NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Senyum yang tidak bisa disembunyikannya, senyum seseorang yang sedang melihat orang yang dicintainya. Entah kenapa pemandangan itu membuat dada Shaka terasa sakit dan sedih. Meskipun ia baru bertemu Hanindya hari ini, entah mengapa kehadiran wanita itu menggerakkan sesuatu di dalam perasaan Shaka. Di depan sana, suara Ustadz Ilyas dalam melantunkan shalawat nabi terus mengalun merdu dan memenuhi mushola.

“مَوْلَايَ صَلِّ وَسَلِّمْ دَائِمًا أَبَدًا

عَلَى حَبِيبِكَ خَيْرِ الْخَلْقِ كُلِّهِمِ...”

Hanindya menundukkan pandangannya perlahan, namun senyum kecil itu masih tertinggal di bibirnya. Hatinya terasa penuh. Setiap kali mendengar suara lelaki itu melantunkan shalawat, selalu ada rasa damai yang sulit dijelaskan tumbuh di dalam dirinya.

Dan hari ini rasa itu terasa lebih besar dari biasanya, mungkin karena lelaki itu berdiri di depan semua orang untuk melantunkan shalawat dengan suaranya yang membuat hatinya bergetar.

Hanindya perlahan menggenggam ujung jilbabnya pelan. Kedua matanya mulai terasa sedikit hangat lalu dalam diam, tanpa seorang pun tahu, perempuan itu mulai berdoa di dalam hatinya.

“Ya Allah... Kalau memang dia yang Engkau pilihkan untukku, jagalah dia untukku.” Hanindya kemudian memejamkan matanya perlahan. “Jadikan cinta kami cinta yang mendekatkan kami kepada-Mu,”

Ada rasa takut kecil di hatinya. Takut kehilangan, takut jika perasaannya terlalu berlebihan melebihi cintanya kepada sang pencipta. Namun di saat yang sama ia juga merasa bersyukur karena Allah mempertemukannya dengan lelaki seperti Ilyas. Lelaki yang membuatnya jatuh cinta bukan karena wajah atau kata-kata manisnya, tapi karena caranya memahami agama, karena caranya menjaga hati, karena caranya memperlakukan orang lain dengan baik dan tulus.

Setiap kali melihat lelaki itu, Hanindya selalu merasa ingin menjadi manusia yang lebih baik. Perempuan itu kemudian menarik napas pelan lalu kembali membuka matanya perlahan, tatapannya kembali mengarah ke depan mushola, ke arah Ustadz Ilyas yang masih melantunkan shalawat dengan penuh penghayatan. Dan diam-diam, di balik ketenangan subuh itu, Hanindya kembali berdoa dalam hatinya. Semoga cinta yang dimilikinya untuk ustadz Ilyas selalu dijaga oleh Allah dan semoga lelaki itu benar-benar menjadi imam terbaik dalam hidupnya nanti.

Beberapa saat kemudian setelah kajian pagi dan sholawat nabi yang dilantunkan oleh Ustadz Ilyas selesai, ustadz Haidar pun akhirnya meminta santri dan santriwati nya untuk kembali ke asrama mereka masing masing. Beberapa santri laki-laki mulai berdiri sambil merapikan sarung mereka. Ada yang masih membicarakan kajian tadi dengan suara pelan, ada juga yang tampak tersenyum sendiri setelah mendengar shalawat yang dibawakan Ustadz Ilyas. Sementara itu dari balik tirai pembatas, para santriwati mulai keluar perlahan menuju area samping mushola untuk kembali ke asrama mereka sebelum kegiatan belajar dimulai.

Shaka masih duduk diam di tempatnya. Entah kenapa dadanya masih terasa penuh. Terlalu banyak hal yang ia rasakan pagi itu. Kajian tentang iman dan taqwa, cara orang-orang di pesantren memperlakukannya, shalawat nabi yang dilantunkan Ustadz Ilyas hingga pertemuannya dengan Hanindya. Nama itu kembali muncul di kepalanya tanpa diminta dan membuat Shaka langsung mengusap wajah kasarnya dengan pelan lalu menundukkan kepala.

“Astaghfirullahaladzhim...” ucap Shaka di dalam hatinya.

Ia baru mengenal perempuan itu beberapa jam yang lalu tapi entah kenapa bayangan wajah Hanindya terus muncul di pikirannya.

Senyumnya, tatapan matanya yang teduh, hingga cara bicara perempuan itu yang lembut dan sopan. Dan yang paling membuat dada Shaka terasa aneh adalah kenyataan bahwa perempuan itu mencintai Ustadz Ilyas.

Dan Ustadz Ilyas jelas mencintainya juga. Shaka menarik napas panjang lalu buru-buru menepis pikirannya sendiri. Ia tidak boleh berpikir macam-macam. Ia sadar diri siapa dirinya dan siapa Hanindya.

Perempuan itu seperti cahaya yang terlalu suci dan berharga untuk dimiliki oleh orang seperti dirinya. Di depan sana, Ustadz Ilyas sedang berbicara singkat dengan beberapa santri yang mengerubunginya. Beberapa meminta penjelasan tambahan tentang kajian tadi sementara yang lain sekadar ingin menyalami nya sebelum keluar mushola. Tak lama kemudian Ustadz Haidar berdiri dari tempat duduknya. Suara lelaki paruh baya itu terdengar tenang namun cukup jelas.

“Anak-anak.” panggilnya yang membuat beberapa santri langsung menoleh.

“Setelah ini jangan lupa bersiap untuk kelas pagi.”

“Iya ustadz,” jawab mereka bersamaan.

“Dan yang piket kebersihan hari ini tolong musholanya dirapikan sebelum jam belajar dimulai.”

Beberapa santri mengangguk patuh. Sementara itu Ustadz Haidar kemudian melangkah pelan mendekati Shaka yang masih duduk agak diam di saf depan. Shaka yang sadar dirinya didekati langsung sedikit menegang lalu buru-buru berdiri.

“Assalamualaikum, ustadz.”

Ustadz Haidar tersenyum kecil.

“Waalaikumsalam warahmatullah, bagaimana kajian pagi yang kamu lihat tadi, Shaka?” tanya ustadz Haidar dengan pelan. “Apakah kamu merasa tenang setelah mendengar kajian itu?”

Shaka terdiam sebentar lalu akhirnya mengangguk kecil dengan jujur.

“Alhamdulillah ustadz, hati saya merasa tenang dan mendapatkan sedikit pencerahan.”

Ustadz Haidar tampak memahami jawaban itu.

“Alhamdulillah, ustadz seneng banget dengernya.” ujarnya tenang. “Ustadz yakin kamu pasti bisa mengubah diri kamu sedikit demi sedikit.”

Lelaki paruh baya itu lalu menyerahkan sebuah kertas kecil yang terlihat baru di laminating dan membuat Shaka menerimanya pelan.

“Apa ini ustadz?”

“Itu jadwal kegiatan santri di pesantren ini.”

Shaka menatap kertas itu sebentar. Ustadz Haidar lalu mulai menjelaskan semua kegiatan itu dengan sabar.

“Di sini ada jadwal bangun subuh, jadwal hafalan, kelas belajar, waktu kajian, jadwal makan, piket kebersihan sampai waktu istirahat malam.”

Shaka membaca kegiatan yang tertera di kertas itu perlahan.

"Ustadz berharap semoga kamu bisa mengikuti kegiatan ini seperti santri yang lain."

“Iya ustadz.”

Ustadz Haidar lalu menepuk bahu Shaka singkat sebelum akhirnya berjalan keluar musholla. Sementara para santri satu per satu mulai meninggalkan musholla. Suasana mushola perlahan menjadi lebih sepi. Shaka masih berdiri beberapa detik sambil memegang kertas jadwal itu erat-erat. Entah kenapa benda sederhana itu terasa asing baginya. Jadwal kegiatan, rutinitas, dan kedisiplinan. Hal-hal yang tidak pernah benar-benar ia jalani dan miliki selama ini.

Sementara itu di rumah utama pesantren, suasana pagi terasa hangat. Aroma masakan rumahan yang lezat dan teh manis memenuhi ruang makan sederhana milik keluarga Ustadz Haidar. Ummi Hafizah sedang menata beberapa lauk di atas meja sementara Hanindya membantu menuangkan teh ke dalam gelas-gelas kecil. Cahaya matahari pagi masuk dari jendela dapur dan membuat suasana rumah terasa damai. Tak lama kemudian pintu depan terbuka, ustadz Haidar masuk sambil mengucapkan salam.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Ummi Hafizah dan Hanindya bersamaan.

Hanindya melirik abinya lalu tersenyum kecil.

“Abi telat pulangnya.” ujar Hanindya yang membuat Ustadz Haidar terkekeh pelan.

1
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Jodoh adalah bagian dari takdir Allah, namun ikhtiar menjemputnya tetap menjadi bentuk ketaatan.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
sakura
..
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh apakah Hanindiya itu anak ustadz Haidar.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Thor harusnya di tulis jga bawahnya surah mana atau hadis doa mana biar tahu para pembaca gitu.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bukan doa kak, tapi sholawat.
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tanda hati Shaka mulai terenyuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lagi dakwah kaya gini terus di bawahnya ada iklas dramashot mana tokohnya Hb lagi nggak etis banget ih 🤦
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
apakah ustadz Ilyas tau soal ini🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
"Maula ya sholli wasallim daiman abada" adalah adalah sholawat yang termasuk bagian dari Qasidah Burdah.
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!