NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Orang Asing Di Trotoar

Seminggu telah berlalu sejak malam badai itu.

Bagi dunia, seminggu hanyalah sekejap mata yang tak berarti.

Namun bagi Arlan, setiap detiknya terasa seperti siksaan yang merambat pelan, menggerogoti kewarasannya. Mansion mewah di kawasan elit itu kini tak lebih dari sekadar museum yang mati.

Tak ada lagi suara langkah kaki yang terburu-buru menyambutnya di depan pintu, tak ada lagi aroma masakan rumahan yang menenangkan kegelisahannya, dan yang paling parah—tak ada lagi "kehidupan" di dalam bangunan megah itu.

​Sore itu, Arlan memutuskan untuk menyetir sendiri.

Ia sedang tidak ingin diganggu oleh supir pribadinya atau ocehan sekretarisnya tentang jadwal rapat.

Pikirannya kacau balau.

Ia baru saja membanting berkas di kantor hanya karena Maya, sekretarisnya, salah menyiapkan jenis teh yang ia inginkan. Padahal, dulu Kinara selalu tahu kapan ia butuh kopi hitam tanpa gula atau teh chamomile hangat untuk menenangkan sarafnya yang tegang.

​Mobil sport mewah Arlan melaju membelah kemacetan kota yang mulai memadat. Saat mobilnya terhenti karena lampu merah di dekat sebuah area pasar tradisional yang cukup ramai, mata tajam Arlan menangkap sosok yang sangat familiar di trotoar jalan.

​Seorang wanita dengan gaun selutut yang sederhana berwarna biru muda. Rambutnya dikuncir kuda dengan rapi, dan kedua tangannya tampak membawa kantong belanjaan plastik yang berisi sayuran dan buah-buahan.

​"Kinara?" bisik Arlan pelan.

Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dengan irama yang tidak wajar. Rasa cemas dan lega bercampur menjadi satu di dadanya.

​Tanpa pikir panjang, Arlan membanting setirnya ke pinggir jalan, mengabaikan klakson marah dari pengendara lain di belakangnya yang merasa terganggu.

Ia keluar dari mobil dengan terburu-buru, bahkan lupa mematikan mesin. Ia berlari kecil mengejar sosok wanita yang sedang berjalan dengan langkah ringan itu.

​"Kinara! Tunggu!" teriak Arlan.

Suaranya yang berat memecah kebisingan trotoar.

​Langkah wanita itu terhenti seketika. Ia berbalik pelan, menatap ke arah sumber suara. Benar, itu Kinara.

Namun, ada sesuatu yang sangat berbeda dari penampilannya. Wajah yang biasanya pucat karena sering menangis kini tampak lebih segar dan bercahaya.

Pipinya sedikit merona karena terik matahari sore, dan matanya... matanya tidak lagi menatap Arlan dengan binar pemujaan yang biasanya membuatnya muak.

​"Kinara, akhirnya aku menemukanmu," ucap Arlan terengah-engah begitu ia sampai di depan wanita itu.

Ia hendak meraih pergelangan tangan Kirana secara refleks, namun dengan gerakan yang sangat halus namun tegas, Kirana mundur selangkah untuk menghindar.

​"Maaf, Tuan. Anda siapa ya?" tanya Kirana datar.

Suaranya terdengar sangat tenang, namun terasa seperti es yang mendinginkan suasana.

​Arlan membeku di tempat. Ia seolah baru saja disiram air dingin di tengah cuaca panas.

"Tuan? Kirana, ini aku! Arlan! Suamimu! Berhenti bermain drama konyol ini di pinggir jalan."

​Kirana menatap Arlan dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah-olah ia sedang memperhatikan seorang salesman yang salah alamat.

Ia lalu melirik ke arah jari manisnya sendiri yang kini sudah polos tanpa cincin perak tipis. Setelah itu, ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang jauh lebih menyakitkan bagi Arlan daripada sebuah makian.

​"Saya rasa Anda salah orang, Tuan. Saya tidak memiliki suami bernama Arlan," jawab Kirana dengan nada yang sangat santun namun berjarak.

"Mungkin Anda sedang mencari seseorang yang mirip dengan saya. Kalau tidak ada hal penting lainnya, saya harus segera pulang. Es batu di belanjaan saya bisa mencair."

​"Kirana! Cukup!" bentak Arlan, egonya kembali muncul saat menyadari beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan mereka.

"Aku memaafkan semua kelakuanmu seminggu ini. Aku tahu kamu marah karena kejadian di kantor, tapi ini sudah keterlaluan. Pulang sekarang juga! Aku akan membelikanmu perhiasan apapun yang kamu mau, tapi berhenti tinggal di tempat seperti ini dan bersikap seolah tidak mengenalku!"

​Kinara tertawa kecil. Tawa itu terdengar sangat tulus, namun di telinga Arlan, tawa itu seperti ejekan yang meruntuhkan harga dirinya.

​"Perhiasan? Uang?" Kirana menggelengkan kepalanya pelan.

"Tuan Arlan, Anda mungkin tidak mengerti. Di sini, di tempat yang Anda sebut kumuh ini, saya bisa tidur dengan sangat nyenyak tanpa perlu memikirkan apakah suami saya akan pulang atau tidak. Di sini, saya berharga bagi diri saya sendiri. Saya tidak butuh perhiasan dari pria yang bahkan tidak bisa menghargai bekal makanan yang dimasak istrinya selama lima jam."

​"Kirana, aku hanya sedang emosi waktu itu, aku—"

​"Taksi!" Kirana tiba-tiba mengangkat tangannya, mengabaikan kalimat Arlan.

Sebuah taksi tua yang tampak kusam menepi tepat di depan mereka.

​Sebelum Arlan sempat mencegahnya, Kirana sudah masuk ke dalam taksi itu dan menutup pintunya dengan rapat.

Arlan mencoba menggedor kaca jendela taksi tersebut, wajahnya tampak frustrasi dan penuh amarah yang bercampur dengan keputusasaan yang baru pertama kali ia rasakan.

​"Kirana! Buka pintunya! Kita belum selesai bicara!"

Arlan berteriak sambil mengikuti langkah taksi yang mulai melaju pelan.

​Melalui kaca jendela yang sedikit berdebu, Kirana menatap Arlan untuk terakhir kalinya sore itu.

Tatapannya tidak mengandung kebencian, tidak juga amarah. Ia hanya menatap pria itu dengan rasa kasihan yang mendalam, seolah Arlan adalah bagian dari masa lalu yang sudah sangat lama ia lupakan.

Taksi itu melaju lebih cepat, meninggalkan Arlan yang berdiri mematung di pinggir jalan, dikelilingi oleh asap kendaraan dan debu kota yang kotor.

​Arlan berdiri diam untuk waktu yang lama.

Tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Tuan Dingin yang berkuasa merasa benar-benar tidak berdaya.

Semua kekayaan dan pengaruhnya ternyata tidak mampu menghentikan sebuah taksi tua yang membawa pergi dunianya.

​Malam itu, Arlan kembali ke mansion. Ia tidak menyalakan lampu ruang tamu. Ia hanya duduk di sofa kulitnya yang mahal, menatap kegelapan.

Ia melirik ke arah tempat sampah di pojok lobi, tempat ia membuang kotak bekal Kirana malam itu.

Meskipun tempat sampah itu kini sudah bersih dan dikosongkan oleh pelayan, di mata Arlan, bayangan kotak bekal yang hancur dan isinya yang berantakan terus terbayang-bayang.

​Ia baru menyadari satu hal yang sangat menyakitkan: Kirana tidak sedang bermain drama untuk mencari perhatiannya. Kirana benar-benar telah membuang Arlan dari hidupnya, persis seperti Arlan membuang cinta dan perhatian Kirana ke dalam tempat sampah itu.

​"Apa yang sudah aku lakukan?" gumam Arlan pelan.

Suaranya pecah di tengah keheningan malam yang mencekik.

Untuk pertama kalinya, sang pria es itu merasakan matanya panas, dan setetes air mata jatuh tanpa bisa ia cegah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!