, dan yang paling penting, aliansi dengan Winston akan mengunci posisi Noir Enterprises di pasar Eropa! Kau tidak punya alasan logis untuk menolaknya, Cassian. Menikahlah dengannya dan amankan takhtamu. Jangan membuat Ibu harus terus-menerus memohon pada ayahmu agar tidak mencabut hak vetonu!"
Cassian melirik ibunya sekilas dengan tatapan meremehkan yang amat tipis. Ibunya selalu sama—hanya peduli pada reputasi di lingkaran sosial elit dan foya-foya korporat tanpa pernah tahu bahwa Winston diam-diam sedang mengincar aset mereka dari dalam untuk menutupi kebangkrutan.
"Aku tidak butuh kau memohon untukku, Mom," ujar Cassian datar.
"Cassian!" bentak Alexander, memukul permukaan meja marmer dengan telapak tangan hingga menimbulkan dentuman keras. "Ibumu benar. Cukup bermain-mainnya. Jika kau tidak menandatangani dokumen komitmen pertunangan dengan Rebecca Winston pagi ini juga, dewan direksi akan membacakan surat pencabutan hak waris utamamu atas seluruh aset Noir. Kau akan keluar dari gedung ini tanpa memegang satu persen pun saham."
Mendengar ancaman mutlak itu, Cassian justru terkekeh pelan—sebuah kekehan rendah yang sarat akan cemoohan dan rasa percaya diri yang teramat tinggi. Ia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja, menatap langsung ke dalam manik mata Alexander dengan binar mata elang yang penuh kemenangan.
"Kau terlalu berisik tentang masalah warisan ini, Dad," ujar Cassian dengan nada meremehkan yang begitu kental, membuat rahang Alexander seketika mengeras akibat terhina.
"Apa?" desis Alexander tak percaya dengan kelancangan putranya.
"Bukankah klausul legalitas yang tertulis di dalam anggaran dasar korporat dan surat wasiat dinasti Noir hanya menyebutkan satu syarat mutlak?" Cassian menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi dingin yang keputusan mandirinya tak bisa diganggu gugat. "Penerus takhta utama harus memiliki status pernikahan yang sah dan legal di atas kertas demi stabilitas struktur perusahaan. Di sana tidak pernah tertulis nama Rebecca Winston sebagai syarat wajib."
Victoria terperangah, sementara Alexander menyipitkan matanya. "Apa maksudmu?"
"Aku akan menikah dalam waktu dekat," ucap Cassian mutlak, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti skakmat yang mengunci papan catur. "Pernikahan yang sah secara hukum, dengan sertifikat resmi yang tidak akan bisa digugat oleh dewan direksi maupun olehmu. Jadi, simpan kembali surat pencabutan warisan konyolmu itu, Dad. Hak veto dan seluruh aset Noir Enterprises akan tetap berada di bawah kendaliku."
"Siapa wanita itu, Cassian?!" tuntut Victoria dengan suara yang melengking panik. "Jangan katakan kau memilih wanita sembarangan dari jalanan!"
Cassian perlahan bangkit berdiri, merapikan kancing jas hitamnya dengan ketenangan yang mematikan. Ia sama sekali tidak berniat membocorkan nama Aisya atau rencana perpindahan keyakinannya kepada kedua orang tuanya. Biarlah itu menjadi bom waktu yang akan meledak di saat yang tepat nanti.
"Siapa pun wanitanya, itu bukan urusanmu, Mom. Yang perlu kalian tahu, dia adalah wanita yang tidak akan pernah bisa disentuh atau dipengaruhi oleh trik kotor siapa pun di ruangan ini," ujar Cassian dingin. Ia menatap ayahnya sekali lagi dengan senyum miring yang penuh kemenangan. "Rapat selesai. Aku ada urusan penting yang harus kuhadiri malam ini."
Tanpa memedulikan kemarahan bapaknya atau kepanikan ibunya, Cassian melangkah keluar, menolak dikawal oleh Kevin atau sopir pribadinya hari ini. Pria itu membutuhkan pelampiasan atas egonya yang sempat ditekan.
Cassian turun ke basemen privat Noir Enterprises, tempat di mana hanya ada koleksi kendaraan eksklusif miliknya terparkir. Selain memimpin korporasi utama, Cassian adalah pemilik Noir Luxury Experience—sebuah perusahaan penyewaan dan sirkuit privat eksklusif bagi para miliarder yang ingin menguji nyali dengan jet darat terbaik di dunia. Koleksi pribadinya tidak terhitung, dan hari ini, ia sedang tidak ingin mengendarai Rolls-Royce Ghost yang terlalu formal dan tenang.
Langkah tegapnya berhenti di depan sebuah monster jalanan bergaya agresif: Bugatti Chiron Super Sport berwarna hitam karbon pekat dengan aksen garis perak maskulin.
Pip.
Lampu LED tipis mobil bertenaga 1.500 tenaga kuda itu menyala. Cassian membuka pintu gullwing-nya, mendudukkan tubuh tegapnya di kursi semi-bucket yang dibungkus kulit Alcantara mewah. Begitu tombol Start ditekan, raungan mesin W16 di belakang punggungnya bergemuruh dahsyat, menggetarkan dinding beton basemen.
Cassian menginjak pedal gas, membawa hypercar tersebut melesat keluar membelah jalanan Toronto dengan kecepatan ekstrem. Raungan mesin Bugatti itu seolah menyuarakan arogansi dan kebebasannya yang tidak bisa dikekang oleh Alexander Noir. Sambil mengemudikan setir serat karbon dengan satu tangan, pikiran Cassian terfokus sepenuhnya pada rute baru yang sudah tersimpan di GPS: kawasan suburban sederhana tempat tinggal Aisya. Malam ini, ia akan menaklukkan benteng terakhir gadis itu dengan cara yang paling terhormat.