Alya Putri menjalani pernikahan kontrak empat tahun dengan miliarder Rizky Aditya, hanya karena wajahnya yang mirip dengan Kezia Angelica, cahaya bulan putih yang dicintai Rizky. Ketika Kezia kembali, Rizky segera menyiapkan perjanjian perceraian dan menawarkan kompensasi besar, menganggap hubungan mereka hanya transaksi uang dan tubuh.
Namun, Alya yang awalnya hanya mengejar uang telah jatuh cinta mendalam pada suaminya. Lebih buruk lagi, dia menemukan dirinya hamil, tetapi Rizky dengan kejam memerintahkannya untuk menggugurkan anak itu. Di tengah tekanan ipar yang membenci dan skandal wanita lain, Alya harus memilih antara menyerahkan segalanya atau berjuang untuk cinta dan anaknya, sementara Rizky mulai menyadari bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Alya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prabowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Anggur di gelas Rizky tinggal seperempat ketika ia mengangkat pandangannya dari permukaan cairan merah itu dan memandang Alya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—bukan tatapan yang menghitung, bukan tatapan yang menginginkan, tapi tatapan yang sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu tahu kenapa pernikahan kita bisa bertahan sampai empat tahun?"
Alya memutar gelasnya perlahan. Di luar jendela, pesawat kecil bergerak melintasi cakrawala Jakarta, lampunya berkedip merah dan putih bergantian. "Karena saya istri sah kamu?"
Rizky tidak tersenyum. Ia meletakkan gelasnya ke meja dan memandangnya dengan cara yang tidak menyisakan ruang untuk interpretasi lain. "Selain wajah kamu yang mirip Kezia—" ia berhenti sebentar, tidak seperti orang yang ragu, tapi seperti orang yang sedang memilih kata yang paling efisien, "—kamu tahu cara menyenangkan saya."
Alya mengedipkan matanya sekali. Lalu ia menggelengkan kepala pelan, senyumnya keluar bukan dari kesenangan tapi dari sesuatu yang lebih dekat ke kelelahan. "Luar biasa." Ia meneguk anggurnya. "Pria bisa bilang mencintai satu wanita, lalu memuji wanita lain dengan wajah yang sama sekali tidak bersalah." Ia menurunkan gelasnya. "Saya tidak pernah bisa mengerti bagaimana itu bekerja di dalam kepala kalian."
"Saya tidak sedang memuji." Nada Rizky tidak berubah. "Saya sedang menjelaskan fakta."
"Fakta." Alya mengangguk. "Bahwa saya berguna karena wajah saya mengingatkan kamu pada orang lain, dan karena saya tidak mengecewakan di tempat tidur." Ia memiringkan kepalanya. "Kata cinta dari pria memang sebaiknya tidak terlalu dipercaya."
"Kamu istri saya."
Senyum Alya berubah—masih ada di wajahnya, tapi warnanya berbeda, seperti buah yang terlihat matang dari luar tapi rasanya terlalu tajam. "Istri yang dibeli dengan uang." Ia menegaskan kata itu dengan nada yang ringan, nyaris bercanda, tapi matanya tidak bercanda. "Dan memenuhi kebutuhan fisiologis suami adalah kewajiban dalam kontrak." Ia menoleh ke Rizky. "Kamu tidak takut saya akan sedih mendengar itu?"
Rizky memandangnya dengan tenang. "Tidak."
"Percaya diri sekali."
"Karena saya tahu kamu." Ia mengambil gelasnya lagi. "Kamu tidak akan rela melepaskan hidup seperti ini. Rumah, kartu kredit, rekening yang tidak perlu kamu isi sendiri. Kamu terlalu pragmatis untuk sedih karena kata-kata."
Alya tertawa. Bukan tawa kecil—tawa yang cukup keras untuk mengisi ruangan, tawa yang datang dari perut, tawa yang membuat pipinya yang sudah sedikit merah karena anggur menjadi lebih merah lagi. Rizky memandangnya dengan ekspresi yang tidak berubah tapi matanya bergerak—dari tawa ke pipi ke bibir, dengan cara yang tidak ia sembunyikan.
Alya mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah Rizky. "Untuk malam yang indah, kalau begitu."
Rizky menyentuhkan gelasnya ke gelas Alya.
Lampu suite sudah dimatikan sampai hanya tersisa satu lampu kecil di sudut ruangan, cahayanya berwarna amber dan jatuh di sudut-sudut yang tidak mengganggu. Di luar jendela, Jakarta malam tidak berubah—tetap berdenyut, tetap bercahaya, tetap tidak peduli.
Alya berbaring dengan kepala di dada Rizky, mendengar detak jantungnya yang sudah kembali ke ritme normal. Tangannya ada di sisi tubuhnya sendiri, tidak bergerak. Rizky berbaring telentang dengan satu lengan di bawah kepala Alya dan yang lain di sisinya, matanya ke arah langit-langit.
Di dalam kepala Alya, untuk satu momen yang tidak ia izinkan berlangsung terlalu lama, ilusi itu muncul—bahwa ini nyata, bahwa kehangatan di bawah telinganya adalah miliknya, bahwa laki-laki ini ada di sini bukan karena kontrak atau kebiasaan atau karena wajah perempuan lain yang kebetulan ia miliki juga. Ilusi itu halus, tidak dramatis, dan itulah yang membuatnya berbahaya. Ia muncul bukan dengan tergesa tapi dengan cara yang pelan—seperti kabut yang tidak terasa datang sampai sudah menyelimuti semuanya.
Alya menggerakkan jarinya ke dada Rizky, menggambar lingkaran kecil di atasnya.
Tangan Rizky bergerak dan menangkap tangannya.
"Jangan."
Alya mengangkat pandangannya. "Kenapa?"
"Saya tidak suka wanita yang menangis dan terus mengganggu setelah ini." Suaranya tidak keras, tapi jernih—pernyataan, bukan ancaman. "Jadi jangan mulai sesuatu yang tidak akan berakhir baik."
Alya menatapnya dari jarak yang dekat. Dalam cahaya amber itu, wajah Rizky terlihat seperti versi yang sedikit berbeda dari siang hari—lebih penat, lebih tidak terjaga, tapi juga tidak lebih terbuka. "Kamu tidak takut menyakiti hati saya?"
"Kamu tidak akan sakit hati."
"Kamu yakin sekali."
"Kamu sendiri yang bilang tadi." Rizky melepaskan tangannya. "Kamu hanya mencintai uang saya."
Alya menunduk ke dadanya. Beberapa detik berlalu. Lalu ia mendorong tubuhnya ke atas, menumpu dengan satu tangan di kasur di sisi tubuh Rizky, memandangnya dari atas dengan rambut yang jatuh ke satu sisi. "Kamu ingat tidak, pertama kali kamu bilang itu ke saya?"
"Bilang apa."
"Bahwa saya wanita yang mencintai uang." Alya tidak menunggu jawabannya. "Saya baru di sini tiga minggu. Di meja makan. Kamu bilang, 'saya tahu kamu di sini karena uang, dan itu bagus, karena saya juga di sini karena keperluan, bukan perasaan.'" Ia mengingat itu dengan presisi yang tidak perlu usaha—beberapa hal memang tidak butuh usaha untuk diingat, mereka hanya tinggal. "Kamu minum kopi waktu itu. Tidak menatap saya sama sekali."
Rizky memandangnya.
"Dan saya berpikir," lanjut Alya, sudut bibirnya bergerak ke arah yang bisa disebut senyum tapi juga bisa disebut hal lain, "paling tidak orang ini jujur."
"Kamu sangat tahu diri." Rizky mengucapkan itu bukan sebagai pujian tapi sebagai observasi—seperti mencatat bahwa seseorang bisa berenang atau berbicara dua bahasa. Faktual. "Lebih dari wanita mana pun yang pernah saya kenal. Kamu tahu persis apa yang kamu inginkan dan kamu tidak membuang waktu untuk berpura-pura sebaliknya."
Alya menatapnya. Di dalam dadanya, sesuatu bergerak—bukan ke atas, tapi ke bawah, seperti sesuatu yang tenggelam perlahan ke dasar yang dingin. Kata-kata itu bukan serangan. Itu lebih buruk dari serangan—itu adalah definisi, label yang ditempelkan dengan keyakinan penuh, oleh seseorang yang sudah empat tahun tinggal bersamanya dan masih melihatnya hanya sampai sini.
Wanita yang tahu diri. Wanita yang mencintai uang. Wanita yang pragmatis.
Bukan perempuan yang takut gelap. Bukan perempuan yang menyimpan foto kebun teh sebagai wallpaper tanpa ingat kapan memasangnya. Bukan perempuan yang tadi sore memeluk boneka beruang karena tidak tahu harus memeluk apa lagi.
Alya turun dari posisinya dan berbaring di sisi kasur, punggungnya ke arah Rizky. Selimut ia tarik sampai ke bahu.
"Alya."
Ia tidak menjawab.
"Ada apa?" Nada Rizky berubah—bukan lebih hangat, tapi lebih awas, seperti seseorang yang mendeteksi perubahan di sistem yang biasanya berjalan dapat diprediksi.
Diam.
"Alya." Ia mengulangi namanya dengan cara yang berbeda—lebih pendek, lebih langsung. "Apa yang terjadi?"
Luar jendela, angin menggerakkan sesuatu di luar—suara kecil, tidak teridentifikasi. Alya menutup matanya. Di balik kelopak matanya, gelap yang ada justru lebih ramai dari ruangan ini—penuh dengan gambar-gambar yang tidak ia undang. Ibu Siti di dapur dengan kambing yang dipotong, tangannya yang menepuk lengan Alya dengan cara yang tidak pernah ia rasakan dari ibunya sendiri. Pak Budi yang membukakan pintu mobil. Kebun teh yang hijau keabu-abuan di balik jendela kamar. Dan di antara semua itu, kata-kata yang tadi jatuh bukan seperti serangan tapi seperti penilaian akhir yang sudah tidak bisa digugat.
"Rizky." Suaranya keluar pelan, tidak dibuat-buat pelannya, tapi memang hanya sekuat itu. Matanya masih tertutup. "Kamu percaya tidak—kalau saya bilang saya mencintai kamu?"
Sunyi.
Bukan sunyi yang singkat. Bukan sunyi yang orang isi dengan dehem atau gerakan kecil. Sunyi yang penuh, yang terasa seperti ruangan tiba-tiba menjadi lebih kecil.
Alya mendengar napas Rizky berubah—bukan lebih cepat, tapi lebih dalam, cara bernapas seseorang yang baru saja berpindah dari satu kondisi ke kondisi yang berbeda.
Lalu kasur bergerak sedikit ketika Rizky berbalik ke arahnya.
"Alya." Nada suaranya sudah berbeda dari tadi—kehangatan yang sesaat sebelumnya mungkin ada sudah pergi, digantikan oleh sesuatu yang lebih keras, lebih datar, seperti pintu yang ditutup dengan tangan yang terkontrol. "Empat tahun lalu kita sudah sepakat."
Alya tidak bergerak.
"Kamu tidak boleh mencintai saya." Kata-kata itu keluar satu per satu dengan jarak yang terukur di antaranya. "Itu bagian dari perjanjian. Kamu tahu itu. Saya tahu itu. Ini hubungan kerja. Tidak lebih."
Alya membuka matanya. Langit-langit suite itu, dalam cahaya amber yang redup, terlihat seperti langit yang sangat kecil.
"Saya hanya bertanya." Suaranya sudah kembali ke nada biasanya—rata, ringan, tanpa tekstur yang mengkhianati. "Apakah kamu percaya."
"Saya tidak perlu percaya atau tidak percaya." Rizky berbaring telentang lagi. Suaranya sudah kembali ke kecepatan normal—bukan marah, tapi final, seperti seseorang yang sudah menutup topik dan meletakkannya ke laci yang terkunci. "Karena itu di luar perjanjian kita."
Alya tidak menjawab.
Mereka berbaring di kasur yang sama dengan jarak setengah lengan di antaranya, dan di luar jendela Jakarta terus menyala dengan cahayanya yang tidak mengenal malam sesungguhnya—selalu ada lampu, selalu ada denyut, selalu ada sesuatu yang bergerak di bawah sana tanpa tahu dan tanpa perlu tahu bahwa di atas sini, di dalam kamar yang harganya setara gaji setahun banyak orang, dua manusia berbaring dalam diam yang masing-masing artinya berbeda.
Rizky tertidur lebih dulu. Alya tahu dari cara napasnya berubah—ritme yang sudah ia hafal tanpa pernah berniat menghafalnya.
Ia tidak segera tidur. Ia berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit kecil itu, dan membiarkan kata-katanya mengendap sampai ke dasar yang paling bawah—ke tempat di mana kepahitan tidak lagi terasa seperti rasa, hanya seperti bagian dari sesuatu yang sudah selalu ada di sana.
Hubungan kerja. Tidak lebih.
Di dada Alya, sesuatu yang sudah lama retak akhirnya selesai patah—tidak dengan suara, tidak dengan drama, hanya dengan cara yang pelan dan tuntas seperti ranting kering yang akhirnya menyerah pada beratnya sendiri.