Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 : Kesayangan A
Keesokan hari nya.
Vano kembali berkunjung ke tempat pembangunan restoran. Berharap bertemu pujaan hati yang sudah berjanji akan datang hari ini.
Sembari menunggu, ia berkeliling melihat sudah sampai di mana progres pembangunan restoran. Vano memberikan arahan kepada beberapa pekerja. Seulas senyum terpampang ketika ia masuk ke dalam area dapur, desain yang di buat sedikit berbeda dengan ciri Sagara selama ini. Cetak biru buatan Valira yang berada di tangan Vano menandakan profesionalisme sang desainer.
Sayang, lama Vano menunggu, Valira tak kunjung datang. Menunggu dalam ketidak pastian , Vano pun menghubungi Valira.
Namun, ponsel wanita itu tidak bisa di hubungi.
Hati Vano gelisah, apa gerangan yang terjadi? Tidak biasanya Valira seperti ini. Selain nomor ponsel, tidak ada identitas lain yang di miliki Vano. Termasuk, di mana Valira tinggal.
Vano menghampiri seorang pekerja. " Apa nona Valira tidak pernah datang berkunjung?"
" Kemarin, nona datang, tuan."
Vano mengernyit. " Kemarin? Kau tidak salah kan?"
" Tidak , tuan. Bahkan nona membelikan kami makan siang."
Vano jadi semakin gelisah. ( Apa yang terjadi? Mungkinkah dia berusaha menghindari ku? Tapi apa masalah nya? Aku tidak pernah berbuat hal yang aneh ). Vano membatin.
" Oiya, apa kamu tau di mana nona Valira tinggal?" Pertanyaan random itu keluar begitu saja dari mulut nya pertanda jika ia sedang putus asa.
Pekerja itu terkekeh pelan. " Waduh, kalau itu, jelas kami tidak tau, tuan. "
Helaan nafas Vano terdengar kasar.
" Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu."
Teringat pertemuan dengan Valira di rumah sakit. Rautnya sama, senyum manis yang selalu menghiasi wajah cantik nya masih di saksikan Vano. Lalu, jika memang ia membuat wanita itu marah, apa? Vano bingung.
Vano kembali ke rumah sakit dengan tangan kosong. Raut lesu memayungi setiap langkah nya hingga tiba di kamar A.
" Kau kenapa?" A memindai sosok yang ceria di hari biasa, kini seperti sebatang kayu yang menunggu mati.
" Tidak apa apa, tuan."
" Ada yang merampok mu?" Azima ikut membantu A dalam misi untuk menemukan jawaban dari ekspresi tak biasa itu.
Tetiba saja , pertanyaan Azima di anggukkan Vano.
Azima terperangah. " Jadi benar? Apa yang mereka ambil? Kau tidak apa apa , kan?"
" Hati ku, dia membawa hati ku pergi." Gumam Vano lirih.
Karena tidak bisa mendengar perkataan Vano, Azima pun mendekat." Kak Vano bilang apa?"
Vano seketika tersadar. " Aa..."
Azima menghela nafas. " Kak Vano kenapa?"
" Aku..aku tidak apa apa." Ia kemudian menatap ranjang . " Bagaimana kabar anda , tuan?" Vano mengalihkan perhatian Azima.
" Jika tidak demam sampai besok, aku sudah boleh pulang. Iya, kan Zi?"
Azima mengangguk pasrah. Percuma juga ia menahan A.
Sejak pagi, mau itu dokter, perawat bahkan tukang bersih bersih tak luput dari pertanyaan menyebalkan bagi Azima.
' Kapan saya bisa pulang, kalau hari ini belum, besok bisa , kan?'
Tangan Azima serasa gatal dan ingin membekap mulut A.
*
*
Keesokan hari nya, A benar benar pulang. Bukan siang ataupun sore. Begitu dokter keluar dari ruangan nya pagi tadi, seketika itu juga A minta pulang. Kini, mereka sudah di mobil menunggu Vano selesai dengan pengurusan administrasi A.
" Langsung ke mansion, tuan?" Vano bertanya begitu ia duduk di belakang kemudi.
A menggeleng. " Kita ke Royal hotel."
Azima yang duduk di sebelah A menoleh. " Mas.."
" Mmmm.." A tidak menatap Azima melainkan sibuk dengan macbook di tangannya.
" Buat apa kita ke hotel , mas?"
" Aku ada pertemuan bisnis." Singkat A.
Azima menggeleng. Kesal dan marah. Kakak nya kini sudah di perbudak pekerjaan.
Karena itu, ia memilih diam . Tak lagi mencampuri apapun yang A lakukan.
Paham jika Azima merajuk, A pun mengalihkan tatapan dari macbook ke wajah sang adik yang sudah kehilangan keceriaannya. Menghentikan sejenak aktivitas guna meladeni Azima." Tidak lama, pertemuan ini sangat penting. Mas Arga yang sudah mengatur nya. Jika sudah selesai, aku akan langsung beristirahat. " A mengusap lembut kepala Azima yang tertutup hijab.
" Mas janji?"
" Iya, mas sudah menyewa salah satu kamar dan kamu bisa menunggu ku di sana."
Kelegaan nampak dari wajah Azima. Setidak nya, A masih peduli dengan kesehatan nya.
Tiba di hotel, Vano di minta A untuk menemani sang adik ke kamar yang sudah ia pesan dua hari sebelumnya.
Royal mansion, itulah tipe kamar yang di pilih A. Suite hotel termahal berlatar view lautan biru bak lukisan indah yang memanjakan mata.
Lantai empat puluh tiga, dan Vano sudah berdiri di depan pintu bersama Azima. Key card di tempelkan Vano, pintu terbuka dan mereka pun masuk.
Decak kagum Azima mengiring langkah di setiap pijakan nya di kamar barlantai kan karpet bulu itu. " Wah...Dubai memang luar biasa."
Vano tergelak. " Hahahaha. Saya rasa, tuan A lah yang luar biasa. "
" Kak Vano benar. "
" Mungkinkah anda baru sadar sekarang, nona?"
" Mmm..aku baru sadar , kalau ternyata mas A kaya raya." Azima membenar kan sembari membuka tirai dan menatap hamparan warna biru lukisan sang maha kuasa." 500 juta, mungkin sekitaran itu harga kamar nya, iya kan?"
Vano menggeleng." 1,3 miliar per malam, nona."
Azima terlonjak , ia terkejut bukan main. " Be..berapa? Kamu tidak salah kan?"
" Tentu tidak , nona. Saya yang mereservarsi dan menyelesaikan administrasi nya.
" Astaghfirullah, ku pikir dia waras, ternyata gila juga. Buat apa coba buang buang uang sebanyak itu hanya untuk menginap di hotel. Mansion kan ada !" Azima mengelus dada. Jumlah fantastis itu terngiang kembali di telinga nya.
Vano mengangkat kedua bahu , acuh.
Yang di pikirkan Vano, Azima mungkin amnesia sesaat, saudara yang di katakan kaya raya itu berasal dari induk semang yang sama dengan nya. Jadi jika A kaya, tentu dia pun sama. Bahkan tanpa Sagara , A dan Azima tidak akan kehabisan uang bahkan sampai sepuluh keturunan sekalipun.
Bukan nya senang, Azima justru frustasi. Ia bahkan takut menyentuh apapun di dalam kamar itu.
Reaksi berlebihan itu mengundang tawa Vano. Lucu rasa nya menyaksikan orang kaya yang mencoba berpura pura miskin. Padahal, pada kenyataan nya, Azima benar benar stres. Bukan hasil keringat nya, tapi tetap saja, itu bukanlah harga wajar untuk menginap semalam di sebuah hotel. Ya, meski Azima tau, hotel yang mereka tempati sekarang adalah hotel termahal di Dubai, tapi kan tidak harus juga menyewa kamar seharga rumah mewah ini.
" Apa tidak bisa cari kamar yang biasa saja, kak Vano?"
" Kamar ini memang di siapkan untuk anda, nona. "
" What? Tidak mungkin."
" Nona yang mengatakan sendiri jika ingin menghabiskan uang tuan A sebelum tuan A menikah."
Azima terkesiap.
Ia mulai tersenyum kikuk. " Jadi, kamu menganggap perkataan ku itu serius?"
Vano mengangguk. " Tuan A menyetujui nya. "
" Kak Vano melapor padanya?"
Vano tersenyum penuh arti. Ia sebenarnya tidak pernah melaporkan perkataan Azima pada atasannya itu, tapi tetap saja Vano mengungkitnya . " Tentu saja."
Azima panik. " Tapi..aku hanya bercanda, kak?"
...****************...