NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kota Avalon

Terjebak Di Kota Avalon

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5.Prince of darkness.

Di perbatasan wilayah Hutan Gelap, tidak jauh dari lokasi Villa Star born, langit malam yang seharusnya tenang justru berubah menjadi neraka yang mengerikan.

Bulan purnama bersinar terang, memancarkan cahaya keperakan yang memantul pada permukaan pedang panjang yang terhunus. Namun, cahaya itu tidak mampu menembus kegelapan yang mulai merayap.

ROAAAAAR!!!

Raungan mengerikan memecah keheningan malam. Ratusan makhluk mengerikan—campuran antara serigala berkulit batu dan iblis bersayap kelawar—muncul dari celah dimensi yang terbuka. Mereka adalah gerombolan Void Beast, monster pemangsa yang datang dari dunia bawah untuk menghancurkan segala kehidupan.

Namun, di hadapan gerombolan itu, berdiri satu sosok tunggal yang tidak bergerak mundur sedikitpun.

Seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan tegap, mengenakan jubah panjang berwarna hitam pekat yang terbuat dari sutra terbaik yang berkilau lemah di bawah sinar bulan. Wajahnya tampan namun mematikan. Rahangnya tegas, kulitnya pucat, dan sepasang matanya berwarna merah darah yang bersinar tajam di tengah gelap.

Itu adalah Ka el Drago mir.

Putra Mahkota Avalon, pewaris takhta, dan sosok yang paling ditakuti di seluruh kerajaan.

Di samping kakinya, seekor makhluk besar seukuran harimau dengan sisik hitam mengkilap dan sepasang tanduk melengkung di kepalanya mendengus marah. Itu adalah Shadow, naga hitam peliharaan dan partner setianya. Mata naga itu juga menyala merah sama seperti tuannya.

"Jangan biarkan satu pun yang lolos, Shadow," suara Ka el terdengar dingin, datar, tanpa emosi. Suaranya rendah namun mampu terdengar jelas di atas raungan monster.

GRRR!

Tanpa aba-aba, pertempuran pun dimulai.

SWISH!

Ka el melompat ke udara dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Pedang panjang di tangannya melayang, membelah udara.

SLASH!

Dalam satu ayunan, lima monster yang berada di depannya terbelah menjadi dua bagian secara bersamaan. Darah hijau dan ungu menyembur membasahi bumi, serta bau anyir yang menyengat langsung tercium. Namun Ka el tidak peduli. Wajahnya tetap datar, seolah apa yang dia lakukan hanyalah memotong rumput liar.

Bagi Ka el, membunuh adalah napas. Sejak kecil, dia dididik bukan untuk menjadi raja yang dicintai, tapi menjadi senjata yang ditakuti. Dia adalah tameng terkuat Avalon yang menahan laju kegelapan sendirian.

"Api Naga: Inferno Hitam!" seru Ka el pelan.

Tangannya diangkat ke atas, dan energi hitam pekat berkumpul di telapak tangannya. Shadow juga mengangkat kepalanya, menyemburkan api ungu yang sama gelapnya.

Bola energi itu meledak saat menyentuh gerombolan monster. Ledakannya tidak berisik, tapi efeknya mematikan. Area seukuran lapangan bola tiba-tiba menjadi area kosong, semua monster di dalamnya hancur menjadi debu dalam sekejap.

Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Mereka datang tanpa henti seperti air bah.

"Terlalu banyak..." gumam Ka el. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Sudah tiga hari dia tidak tidur, terus memburu celah dimensi yang terbuka di berbagai wilayah. Tenaganya sudah menipis, tapi tanggung jawabnya tidak pernah usai.

Seekor monster raksasa seukuran gajah dengan cakar raksasa menyerang dari samping.

DUNG!

Ka el menangkis dengan gagang pedangnya, tapi kekuatan hantamannya membuat kaki pria itu menancap ke tanah hingga membentuk lubang.

"Tch! Mengganggu!"

Mata merah Ka el memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa memadat.

"Kalian pikir makhluk rendahan seperti kalian bisa menyentuhku?"

Ka el memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dengan tatapan gila.

"Rasakan ini... Bintang Penghancur: Supernova!"

Seluruh energi yang tersisa di dalam tubuhnya dikerahkan sepenuhnya. Cahaya hitam pekat namun menyilaukan memancar dari tubuhnya. Bayangan-bayangan runcing bermunculan di sekelilingnya, menyerupai sayap iblis raksasa.

BOOOOOOMMM!!!

Ledakan dahsyat terjadi. Gelombang kejutnya menerpa seluruh hutan, menumbangkan pohon-pohon besar dan memantulkan semua monster kembali ke dalam portal dunia bawah sampai portal itu sendiri hancur dan tertutup rapat.

Hening.

Kegelapan kembali menyelimuti hutan. Hanya tersisa bau darah dan asap mesiu yang tebal.

Ka el berdiri tegak di tengah puing-puing, pedangnya sudah kembali tersarung di punggung. Namun, saat ledakan itu mereda, wajahnya berubah pucat pasi.

Ugh...

Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Kakinya gemetar hebat. Penggunaan kekuatan maksimal seperti itu memberikan beban berat pada tubuh dan jiwanya.

"Master..." Shadow mendekat, menggosokkan kepalanya ke kaki tuannya dengan cemas. Naga itu juga terlihat kelelahan, sisiknya kehilangan kilau.

Ka el mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap ke arah sebuah bangunan megah namun tua yang terlihat samar di kejauhan di atas bukit.

"Villa Star born..." gumamnya pelan.

Dia tahu tempat itu. Tempat pembuangan putri yang dianggap cacat dari keluarga bangsawan besar.

Jaraknya tidak jauh dari sini, dan tubuhnya sudah tidak mampu terbang atau menggunakan sihir lagi. Jika dia paksa kembali ke istana, dia bisa jatuh di tengah jalan dan dimangsa oleh hewan liar yang tersisa.

"Ayo... kita istirahat sebentar..."

Dengan langkah sempoyongan, Ka el berjalan menuruni bukit menuju arah villa. Bayangannya yang tinggi besar terlihat menyeramkan di bawah sinar bulan purnama, berjalan tertatih namun tetap memancarkan aura dominan yang menekan.

Sementara itu di Villa Star born

Suasana di villa sangat hidup meski malam telah larut.

Luna Ria sedang duduk di teras utama, ditemani oleh Ivy, Lira, Rian, dan Bimo. Mereka sedang menikmati camilan ringan dan teh hangat. Lira dan yang lain sudah tidak lagi terlihat seperti preman jalanan, mereka terlihat lebih rapi dan berwibawa karena disiplin yang diajarkan oleh Luna.

"Jadi intinya, kalau kalian menghadapi musuh yang pakai sihir air, jangan mundur, tapi justru maju mendekat! Karena jarak dekat adalah kelemahan mereka!" jelas Luna dengan semangat.

"Ooohhh... jadi begitu ya Master! Pintar sekali!" seru Bimo sambil mengangguk-angguk paham.

"Tentu saja, aku kan masternya," jawab Luna sombong namun disambut tawa riang oleh yang lain.

Hati Luna sangat tenang. Untuk pertama kalinya sejak dia berpindah ke dunia ini, dia merasa memiliki keluarga, memiliki tempat untuk pulang, dan memiliki kekuatan.

Namun, tiba-tiba...

BRRRRR...

Seluruh bulu kuduk Luna berdiri tegak secara bersamaan.

Angin malam yang tadinya sepoi-sepoi tiba-tiba berubah menjadi dingin yang menusuk tulang. Suara jangkrik dan burung malam yang tadinya bersahutan, tiba-tiba diam total. Hening yang mencekam.

Luna langsung berdiri, matanya menyipit menatap ke arah gerbang pagar utama.

"Ada apa, Master?" tanya Rian yang menyadari perubahan wajah gurunya.

"Diam..." bisik Luna. "Ada sesuatu yang datang. Sesuatu yang sangat berbahaya."

Insting jalanannya yang tajam berteriak keras. Bahaya level ini bukan bahaya dari Lira atau remaja biasa. Ini adalah bahaya mematikan, seperti berhadapan langsung dengan dewa kematian.

KLEK... KLEK... KLEK...

Suara langkah kaki terdengar pelan namun berat. Setiap langkahnya seolah membuat tanah bergetar halus.

Dan akhirnya, di balik gerbang besi besar villa itu, muncul sebuah bayangan.

Seorang pria tinggi besar dengan jubah hitam kotor berlumuran darah dan lumpur. Wajahnya tertutup sebagian oleh tudung jubah, tapi sepasang mata merah menyala yang terlihat dari balik bayangan itu membuat jantung semua orang di teras berhenti berdetak sesaat.

Di sampingnya, seekor naga hitam seukuran harimau berjalan mengiringi, tatapannya tajam dan penuh waspada.

"Si... siapa itu?!" Ivy langsung berdiri di depan Luna, siap menggunakan sihir angin. Lira, Rian, dan Bimo juga langsung mengambil posisi bertarung, aura sihir mereka menyala.

"Tunggu! Jangan menyerang!" cegah Luna cepat, tangannya diangkat menahan murid-muridnya. "Lihat dia... dia terluka parah. Tapi jangan dekati, bahaya."

Luna bisa mencium baunya dari kejauhan. Bau darah. Bukan bau darah segar biasa, tapi bau darah yang sudah mengering dan menempel begitu lama pada tubuh seseorang, seolah orang itu lahir dan besar di tengah medan perang.

Pria itu berhenti tepat di depan pintu gerbang yang terkunci. Ia tidak mengetuk, tidak juga berteriak. Ia hanya berdiri di sana, menatap lurus ke arah Luna dengan tatapan kosong namun tajam.

Kakinya akhirnya lemas. Tubuh tingginya ambruk ke depan.

JEDAR!

Ia berlutut dengan satu lutut, tangannya mencengkeram tanah dengan kuat agar tidak jatuh tersembunyi ke tanah. Shadow, naganya, juga terlihat sangat lemas hingga kepalanya hampir menyentuh tanah.

"Ugh..." erangan halus keluar dari mulut pria itu.

Luna mengernyitkan dahi. Ada rasa penasaran yang besar. Siapa dia? Kenapa auranya begitu menakutkan tapi dia terlihat sekarat?

"Ivy, buka gerbangnya," perintah Luna.

"Tapi Nona! Bahaya! Siapa tahu dia penjahat!"

"Justru karena itu kita harus tahu siapa dia. Kalau kita biarkan dia mati di depan pintu, nanti kita yang repot. Buka!"

Dengan ragu-ragu, Ivy membuka kunci gerbang besar itu.

Pintu terbuka lebar. Ka el mendongak, melihat gadis berambut panjang dengan mata biru pekat yang berjalan mendekatinya dengan santai, seolah tidak takut sedikitpun pada aura membunuh yang dia pancarkan.

Luna berhenti beberapa meter di depannya. Ia menatap pria itu dari atas ke bawah.

Gagah. Tampan. Tapi sangat menyeramkan dan dingin.

"Hei, tuan. Kamu kenapa? Siapa kamu?" tanya Luna dengan nada santai yang tidak biasa.

Ka el memfokuskan pandangannya. Di hadapannya adalah seorang gadis muda yang cantik, namun tatapan matanya... tajam dan tidak takut sama sekali. Berbeda dengan orang lain yang biasanya pingsan atau berlutut hanya dengan melihat matanya.

"Kau..." suara Ka el terdengar serak dan berat, seperti batu bergesekan. "Villa Star born..."

"Iya bener. Ini rumahku. Kamu cari siapa?"

Ka el tidak menjawab. Pandangannya mengabur. Tenaganya benar-benar habis. Tubuhnya limbung, dan akhirnya... ia jatuh pingsan ke depan.

BYUR!

Tubuh berat pria itu ambruk tepat di hadapan Luna.

"WOI! HEI!" Luna kaget tapi sigap menangkap bahu pria itu, meski hampir ikut tertimpa karena berat badannya. "Ya ampun! Berat banget kayak batu!"

"Master! Kami bantu!" Rian dan Bimo segera berlari membantu mengangkat tubuh pria itu.

"Baunya apa ini sih? Bau darah banget!" keluh Bimo pelan tapi tetap kuat mengangkat.

"Bawa masuk ke kamar tamu utama! Cepat! Ivy, siapkan air hangat dan obat-obatan! Lira, ambil kain bersih!" perintah Luna dengan sigap.

"Siap!"

Mereka semua bergerak cepat. Naga hitam Shadow melihat tuannya dibawa masuk dengan aman, ia lalu menghilang kembali ke tempatnya untuk memulihkan keadaan nya.

Malam itu, Villa Star born yang damai kini menjadi tempat persinggahan bagi makhluk paling berbahaya di seluruh Avalon.

BEBERAPA JAM KEMUDIAN

Di dalam kamar tamu yang besar dan mewah.

Ka el terbaring di atas kasur empuk. Pakaiannya yang kotor dan berlumuran darah sudah diganti dengan kain tidur bersih yang dipinjamkan oleh Luna. Lukanya sudah dibalut oleh Ivy dengan ramuan penyembuh terbaik yang mereka punya.

Wajahnya terlihat lebih tenang saat tertidur, namun garis tegas di wajahnya tetap menunjukkan betapa dingin dan kerasnya kehidupan yang dia jalani.

Luna duduk di kursi dekat jendela, memandangi pria itu dengan pikiran yang berkecamuk.

"Pria tampan..." bisik Luna dalam hati. "Aura dia... gila banget. Bahaya level dewa. Tapi siapa sebenarnya dia?"

Tiba-tiba, mata merah Ka el terbuka lebar secara tiba-tiba. Refleks pembunuhannya membuatnya langsung mencengkeram leher orang terdekat dalam sekejap!

GRAB!

"ARGHH!"

"Eh?!"

Ka el mencengkeram leher Luna dengan kuat! Matanya merah menyala penuh amarah dan kewaspadaan.

"Kau siapa?! Di mana aku?!" teriaknya dengan suara garang.

Luna tidak berteriak kesakitan, meski cengkeraman itu sangat kuat hingga sulit bernapas. Ia justru menatap balik mata merah itu dengan tatapan tajam dan tidak takut sedikitpun.

"LEPASIN! KAMU GILA YA?!" bentak Luna keras, suaranya lantang memecah ketegangan.

Dengan gerakan cepat dan teknik kuncian yang ia pelajari, Luna memukul titik saraf di siku Ka el.

AKS!

"Tch!" Tangan Ka el terlepas karena refleks kesakitan yang mendadak.

Luna mundur cepat, mengusap lehernya yang memerah, lalu menatap Ka el dengan tatapan marah.

"Dasar gila! Baru bangun langsung main cekik! Aku selamatin nyawa mu, eh malah mau bunuh aku! Tidak tahu terima kasih sekali!" omel Luna panjang lebar.

Ka el duduk tegak, masih waspada, tangannya siap merapal mantra atau mencabut pedang (meski pedangnya tidak ada di sana). Tapi saat ia melihat sekeliling, ia menyadari ia tidak diserang. Ia melihat gadis di depannya hanya memakai baju tidur biasa, tidak membawa senjata, dan wajahnya justru kesal bukan takut.

Dan yang paling membuat Ka el terkejut... gadis ini... tidak memiliki aura sihir sama sekali. Benar-benar kosong. Seperti ruang hampa.

Tapi kenapa... kenapa dia tidak takut padaku?

Semua orang, mulai dari penyihir terkuat hingga bangsawan tinggi, semua gemetar hanya dengan satu tatapan matanya. Tapi gadis ini? Dia justru memarahinya seperti memarahi anak kecil nakal.

"Kau..." Ka el menatapnya curiga. "Ber...beraninya gadis rendahan menghinaku "

“Dasar sial, sudah nolong orang malah dicaci maki. ”ucap ketus Luna.

Luna lalu berdiri dan membelakangi Ka el.

“Ivy, segera usir pria ini! ”ucap Luna tegas. “Villa ini tidak sudi menerima pria tidak tahu terimakasih seperti itu. ”setelah mengucapkan itu Luna pergi dari kamar Ka el.

“Baik nona. ”

Ka el menatap tajam kearah Luna, untuk pertama kalinya ada orang yang bersikap kasar padanya.

1
Frida
seru, ada romantisnya juga..buat deg2 an yg baca dan senyum2 sendiri.... kelanjutannya segera up banyak2 dong author please....😍👍
Kusii Yaati
mau seburuk apa riasan mu luna itu tak akan mempan buat pangeran KA El karena dia sudah pernah lihat wajahmu... tapi tidak apa" yang penting sakit hatimu sudah kau balas dengan mempermalukan wajah ayahmu yg kejam itu.semangat Thor nanti up lagi ya Thor 😁💪😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor 💪💪💪😁😁😁
Kusii Yaati
wah Luna ria hebat, walau tidak punya sihir tapi tubuhnya kebal akan serangan sihir 😱
Kusii Yaati
up lagi Thor yg banyak... penasaran gimana reaksi keluarga Luna ria melihat putri yang di buang menjadi Badas dan kuat 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
lanjut Thor seru nih ceritanya 💪💪💪😘😘😘
Rubiyata Gimba
sepertinya ceritanya bagus thor abdit cepat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!